On Wed, 20 Sep 2000, Djoko Susilo wrote:

> On Tue, 19 Sep 2000, Kristiono Setyadi wrote:

> >Tapi apakah Anda tidak berpikir bahwa perbedaan
> >antara open-source ataupun non open-source itu sangat besar sekali
> >(terutama bagi para akademisi)?

> code dari ujung ke ujung. Source code bisa dibuat kalau idenya ada.
> Dari mempelajari ide inilah diharapkan muncul ide tandingan yang lebih baik.
> Itu baru akademisi... 8-)

Menurut saya, sebelum kita bisa dapat membuat suatu source code baru yang
ada, tentunya orang akan melalui perjalanan melihat contoh yang ada.  
Sama dengan belajar matematika (sama dengan orang belajar musik), sebelum
dia bisa menciptakan komposisi dia akan mepelajari scale, main lagu orang
dsb), Perhatikan saja buku-buku programming, selalu menyertakan
contoh-contoh.

Setelah feeling itu tercipta, dia baru bisa menciptakan sesuatu yang baru.  
Sedikit sekali akademisi yang tidak pernah melewati latihan-latihan dari
"milik orang lain" (apalagi untuk sistem operasi).  Dalam matematikapun
dikenal istilah "latihan" matematika untuk mengasah feeling ini.

Sejarah juga telah menunjukkan.  Di tahun 70-an, 80-an, di USA salah satu
buku yang terkenal untuk OS adalah "UNIX commmentary, di sebelahnya source
code UNIX, dan disebelah kanannya adalah komentar. Begitu juga buku OS
dari Tannenbaum dg MINIX.nya. Sebagian besar pembuat OS saat ini adalah
mereka yang dibesarkan dalam alam "code sharing itu".  (juga Bill Gates,
Linus, Jim Alchin, Rashid). Terutama mereka yang berangkat dari era
mainframe.  Jadi proses keberadaan source code untuk mempelajari OS ini
sudah biasa terjadi.  

Untuk beberapa aplikasi yang di level atas mungkin orang bisa membuat
tanpa melihat source code orang lain dulu.  Tetapi kalau kita sudah bicara
program sejenis Sistem Operasi yang lengkap, Compiler yang lengkap,
biasanya mereka yang membuat jenis ini pasti "pernah melihat source code
lain" (biasanya mereka pada pakai buku seperti Compiler Building yang ada
sourec code C, atau untuk OS pakai MINIX, atau Build your own 32 bit OS).

Sama saja orang belajar masak kue.. cuma disuruh nyicipin aja tanpa
dikasih tahu "resepnya dulu".  Setelah bisa lama-lama dia akan bisa
menciptakan resep.  

> Memang memerlukan tekad yang besar untuk mewujudkannya. Inilah tantangan
> yang perlu dijawab, apakah kita akan memimpin di depan atau hanya sebagai
> follower saja. Barangkali pikiran saya yang terlalu idealis...
> 
> Seperti kata orang bijak, "Karya besar tercipta dari kerja keras."
> Saya masih ingat tanggapan Anda yang penuh optimistik.

Tidak salah untuk menjadi idealis.. tetapi untuk bisa mencapai penciptaan
murni sudah lazimnya kita melalui latihan.  Kita melihat saja.. untuk
membuat OS orang biasanya akan melalui latihan dg melihat soure code OS
yang ada (baik OS seperit UNIX, atau seperti NACHOS dan OSKit).  Dari sini
diasah skill untuk mengcode

Nachos
http://www.cs.washington.edu/homes/tom/nachos/
OSKit
http://www.cs.utah.edu/flux/oskit/

Jadi bukan berarti dengan melihat source code HANYA untuk melakukan
modifikasi saja. Tetapi point penting adalah dengan adanya source code..
si akademisi akan lebih mudah melihat keterkaitan teori dan implementasi,
sebab banyak hal menarik yang timbul setelah kita melihat source Code
sistem OS. (misal structure process dari Linux yang memiliki strategi
menghemat waktu)

Atau juga menghindari implementasi yang tidak tepat.  Karena banyak yang
kita reka itu baik ternyata implementasi menunjukkan hal lain.  

Saya sendiri pernah menulis program semacam "OS" ini untuk 8085, 6502, dan
Z80, tanpa pernah melihat soure code orang lain 8-).  Karena memang saat
itu tak ada source code yang tersedia.  Tidak heran saya selalu mengejar
"soure code" untuk menambah pengetahuan.  Setelah saya mengetahui source
code orang lain saya baru tahu bahwa yang saya tulis itu adalah "jelek
banget"... sebab sudah ada metoda yang jauh lebih baik.  Sehingga
seharusnya kalau saya sudah pernah baca source code orang maka akan lebih
baik lagi source code yang dibuat.  Sebab ternyata yang saya tulis
itu.. banyak strukturnya yang salah, dsb.

Jadi seperti seorang yang mau riset tapi nggak baca "literatur" terdahulu
8-),  Nah membaca literatur pun bisa mendorong orang beda-beda :

- Membuat karya baru dari pengetahuan yang didapat dari literatur itu
- Melakukan modifikasi dari beberapa literatur dan menelurkan karya baru.
- Menyontek abis dan dianggap jadi karya sendiri (!! memalukan,.he.he)

Nah sedangkan bayangkan kalau kita tak punya literatur (he.h.eh.) :

- Tidak ada pengetahuan implementasi dari sebelumnya.
- Melakukan reinvent the wheel (waktu terbuang, walau tetap berguna)

Nah tidak usah jauh-jauh kita melihat buktinya, kekurangan literatur di
dunia akademik kita telah menunjukkan hal itu

> Anda selalu terfokus pada source code terus.... Cobalah lihat aspek lainnya.
> Di majalah dan jurnal (termasuk Info Komputer) sering dimuat perbandingan
> software dalam tabel komparatif. Saya tidak tahu apakah mereka juga
> menggunakan source code dalam mengevaluasi software tersebut. Yang jelas,
> hasilnya ada di situ. Dan jarang ada ralat dari developernya. De facto, apa
> yang disajikan tersebut valid. Dan ini yang sering digunakan oleh user
> sebagai referensi dalam menentukan pilihannya.

Level perbandingan di majalah populer ini tentunya belum sama dengan level
perbandingan kualitas di jurnal scientific.  Tabel komparasi yang
dilakukan di majalah seringkali ditujukan untuk "guide" membeli.  Jadi
lebih sering "karakteristik luar" daripada internal.  Kalau evaluasi yang
"betul-betul" biasanya akan melibatkan soure code.  Sebagai contoh adalah
yang saya tulis ulang dari IEEE Software :

Jumlah errors pada MS products dan iterasi
http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/cgi-bin/notes/notes.cgi?00069

Jadi beberapa parameter kualitas (misal maintainability dsb) akan baru
bisa dinilai kalau kita melihat source code, begitu juga beberapa
karakteristik seperti modularitas, koherensi baru terlihat kalau kita
melihat source code.  Belum kalau kita ingin mengukur "time slice
process" dsb...

Sejarah sudah menunjukkan bahwa ketersediaan source code (seperti halnya
literatur) akan mendorong ke pemahaman dan penciptaan sistem baru.  Hal
ini dengan adanya MS Windows, DOS, Linux, FreeBSD dsb.  Karena mereka
ketika kuliah (atau waktu jadi akademisi) pernah mempelajari OS dengan
melihat source code orang.

IMW





------------------------------------------------------------------------
Forum Komunikasi Penulis-Pembaca MIKRODATA (FKPPM)

Informasi : http:[EMAIL PROTECTED]
Arsip     : http://www.mail-archive.com/forum%40mikrodata.co.id/
WAP       : http://mikrodata.co.id/wap/index.wml

Milis ini menjadi kontribusi beberapa rubrik yang diasuh tim MIKRODATA.
Termasuk rubrik-rubrik yang ada di media lain.

Memakai, Menyebarluaskan, dan Memperbanyak software bajakan adalah 
tindakan kriminal.

Please check with the latest AVP update before you ask about virus:
ftp://mikrodata.co.id/avirus_&_security/AntiViral_Toolkit_Pro/avp30.zip

Kirim email ke