Namo Buddhaya,

Menurut pendapat saya jika membahas masalah perselingkuhan, kita 
juga harus melihat dari sudut pandang masyarakat secara luas. 
Masyarakat kita dan dunia ini memang sedang sakit karena pengaruh 
konsumerisme yang berlebihan, dimana ini telah dinyatakan oleh Lama 
Thubten Yeshe. Konsumerisme yang berlebihan memacu orang untuk 
bekerja dan bekerja semakin keras sehingga mengalami titik 
kejenuhan. Akibatnya timbul ketidak-puasan dalam segala bidang 
termasuk dalam keluarga. Hubungan keluarga menjadi rusak sehingga 
orang cenderung mencari kesenangan di luar. Menurut saya untuk 
mencegah hal ini kita perlu melindungi nilai-nilai tradisional yang pernah 
berlaku di tengah-tengah masyarakat. Konsumerisme memang baik, 
karena akan menggerakkan roda perekonomian, tetapi kalau sudah 
berlebihan hal ini akan menjadi jurang penderitaan. Pekerjaan sekarang 
justru menyebabkan alienasi masyarakat dengan keluarga, tetangga, 
atau lingkungannya. Namun sayangnya sadar atau tidak sadar kita 
malah melembagakan atau mendukung alienasi ini. Dengan demikian, 
kita perlu kembali pada ajaran sosialisme Buddhis yang diusung oleh 
Ajahn Sulak Sivaraksa, yang merupakan salah satu tokoh idola saya. 
Konsumerisme hendaknya memandang batasan2, yakni rasa cukup 
yang tidak berlebihan.
Selain itu umat Buddha juga seyogianya bersatu padu menghimbau 
pemerintah agar membatasi sinetron2 yang bertema perselingkuhan, 
karena itu justru akan memicu orang berselingkuh. Sadar atau tidak 
sadar televisi juga menjadi salah satu penyebab penyakit dalam 
masyarakat.
Baik saya kira sekian dahulu pendapat saya. Semoga bermanfaat.

Metta,

Tan


--- In [email protected], julie julie <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> 
> Dear all,
> Sekuntum teratai untuk Anda semua, para calon Buddha.
> Dibawah ini ada kisah tentang bagaimana para suami membenarkan 
perselingkuhan mereka. 
>  
> Bukan soal yg mudah untuk mengatakan bahwa pihak yang 
berselingkuh itu pasti salah. Kita tau dalam setiap langkah yg kita buat, 
setiap pendapat kita, selalu berdasarkan pandangan kita. Kita selalu 
melihat dari sudut pandang kita sendiri.
> Jika seperti ini, orang lain pun sama seperti kita kan? 
> 
> Nah, SELINGKUH...Kata pemecah keluarga, penyebab pertengkaran, 
kebencian, cemburu, kemarahan.
> Jika kita membahas ini, tidaklah segampang membedakan hitam dan 
putih.
> begitu banyak sisi yang mesti kita lihat lagi. Baik dari sisi yang kita 
sebut "korban" (dalam hal ini  istri), maupun "pelaku" (dalam hal ini 
suami).
> Tidak mungkin bukan jika korban tidak memiliki salah satu faktor 
sebagai penyebab..? Tidak sepenuhnya juga kesalahan terletak pada 
pihak pelaku. Semua saling berhubungan, saling terkait, saling  
menjadikan.
> 
> Kita semua tahu, segala sesuatu terjadi karena sebab. Mustahil ada 
yg muncul begitu saja.
> Katakanlah, bahwa si korban tidak bisa memuaskan si pelaku yang 
selanjutnya mendorong pelaku untuk selingkuh. Nah sebelum lanjut ke 
langkah berikutnya, mari kita telaah lebih mendalam lagi, kondisi apa 
yang mendorong si pelaku untuk selingkuh? Perasaan / emosi apa 
yang mendorong dia untuk selingkuh?
> Tidak puas..? Ingin mencari pelampiasan..? Ingin membalas sakit 
hati pada korban..? Tidak bahagia ketika bersama si korban..? 
Apalagi..?
> Semua ini berhubungan dengan perasaan bukan?
> 
> Celakanya, manusia cenderung bertindak seperti hewan, langsung 
dan spontan mengikuti nafsunya, emosinya. perasaannya. Padahal 
manusia  bisa menangani emosinya sebelum terlanjur menciptakan 
masalah baru.
> Sebelum melangkah keluar dari diri ini, mari kita coba untuk melihat 
ke dalam terlebih dulu.
> Mari kita coba berusaha untuk melihat secara mendalam setiap hal,  
setiap perasaan yang sedang kita alami, objek pikiran kita, mencoba 
untuk menyadari apa yang sedang terjadi di dalam diri ini, serta yang 
berada di luar.
> 
> Ketika kita sudah mencoba hal ini, kita akan mengerti bahwa setiap 
orang memiliki penderitaan, setiap orang menderita. Setiap orang butuh 
pertolongan, butuh kasih sayang.. Tapi kita tidak selalu terampil dalam 
mengungkapkannya.
> Karena ketidak terampilan ini, lalu kita menciptakan kesalahan yang 
baru.
> Dari kesalahan ini, mengakibatkan trauma pada anak2, anak2 
mendapat luka batin, yg kemudian mempengaruhi mereka dalam 
bergaul. Dan selanjutnya anak2 lain mendapat efek dari anak kita, yang 
kemudian kembali meluas, dan jika tanpa "kesadaran", hal ini akan 
mereka bawa sampai  mereka berumah tangga kelak. 
> 
> Bereaksi tanpa berpikir...
> Padahal manusia bisa menangani emosinya, hanya satu hal yang 
diperlukan: "BERHENTI" dan kembali ke "saat ini". Karena kita terus 
berlari, terus dan terus.. Terus berpikir tentang masa depan, mengingat 
masa lalu. Ketika satu hal terjadi, ini seperti sumbu api yang langsung 
membawa kita kembali ke ingatan masa lalu, kemudian berpikir tentang 
kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. 
> 
> Kita tidak pernah hidup di saat ini, benar-benar hidup di saat ini. 
Benar-benar bernapas di saat ini.. Benar-benar menyadari bahwa 
penderitaan bukan milik "aku" saja, tapi penderitaan itu benar-benar 
ada, benar-benar exist, dan semua orang merasakannya, 
mengalaminya. Tanpa terkecuali...Semua orang...
> 
> Mungkin banyak dari kita menyangkal seberapa  
berpengaruhnya "perasaan" dalam tingkah laku kita. 
> Perasaan tidak bahagia, perasaan tertekan, perasaan sedih, 
perasaan kecewa, perasaan sakit hati, perasaan marah, perasaan 
takut, perasaan tidak aman / insecurity, perasaan lemah, perasaan  
kesal....
> 
> Selama ini kita hanya merasakannya, tanpa menganalisanya, apa 
sebabnya, apa yang memicunya, saat perasaan itu muncul, apa yang 
terjadi didalam diriku? Apa yang terjadi dengan sekelilingku? Apakah 
aku menekan perasaan itu supaya tidak terlihat yang lain? Apakah aku 
berpura-pura tidak ada masalah?Atau aku langsung memuntahkannya 
pada orang yang aku anggap penyebabnya? Sudahkah aku mencoba 
mengerti dari sudut pandangnya? Apakah dia yang kusebut 
penyebab,juga menginginkan hal ini terjadi? 
> 
> Kita begitu sibuk dengan pekerjaan, bahkan waktu 8 jam di kantor 
pun tidak cukup. Begitu sedikit waktu yang kita sediakan untuk diri kita 
sendiri.
> Kita menelantarkan diri ini. Kita tidak lagi mengenalnya. Kita tidak 
lagi  akrab dengannya. Padahal selama 24 jam, 7 hari seminggu kita 
selalu bersamanya.
> Tapi seberapa lihai kita menjaganya? Merawatnya supaya sehat? 
Supaya bahagia? Apakah kita merawatnya, peduli padanya, seperti  
kita merawat dan peduli dengan pekerjaan kita? 
> Apakah kita mengawasi / melihat apa yang terjadi dengan diri ini, 
sama telitinya dengan ketika mengerjakan laporan keuangan? 
Menyiapkan jurnal / neraca keuangan perusahaan kita? Apakah kita 
pernah melakukan monitoring yang sama telitinya pada diri ini?
> 
> Setelah menyadarinya, sudah cukup terampilkah kita dalam 
mengungkapkannya? Apakah tidak akan mengakibatkan 
kesalahpahaman lagi?
> 
> Yang lebih menggelitik: Apakah kita juga menyadari 
saat "Kesalahpahaman" itu terjadi? SADARKAH ANDA?
> 
> Semua pertanyaan ini timbul dan tenggelam dalam diriku.
> Mari kita berusaha bersama-sama untuk  terlebih dulu mengenali 
siapa diri ini sebenarnya..
> 
> Dan silakan bagi bro & sis yang ingin menanggapi. 
> Terimakasih semua...
> 
> metta,
> Julie
> 
====================================================
> Ny K (39), sudah  15 tahun menikah dengan dua anak laki-laki 
menjelang remaja, mengungkapkan dengan mata berkaca-kaca.  
> Secara kebetulan saya membaca SMS pada HP suami saya saat ia 
mandi karena HP-nya berdering tanda SMS masuk. Saya benar-benar 
terkejut karena kalimat-kalimat pada SMS itu terkesan mesra, yang 
dikirim dengan nama laki-laki. Mengingat isinya, rasanya tidak mungkin 
bila yang mengirimkan laki-laki. Setelah saya desak, akhirnya suami 
mengaku memang benar yang mengirim SMS tersebut teman 
perempuannya yang dikenal di suatu tempat karaoke. Dia adalah PL 
(pemandu lagu) di  karaoke tersebut.  
> Saya memang marah dan kecewa sekali karena selama ini dia 
adalah suami yang saya yakini betul setia, baik, dan jujur. Sejak itu 
kami sering bertengkar dan terus terang saya sering merasa cemburu.  
Tetapi, suatu saat suami mengatakan, selama 15 tahun perkawinan dia 
merasa tertekan karena mendapatkan saya "tidak gadis" saat malam 
pertama.  
> Perkataan tersebut membuat saya merasa seperti tersengat petir 
karena saya ingat betul bahwa memang darah baru keluar ketika saya 
buang air kecil. Saya tidak menceritakannya pada suami saya saat itu 
karena saya kira hal itu biasa-biasa saja. Saya berani bersumpah saya 
belum pernah senggama kecuali dengan suami. Dan, saya heran 
kenapa hal itu baru diungkap saat ini, padahal selama 15 tahun 
perkawinan dia tidak pernah menyatakan keluhan apa pun 
tentang "malam pertama".  
> 
>         
> 
> ---------------------------------
> Want to  be your own boss? Learn how on  Yahoo! Small Business.  
>       
> 
> ---------------------------------
> See the all-new, redesigned Yahoo.com.  Check it out. 
> 
>               
> ---------------------------------
> How low will we go? Check out Yahoo! Messenger's low  PC-to-
Phone call rates.
>







** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke