Pak Suba Yth.
saya jadi teringat suatu berita di salah satu TV tentang suatu
perkampungan di amerika selatan yang menggunakan gantungan kabel baja
sebagai alat transportasinya menuju ke kota terdekat... 
hal tersebut disebabkan karena membangun jembatan yang memadai
dianggap terlalu mahal untuk mengakomodasi jumlah penduduk di
perkampungan tersebut yang tidak begitu banyak..
apakah hal tersebut yang menjadi pertimbangan yang mengakibatkan
buruknya infrastruktur di kalimantan tentunya saya tidak tau, tetapi
dengan besarnya otonomi daerah saat ini juga pendukungnya ( DAU DAK )
bukan tidak mungkin kalimantan nantinya akan lebih maju dari daerah
lainnya , 
dilain hal keputusan pembangunan infrastruktur juga tidak lepas dari
kepentingan politik ( apalagi dimasa orba lalu ), saya teringat betapa
jalan jalan menuju ke ladang2 kopi di aceh tengah yg tidak
berpenghuni( aceh tengah adalah satu satunya daerah di aceh yang
menjadi lumbung suara partai tertentu ) bisa di hotmik mulus sementara
jalan di depan rumah ismail hasan meutareum ( mantan ketua partai
oposan ) di tengah kota banda aceh rusak berat hehehe... ironic bukan,

jaman sekarang kayaknya hal hal yang seperti itu sudah tidak lagi
berlaku, keterwakilan rakyat pada dewan dan kepala daerah yang dipilih
langsung insya alloh akan membawa perubahan positif kedepan. jadi usia
 perubahan yang baru beberapa tahun ini saya kira akan membawa hal hal
yang baik pak .

Dana yang besar terserap juga untuk memperbaiki kesalahan keputusan
seperti rehabilitasi PLG. jadi semoga tidak lagi ada kesalahan pada
perencanaan pembangunan kalimantan di masa YAD.

salam optimis untuk indonesia yang lebih baik.
  


  
--- In [email protected], suba sita <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Perlu kiranya saya klarifikasi postingan saya
> sebelumnya, sbb :
> 
> Saya ingin menggambarkan betapa masih minimnya
> infrastruktur di Provinsi Kalteng. Ini tentu kontras
> dengan daerah lain yang sudah lebih maju. Ini
> merupakan suatu ironi, ketika dilihat dalam kenyataan
> Kalimantan kaya akan SDA. 
> 
> Beberapa faktor penyebab, kemungkinan : wilayah yg
> sangat luas, kondisi geografis di dominasi sungai2
> besar, bergambut dan berawa. Ini memerlukan investasi
> yang besar untuk membangun infrastruktur (khususnya di
> bidang perhubungan darat).Transportasi sungai yg
> secara tradisi menjadi andalan untuk mobilisasi barang
> dan jasa, saat ini ternyata banyak mengalami kendala.
> Pada musim kemarau alur2 sungai turun permukaannya shg
> moda transportasi tidak bisa masuk sampai ke
> pedalaman. Juga banyak jeram2, yang mengharuskan
> pemindahan/pembongkaran muatan barang dari satu titik
> ketitik yang lain, sebelum sampai tujuan akhir.
> Akibatnya, di pedalaman harga2 sembako dan komoditi
> lain menjadi sangat mahal dan tak terjangkau. 
> 
> Dimusim hujan, banjir dimana mana, karena hutan dan
> ekosistem rusak. Eksploitasi hutan, pertambangan,
> hanya mensejahterakan orang "luar" daripada "lokal" .
> 
> Disisi lain, Dana perimbangan dari pusat, dengan
> formula yang ada saat ini menjadi kurang bisa
> mengakomodasi kebutuhan bagi Kalimantan yang
> penduduknya sangat sedikit tapi wilayahnya sangat
> luas. Sehingga dari tahun ketahun dana perimbangan yg
> mengalir dari pusat selalu kalah berpacu dengan
> tingkat kebutuhan pembangunan yang di perlukan.
> 
> Proyek Jalan Trans Kalimantan yg merupakan proy Pusat,
> yang di canangkan puluhan tahun yang lalu dan
> menghubungkan 4 propinsi di Kalimantan, hingga kini
> belum benar2 terwujud. Kondisinya di beberapa ruas
> sangat menyedihkan. Jembatan2 yg strategis dgn
> bentangan yang panjang umumnya belum tersedia.
> Sarana komunikasi kelihatannya, di setiap ibukota
> kecamatan sudah terbangun BTS untuk telepon selular.
> Akan tetapi kecamatan di Kalimantan ini luas
> wilayahnya bisa beberapa kabupaten di Jawa bahkan bisa
> lebih luas dari propinsi di P Jawa (Banten, DKI,
> Yogyakarta). Dengan kata lain layanan ini juga masih
> terbatas.  
> 
> Masyarakat Adat Dayak Nasional (MADN) adalah suatu
> himpunan masyarakat dari seluruh suku2 Dayak yang
> menghuni P. Kalimantan. Secara budaya masyarakat
> Malaysia timur, Bruneidarussalam mereka adalah orang
> Dayak dan menjadi anggota (tetapi krn dibatasi oleh
> negara, maka mereka berkedudukan sebagai pengamat).
> Dalam konggres MADN baru-baru ini (kebetulan saya di
> undang dalam acara pembukaan dan penutupannya), salah
> satu butir usulannya adalah Meminta agar Kalimantan
> diberi otonomi khusus. Hal ini di dasarkan atas
> kenyataan, besarnya potensi dan sumbangan Kalimantan
> ke NKRI, tetapi sebaliknya, menurut MADN, kurang
> memperoleh perhatian yg sepadan.
> 
> Jadi yg harus menjadi perhatian Pusat, adalah adanya
> kebijaksanaan pembangunan yg tidak meminggirkan
> Kalimantan. Contoh yang sering di kemukakan saat ini
> adalah Rehabilitasi Proyek Lahan Gambut Sejuta hektar 
> di Kalteng, yang rusak parah, sudah ada INPRES
> nya,untuk di rehab tetapi dana untuk itu ternyata
> sangat minim.
> 
> Yang saya kemukakan ini merupakan kenyataan yg ada di
> depan mata saya ketika saya melakukan kunker. Tuntutan
> MADN itu akan semakin menguat atau melemah tentu
> tergantung langkah2 kebijakan untuk Kalimantan sbg
> respon dari Pusat. Demikian tambahan dari saya.
> 
> Subasita. 
>    
> --- subasusal3 <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
> 
> > Jarak Palangkaraya-Buntok kurang lebih 195 km, lebih
> > jauh sedikit 
> > dari jarak Jakarta-Bandung. Waktu tempuh Jakarta
> > Bandung saat ini 
> > sekitar 2,5 jam. karena lewat jalan tol yg pastinya
> > mulus. Halangan 
> > utama paling kemacetan ketika mau masuk ke kota
> > Bandung. Pemandangan 
> > kanan kiri begitu indah, berbukit bergunung nan
> > elok.
> > Waktu tempuh Palangkaraya Buntok saat ini sekitar 6
> > jam, karena 
> > jalannya jauh dari mulus, sebagian masih
> > tanah/pasir. Sebagian sudah 
> > diperkeras dan di aspal. Namun yang paling memakan
> > waktu cukup lama 
> > adalah belum selesainya 4 buah jembatan utama yang
> > melintasi sungai 
> > besar, seperti sungai dan anak sungai kahayan,
> > kapuas dan barito.
> > 
> > Bentangan jembatan itu panjangnya mulai dari 195
> > meter sampai 650 
> > meter. Saat ini sudah nampak kaki-kaki jembatan yang
> > sedang di garap. 
> > Diharapkan pada tahun 2009 semuanya sudah
> > selesai.Tapi aktivitas ini 
> > dapat berjalan setelah melalui perjuangan panjang
> > dan amat 
> > melelahkan. 
> > 
> > Sepanjang perjalanan ke Buntok hampir tidak ada
> > sinyal telepon 
> > selular. Maklum jalan itu termasuk jalan baru
> > (walaupun rencana dan 
> > awal pembangunannya sudah makan waktu puluhan
> > tahun). Apabila nanti 
> > rampung, perjalanan ke Buntok dapat di tempuh dalam
> > waktu kurang 
> > lebih 3 jam.
> > 
> > Yang cukup seru adalah ketika menyeberang. Jangan
> > membayangkan ada 
> > dermaga yang bagus dan memenuhi syarat. "Ferry"
> > penyeberangan juga 
> > sangat sederhana, baik di lihat dari besarnya,
> > apalagi pertimbangan 
> > dari faktor  keselamatannya. Ferry terdiri dari 2
> > buah perahu yang di 
> > rekatkan dan diatasnya di beri papan sebagai
> > landasan untuk 
> > kendaraan2 roda 4 maupun roda 2, dan untuk berdiri
> > penumpang lainnya. 
> > Ferry digerakkan oleh sebuah mesin untuk dapat
> > menyeberang. Awak 
> > ferry sekali-kali menguras perahu yang mulai di
> > penuhi air secara 
> > manual. Ngeri rasanya, dan hanya bisa berdoa dan
> > pasrah ketika perahu 
> > penyeberangan mulai bergerak.  
> > 
> > Sejauh mata memandang adalah hutan yang rusak,
> > padang alang2, tanah2 
> > terlantar, penduduk yang jarang bahkan nyaris tidak
> > pernah menemui 
> > perkampungan. Tidak ada ladang- ladang pertanian.
> > Seandainya mobil 
> > mogok, ban pecah dsb, mungkin lebih lama untuk
> > mendapatkan 
> > pertolongan. Kata beberapa pengemudi travel, bisa
> > juga nginep di 
> > jalan.
> > 
> > Saya membayangkan betapa sulitnya dan penuh dengan
> > risiko, ketika 
> > para bendahara mau menyetor penerimaan negara ke
> > Bank-Bank Persepsi 
> > yang mutlak harus menggunakan sistem MPN. Sistem
> > tunggal yang saat 
> > ini di berlakukan. Mereka harus menempuh jarak
> > ratusan kilometer, 
> > dalam kondisi infrastruktur yang menyedihkan dan
> > risiko tentu 
> > keamanan. 
> > 
> > Saya bisa memaklumi, Kalimantan yang begitu kaya dg
> > SDA tapi miskin 
> > segalanya terutama infrastruktur. Kesejahterahan
> > nampak masih jauh dr 
> > masyarakat lokal,  melahirkan suatu tuntutan dari
> > Majelis Adat Dayak 
> > Nasional baru-baru ini agar Kalimantan diberikan
> > "Otonomi khusus".
> > Saya khawatir apabila pengambil kebijakan di tingkat
> > pusat 
> > mengabaikan hal ini, desakan itu tentu akan semakin
> > kuat. 
> > 
> > Ketika saya cubit lengan saya terasa begitu sakit.
> > Ternyata saya 
> > tidak sedang bermimpi.
> > 
> > Subasita
> > Fr The Heart of Borneo.
> > 
> > 
> 
> 
> 
>       ________________________________________________________ 
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda!
Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
>


Kirim email ke