--- In [email protected], kreshna amurwabumi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > deleted.....
> karena itu didalam tulisan saya di millist ini pernah mengusulkan para pertapa yang sudah tinggi mata batinnya untuk menuliskan pengalaman transendentalnya supaya hukum karma itu bisa kita lihat mendekati langsung. Jun: maaf yah Romo Kreshna, bagian ini saya kurang sependapat. masing2 boleh mencapai realisasi tertentu atau pencapain apapun, namun belum tentu dia bisa menjelaskan dengan baik (mahir) sperti seorang Buddha. lagipula kita butuh waktu utk mengetahui apakah dia meamng betul2 telah mencapai mata bathin atau sejenisnya, dan itu tepat apabila diberikan kepada kita. coba liat teman2 di dunia barat, mereka praktik meditasi entah apa, atau sebagaian besar mereka praktik vajrayana, terus menceritakan pengalamannya, ini itu, dan membuat orang tambah binggung, apalagi bagi mereka yg belum siap, dan tak sedikit dari mereka yg meng-klaim mencapai mata batin atau mata ke-3, dll, itu kan sungguh berbahaya, apalgi bagi kita yg masih dlm tahap belajar, dan menerapkan sedikit demi sedikit ajaran Buddha. pencapain spiritual seharusnya tidak menjadi bahan show up, dan saya yakin kita yg berada di berbagai level juga akan medapat efek tersendiri. saya malah takut ini pengkarbitan (maaf kalo istilahnya kurang pas), kalau tiba2 dia ditunjukin pengalaman transendentalnya (sorry saya juga blom pernah tau ini apa), terus shock bahkan membuat kehidupannya berakhir...ini malah gawat (ini salah satu contoh). yah ini namanya mau untung (mengetahui hukum karma) tapi menuai buntung. of course vicee versa bisa terjadi. karena hanya seorang yg betul2 mahir baru bisa memberi bimbingan, bukan hanya telah mencapai pengalaman transendental, lantas sana sini cerita. deleted..... >Pernah terlontar dalam pikiran saya apakah kita ini boleh sangat bebas berbuat apa saja yang relatif "terikat"asal selama melakukan itu kita tetap sadar. Apakah hal ini merupakan penyelesaian???. > Jun: menurut opini pribadi saya, itulah gunanya kita belajar sila, dan mengenal lebih jauh, barusan saya ikut ceramah Suhu kofa (maaf kalo salah tulis) di Vih Ekayana Graha, beliau menjelaskan pancasila Buddhis dalam konteks yg lebih detail, dan saya belajar banyak dari ceramah itu, beliau mengutip dari karya YM Gampopa (salah satu murid YM Milerapa). yg kita tahu hanya panatipata, dan bberapa faktor saja, namun ada aspek2 lain yg selama ini saya belum pernah dengar, seperti mengapa bunuh? termotivasi oleh 3 racun (kebencian, kebodohan, dan kemelekatan), contoh membunuh dgn benci karena perselisihan, membunuh dgn cara bodoh yaitu tidak tau akibat membunuh, membunuh dgn kemelekatan atas daging, bulu, kulit dsb. setelah tau demikian, kita lebih aware, dan apabila kita memang sulit menghindari pembunuhan, maka kita berusaha agar semua faktor ini tidak lengkap, jadi karma buruk tidak separah yg kalo kita berbuat karma buruk membunuh secara lengkap, ini yang saya anggap sebagai "terikat" namun dgn memperhatikan rambu2 yg ada, tak hanya sadar, itu sama sekali tidak cukup. kalaupun kita membunuh, kita sadar, tapi kita tetap membunuh hasilnya ada, karma buruk juga tetap berjalan, namun tidak 100% penuh, karena ada bbrapa faktor yg tidak lengkap, dan akibatnya juga tidak seberat yg jika kita lakukan secara full. > > Semoga rekan-rekan yang lain tidak kaget dengan idea ini. > > > Kreshna > salam, maitri ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
