Namo Buddhaya,

Sdr. Chingik yang budiman,

Terima kasih atas tanggapannya. Mari kita teruskan diskusi kita. 
Memang benar bahwa mempelajari Buddhadharma itu harus dilihat 
konteksnya, karena memang terdapat berlapis-lapis makna. Saya setuju 
dengan ungkapan Anda bahwa segala sesuatu tidak bisa dipandang secara 
statis, apalagi segala sesuatu yang masih bisa diucapkan dengan kata-
kata tidak dapat disebut kebenaran absolut. Begitu pula dengan 
hermeneutika, yang seharusnya adalah wahana untuk lebih memahami 
Buddhadharma demi mencapai apa yang tadi disebut kebenaran absolut 
(paramatta, Sanskrit paramartha). Hermeneutika sendiri sesungguhnya 
juga wahana tetapi bukan kebenaran absolut itu sendiri, meskipun 
demikian hermeneutika tetap diperlukan. Saya setuju dengan Sdr. 
Yamin, bahwa meskipun kita semua belum mencapai pencerahan, tetapi 
itu tidak berarti bahwa kita tidak boleh menafsirkan Tripitaka dengan 
alasan terjadi distorsi. Itulah yang saya maksud dengan mensakralkan 
Tripitaka. Tripitaka dimasukkan dalam lemari saja tanpa dibaca. Anda 
mengatakan: "Jika pun dianggap cukup penting dengan bangkitnya 
hermeneutika Budhisme, maka seharusnya dia dapat mengarahkan semua 
orang yang mempelarinya untuk menuju pada visi Buddhisme yang paling 
hakiki." Anda benar bahwa memang tujuan akhir hermeneutika Buddhis 
juga harus sejalan dengan tujuan akhir Buddhisme. Hanya saja, itu 
tidak semua orang dapat diajak langsung menuju pada tujuan akhir itu 
(dan inilah konteks pembicaraan kita). Oleh karena di dalam 
Vajrayana, diajarkan juga ritual-ritual untuk hal duniawi, seperti 
Jambhala Kuning dan lain sebagainya. Kita boleh saja menganggapnya 
upaya kausalya tidak masalah, tetapi ini juga penafsiran. Dalam tahap 
awal hermeneutika Buddhis hendaknya membantu memecahkan masalah 
sehari-hari, seperti etika, ekonomi, budaya, dan lain sebagainya. 
Kita mencari kaitan-kaitan antara bait-bait Tripitaka dengan masalah-
masalah tersebut. Jadi ini tidak ada hubungannya dengan distorsi 
ajaran. Orang yang takut dengan distorsi ajaran ini dapat diibaratkan 
dengan orang yang seumur hidupnya tidak ke luar rumah karena takut 
mendapat kecelakaan. Tentu pemikiran semacam ini juga tidak benar.
Anda benar bahwa kita semua harus menyadari orientasi Buddhis yang 
hakiki. Saya juga setuju dengan pendapat ini. Tetapi bila kita 
mengatakan mengenai menyadari orientasi Buddhis yang hakiki, saya 
yakin bahwa peserta milis ini semua sudah tahu. Namun, adakah dari 
kita yang telah mencapai pencerahan hanya dengan penyadaran itu? 
Menurut saya pencerahan tidaklah hanya dengan menyadari tujuan akhir 
saja, karena semua dari kita toh sudah mengetahui bahwa tujuan akhir 
adalah nibanna. Ada banyak faktor yang berperan penting bagi 
pencerahan. Saya juga setuju bila Anda mengatakan bahwa kita 
janganlah melupakan isi dan terlalu terpaku pada kulitnya. Tetapi 
saya melihat bahwa Anda nampaknya terpaku pada pandangan yang 
menyamakan hermeneutika Buddhis dengan pembahasan kulitnya saja. 
Padahal hermeneutika merupakan wahana untuk menggali "isi" yang Anda 
sebutkan tersebut. Atau mungkin saya yang salah menafsirkan pendapat 
Anda? Mohon maaf kalau saya salah.
Anda mengatakan: "Sesungguhnya pendapat saya hanya untuk berharap 
kita tidak menjadi terlalu terpaku pada masalah duniawi yang dapat 
memperparah kemelekatan kita dan lupa akan orientasi Buddhisme yang 
paling hakiki." Pandangan ini memang sungguh benar. Oleh karena itu 
kita harus menjaga apa yang namanya "jalan tengah," tidak melekat 
pada hal-hal duniawi, tetapi juga tidak melekat pada pencerahan. Kita 
harus mengingat bahwa pencerahan-pun dapat menjadi obyek kemelekatan 
kita. Buddhisme Chan juga mengenal apa yang namanya penyakit Chan. 
Sesungguhnya kalau kita menilik ajaran Buddha (tingkat tinggi), tidak 
ada pencerahan yang terpisah dari dunia (ditinjau dari pandangan 
absolut). Keengganan terhadap dunia juga merupakan kekotoran bathin. 
Meskipun demikian, bagi kita-kita yang masih belum mencapai 
pencerahan, hal-hal duniawi juga penting, asal jangan terlalu 
hedonistis, seperti Imelda Marcos yang sepatunya sampai ratusan 
pasang. Kita hidup apa adanya, hemat, dan tidak hedonistis, yang saya 
kira juga selaras dengan ajaran Buddhisme bagi perumah tangga awam.
Anda mengatakan: "Mengenai perkataan keinginan duniawi masih dapat 
dipakai sebagai sarana untuk mencapai nekhama¡¨, ingat bahwa itu 
hanya sebagai sarana dan perkataan ini ditujukan pada orang jenis apa 
dan jaman apa, itu harus jelas. Jika dicerna secara mentah2 tentu ini 
dapat membuat kesalahan interpretasi lagi. Kita bukanlah Vimalakirti 
yang sanggup tak tergoyahkan dikelilingi oleh godaan duniawi." Tujuan 
saya mengatakan hal itu adalah supaya kita tidak "membenci" keinginan 
duniawi. Dalam Buddhisme Tantra, memang ada latihan yang memanfaatkan 
keinginan duniawi, seperti Jambhala Kuning. Ini memanfaatkan 
keinginan kita akan harta kekayaan, tetapi saat melakukan sadhana 
Jambhala Kuning kita merubah diri kita menjadi Jambhala Kuning yang 
menganugerahkan berkah bagi makhluk lain. Di sini kita berlatih 
mengembangkan cinta kasih (metta-karuna), meskipun yang dipakai 
sebagai "alat pemikat"nya adalah keinginan "duniawi." Jadi jelas 
sekali ajaran ini masih relevan hingga saat ini. Berdasarkan 
pengalaman orang yang meninggalkan keduniawian-pun terkadang "aku"-
nya masih sangat besar. Karenanya kalau membicarakan hal ini tidak 
akan ada habis-habisnya karena Buddhisme itu luas, tetapi yang 
penting kita harus tetap berusaha menyeimbangkan semuanya, seperti 
konsep yin-yang dalam Dao.
Anda mengatakan: "Jika harus tetap "memijak bumi," kapan kita baru 
mau melangkah? Tidakkah disadari bahwa kita2 ini pada masa kalpa yang 
tak terhitung sudah terlalu lama berpijak pada bumi. Ternyata benar 
apa yang dikatakan sang Buddha bahwa dunia ini disebut sebagai dunia 
Saha." Memang benar apa yang Anda katakan, tetapi kita harus ingat 
bahwa proses "melayang dari bumi" ("lawan" kata "memijak bumi") harus 
berjalan secara alamiah dan tidak bisa dipaksakan atau direncanakan. 
Nibanna bukanlah tujuan, dan makin Anda bersikeras untuk 
menjadikannya tujuan, maka nibanna itu makin jauh dari Anda 
(bandingan dengan konsep wuwei dalam Dao serta Sutra Hati). Sehingga 
kita tidak perlu memusingkan "memijak" atau "melayang" dari bumi. 
Biarlah semuanya berjalan secara alamiah, yang penting kita terus 
melaksanakan Buddhadhamma sesuai dengan kemampuan kita. Toh bila kita 
sudah melakukan Dhamma biarpun sedikit, menurut pendapat saya itu 
berarti kita sudah dalam proses "melayang dari bumi." Saya pribadi 
tidak begitu memusingkan masalah "memijak" atau "melayang" dari bumi. 
Saya sudah cukup bergembira berjumpa dengan Buddhadhamma meskipun 
yang dijalankan baru bagaikan setitik air dibandingkan dengan seluruh 
samudera di alam raya ini. Tetapi saya yakin Anda sudah sepakat 
dengan hal ini, karena pada bagian sebelumnya Anda mengulas mengenai 
rumah yang terbakar itu. Memang bagaimanapun juga proses keluar dari 
rumah terbakar itupun juga harus bertahap, yang penting kita jangan 
hidup hedonistik, menurut saya untuk sementara itu sudah cukup.
Anda mengatakan: "saya hanya bermaksud menekankan bahwa bagi mereka 
yang berorientasi pada jalan ini untuk jangan lupa bahwa itu hanya 
sebagai sebuah tahapan yang perlu dikembangkan lagi untuk menyadari 
kondisi dukha yang sesungguhnya." Tepat sekali, memang secara 
idealnya demikian. Saya setuju, sama dengan ketika saya mengungkapkan 
konsep mengenai Mahabrahma sebagai bagian dari wawasan bawah. Hanya 
saja memang susah untuk membawa seseorang menyadari hal itu. Anak 
seorang kaya yang terbiasa hidup mewah, tentu susah mengerti hal ini 
(walau tidak semua). Namun, seiring dengan berjalannya waktu, tidak 
mustahil dia dapat merealisasi kebenaran itu. Selain itu, seorang 
yang memiliki latar belakang agama X, jelas susah memahami konsep 
dukkha. Saya pernah berdiskusi dengan mereka. Jawaban mereka singkat 
saja, "Dukkha? Nggaklah, hidup ini adalah anugrah makhluk adikuasa." 
Karenanya, justru sekali lagi saya melihat bahwa hermeneutika ini 
sangat berguna untuk "membumikan" konsep dukkha. Selama ini kita yang 
Buddhis mungkin hanya melihat dukkha secara teoretis saja, apalagi 
orang non-Buddhis. Bagaimana mereka dapat dengan mudah menyerap dan 
memahami arti dukkha. Hermeneutika adalah jawabnya.
Anda mengatakan: "Taruhlah hermeneutika Buddhisme berkembang pesat, 
ini juga tidak ada manfaatnya jika tidak ada upaya untuk mengikis 
noda batin sebagai jalan untuk terbebas dari samsara." Benar sekali, 
memang tujuan akhir hendaknya ke arah sana. Namun, sekali lagi 
sebelumnya kita perlu menangani terlebih dahulu masalah-masalah 
duniawi, seperti moralitas, kejahatan, pengangguran, inflasi, dan 
lain sebagainya. Saya yakin Anda sepakat dengan hal ini, sebagaimana 
halnya dengan posting Anda yang lainnya.
OK, saya kira sekian dulu. Senang berdiskusi dengan Anda. Tetapi 
waktu sudah larut. Selain itu, saya pikir diskusi dengan topik ini 
sudah cukup, karena saya yakin kita sudah saling memahami semuanya. 
Saya akan lebih memusatkan perhatian pada diskusi mengenai teknis 
praktis hermeneutika saja, yang saya kira lebih bermanfaat ketimbang 
membicarakan sesuatu yang kita sudah sama-sama tahu. Semoga 
bermanfaat.

Metta,


Tan



--- In [email protected], "ching ik/ djoni" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Saya mengatakan tidak sama dengan agama kristen, ini tentu dalam 
> konteks tertentu. Kita tidak seharusnya memandang sebuah kalimat 
> secara statis. Makna dari kalimat ini tentu tidak terlepas dari 
> kaitan seluruh rangkaian apa yang ingin saya sampaikan. Saya 
sendiri 
> saja juga tidak akan sepenuhnya setuju bila mengatakan ¡§tidak 
sama¡¨ 
> secara statis. Seperti yang anda katakan bahwa agama Kristen sama 
> dengan ag.Buddha dalam tataran wawasan bawah, tentu ini tidak 
> sepenuhnya bisa disetujui juga bila maknanya dicerna secara statis. 
> 
[cut]




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Click here to rescue a little child from a life of poverty.
http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke