Sepertinya ada baiknya Anda berhenti berbicara omong kosong disini, apalagi
menyebar flame yang sama sekali tidak rasional, anda benar2 tidak tahu arti
dari dokter itu sendiri...

>>>Persoalannya adalah yg berbiaya murah
kurang punya kwalitas obat tersebab mengandalkan obat subsidi semacam
obat generik, sementara yg berbiaya tinggi punya kwalitas pelayanan
walau belum tentu bisa menyembuhkan dgn obat-obat keluaran farmasi
mahal....

Coba diingat2 lagi, Anda pergi ke dokter atau ke tukang obat??? Anda tahu
perbedaan obat generik dan obat keluaran farmasi? obat paten? kalau anda
tidak tahu sebaiknya Anda caritahu dulu sebelum mengeluarkan pernyataan yang
kontroversial...

>>>harga obat bisa
berkali lipat dalam tangan dokter... Ini belum secarik kertas yg
namanya RESEP DOKTER!

memangnya apa bedanya kertas resep dengan kertas putih biasa??? kenapa harga
obat bisa berkali lipat di tangan dokter? Anda beli obat di dokter atau di
apotik??

>>> Saya sudah paparkan banyak contoh, terakhir biaya berobat istri yg
hanya untuk minta kertas resep dan konsultasi saja, si dokter
kandungan minta 50ribu rupiah... wah wah wahhh... sementara pengamatan
saya pasiennya hari ini tercatat 26 orang kali 50ribu biaya konsul,
ini belum obat... artinya hanya meminta petunjuk bapak dokter, kita
ditagih 50ribu tanpa obat... Ini realitas bukan rekayasa cerita...

sekali lagi.. Anda mau beli obat di dokter???

>>>Puskesmas kita sudah tidak mampu menyajikan pelayanan paripurna, hanya
sementara saja, mungkin tersebab negara tidak mampu melayani rakyat
sendiri dgn alat-alat kedokteran yg paling canggih dan paling maju..

kalo gitu biaya kesehatan semuanya buat beli alat2 aja, fakultas kedokteran
semua ditutup aja, uangnya buat beli alat2 canggih... hahahaha...
Anda tau tidak kegunaan dari alat2 tersebut? sebagai pembuat diagnosis?
diagnosis banding? diagnosis penunjang? diagnosis pasti???
sekali lagi... kalo Anda tidak tahu sebaiknya caritahu dulu, jangan
menyinggung perasaan teman2 kita di bidang kesehatan

>>>
Saya kira hal lainnya yg bikin mahal biaya berobat adalah Investasi
dibidang pendidikan kedokteran yg luar biasa mahalnya, sehingga
menghasilkan lulusan-lulusan dokter yg berjiwa kapitalist yaitu
mengembalikan modal yg tertanam semasa kuliah dulu dan mengorbankan
pelayanan sosial, sehingga biaya kuliah dulu dibebankan pada para
pasien... Demikian Mr.Russel Spt berargumen dalam " Alkisah"
Dan hal lainnya adalah tersebab lamanya pendidikan dokter yg lebih
lama dibanding jurusan-jurusan lain dan memakan waktu dan biaya tidak
sedikit sehingga dokter balas dendam pada para pasien dgn menimpakan
biaya berobat tinggi...

Wah sepertinya Anda sudah berkuliah di berbagai fakultas kedokteran....
benar2 analisis yang cermat dan tidak dapat dipercaya...

>>>Saya tahu ada banyak dokter yg tidak menerapkan uang jasa tinggi
terutama yg dpedalaman, yg lagi dalam masa percobaan setelah lulus,
tetapi ada banyak sekali dokter-dokter kita yg tanpa ampun main pukul
rata dalam hal tarif jasa... Ini perlu diperhatikan oleh Dep kesehatan
dan juga Institusi IDI...

Saya percaya Anda tahu bahwa ada dokter yang bekerja di pedalaman, tapi saya
juga percaya bahwa Anda TIDAK TAHU bahwa mereka disana bukan untuk percobaan
!!! Anda benar2 mengecewakan dokter2 berhati mulia tersebut dan masyarakat
pedalaman yang Anda katakan sebagai subjek percobaan !!!

Saran saya adalah, sebaiknya Anda menemui seorang counselor, bisa seorang
psikolog ataupun seorang psikiater untuk menyelesaikan masalah Anda, Jangan
sampai masalah Anda mengganggu kualitas hidup Anda di tengah masyarakat.

terima kasih.


On 10/18/06, Sang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Yg mulia Dokter-dokter kita disini,
>
> Saya sekali lagi mohon maaf telah bikin gempar dunia milis kedokteran,
> terlihat dari banyaknya tanggapan yg datang..
>
> Tujuannya adalah sebuah upaya mengingatkan... Salah satu sisi ibadah
> adalah saling meingingatkan dalam keburukan supaya ada perbaikan dan
> peningkatan kearah yg lebih baik..
>
> Saya adalah tukang Kritik di dunia milis sekaligus tukang gugat atas
> hal apa saja yg dianggap penyimpangan baik itu ekonomi, politik,
> sosial, budaya, filsafat juga perbandingan antar agama.. kritikan
> adalah hal yg membangun bukan mematikan... Saya tidak menggeneralisir
> semua Dokter itu materialist, saya mahfum ada banyak dokter kita yg
> jadi pejuang keringat didaerah abnormal model daerah perang dan
> terpencil...
>
> Tetapi kalau semua orang diminta berobat kedokter berbiaya murah, saya
> kira akan banyak dokter yg menjerit tidak punya pasien sekaligus tidak
> punya income pendapatan... Persoalannya adalah yg berbiaya murah
> kurang punya kwalitas obat tersebab mengandalkan obat subsidi semacam
> obat generik, sementara yg berbiaya tinggi punya kwalitas pelayanan
> walau belum tentu bisa menyembuhkan dgn obat-obat keluaran farmasi
> mahal.... Saya kira mahal atau tidaknya bukan dari obat saja, tetapi
> dari persepsi dokter itu atas obatnya sendiri... harga obat bisa
> berkali lipat dalam tangan dokter... Ini belum secarik kertas yg
> namanya RESEP DOKTER!
>
> Akhir-akhir ini saya coba renungkan apa sebab terjadinya kemiskinan
> yg salah satunya adalah sistem ekonomi gaya kapitalisme yg ternyata
> juga memghinggapi dunia kesehatan... dan berimbas pada mahalnya biaya
> berobat yg banyak pihak mengatakan terlalu mahal untuk ukuran negara
> miskin semacam Indonesia..
>
> Saya sudah paparkan banyak contoh, terakhir biaya berobat istri yg
> hanya untuk minta kertas resep dan konsultasi saja, si dokter
> kandungan minta 50ribu rupiah... wah wah wahhh... sementara pengamatan
> saya pasiennya hari ini tercatat 26 orang kali 50ribu biaya konsul,
> ini belum obat... artinya hanya meminta petunjuk bapak dokter, kita
> ditagih 50ribu tanpa obat... Ini realitas bukan rekayasa cerita...
>
> Puskesmas kita sudah tidak mampu menyajikan pelayanan paripurna, hanya
> sementara saja, mungkin tersebab negara tidak mampu melayani rakyat
> sendiri dgn alat-alat kedokteran yg paling canggih dan paling maju..
>
> Sementara dunia kedokteran terus makin berinovasi, alat-alat
> kedokteran makin banyak dan beragam plus juga biaya pengadaaanya..ini
> yg barangkali bikin mahal pelayanan berobat dirumah sakit swasta dan
> mungkin juga RS negeri nantinya...
>
> Saya kira hal lainnya yg bikin mahal biaya berobat adalah Investasi
> dibidang pendidikan kedokteran yg luar biasa mahalnya, sehingga
> menghasilkan lulusan-lulusan dokter yg berjiwa kapitalist yaitu
> mengembalikan modal yg tertanam semasa kuliah dulu dan mengorbankan
> pelayanan sosial, sehingga biaya kuliah dulu dibebankan pada para
> pasien... Demikian Mr.Russel Spt berargumen dalam " Alkisah"
>
> Dan hal lainnya adalah tersebab lamanya pendidikan dokter yg lebih
> lama dibanding jurusan-jurusan lain dan memakan waktu dan biaya tidak
> sedikit sehingga dokter balas dendam pada para pasien dgn menimpakan
> biaya berobat tinggi...
>
> Saya tahu ada banyak dokter yg tidak menerapkan uang jasa tinggi
> terutama yg dpedalaman, yg lagi dalam masa percobaan setelah lulus,
> tetapi ada banyak sekali dokter-dokter kita yg tanpa ampun main pukul
> rata dalam hal tarif jasa... Ini perlu diperhatikan oleh Dep kesehatan
> dan juga Institusi IDI...
>
> Saya hanya meminta supaya Dokter-dokter semacam ini ditertipkan, sebab
> dgn kondisi saat ini yg terlalu banyak kaum dhuafa, biaya berobat yg
> terlalu mencekik leher pada dasarnya akan mematikan semangat hidup
> mereka cepat atau lambat...
>
> Sang
>


[Non-text portions of this message have been removed]



Dapatkan informasi kesehatan gratis
Mailing List Dokter Indonesia
http://www.mldi.or.id 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dokter/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dokter/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke