--- In [email protected], jamur_kuping <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> permintaan nya itu mudah : minta izin, lapor, minta restu... kalo' mau pindah > gitu saja,soal disetujui atau ndak, disini kan yang terlibat tidak > hanya Ditjen PBN, mas.. > ada unit lain yang lebih berkepentingan > > Unit tujuan dan Biro SDM itu yang berkepentingan...menerbitkan SK > pindah antar unit eselon 1. > Bung Hanafi dan Bung Max mungkin solusinya bisa dengan mengundang atau mensosialisasikan forum prima ini kepada unit eselon lain sebagai "rumah lama" atau "kampung halaman" tempat dimana kita harus mudik. Kalau memang forum ini dipercaya sebagai tempat menyuarakan pendapat seperti yang dijamin pasal 28 UUD 1945, ini menjadi tantangan buat pengelola untuk merawat tingkat kepublikan forum ini. Dengan demikian, kita dapat menyemai benih-benih demokrasi mulai dari level yang paling dekat yaitu "lingkungan rumah kita sendiri" Walaupun nampak ada upaya-upaya "silaturahim" untuk lebih mendekatkat sesama anggota namun hemat saya jangan sampai mengurangi tingkat kepublikan yang saya maksud, bukankah ruang publik ini menjadi terasa menjadi tempat yang nyaman dihuni oleh siapapun yang telah masuk menjadi anggota. Untuk itu, terus ciptakan suasana demoratis, egaliter, pluralistis agar tujuan mencapai masyarakat madani (civil society) yang berkeadaban dan mapan untuk Indonesia yang cemerlang segera terwujud. Tanggal 11 November 2007 lalu ada usaha yang cukup konstruktif lewat "Kongres IKAPTKDK/IIK-STAN" yaitu wadah alumni dari satu almamater yang sedianya dihadiri Ibu Menteri namun diwakili oleh Sekjen Depkeu. Hemat saya cukup lama memang para alumni ini berkiprah demi kemajuan pengelolaan keuangan di negeri ini. Namun setelah reformasi kemampuan teknis non teknis para alumni seharusnya disinergikan dengan semua potensi bangsa yang ada. Memulainya dengan reformasi system pendidikan yang berbasis realitas yaitu murah, terjangkau dan berkualitas sehingga dapat dirasakan oleh semua anak negeri ini, tempat tumbuh dan berkembangnya kreatifitas sehingga mampu menghadapi tantangan masa depan bangsa ini menghadapi era globalisasi yang lebih manusiawi dan beradab. Masyarakat Indonesia yang adil makmur, sejahtera, aman dan damai yang dirasakan diseluruh pelosok negeri dengan kemajemukan (pluralisme) tetap dalam wadah NKRI, Pancasila dan UUD 1945 merupakan dambaan setiap warga Negara di Republik tercinta ini. Kebijakkan masa lalu yang serba sentralistis masih menyisakan beban yang harus dipikul kini. Sentralisasi membuat kekuasaan menjadi terpusat dengan demikian bagi mereka yang mampu masuk dalam pusaran kekuasaan dengan sendirinya menjadi lebih kelihatan cerdas dan makmur sehingga pimpinan simbol sentralistis itu dijuluki "Bapak Pembangunan" dan tentu yang dibangun dimulai dari lingkaran dekat kekuasaan. Kalau anda dapat rembesan atau tetesan dari system seperti itu banyak-banyaklah bersyukur. Kemudian anda terus mengembangkan diri jadi "pengecer" untuk terus mendekati magnet kekuasaan mencoba tidak lepas dari ikatan itu baik terpaksa maupun dipaksa, anggota dalam forum ini saya kira sudah cukup baik hal pendidikan dan memberikan pendidikan. jika anda tidak mau peduli dengan kedaan diluar sana maka anda jadi pengecer yang saya maksud dan mencoba terus merangsek masuk dalam pusaran kekuasaan itu.
