|
Flyaway with love menulis : Kalau Buddhism yang sudah dipengaruhi kepercayaan / kebudayaan Cina, maka doanya ditujukan kepada dewa-dewi. Tapi kalau Buddhism yang murni dari Sang Maestro, Siddharta berdoa itu lebih mirip wishing. Buddhism yang ini bersifat atheis atau ada juga yang memandang agnostik. Sedangkan dewa-dewi sendiri oleh Siddharta disebut makhluk yang masih terikat kepada hukum karma, lingkaran hidup dan mati, samsara. Berdoa kepada Buddha itu adalah ide yang lucu karena Buddha pada saat meninggal, itu sudah tidak terlahir di manapun juga. Jadi doa di buddhism yang ini adalah wishing, "May the happiness comes to all." Rinto Jiang : Aih (menghle nafas), saya gak tahu anda itu aliran apa. Tapi yang sekarang ini yang sering saya dengar mengaku alirannya paling murni kayaknya hanya satu. Walau anda di belakang sudah mengaku bahwa sekarang ini tidak ada yang murni lagi, namun masih banyak penganut aliran ini yang belum mengakui kenyataan seperti itu. Kalau berbicara dengan orang seperti itu, biasanya saya menangkap ada perasaan superioritas bahwa mereka adalah penerus ajaran Siddharta yang paling murni setidak2nya bila dibandingkan dengan aliran lainnya. Gak tahu yah kalau Siddharta masih mengobservasi kondisi melenceng ini dari atas sana, saya rasa Ia-nya pasti menghela nafas juga. Aliran tadi adalah aliran Theravada terutama yang dari Thailand. Pikirnya mahayana itu pasti datangnya dari Cina, saya mau yang asli dan belum tercemar. Orang yang masih punya pandangan bahwa alirannya paling murni itu terlalu naif dan gak melek sejarah. Saya yang abangan ini, gak berani mengaku umat Buddhis ini saja masih tahu kalau Mahayana dan Theravada itu sampai pada saat yang bersamaan di Burma dari India. Lalu Theravada yang sekarang eksis di Burma dan Thailand itu asalnya dari asimilasi Theravada dulu dengan agama Brahma yang ada di Indocina sebelum Buddhisme sampai di Burma dan Thailand. Masih punya nyali mengaku sebagai yang paling murni? So naive. Rinto Jiang Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links
|
- Re: [Dharmajala] Re: berdoa secara buddhis? Rinto Jiang
- [Dharmajala] Re: berdoa secara buddhis? flyaway_withlove
- [Dharmajala] Re: berdoa secara buddhis? bodhimanggala
- [Dharmajala] Re: berdoa secara buddhis? flyaway_withlove
- Re: [Dharmajala] Re: berdoa secara buddhis? Wong Kaw
- Re: [Dharmajala] Re: berdoa secara buddhis? King Hian
- [Dharmajala] Re: berdoa secara buddhis? flyaway_withlove
- Re: [Dharmajala] Re: berdoa secara buddhis? King Hian
- [Dharmajala] Re: berdoa secara buddhis? flyaway_withlove
- [Dharmajala] Re: berdoa secara buddhis? bodhimanggala
- Re: [Dharmajala] Re: berdoa secara buddhis? King Hian
