Assalamu'laikum wr. wb; Memang demikian seperti yang diungkapkan p. Subasita, cukup prihatin rasanya, belum lama ini dalam rapat evaluasi Pemda Prov.Kalteng atas hasil Musrenbangnas, ternyata banyak yang harus disesuaikan lagi baik desighn maupun perhitungannya untuk bidang Infrastruktur, apa yang diusulkan tidak semua disetujui dengan alasan dana RAPBN 2009 terbatas dan harus berbagi dengan wilayah lain. Ketika waktu istirahat tiba saya coba menanyakan kepada Pejabat dari Dinas PU disebelah saya (seorang ibu):" mengapa jalan raya di Kalteng kok cepat rusaknya, padahal tehnologi untuk itu sudah semakin canggih?", ibu itu malah tertawa lebar (saya jadi curiga, jangan2 pertanyaan itu dianggap remeh dan konyol belaka), ternyata ibu itu menjawab: "Itu yang selalu menjadi pikiran kami Pak, tapi bagaimana ya, kalau di Jawa jalan itu rusak karena sering dilewati kendaraan bermotor dengan frekwensi tinggi (padat), tapi disini baru selesai dibangun, dilewati truk tronton dengan muatan "Over Load" konvoi lagi dan biasanya jalan malam, kemungkinan mencari kelengahan Petugas Timbang".. Mengapa harus diisi muatan sampai over load? tanyaku penasaran, wah itu kan alasan ekonomis jawabnya, biar harga barang yang dibawa tidak terlalu mahal sampai di pedalaman. Saya menanyakan lagi: "Bagaimana kalau desighn jalan raya dirancang dengan tonase maximum sehingga kendaraan apapun yang lewat masih diatas kemampuan jalan ?" Ibu itu tertawa lagi dan menjawab:" ga bisa gitu, cost per Kilometer jadi tinggi, nanti dana yang ada cuma bisa untuk beberapa ruas jalan saja, Kalimantan Tengan ini lebar dan panjang (luasnya satu setengah pulau Jawa), dilalui sungai2 besar lagi, rasanya seperti "Lingkaran Syetan". (saya kaget, Syetan kok sampai dibawa-bawa ya), saya jadi ingat nasehat Yangkung apa P. Subasita (lupa2 ingat): " The bad system never produces the good output". Salam
--- On Wed, 6/11/08, suba sita <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: suba sita <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Balasan: [Forum Prima] Perjalanan panjang di tengah miskinnya infrasturktur (klarifikasi) To: [email protected] Date: Wednesday, June 11, 2008, 7:26 PM Perlu kiranya saya klarifikasi postingan saya sebelumnya, sbb : Saya ingin menggambarkan betapa masih minimnya infrastruktur di Provinsi Kalteng. Ini tentu kontras dengan daerah lain yang sudah lebih maju. Ini merupakan suatu ironi, ketika dilihat dalam kenyataan Kalimantan kaya akan SDA. Beberapa faktor penyebab, kemungkinan : wilayah yg sangat luas, kondisi geografis di dominasi sungai2 besar, bergambut dan berawa. Ini memerlukan investasi yang besar untuk membangun infrastruktur (khususnya di bidang perhubungan darat).Transportasi sungai yg secara tradisi menjadi andalan untuk mobilisasi barang dan jasa, saat ini ternyata banyak mengalami kendala. Pada musim kemarau alur2 sungai turun permukaannya shg moda transportasi tidak bisa masuk sampai ke pedalaman. Juga banyak jeram2, yang mengharuskan pemindahan/pembongk aran muatan barang dari satu titik ketitik yang lain, sebelum sampai tujuan akhir. Akibatnya, di pedalaman harga2 sembako dan komoditi lain menjadi sangat mahal dan tak terjangkau. Dimusim hujan, banjir dimana mana, karena hutan dan ekosistem rusak. Eksploitasi hutan, pertambangan, hanya mensejahterakan orang "luar" daripada "lokal" . Disisi lain, Dana perimbangan dari pusat, dengan formula yang ada saat ini menjadi kurang bisa mengakomodasi kebutuhan bagi Kalimantan yang penduduknya sangat sedikit tapi wilayahnya sangat luas. Sehingga dari tahun ketahun dana perimbangan yg mengalir dari pusat selalu kalah berpacu dengan tingkat kebutuhan pembangunan yang di perlukan. Proyek Jalan Trans Kalimantan yg merupakan proy Pusat, yang di canangkan puluhan tahun yang lalu dan menghubungkan 4 propinsi di Kalimantan, hingga kini belum benar2 terwujud. Kondisinya di beberapa ruas sangat menyedihkan. Jembatan2 yg strategis dgn bentangan yang panjang umumnya belum tersedia. Sarana komunikasi kelihatannya, di setiap ibukota kecamatan sudah terbangun BTS untuk telepon selular. Akan tetapi kecamatan di Kalimantan ini luas wilayahnya bisa beberapa kabupaten di Jawa bahkan bisa lebih luas dari propinsi di P Jawa (Banten, DKI, Yogyakarta). Dengan kata lain layanan ini juga masih terbatas. Masyarakat Adat Dayak Nasional (MADN) adalah suatu himpunan masyarakat dari seluruh suku2 Dayak yang menghuni P. Kalimantan. Secara budaya masyarakat Malaysia timur, Bruneidarussalam mereka adalah orang Dayak dan menjadi anggota (tetapi krn dibatasi oleh negara, maka mereka berkedudukan sebagai pengamat). Dalam konggres MADN baru-baru ini (kebetulan saya di undang dalam acara pembukaan dan penutupannya) , salah satu butir usulannya adalah Meminta agar Kalimantan diberi otonomi khusus. Hal ini di dasarkan atas kenyataan, besarnya potensi dan sumbangan Kalimantan ke NKRI, tetapi sebaliknya, menurut MADN, kurang memperoleh perhatian yg sepadan. Jadi yg harus menjadi perhatian Pusat, adalah adanya kebijaksanaan pembangunan yg tidak meminggirkan Kalimantan. Contoh yang sering di kemukakan saat ini adalah Rehabilitasi Proyek Lahan Gambut Sejuta hektar di Kalteng, yang rusak parah, sudah ada INPRES nya,untuk di rehab tetapi dana untuk itu ternyata sangat minim. Yang saya kemukakan ini merupakan kenyataan yg ada di depan mata saya ketika saya melakukan kunker. Tuntutan MADN itu akan semakin menguat atau melemah tentu tergantung langkah2 kebijakan untuk Kalimantan sbg respon dari Pusat. Demikian tambahan dari saya. Subasita. --- subasusal3 <[EMAIL PROTECTED] co.id> menulis: > Jarak Palangkaraya- Buntok kurang lebih 195 km, lebih > jauh sedikit > dari jarak Jakarta-Bandung. Waktu tempuh Jakarta > Bandung saat ini > sekitar 2,5 jam. karena lewat jalan tol yg pastinya > mulus. Halangan > utama paling kemacetan ketika mau masuk ke kota > Bandung. Pemandangan > kanan kiri begitu indah, berbukit bergunung nan > elok. > Waktu tempuh Palangkaraya Buntok saat ini sekitar 6 > jam, karena > jalannya jauh dari mulus, sebagian masih > tanah/pasir. Sebagian sudah > diperkeras dan di aspal. Namun yang paling memakan > waktu cukup lama > adalah belum selesainya 4 buah jembatan utama yang > melintasi sungai > besar, seperti sungai dan anak sungai kahayan, > kapuas dan barito. > > Bentangan jembatan itu panjangnya mulai dari 195 > meter sampai 650 > meter. Saat ini sudah nampak kaki-kaki jembatan yang > sedang di garap. > Diharapkan pada tahun 2009 semuanya sudah > selesai.Tapi aktivitas ini > dapat berjalan setelah melalui perjuangan panjang > dan amat > melelahkan. > > Sepanjang perjalanan ke Buntok hampir tidak ada > sinyal telepon > selular. Maklum jalan itu termasuk jalan baru > (walaupun rencana dan > awal pembangunannya sudah makan waktu puluhan > tahun). Apabila nanti > rampung, perjalanan ke Buntok dapat di tempuh dalam > waktu kurang > lebih 3 jam. > > Yang cukup seru adalah ketika menyeberang. Jangan > membayangkan ada > dermaga yang bagus dan memenuhi syarat. "Ferry" > penyeberangan juga > sangat sederhana, baik di lihat dari besarnya, > apalagi pertimbangan > dari faktor keselamatannya. Ferry terdiri dari 2 > buah perahu yang di > rekatkan dan diatasnya di beri papan sebagai > landasan untuk > kendaraan2 roda 4 maupun roda 2, dan untuk berdiri > penumpang lainnya. > Ferry digerakkan oleh sebuah mesin untuk dapat > menyeberang. Awak > ferry sekali-kali menguras perahu yang mulai di > penuhi air secara > manual. Ngeri rasanya, dan hanya bisa berdoa dan > pasrah ketika perahu > penyeberangan mulai bergerak. > > Sejauh mata memandang adalah hutan yang rusak, > padang alang2, tanah2 > terlantar, penduduk yang jarang bahkan nyaris tidak > pernah menemui > perkampungan. Tidak ada ladang- ladang pertanian. > Seandainya mobil > mogok, ban pecah dsb, mungkin lebih lama untuk > mendapatkan > pertolongan. Kata beberapa pengemudi travel, bisa > juga nginep di > jalan. > > Saya membayangkan betapa sulitnya dan penuh dengan > risiko, ketika > para bendahara mau menyetor penerimaan negara ke > Bank-Bank Persepsi > yang mutlak harus menggunakan sistem MPN. Sistem > tunggal yang saat > ini di berlakukan. Mereka harus menempuh jarak > ratusan kilometer, > dalam kondisi infrastruktur yang menyedihkan dan > risiko tentu > keamanan. > > Saya bisa memaklumi, Kalimantan yang begitu kaya dg > SDA tapi miskin > segalanya terutama infrastruktur. Kesejahterahan > nampak masih jauh dr > masyarakat lokal, melahirkan suatu tuntutan dari > Majelis Adat Dayak > Nasional baru-baru ini agar Kalimantan diberikan > "Otonomi khusus". > Saya khawatir apabila pengambil kebijakan di tingkat > pusat > mengabaikan hal ini, desakan itu tentu akan semakin > kuat. > > Ketika saya cubit lengan saya terasa begitu sakit. > Ternyata saya > tidak sedang bermimpi. > > Subasita > Fr The Heart of Borneo. > > ____________ _________ _________ _________ _________ ________ Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers. yahoo.com/ [Non-text portions of this message have been removed]
