Dear all,
Sekuntum teratai untuk Anda semua, para calon Buddha.Dibawah ini ada kisah tentang bagaimana para suami membenarkan perselingkuhan mereka.
Bukan soal yg mudah untuk mengatakan bahwa pihak yang berselingkuh itu pasti salah. Kita tau dalam setiap langkah yg kita buat, setiap pendapat kita, selalu berdasarkan pandangan kita. Kita selalu melihat dari sudut pandang kita sendiri.
Jika seperti ini, orang lain pun sama seperti kita kan?
Nah, SELINGKUH...Kata pemecah keluarga, penyebab pertengkaran, kebencian, cemburu, kemarahan.
Jika kita membahas ini, tidaklah segampang membedakan hitam dan putih.
begitu banyak sisi yang mesti kita lihat lagi. Baik dari sisi yang kita sebut "korban" (dalam hal ini istri), maupun "pelaku" (dalam hal ini suami).
Tidak mungkin bukan jika korban tidak memiliki salah satu faktor sebagai penyebab..? Tidak sepenuhnya juga kesalahan terletak pada pihak pelaku. Semua saling berhubungan, saling terkait, saling menjadikan.
Kita semua tahu, segala sesuatu terjadi karena sebab. Mustahil ada yg muncul begitu saja.
Katakanlah, bahwa si korban tidak bisa memuaskan si pelaku yang selanjutnya mendorong pelaku untuk selingkuh. Nah sebelum lanjut ke langkah berikutnya, mari kita telaah lebih mendalam lagi, kondisi apa yang mendorong si pelaku untuk selingkuh? Perasaan / emosi apa yang mendorong dia untuk selingkuh?
Tidak puas..? Ingin mencari pelampiasan..? Ingin membalas sakit hati pada korban..? Tidak bahagia ketika bersama si korban..? Apalagi..?
Semua ini berhubungan dengan perasaan bukan?
Celakanya, manusia cenderung bertindak seperti hewan, langsung dan spontan mengikuti nafsunya, emosinya. perasaannya. Padahal manusia bisa menangani emosinya sebelum terlanjur menciptakan masalah baru.
Sebelum melangkah keluar dari diri ini, mari kita coba untuk melihat ke dalam terlebih dulu.
Mari kita coba berusaha untuk melihat secara mendalam setiap hal, setiap perasaan yang sedang kita alami, objek pikiran kita, mencoba untuk menyadari apa yang sedang terjadi di dalam diri ini, serta yang berada di luar.
Ketika kita sudah mencoba hal ini, kita akan mengerti bahwa setiap orang memiliki penderitaan, setiap orang menderita. Setiap orang butuh pertolongan, butuh kasih sayang.. Tapi kita tidak selalu terampil dalam mengungkapkannya.
Karena ketidak terampilan ini, lalu kita menciptakan kesalahan yang baru.
Dari kesalahan ini, mengakibatkan trauma pada anak2, anak2 mendapat luka batin, yg kemudian mempengaruhi mereka dalam bergaul. Dan selanjutnya anak2 lain mendapat efek dari anak kita, yang kemudian kembali meluas, dan jika tanpa "kesadaran", hal ini akan mereka bawa sampai mereka berumah tangga kelak.
Bereaksi tanpa berpikir...
Padahal manusia bisa menangani emosinya, hanya satu hal yang diperlukan: "BERHENTI" dan kembali ke "saat ini". Karena kita terus berlari, terus dan terus.. Terus berpikir tentang masa depan, mengingat masa lalu. Ketika satu hal terjadi, ini seperti sumbu api yang langsung membawa kita kembali ke ingatan masa lalu, kemudian berpikir tentang kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
Kita tidak pernah hidup di saat ini, benar-benar hidup di saat ini. Benar-benar bernapas di saat ini.. Benar-benar menyadari bahwa penderitaan bukan milik "aku" saja, tapi penderitaan itu benar-benar ada, benar-benar exist, dan semua orang merasakannya, mengalaminya. Tanpa terkecuali...Semua orang...
Mungkin banyak dari kita menyangkal seberapa berpengaruhnya "perasaan" dalam tingkah laku kita.
Perasaan tidak bahagia, perasaan tertekan, perasaan sedih, perasaan kecewa, perasaan sakit hati, perasaan marah, perasaan takut, perasaan tidak aman / insecurity, perasaan lemah, perasaan kesal....
Selama ini kita hanya merasakannya, tanpa menganalisanya, apa sebabnya, apa yang memicunya, saat perasaan itu muncul, apa yang terjadi didalam diriku? Apa yang terjadi dengan sekelilingku? Apakah aku menekan perasaan itu supaya tidak terlihat yang lain? Apakah aku berpura-pura tidak ada masalah?Atau aku langsung memuntahkannya pada orang yang aku anggap penyebabnya? Sudahkah aku mencoba mengerti dari sudut pandangnya? Apakah dia yang kusebut penyebab,juga menginginkan hal ini terjadi?
Kita begitu sibuk dengan pekerjaan, bahkan waktu 8 jam di kantor pun tidak cukup. Begitu sedikit waktu yang kita sediakan untuk diri kita sendiri.
Kita menelantarkan diri ini. Kita tidak lagi mengenalnya. Kita tidak lagi akrab dengannya. Padahal selama 24 jam, 7 hari seminggu kita selalu bersamanya.
Tapi seberapa lihai kita menjaganya? Merawatnya supaya sehat? Supaya bahagia? Apakah kita merawatnya, peduli padanya, seperti kita merawat dan peduli dengan pekerjaan kita?
Apakah kita mengawasi / melihat apa yang terjadi dengan diri ini, sama telitinya dengan ketika mengerjakan laporan keuangan? Menyiapkan jurnal / neraca keuangan perusahaan kita? Apakah kita pernah melakukan monitoring yang sama telitinya pada diri ini?
Setelah menyadarinya, sudah cukup terampilkah kita dalam mengungkapkannya? Apakah tidak akan mengakibatkan kesalahpahaman lagi?
Yang lebih menggelitik: Apakah kita juga menyadari saat "Kesalahpahaman" itu terjadi? SADARKAH ANDA?
Semua pertanyaan ini timbul dan tenggelam dalam diriku.
Mari kita berusaha bersama-sama untuk terlebih dulu mengenali siapa diri ini sebenarnya..
Dan silakan bagi bro & sis yang ingin menanggapi.
Terimakasih semua...
metta,
Julie
====================================================
Ny K (39), sudah 15 tahun menikah dengan dua anak laki-laki menjelang remaja, mengungkapkan dengan mata berkaca-kaca.Secara kebetulan saya membaca SMS pada HP suami saya saat ia mandi karena HP-nya berdering tanda SMS masuk. Saya benar-benar terkejut karena kalimat-kalimat pada SMS itu terkesan mesra, yang dikirim dengan nama laki-laki. Mengingat isinya, rasanya tidak mungkin bila yang mengirimkan laki-laki. Setelah saya desak, akhirnya suami mengaku memang benar yang mengirim SMS tersebut teman perempuannya yang dikenal di suatu tempat karaoke. Dia adalah PL (pemandu lagu) di karaoke tersebut.Saya memang marah dan kecewa sekali karena selama ini dia adalah suami yang saya yakini betul setia, baik, dan jujur. Sejak itu kami sering bertengkar dan terus terang saya sering merasa cemburu. Tetapi, suatu saat suami mengatakan, selama 15 tahun perkawinan dia merasa tertekan karena mendapatkan saya "tidak gadis" saat malam pertama.Perkataan tersebut membuat saya merasa seperti tersengat petir karena saya ingat betul bahwa memang darah baru keluar ketika saya buang air kecil. Saya tidak menceritakannya pada suami saya saat itu karena saya kira hal itu biasa-biasa saja. Saya berani bersumpah saya belum pernah senggama kecuali dengan suami. Dan, saya heran kenapa hal itu baru diungkap saat ini, padahal selama 15 tahun perkawinan dia tidak pernah menyatakan keluhan apa pun tentang "malam pertama".
Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.
See the all-new, redesigned Yahoo.com. Check it out.
How low will we go? Check out Yahoo! Messengers low PC-to-Phone call rates. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
__,_._,___
