--- In [email protected], "dh4rm4duta" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >
Saya mengatakan tidak sama dengan agama kristen, ini tentu dalam konteks tertentu. Kita tidak seharusnya memandang sebuah kalimat secara statis. Makna dari kalimat ini tentu tidak terlepas dari kaitan seluruh rangkaian apa yang ingin saya sampaikan. Saya sendiri saja juga tidak akan sepenuhnya setuju bila mengatakan ¡§tidak sama¡¨ secara statis. Seperti yang anda katakan bahwa agama Kristen sama dengan ag.Buddha dalam tataran wawasan bawah, tentu ini tidak sepenuhnya bisa disetujui juga bila maknanya dicerna secara statis. Wawasan tataran bawah dalam buddhisme bukanlah visi utama apa yang ingin disampaikan oleh Buddha. Wawasan tataran bawah Buddhisme itu hanya sebagai sebuah upaya kausalya dari sang Buddha dalam membimbing semua makhluk hidup secara bertahap. Jika mengatakan bahwa mau masuk surga silahkan, utk apa sang Buddha memperingatkan bahwa Triloka bagaikan rumah yang sedang terbakar? Itulah sebabnya sang Buddha lalu mengatakan bahwa orientasi utama ajarannya secara prinsipil adalah membimbing semua makhluk terbebas dari samsara dan meraih pencerahan sempurna. Ajaran yang dapat membuat orang terlahir di alam surga hanyalah sebagai upaya kausalya belaka, tidak dapat disebut sebagai salah satu tujuan praktisi Buddha. Bagi mereka yang masih kuat kemelekatannya pada kenikmatan duniawi (mencari kenyamanan indria), sang Buddha ¡§mau tidak mau¡¨ ya mengajarkannya moralitas seperti 10 perbuatan baik terlebih dahulu. Dengan menjalankan ajaran ini, niscaya akan terlahir di alam surga. Padahal bukankah alam surga juga merupakan subjek dari samsara? Jadi kita harus mengerti visi sesungguhnya dari sang Buddha. (jangan salah lagi mengira saya anti kehidupan surga, saya hanya bermaksud menekankan bahwa bagi mereka yang berorientasi pada jalan ini untuk jangan lupa bahwa itu hanya sebagai sebuah tahapan yang perlu dikembangkan lagi untuk menyadari kondisi dukha yang sesungguhnya). Bagi mereka yang merasa jenuh dan memandang secara lebih jernih makna dukha, maka sang Buddha mengajarinya untuk mengakhiri dukha. Demikian seterusnya yang bersifat tahapan. Jika harus tetap ¡§memijak bumi¡¨, kapan kita baru mau melangkah? Tidakkah disadari bahwa kita2 ini pada masa kalpa yang tak terhitung sudah terlalu lama berpijak pada bumi. Ternyata benar apa yang dikatakan sang Buddha bahwa dunia ini disebut sebagai dunia Saha. Mengenai perkataan ¡§keinginan duniawi masih dapat dipakai sebagai sarana untuk mencapai nekhama¡¨, ingat bahwa itu hanya sebagai sarana dan perkataan ini ditujukan pada orang jenis apa dan jaman apa, itu harus jelas. Jika dicerna secara mentah2 tentu ini dapat membuat kesalahan interpretasi lagi. Kita bukanlah Vimalakirti yang sanggup tak tergoyahkan dikelilingi oleh godaan duniawi. Metode ajaran Buddha itu sangat banyak dan memiliki tahapan-tahapannya. Kita harus tahu kita berada dalam tahapan seperti apa dan menggunakan metode seperti apa. Saya bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa kita tidak usah mengurusi masalah duniawi. Duniawi dan yang diatas duniawi adalah rangkaian yang tak terpisahkan sebagai sebuah dharmadhatu sejati. Pada sisi lain Triloka itu adalah rumah yang sedang terbakar (samsara), maka seharusnya kita belajar untuk keluar dari rumah yang sedang terbakar terlebih dahulu kemudian baru dapat menyadari secara prinsipil tentang sifat nondualitas dari dharmadhatu. Belajar untuk keluar dari samsara bukan berarti mengabaikan kehidupan duniawi. Tetapi secara bertahap mengikis kemelekatan terhadapnya. Dan dengan cara apa mengikis kemelekatan tersebut dan apa yang hendak dikikis, maka ini tidak relevan lagi dengan masalah hermeneutika. Socially Engaged Buddhism akan menjadi tidak relevan juga jika tidak mengaitkanya dengan upaya mengikis noda batin, membebaskan diri dari belenggu samsara. Untung saja misi dari organisasi yang diprakarsai oleh YM Thich Nhat Hanh tidak mengabaikan upaya ini. Taruhlah hermeneutika Buddhisme berkembang pesat, ini juga tidak ada manfaatnya jika tidak ada upaya untuk mengikis noda batin sebagai jalan untuk terbebas dari samsara. Jadi seberapa seriuskah hermeneutika Buddhisme harus dipermasalahkan? Taruhlah hermeneutika Buddhisme telah mati sejak Nagarjuna, bukankah itu lebih baik karena penafsiran2 ajaran Buddha oleh orang dijaman akhir dharma seperti sekarang justru semakin membuat orang bingung karena tidak adanya pencapaian spiritual utk menafsirkan ajaran Buddha, bukannya memajukan buddhisme tetapi mendistorsinya. JIka pun dianggap cukup penting dengan bangkitnya hermeneutika Budhisme, maka seharusnya dia dapat mengarahkan semua orang yang mempelarinya untuk menuju pada visi Buddhisme yang paling hakiki. Itulah maksud saya. Jadi sesungguhnya saya juga tidak bersikeras bahwa pendapat sayalah yang harus diterima. Sesungguhnya pendapat saya hanya untuk berharap kita tidak menjadi terlalu terpaku pada masalah duniawi yang dapat memperparah kemelekatan kita dan lupa akan orientasi Buddhisme yang paling hakiki. Intinya saya bukan tidak setuju tetapi lebih mengarah ke rasa khwatir bila orang lalu larut dalam hal-hal kulit dan melupakan isinya. Saya percaya anda tentu tidak demikian karena pengetahuan dharma anda sudah tidak diragukan lagi dari sudut pandang saya. Semoga anda dapat memahaminya. Salam metta. Chg ik > Namo Buddhaya, > > Maaf, saya kurang sependapat dengan Anda mengenai masalah > hermeneutika. Benar sebagaimana yang dikemukakan oleh Sdr. Yanmin P, > bahwa dalam mempelajari Buddhisme kita harus tetap "memijak bumi" > dalam artian bahwa Buddhisme sanggup menampung semua wawasan yang > ada, dari yang paling bawah sampai yang paling tinggi, sembagaimana > yang saya ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Click here to rescue a little child from a life of poverty. http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
