dear en_i_a
Saya kira keputusan beliau cukup bijak, diminta
mengundurkan diri dari DJPBN (bukan mengundurkan diri
sebagai PNS) sehingga bisa mengajukan permohonan masuk
DJA. Karena jangan sampai pola mutasi yg "kurang
jelas" menjadi semakin ruwet. Khan kasihan jatah
seseorang yg sekian lama berjauh jauh ria di remote
area jadi tertutup karena sudah di isi yg mengajukan
pindah.
Saya juga termasuk yg setuju bahwa suami istri itu
boleh sekantor. Peraturan tidak boleh sekantor hanya
saya dengar di dunia Perbankan, saya belum pernah
mendengar peraturan ini diterapkan di DJPBN. Tapi
perlu digaris bawahi bahwa pengertian BOLEH kadang
ditapsirkan pihak pihak yang bersangkutan sebagai
HARUS. Sehingga muncul reaksi yang berlebihan jika
kebijakan yg diterima tidak memuaskan hati.

HaBeWe.
NB:buat EYANG KAKUNG, bukan bermaksud nyinggung eyang
lho..... ("korupsi bersama" red)jangan didramatisir
yah EYANG. Mari kita selesaikan secara adat semuanya
di arena Permancingan pak Otong, saya siap menemani.
he he he.
--- en_i_a <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Btw, teman-teman sudah baca belum surat ibu Anandy
> Wati yang dilampiri
> surat penolakan usulan pindah mengikuti suami
> seorang karyawati di
> wilayah Kanwil Banda Aceh? Isinya kurang lebih :
> Saudari tersebut
> diminta membuat surat pengunduran diri dari DJPBN
> untuk mengikuti
> suami yang pindah ke Ditjen Anggaran. Nomor suratnya
> saya lupa sih...
> Saya ingin tahu pendapat teman-teman tentang ini.
> 
> 
> 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke