silahkan bang,  cola plus spagethi, jangan makan filsafat aja,
huahahahaha....

  [Photobucket - Video and Image Hosting]  <http://photobucket.com/>

  <http://photobucket.com/> pemujaan rasionalisasi yang meng-implikasikan
revolusi peradaban kelihatannya nyaris berhasil meruntuhkan pilar2
otorisasi keagamaan.  memang terasa sangat postmodernis bila tiba2
secara aktual kita tidak lagi membutuhkan akar identitas, stabilitas,
atau suatu sumber. yang lebih suka tanpa identitas, seorang nihilis.

setiap tindakan dalam kehidupan dibolehkan oleh prinsip yang mempunyai
pengaruh langsung terhadap hasil dan tujuan akhir kita. namun
bagaimanapun kita tahu, jika kita mengetahui segala sesuatu, bahwa tidak
ada yang secara rasional dapat menertibkan skema benda2 yang ada di luar
sana.

agama itu idealnya adalah suatu trik yang dapat membantu kita untuk
mencintai kehidupan agar hidup dengan lebih baik.

salam, sisc





  <http://photobucket.com/>






--- In [email protected], Mamat Peci Peci <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> tentang neraka dan surga
>
> ketika tuhan ternihilkan,
> maka tidak ada dosa dan pahala
> pada saat bersamaan tidak ada siksaan dan kenikmatan
> apa yang di siksa dan dimana disiksa?
> kenikmatan apa yang di dapat, dan di mana kenikmatan itu.
> karena tuhan yang menciptakan keduanya kini telah ternililkan.
>
> Benar apa yang dikatakan oleh Juragan ..... (sapa tuh)...
> Sorga dan neraka hanya ....
> dan sebuah manifestasi dari ketidakberdayaan .
>
> ketika filsafat ketuhanan tereliminasi oleh post ....
> di mana kata-kata, bahasa dan tanda menjadi maskot
> sungguh ..... neraka dan surga
> bisa di katakata, dibahasa dan ditanda
>
> ketika disbutkan "neraka"
> struktur apa yang membias darinya..
> sebuah siksaan kah, kondisi depresi, iklim yang amat panas,
> kekejaman dunia, kesulitan yang bertubi-tubi, atau ....
>
> apa "struktur" yang kita pahami ketika kita mendengar
> "hidup ini bagai neraka"
> "waduh... nih panas dah kae di neraka "
>
> Ketika, Q mengajarkan anak-anak tentang ketuhanan
> Q mengatakan. " Neraka lebih abang sukai, ketimbang Surga"
> "Mengapa demikian bang"
> "Lalu apa manfaatnya kita ibadah"
> "yang kita harapkan selama ini kan surga"
> "semua yang kita lakukan hanya untuk surga"
> "abang dah gila, kali ya"
> "kebanyakan makan filsafat tuh"
>
> Ah ..... mereka benar, mereka tdak salah ....
> mereka pantas mencibirku .....
> Q hanya nyengir sambil garuk-garuk kepala dibalik peciku yang semakin
buluk.
>
> (1) ah ..... adam dan hawa aja ga betah di surga, apalagi Q...
pikirku.
> mungkin mereka "kepanasan bagai di neraka".
> jadinya pengen turun ke bumi.
> mungkin itu.
>
> (2) Atau memang benar nenek moyang kita dari neraka
> karena jutaan taon yang lalu, bumi ini "panas bagai neraka"
>
> (3) Lingkungan yang sangat keras
> dan berhadapan dengan species yang sangat ganas.
> gelombang kelelelahan dan ketidakberdayaan yang dihadapi nenek moyang
kita
> untuk tetap survive sebagai species, seperti ungkapan "hidup bagai
neraka"
>
> Semoga semuanya benar,,,,, dan semoga semuanya Salah ...
>
> DEMI PARA FILOSOF YANG AGUNG
> berilah aku sepiring spageti .... dan segelas es cola
> perut ini panas banget seperti neraka ....
>
> (wah neraka di perut)
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ________________________________________________________
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda!
Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
>


Kirim email ke