Kenapa mas malah terjebak dalam memisahkan antara akal dan wahyu. Allah tidak pernah menurunkan wahyu yang bertentangan dengan akal. Beberapa teks Al-Qur'an bahkan ada yang belum dapat dicari padanan kata yang cukup tepat untuk mewakilinya. Artinya kedalaman Al-Qur'an adalah keniscayaan yang harus terus digali, bukan hanya melulu permukaan tapi juga dasar, awal dan hakekat penciptaan.
Kenapa saya merasa bahwa manusia tidak pernah ada ? silahkan cari dalam Al-Qur'an (karena saya lupa, he..he..,--dan mungkin akan saya cantumkan suatu saat nanti) ada sebuah ayat yang menerangkan bahwa dunia adalah "laibu wa lahwu" ( senda gurau dan canda tawa) kalau saya mengartikan bahwa saat ini Allah sedang memikirkan apa yang terjadi dengan kita mahluknya lalu kita akan hilang seketika itu juga bila Ia berhenti berpikir, tidak bolehkah saya berfikir seperti itu? Konon, Allah memiliki 99 nama 54 diantaranya adalah nama kemuliaan dan keperkasaan (Jalal) sementara 55 diantaranya adalah nama keindahan dan pemeliharaan (jamal), bila saya kemudian menafsirkan kelebihan sifat rahim Allah yang menyebabkan dunia tetap berputar hingga saat ini dan manusia hanya sebagian kecil yang tak berarti di lautan kuasanya, dan kapanpu Ia mau kita bisa hilang lenyap begitu saja tanpa tuntutan neraka ataupun harapan surga, apa yang dapat kita lakukan ? Karena setiap detik kita sedang dihancurkan lalu diciptakan kembali lalu dihancurkan dan diciptakan kembali (Ingat Allah bukan hanya Maha Pemelihara tapi juga Maha Penghancur). Percayalah, saya kira kita hanya bisa berharap pada kasih dan Cinta- Nya. Saya tidak percaya orang yang hanya berharap surga, akan lebih dicintai daripada yang hanya berharap diri-Nya. Wallahu a'lam --- In [email protected], qalam26 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > >   ɧ 81; ɦ 76;  > > > KEDUDUKAN WAHYU DAN AKAL > > Manusia adalah mahluk yang memiliki akal. kecerdasan akal > manusialah yang telah menempatkan manusia pada posisi yang mulia di > dunia dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan. Dengan kemampuan akal > inilah manusia dapat mengembangkan ilmu alam dan teknologi. Namun > akal tidak serta merta mampu membuat manusia memahami hakikat > eksistensinya. Hakikat eksistensi manusia tidak dapat di capai dengan > menggunakan refleksi dan perenungan rasional semata. > Hikmah dibalik eksistensi manusia didunia tidak pernah bisa > difahami dan dicapai dari penalaran rasional belaka dan imajinasi > hawa nafsu, oleh karenanya manusia seringkali tersesat dalam memahami > fenomena alam seperti gunung matahari dan bulan yang mereka anggap > sebagai sesembahan dan tuhan. Mungkin saat ini manusia menyembah > Materi (uang, Harta, Sex dan kekuasaan). > Manusia juga tersesat dalam memaknai posisi dan kedudukannya dirinya > didunia, ia beranggapan bahwa dunia hanyalah untung-rugi material, > tujuan menghalalkan cara, yang kuat yang bertahan yang lemah > terseleksi oleh alam, hak ada dalam kekuasaan, Tujuan hidup adalah > kehendak berkuasa, hidup adalah mencari kenikmatan. Sekali lagi semua > ini tidak memiliki dasar apapun kecuali hawanafsu manusia yang > dikokohkan oleh akal. > Akal merupakan ciptaan tuhan, karena tidak mungkin keteraturan yang > amat mendetail hingga tingkat matematis dari hukum alam itu ada > kecuali dengan adanya tuhan sebagai pencipta dan pengatur sekalian > alam beserta hukum-hukumnya. > > Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri dan tidak tercipta dari > ketiadaan > >  ɧ 62;      ɧ 61;  > 35. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang > menciptakan (diri mereka sendiri)? > > Hakikat dari eksistensi manusia hanya dapat difahami dengan > perantaraan wahyu dari tuhan (Alloh.SWT). Filsafat yang dibuat oleh > manusia sebagi upaya pencarian makna dan hikmah dari eksistensi > manusia tidak akan mencapai suatu kepuasan dan ketetapan hati, karena > akal tidak berfungsi untuk menetapkan hukum dan penetapan makna hidup, > yang berhak menentukan hukum dan makna hidup adalah tuhan dan tuhan > tidak membiarkan ciptaannya itu hidup tanpa di beri petunjuk (wahyu). > >    ɧ 54;  ɨ 72;  > 56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka > mengabdi (menyembah) kepada-Ku. > > Manusia dan akalnya diciptakan oleh tuhan untuk menjalankan syariat, > hukum dan mengibadahi tuhan. Dan tidak perlu lagi manusia membuat- > buat makna dan hukum selain yang telah ditetapkan oleh alloh. Akal > diciptakan oleh tuhan agar manusia dapat memahami Wahyu dan bukan > untuk menentang dan menandingi wahyu. > Salah satu produk akal adalah filsafat, pada batas-batas > tertentu filsafat mungkin berarti, tapi filsafat sebagai bentuk > pencarian eksistensi kehidupan manusia secara umum dan mutlak adalah > suatu bentuk kesalahan. Karena makna hidup tidak dapat difahami oleh > akal yang terlepas dari bimbingan wahyu dan petunjuk alloh. > Katakan siapa yang lebih memahami akan hakikat dan makna hidup ? > apakah manusia? Alam ? > Atau Pencipta manusia dan Alam yang selalu mengawasi manusia diatas > langit? > Apakah mahluk yakni akal dapat menghakimi tuhan sebagai pencipta > dirinya? > > >  ɦ 76;        > 4. Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi > pembantah yang nyata. > (An-Nahl: 4) > > Itulah sebuah tragic dimana mahluk yang berasal dari air yang > hina (mani), lalu mencoba melawan tuhan dengan akal yang juga > ciptaannya? Sungguh ironis... > Kadang aku melihat filsafat sebagai upaya perlawanan manusia terhadap > tuhan, yakni dengan mengklaim bahwa akalnya dapat mencapai kebenaran > dan esensi dari eksistensi tanpa bimbingan tuhan (wahyu/Al-quran). > Lalu sebuah kesombongan besar dari manusia dengan mengatakan > bahwa rasio adalah pusat dari keberadaannya (RASIONALISME), dan > menjadi tolak ukur dari segala sesuatu.. yakni moral, etika dan hukum. > Sekali lagi semua itu adalah sebuah kesombongan manusia, ia > menganggap dirinya serba cukup > >   ɦ 76; ɧ 55;    ɨ 83;  > 6. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, > 7. karena Dia melihat dirinya serba cukup. (al-Alaq 6-7) > > Manusia telah melampaui batas karena menganggap akalnya dalam > bentuk filsafat itu cukup dan mampu mencapai kebenaran tanpa ada > bimbingan dari Alloh. Atau ia melampaui batas karena ia telah > menggagap wahyu dari tuhan ini tidak sempurna sehingga ia perlu untuk > mencari-cari lagi akan kebenaran dan makna hidup dari yang diluar > wahyu yakni akalnya (filsafat). > Tuhan menciptakan akal bukan untuk menentang dan menyerang wahyu > atau menciptakan aturan hukum sendiri yang terlepas dari petunjuk > tuhan (wahyu). Tapi akal diciptakan Tuhan agar manusia manusia mampu > memahami dan menjalankan aturan dan hukum yang ada didalam wahyu > tersebut. > Sungguh filsafat adalah jalan panjang yang gelap, rumit dan > berliku-liku sangat mengerikan dimana kita terjebak dalam sebuah > imajinasi dari penulis yang tidak berujung pangkal, mengapa kita > tidak mencari jalan yang mudah yakni ISLAM DAN SUNNAH. > ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
