Perlu kiranya saya klarifikasi postingan saya
sebelumnya, sbb :

Saya ingin menggambarkan betapa masih minimnya
infrastruktur di Provinsi Kalteng. Ini tentu kontras
dengan daerah lain yang sudah lebih maju. Ini
merupakan suatu ironi, ketika dilihat dalam kenyataan
Kalimantan kaya akan SDA. 

Beberapa faktor penyebab, kemungkinan : wilayah yg
sangat luas, kondisi geografis di dominasi sungai2
besar, bergambut dan berawa. Ini memerlukan investasi
yang besar untuk membangun infrastruktur (khususnya di
bidang perhubungan darat).Transportasi sungai yg
secara tradisi menjadi andalan untuk mobilisasi barang
dan jasa, saat ini ternyata banyak mengalami kendala.
Pada musim kemarau alur2 sungai turun permukaannya shg
moda transportasi tidak bisa masuk sampai ke
pedalaman. Juga banyak jeram2, yang mengharuskan
pemindahan/pembongkaran muatan barang dari satu titik
ketitik yang lain, sebelum sampai tujuan akhir.
Akibatnya, di pedalaman harga2 sembako dan komoditi
lain menjadi sangat mahal dan tak terjangkau. 

Dimusim hujan, banjir dimana mana, karena hutan dan
ekosistem rusak. Eksploitasi hutan, pertambangan,
hanya mensejahterakan orang "luar" daripada "lokal" .

Disisi lain, Dana perimbangan dari pusat, dengan
formula yang ada saat ini menjadi kurang bisa
mengakomodasi kebutuhan bagi Kalimantan yang
penduduknya sangat sedikit tapi wilayahnya sangat
luas. Sehingga dari tahun ketahun dana perimbangan yg
mengalir dari pusat selalu kalah berpacu dengan
tingkat kebutuhan pembangunan yang di perlukan.

Proyek Jalan Trans Kalimantan yg merupakan proy Pusat,
yang di canangkan puluhan tahun yang lalu dan
menghubungkan 4 propinsi di Kalimantan, hingga kini
belum benar2 terwujud. Kondisinya di beberapa ruas
sangat menyedihkan. Jembatan2 yg strategis dgn
bentangan yang panjang umumnya belum tersedia.
Sarana komunikasi kelihatannya, di setiap ibukota
kecamatan sudah terbangun BTS untuk telepon selular.
Akan tetapi kecamatan di Kalimantan ini luas
wilayahnya bisa beberapa kabupaten di Jawa bahkan bisa
lebih luas dari propinsi di P Jawa (Banten, DKI,
Yogyakarta). Dengan kata lain layanan ini juga masih
terbatas.  

Masyarakat Adat Dayak Nasional (MADN) adalah suatu
himpunan masyarakat dari seluruh suku2 Dayak yang
menghuni P. Kalimantan. Secara budaya masyarakat
Malaysia timur, Bruneidarussalam mereka adalah orang
Dayak dan menjadi anggota (tetapi krn dibatasi oleh
negara, maka mereka berkedudukan sebagai pengamat).
Dalam konggres MADN baru-baru ini (kebetulan saya di
undang dalam acara pembukaan dan penutupannya), salah
satu butir usulannya adalah Meminta agar Kalimantan
diberi otonomi khusus. Hal ini di dasarkan atas
kenyataan, besarnya potensi dan sumbangan Kalimantan
ke NKRI, tetapi sebaliknya, menurut MADN, kurang
memperoleh perhatian yg sepadan.

Jadi yg harus menjadi perhatian Pusat, adalah adanya
kebijaksanaan pembangunan yg tidak meminggirkan
Kalimantan. Contoh yang sering di kemukakan saat ini
adalah Rehabilitasi Proyek Lahan Gambut Sejuta hektar 
di Kalteng, yang rusak parah, sudah ada INPRES
nya,untuk di rehab tetapi dana untuk itu ternyata
sangat minim.

Yang saya kemukakan ini merupakan kenyataan yg ada di
depan mata saya ketika saya melakukan kunker. Tuntutan
MADN itu akan semakin menguat atau melemah tentu
tergantung langkah2 kebijakan untuk Kalimantan sbg
respon dari Pusat. Demikian tambahan dari saya.

Subasita. 
   
--- subasusal3 <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

> Jarak Palangkaraya-Buntok kurang lebih 195 km, lebih
> jauh sedikit 
> dari jarak Jakarta-Bandung. Waktu tempuh Jakarta
> Bandung saat ini 
> sekitar 2,5 jam. karena lewat jalan tol yg pastinya
> mulus. Halangan 
> utama paling kemacetan ketika mau masuk ke kota
> Bandung. Pemandangan 
> kanan kiri begitu indah, berbukit bergunung nan
> elok.
> Waktu tempuh Palangkaraya Buntok saat ini sekitar 6
> jam, karena 
> jalannya jauh dari mulus, sebagian masih
> tanah/pasir. Sebagian sudah 
> diperkeras dan di aspal. Namun yang paling memakan
> waktu cukup lama 
> adalah belum selesainya 4 buah jembatan utama yang
> melintasi sungai 
> besar, seperti sungai dan anak sungai kahayan,
> kapuas dan barito.
> 
> Bentangan jembatan itu panjangnya mulai dari 195
> meter sampai 650 
> meter. Saat ini sudah nampak kaki-kaki jembatan yang
> sedang di garap. 
> Diharapkan pada tahun 2009 semuanya sudah
> selesai.Tapi aktivitas ini 
> dapat berjalan setelah melalui perjuangan panjang
> dan amat 
> melelahkan. 
> 
> Sepanjang perjalanan ke Buntok hampir tidak ada
> sinyal telepon 
> selular. Maklum jalan itu termasuk jalan baru
> (walaupun rencana dan 
> awal pembangunannya sudah makan waktu puluhan
> tahun). Apabila nanti 
> rampung, perjalanan ke Buntok dapat di tempuh dalam
> waktu kurang 
> lebih 3 jam.
> 
> Yang cukup seru adalah ketika menyeberang. Jangan
> membayangkan ada 
> dermaga yang bagus dan memenuhi syarat. "Ferry"
> penyeberangan juga 
> sangat sederhana, baik di lihat dari besarnya,
> apalagi pertimbangan 
> dari faktor  keselamatannya. Ferry terdiri dari 2
> buah perahu yang di 
> rekatkan dan diatasnya di beri papan sebagai
> landasan untuk 
> kendaraan2 roda 4 maupun roda 2, dan untuk berdiri
> penumpang lainnya. 
> Ferry digerakkan oleh sebuah mesin untuk dapat
> menyeberang. Awak 
> ferry sekali-kali menguras perahu yang mulai di
> penuhi air secara 
> manual. Ngeri rasanya, dan hanya bisa berdoa dan
> pasrah ketika perahu 
> penyeberangan mulai bergerak.  
> 
> Sejauh mata memandang adalah hutan yang rusak,
> padang alang2, tanah2 
> terlantar, penduduk yang jarang bahkan nyaris tidak
> pernah menemui 
> perkampungan. Tidak ada ladang- ladang pertanian.
> Seandainya mobil 
> mogok, ban pecah dsb, mungkin lebih lama untuk
> mendapatkan 
> pertolongan. Kata beberapa pengemudi travel, bisa
> juga nginep di 
> jalan.
> 
> Saya membayangkan betapa sulitnya dan penuh dengan
> risiko, ketika 
> para bendahara mau menyetor penerimaan negara ke
> Bank-Bank Persepsi 
> yang mutlak harus menggunakan sistem MPN. Sistem
> tunggal yang saat 
> ini di berlakukan. Mereka harus menempuh jarak
> ratusan kilometer, 
> dalam kondisi infrastruktur yang menyedihkan dan
> risiko tentu 
> keamanan. 
> 
> Saya bisa memaklumi, Kalimantan yang begitu kaya dg
> SDA tapi miskin 
> segalanya terutama infrastruktur. Kesejahterahan
> nampak masih jauh dr 
> masyarakat lokal,  melahirkan suatu tuntutan dari
> Majelis Adat Dayak 
> Nasional baru-baru ini agar Kalimantan diberikan
> "Otonomi khusus".
> Saya khawatir apabila pengambil kebijakan di tingkat
> pusat 
> mengabaikan hal ini, desakan itu tentu akan semakin
> kuat. 
> 
> Ketika saya cubit lengan saya terasa begitu sakit.
> Ternyata saya 
> tidak sedang bermimpi.
> 
> Subasita
> Fr The Heart of Borneo.
> 
> 



      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

Kirim email ke