Yang terhormat,
   
  Sang [EMAIL PROTECTED]
  Sang tukang kritik dan gugat
   
  Saya sangat menghargai pendapat Anda, tapi harapan bukan sekedar pendapat 
dengan alternatif dan dugaan Anda bahwa sistem Kapitalis yang diterapkan pada 
jasa pelayanan Medis, maka kita serahkan saja ke mekanisme Pasar secara alami 
seperti halnya Dokter Kandungan Istri Anda dengan 26 pasien yang memasang tarif 
konsul 50rb hanya dengan secarik kertas, pasti Istri Anda tidak akan kembali 
lagi ke Dokter Kandungan tersebut, sederhana. (padahal Dokter Kandungan 
mendapatkan uang konsul 30rb, sisanya untuk sewa tempat dan fasilitas Pemilik 
Klinik Praktek Swasta)
   
  [pertama] Pendapat Anda jika biaya murah sebanding dengan kualitas, dan obat 
Generik kualitas buruk, padahal titik persoalannya pada Dokter harus bekerja 
Profesional,titik. Tetapi jika diharapkan harga pelayanan di Puskesmas seperti 
Praktek Swasta sebagai pelayanan Paripurna, wach ini seperti hukum Pembeli vs 
Penjual, Pembeli maunya harga semurah mungkin dengan kualitas maksimal (kemarin 
sudah ada contoh beli Satay), kenapa Pak Sang dan keluarganya tidak mengikuti 
program Asuransi, boleh apa saja.
   
  [kedua] Pendapat Anda bahwa persepsi Dokterlah yang menyebabkan cost 
pelayanan Kesehatan melambung tinggi, anggapan ini tidak seluruhnya salah jika 
Dokter bekerja dengan tidak Profesional, hanya dokter tidak akan mampu 
mengkontrol harga Obat dan Alkes maupun Owner fasilitas pelayanan  kesehatan 
itu sendiri, yang pada gilirannya membebani biaya Kesehatan, berulangkali Saya 
jelaskan justru disinilah prioritas masalah yang Anda bicarakan selama ini, 
bukan menghujat Profesinya salah alamat namanya (Betulkah Para Dokter ikut 
Andil Dalam Pemiskinan bangsa Ini?) , Untuk membuka mata Awam coba baca di 
millis bagaimana nasib dokter di daerah terpencil, Anda berjuang untuk Keluarga 
atau Umat ? coba Anda renungkan apa dosa individu dan dosa kolektif. 
   
  [ketiga] Saudaraku Sang Penggugat dan Pengkritik, yang masih diperlukan untuk 
pengingat dan pembanding. Siapakah yang akan menertibkan, disini ada segi tiga 
komponen dan Pemerintah sebagai kontrol, persis membicarakan harga Pupuk jangan 
produsen saja yang Anda dituding, tapi banyak kepentingan disini.
   
  Saudaraku Sang, hati ini jujur juga merindukan biaya Kesehatan bisa 
terjangkau, hanya marilah dikemas dengan baik dan disampaikan dengan cara yang 
baik pula tidak harus mendiskriditkan Profesi tertentu dan nilai perjuangan itu 
adalah sebuah kejujuran terhadap diri sendiri.
  Kritik dan gugatan itu ada nashnya sesuai junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, 
tidak sektarian dan eksklusif tapi rakhmatan lil alamin jika salah satu sisi 
Ibadah adalah menyampaikan Kebenaran maka Saya sudah utarakan sebelumnya 
sampaikanlah terlebih dahulu Keadilan, syukur jika Anda memiliki kepribadian 
amanah bisa terpilih menyampaikan Kebenaran dan Keadilan ecara bersamaan.
  Dengan ini Saya akan menutup untuk tidak merespon semua tanggapan pribadi 
lagi karena kebenarannya belum teruji dan apakah bermanfaat atau tidak, maka 
jika banyak kesalahan itu karena Saya pribadi, mohon maaf lahir batin.
   
  Salam sejawat
  Dr Aris Winandar
  

Sang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Yg mulia Dokter-dokter kita disini,

Saya sekali lagi mohon maaf telah bikin gempar dunia milis kedokteran,
terlihat dari banyaknya tanggapan yg datang..

Tujuannya adalah sebuah upaya mengingatkan... Salah satu sisi ibadah
adalah saling meingingatkan dalam keburukan supaya ada perbaikan dan
peningkatan kearah yg lebih baik..

Saya adalah tukang Kritik di dunia milis sekaligus tukang gugat atas
hal apa saja yg dianggap penyimpangan baik itu ekonomi, politik,
sosial, budaya, filsafat juga perbandingan antar agama.. kritikan
adalah hal yg membangun bukan mematikan... Saya tidak menggeneralisir
semua Dokter itu materialist, saya mahfum ada banyak dokter kita yg
jadi pejuang keringat didaerah abnormal model daerah perang dan
terpencil... 

Tetapi kalau semua orang diminta berobat kedokter berbiaya murah, saya
kira akan banyak dokter yg menjerit tidak punya pasien sekaligus tidak
punya income pendapatan... Persoalannya adalah yg berbiaya murah
kurang punya kwalitas obat tersebab mengandalkan obat subsidi semacam
obat generik, sementara yg berbiaya tinggi punya kwalitas pelayanan
walau belum tentu bisa menyembuhkan dgn obat-obat keluaran farmasi
mahal.... Saya kira mahal atau tidaknya bukan dari obat saja, tetapi
dari persepsi dokter itu atas obatnya sendiri... harga obat bisa
berkali lipat dalam tangan dokter... Ini belum secarik kertas yg
namanya RESEP DOKTER!

Akhir-akhir ini saya coba renungkan apa sebab terjadinya kemiskinan
yg salah satunya adalah sistem ekonomi gaya kapitalisme yg ternyata
juga memghinggapi dunia kesehatan... dan berimbas pada mahalnya biaya
berobat yg banyak pihak mengatakan terlalu mahal untuk ukuran negara
miskin semacam Indonesia..

Saya sudah paparkan banyak contoh, terakhir biaya berobat istri yg
hanya untuk minta kertas resep dan konsultasi saja, si dokter
kandungan minta 50ribu rupiah... wah wah wahhh... sementara pengamatan
saya pasiennya hari ini tercatat 26 orang kali 50ribu biaya konsul,
ini belum obat... artinya hanya meminta petunjuk bapak dokter, kita
ditagih 50ribu tanpa obat... Ini realitas bukan rekayasa cerita...

Puskesmas kita sudah tidak mampu menyajikan pelayanan paripurna, hanya
sementara saja, mungkin tersebab negara tidak mampu melayani rakyat
sendiri dgn alat-alat kedokteran yg paling canggih dan paling maju..

Sementara dunia kedokteran terus makin berinovasi, alat-alat
kedokteran makin banyak dan beragam plus juga biaya pengadaaanya..ini
yg barangkali bikin mahal pelayanan berobat dirumah sakit swasta dan
mungkin juga RS negeri nantinya...

Saya kira hal lainnya yg bikin mahal biaya berobat adalah Investasi
dibidang pendidikan kedokteran yg luar biasa mahalnya, sehingga
menghasilkan lulusan-lulusan dokter yg berjiwa kapitalist yaitu
mengembalikan modal yg tertanam semasa kuliah dulu dan mengorbankan
pelayanan sosial, sehingga biaya kuliah dulu dibebankan pada para
pasien... Demikian Mr.Russel Spt berargumen dalam " Alkisah" 

Dan hal lainnya adalah tersebab lamanya pendidikan dokter yg lebih
lama dibanding jurusan-jurusan lain dan memakan waktu dan biaya tidak
sedikit sehingga dokter balas dendam pada para pasien dgn menimpakan
biaya berobat tinggi...

Saya tahu ada banyak dokter yg tidak menerapkan uang jasa tinggi
terutama yg dpedalaman, yg lagi dalam masa percobaan setelah lulus,
tetapi ada banyak sekali dokter-dokter kita yg tanpa ampun main pukul
rata dalam hal tarif jasa... Ini perlu diperhatikan oleh Dep kesehatan
dan juga Institusi IDI...

Saya hanya meminta supaya Dokter-dokter semacam ini ditertipkan, sebab
dgn kondisi saat ini yg terlalu banyak kaum dhuafa, biaya berobat yg
terlalu mencekik leher pada dasarnya akan mematikan semangat hidup
mereka cepat atau lambat...

Sang 

--- In [email protected], aris winandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Yang terhormat,
> Sang [EMAIL PROTECTED]
> 
> Alhamdulliah, titik temu sudah mulai nampak ternyata bukan semua
dokter ikut Andil Dalam Pemiskinan bangsa Ini? antara Oknum dengan
Institusi Profesi ternyata jauh Ya Pak Sang, niatan baik harus dikemas
dengan baik dan disajikan dengan baik pula itu rule of life, orang
Awampun akan bilang Basic buangeth dan jangan dijadikan ini Polemik murah.
> 
> Sedikit mengganjal di benak Saya tentang argumen Pak Sang saat
berobat Untuk Ibunya hingga 500rb dan belum sembuh juga, ini pendapat
Awam yang juga berintuisi mungkin banyak kesalahan yang dilakukan oleh
dokter Ibu saudara, Ini bahaya......
> Seperti yang Saya jelaskan terdahulu, apakah 500rb biaya untuk
dokter saja atau sudah termasuk Obat Ibu Anda dan sewa alat serta
tempat praktek Si Dokter Spesialis atau Umum, coba baca kembali unit
cost pembiayaan pelayanan kesehatan yang pernah Saya sampaikan, soal
kesembuhan, Dokter harus bekerja Profesional titik selebihnya ditangan
Tuhan, salah bisa dituntut secara HUKUM melalui Kodeki atau IDI
(Ikatan Duafa Indonesia) atau Pengacara anda, Saya juga pernah
sampaikan Kepuasan dalam pelayanan kesehatan bagi Pengguna jasa
pelayanan Kesehatan sangat luas dan individual, kalau Pak Sang sudah
tidak percaya dengan para dokter Indonesia bisa berobat ke Singapore,
atau kalau terhalang biaya datang ke Puskesmas, Negara Indonesia akan
mensubsidi Anda, kami di Tebet bisa merekomendasikan Anda untuk
menemui Ki Joko Bodo di Lubang Buaya, Gratis pula, Insya Allah.
> 
> Saya harus belajar ikhlas, kalau tidak mampu maka dengan uang
5000rb, tidak akan berfikiran beli sate di Satay house, Martimbang
Kebayoran, Solusinya kepada uang 5000rb Saya akan berkata cari teman
yang banyak dan Aku sekarang lapar beri makan yang bermanfaat bagi
Jasmaniku, lalu dijawab sendiri oleh Pak Sang yang bener, Baik
> 
> Pak Sang janganlah berharap kepada manusia, dokter sekalipun agar
murah hati tetapi berharaplah ke pada Tuhan YME, ini mengingatkan
kepada Diri Saya sendiri dulu.
> 
> Salam
> Dr Aris Winandar
> Note : Rumah Anda di Bekasi, Saya juga kost di
Cemerlang,Jatibening, Bekasi 17412 (tlp 021-724.834)
> 
> 
> Sang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Dr. Aris yg arif dan dokter saya lainnya
> 
> Saya mohon maaf, sebetulnya tujuan saya mendaratkan tamparan keras
> pada pihak Dokter, itu tujuannya baik, bukan upaya pendiskeditan
> profesi Dokter yg pada dasarnya mulia, berguna dan penuh arti bagi
> kesejahteraan bersama.. Siapakah diplanet ini yg tdk butuh Dokter?
> saya yakin semua akan jawab butuh sekali... Dulu dukun, paranormal dst
> dicari orang, sekarang alternatif berobat yg pertama sekali didatangi
> adalah Dokter, baru berikutnya tempat alternatif lain..
> 
> Saya angkat topi bagi banyak Dokter kita yg telah bekerja tanpa pamrih
> diberbagai wilayah pedalaman termasuk wilayah Perang, juga daerah
> bencana dan mungkin juga masuk wilayah tak tersentuh peradaban.. Saya
> menggelari mereka ini sebagai PAHLAWAN KEMANUSIAAN.... Yaitu
> orang-orang yg berjuang menanamkan nilai-nilai persaudaraan,
> tolong-menolong dan rela berkorban demi manusia...
> 
> Hanya saja, mungkin Dokter juga adalah manusia, ini yg membikin ada
> pihak-pihak Dokter yg bekerja dgn insting manusianya terutama insting
> materi dan insting kelebihan... Siapa yg ingin kurang???
> 
> Saya kira keinginan untuk lebih itulah yg membikin ada dokter-dokter
> kita yg berlaku sebagi penghisap... Ini yg saya kira harus dikontrol
> oleh Institusi Dokter kita yaitu IDI... 
> 
> kemarin-kemarin biaya berobat Ibu saya didaerah Bekasi hampir-hampir
> 500ribu sekali berobat dgn kondisi yg masih tetap sama dgn yg semula
> yaitu sakit hingga sekarang!!!.. 
> 
> Argumen Saya mungkin banyak kesalahan, tetapi ini adalah sebuah
> pandangan lain bagi dokter-dokter kita bahwa kesembuhan tidak dapat
> dibeli dgn uang dan mengapa mesti menetapkan tarif tinggi bagi sebuah
> penyakit pasien...
> 
> Saya hanya berharap Dokter-dokter kita akan lebih murah hati dari
> sebelumnya... Terima kasih dgn segala tanggapan dan saya mungkin akan
> saya akhiri polemik ini dgn setitik saran: TAKE THE SELF CRITICS...
> Kritiklah diri sendiri... 
> 
> Sang



         

                                
---------------------------------
Want to be your own boss? Learn how on  Yahoo! Small Business. 

[Non-text portions of this message have been removed]



Dapatkan informasi kesehatan gratis
Mailing List Dokter Indonesia
http://www.mldi.or.id 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dokter/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dokter/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke