On Tue, 19 Sep 2000, Djoko Susilo wrote:
> >Jadi jelas keberadaan source code ini penting sekali bagi universitas.
> >Atau mungkin saya yang terlalu sederhana pikirannya. Tapi itu tadi adalah
>
> Kalau melihat penjelasan di atas, intinya akademi tetap menuntut adanya
> source code. Saya ingin mengajak melihat dari sisi lain, tidak hanya dari
> sudut pandang akademi saja. Katakanlah dari sisi developernya sendiri. Di
> sini terkait adanya Hak Cipta, HAKI, Hak Patent, dll. Walaupun sudah
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> disediakan sarana semacam Perjanjian Kerjasama tentang Kerahasian Produk,
> toh belum semua developer mau membuka source code-nya (setidaknya sampai
> saat ini). Tentunya hal ini di luar jangkauan akademi. Akademi tidak bisa
> memaksa developer untuk menyerahkan source code-nya.
Justru itu.. di sini biasanya pihak industri tentunya akan melihat
reputasi si pihak akademi dalam menjaga etika itu sendiri. Seperti di
sini pihak industri sudah yakin bahwa akademi tidak akan mencoba melanggar
"NDA" yang ditanda tangani. Nah melihat "potret" akademi di Indonesia,
(program bajakan, dsb) tentunya pihak industri menjadi "ngeri-ngeri
sedap" dalam berbagi rahasia (taruhlah dg NDA yang memiliki nilai hukum
cukup kuat).
> Dengan tidak adanya source code ini, barangkali justru merangsang
> kreativitas mereka. Jadi sebaiknya tidak cepat-cepat membuat statement
> "merugikan" (dan jangan patah semangat tentunya) kalau tidak tersedia
> source code-nya. Kepentingan pihak lain mau tidak mau harus tetap
> menjadi kosiderasi, dan dalam banyak hal justru di luar wewenang kita.
Ada dua hal yang agal berbeda yang dibicarakan dalam ruang lingkup
akademis ini.
1. Keberadaan source code --> untuk keperluan auditing kaum akademis
2. Keberadaan sourec code --> untuk keperluan kreatif
Nomor 1 jelas sulit dilakukan. Nomor 2 bisa saja terjadi. Sayangnya di
Indonesia yang terjadi adalah "tabrak lari" 8-)
Biasanya mata kuliah seperti OS diberikan dengan menggunakan OS yang
disedikana source codenya.. sehingga siswa bisa belajar internal OS bukan
sekedar operational OS.
> tentunya tidak semata-mata berdasarkan source code saja. Yang tidak
> kalah penting justru "Basic Function/Feature" yang di-support-nya.
> Misalnya sistem A tidak support USB dan IR sedangkan sistem B support
> keduanya. Dari contoh sederhana ini, jelas sistem B mempunyai
> keunggulan dibanding sistem A, terlepas dari ada tidaknya source code.
Saya kembali mengambil kriteria yang diberlakukan di NASA 8-) Mereka akan
menilai suatu software kalau diberikan dg soure codenya (tentunya pakai
perjanjian), tanpa itu langsung software masuk "kotak" tidak dinilai.
Walau IEEE mendefinisikan "list of feauture" saya sendiri menganggap ada
atau tidaknya suatu feature belum tentu menunjukkan kualitas. Lebih
penting adalah "bagaimana" feature itu disediakan.
> Kalau kita melihat "kualitas" Sistem Operasi dalam skala yang lebih utuh,
> tentunya bukan semata-mata besaran metriknya saja yang harus dievaluasi.
> Kriteria lain yang perlu dievaluasi adalah, a.l:
> -Kelengkapan fitur
> -Teknologi yang menunjangnya
> -Running Test
> -Loading Test
> -Live Test
Yang anda sebutkan di atas akan termasuk dalam "product metric". Bukan
Process metric. Untuk klass tertentu, kita harus menghitung Process
metric juga.
Untuk product metric dari software lebih detailnya lagi adalah :
http://wiryana.dhs.org/folie/folie01.html#1.1
> Ada beberapa metoda evaluasi yang barangkali bisa diterapkan jika tidak ada
> source code, a.l: Trial and Error, Simulasi, Empirik, Blackbox.
> Memang tidak akan bisa menggantikan semua metrik yang bisa dilakukan dengan
> source code.
Ya itu problemnya... beberapa metoda (aduh kebetulan saya ada papernya
sayang judulnya lupa), mencoba mengembangkan metoda untuk COTS ini, tetapi
kembali lagi terbentur metoda itu tetap tak bisa memuaskan dan tak
sebanding bila ada source codenya.
Kalau memang tertarik dg paper ini bisa saya carikan besok di rumah
> Di sini saya ingin mengatakan bahwa source code memang penting dalam
> melakukan evaluasi, tapi bukan segala-galanya. Tanpa source code tidak
> berarti tidak bisa melakukan evaluasi. Tanpa source code tidak berarti
> kualitasnya (overall) lebih rendah.
Memang tidak PASTI lebih rendah tetapi k
1. Kualitasnya cenderung sulit dibuktikan (kasus Harry Compiler)
2. Sulit dipelajari (untuk akademik)
3. Lebih tidak menjamin modularitas, kohernesi, dsb (karena tak ada
yang tahu di dalamnya
Jadi proses good practice di Open Source software itu LEBIH MUDAH
dibuktikan, sedangkan di Closed Source Software SULIT dibuktikan
Oh iya.. contohnya Qnx adalah closed source OS yang memiliki kualitas
bagus
IMW
------------------------------------------------------------------------
Forum Komunikasi Penulis-Pembaca MIKRODATA (FKPPM)
Informasi : http:[EMAIL PROTECTED]
Arsip : http://www.mail-archive.com/forum%40mikrodata.co.id/
WAP : http://mikrodata.co.id/wap/index.wml
Milis ini menjadi kontribusi beberapa rubrik yang diasuh tim MIKRODATA.
Termasuk rubrik-rubrik yang ada di media lain.
Memakai, Menyebarluaskan, dan Memperbanyak software bajakan adalah
tindakan kriminal.
Please check with the latest AVP update before you ask about virus:
ftp://mikrodata.co.id/avirus_&_security/AntiViral_Toolkit_Pro/avp30.zip