Assalamu'alaikum

Entah tidak diaprove oleh Bang Moderator atau memang belum ke posting
ke milis ini tanggapan untuk postingan Pak Subasita yang pertama, saya
merasa sayang kalau sudah menulis tapi tidak dibaca miliser, makanya
saya posting kembal tulisan ini.

Sebenarnya untuk poin 1 yang saya uraikan di bawah ini sudah terjawab
dengan jelas dengan klarifikasi/tambahan dari Pak Subasita. Saya
sependapat dengan Pak Subasita, bahwa Pemerataan Pembangunan janganlah
menjadi retorika belaka tapi harus menjadi kebijakan nyata dari
Pemerintah Pusat.

Apa yang diceritakan Bapak Subasita merupakan pengalaman yang
menggambarkan kondisi masyarakat dan geografis di Pulau Kalimantan.
Ada 2 hal yang ingin saya tanggapi, yaitu :
1.      Otonomi Daerah Belum Berjalan Sebagaimana Mestinya
Otonomi Daerah memberikan peluang yang sangat besar kepada
masing-masing daerah untuk menumbuh-kembangkan daerahnya sesuai dengan
potensi yang dimiliki dan diselaraskan dengan kondisi sosio-kultural
masyarakat setempat. Daerah diberi keleluasaan mengelola Keuangan
Daerahnya, fasilitas yang cukup memadai diberikan ke daerah berupa
transfer dana (semacam block grant) dari pusat dalam bentuk Dana Bagi
Hasil, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, ada pula Dana Otonomi
Khusus dan ad hoc (penyesuaian). Namun apa yang terjadi, alih-alih
membangun daerah dan mensejahterakan rakyatnya, para pejabat daerah
malah menjadi raja-raja kecil yang bermental kompeni. Berdalih untuk
meningkatkan PAD, berbagai macam pajak daerah diberlakukan, bahkan
nelayan dan pedagang kecil pun dikenai retribusi, mungkin bila ada
petani di kalimantan pun akan dikenakan retribusi pula. Lalu,
dana/anggaran yang dimiliki Pemda untuk apa? Nampaknya Pemda belum
melaksanakan Anggaran berbasis kinerja, mereka masih memakai anggaran
berbasis proyek yang berorientasi pada keuntungan diri sendiri dan
segelintir elit Pemda, jarang ada yang menyentuh langsung dengan
masyarakat. Pembangunan infrastruktur yang secara langsung
menggerakkan roda perekonomian daerah masih belum digarap secara
maksimal.
Jadi, esensi utamanya bukan pada pemberlakuan otonomi khusus, atau
pada pemekaran daerah, tapi pada pelaksanaan otonomi daerah yang
hakiki, yang sesuai dengan tujuan awal pemberlakuan otonomi daerah.
Sebagai contoh ; Papua sudah diberi otonomi khusus, dana puluhan
trliunan rupiah telah digelontorkan ke sana, tapi apa lacur,
masyarakatnya masih jauh dari kesejahteraan, bahkan pernah terjadi
tragedi busung lapar di sana. Padahal dengan kekayaan alam yang sangat
melimpah seharusnya hal menyedihkan tersebut tidak menimpa
saudara-saudara kita di Papua. Apa penyebabnya? Sudah penulis
dijelaskan di atas.
Setiap elemen daerah mulai dari Pemda, Masyarakat (termasuk di sini
majelis adat), dan Swasta harus menghayati dan memahami hakikat dari
otonomi daerah. Bagi masyarakat, tidak perlu menuntut otsus, cukup
awasi/kritisi kebijakan dan pelaksanaan APBD. Kemudian pada Pilkada,
pilih pemimpin seperti yang  dianjurkan Rasulullah SAW, yaitu ; Sidhiq
(jujur), Amanah, Fatonah (cerdas), dan Tabligh (menyampaikan/mampu
berkomunikasi dengan rakyatnya).

2.      Kondisi Geografis menyebabkan timbulnya salah satu masalah dalam
Pengelolaan Keuangan Negara.
Kondisi geografis Indonesia, menurut saya tidak hanya menimbulkan
kendala pada penyetoran (penerimaan negara dengan sistem MPN) saja,
akan tetapi juga pada pengeluaran Negara (pengajuan SPM/SP2D) dan
Pelaporan Keuangan Pemerintah (rekonsiliasi LK KPA dengan Kuasa BUN).
Sebagai gambaran ; Ada bendahara di kabupaten pedalaman ingin
mencairkan anggarannya, untuk merealisasikan hal tsb dia harus
mengikuti alur sungai, menyeberangi lautan, menyusuri hutan, dan
melewati jalan berlubang supaya sampai ke KPPN. Setelah menyetor pajak
di Bank Persepsi sebagai syarat pencairan dana (SP2D), lalu dia
mengajukan SPM ke seksi perbendaharaan, ternyata SPM tsb ditolak
karena data SPM-nya salah atau karena lampiran tidak lengkap.
Dikarenakan ke KPPN hanya 1 bulan sekali maka kesempatan itupun
dimanfaatkan pula untuk rekonsiliasi dengan Seksi Vera, tetapi
rekon-nya pun gagal karena disket yang berisi ADK dan backup rusak
tersiram air sungai. Sambil berlalu meninggalkan KPPN bendahara
tersebut bersungut-sungut, "Yah, sia-sia deh saya ke sini, mending
sekalian ga usah nyetor pajak dulu tadi." Masya Allah, Nestapa nian
nasib bendahara itu.

Itu saja sedikit unek-unek dan cerita dari saya.
Terima Kasih
Wassalam

--- In [email protected], suba sita <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Perlu kiranya saya klarifikasi postingan saya
> sebelumnya, sbb :
>
> Saya ingin menggambarkan betapa masih minimnya
> infrastruktur di Provinsi Kalteng. Ini tentu kontras
> dengan daerah lain yang sudah lebih maju. Ini
> merupakan suatu ironi, ketika dilihat dalam kenyataan
> Kalimantan kaya akan SDA.
>
> Beberapa faktor penyebab, kemungkinan : wilayah yg
> sangat luas, kondisi geografis di dominasi sungai2
> besar, bergambut dan berawa. Ini memerlukan investasi
> yang besar untuk membangun infrastruktur (khususnya di
> bidang perhubungan darat).Transportasi sungai yg

Kirim email ke