ya ampun.......

sudah berapa banyak orang memnaggilku akhi.....


padahal......





- In [email protected], Jamaluddin J <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Akhi, bagus skali puisi antum, belajar dimana yaa??? ajarin 
dong'kkk....
>   bincang-bincang tentang dana(untuk transportasi ke acara2 "ibu 
kita"),  ana teringat ketika membahas Risalah Pergerakan 
subbab "warna apakah  yang kita pilih?" seorang teman membagikan 
pengalamannya setelah ia  pulang dari sebuah kabupaten di sul-sel 
menangani proyek penyusunan  APBD,  kata teman saya itu, kita bisa 
tau arah politik ekonomi  daerah, apakah kapitalis, sosialis, 
ataukah islamis, ketika penyusunan  APBD atau pada akhir tahun untuk 
menghabiskan anggaran, kemanakah  anggaran itu dihabiskan?? setelah 
bercerita panjang lebar,  teman  saya  ini kemudian melemparkan 
pertanyaan, seandainya kita duduk  di deretan orang yang menyusun 
anggaran, warna  politik ekonomi  apa yang kita pilih, apakah 
sosialis, kapitalis ataukah islamis. Semua  kita, pasti memilih yang 
terakhir:ISLAMIS. Ia kemudian kembali  bertanya, bagaimana cara kita 
mengimplementasikannya, anggaran2 apa  saja yang kita biayai?? 
lanjut sang teman, ustadz kita (ana kurang tau  kalo di pusat) yang 
duduk di
>  dewan, sangat pandai mengkritik, pintar,  cerdik, sangat pintar, 
tapi tidak ada solusi yang ditawarkan, mereka  juga masih awam  
anggaran, bahkan sangat awam (mungkin kalo fiqh  dakwah, ceritanya 
pasti beda). Saya kemudian bertanya pada diri saya  (kita semua) 
jika kita di posisi itu, kemanakah anggaran itu berputar,  apakah 
kita pandai membaca anggaran??? teman tersebut kemudian memberi  
saran,  mungkin kita juga perlu belajar membedah anggaran,liku-
likunya dan lain  sebagainya, bukan cuma ekonomi Islam, sekarang 
tahapan dakwah kita kian  meninggi, sebentar lagi pengelolaan 
negara, kalo mengelola anggaran,  kita masih dipermainkan, jangan 
pernah bermimpi mengelola negara.  jadi anggota dewan (bukan 
bermaksud mengejar jabatan ya, tapi  profesional, pada saat 
penyusunan anggarankan, KSEI antum-kita-bisa  kena cipratannya, dari 
pada lari ke organisasi lain. )
>   Akhi, biarlah "ibu kita" dengan "pakaian pestanya".mungkin bukan 
rejeki  antum ikut "pesta-pestanya ibu", tapi mudah-mudahan adik-
adik antum  kelak di kemudian hari, seperti imam syahid yang "tak 
pernah merasakan  apa yang telah dibangunnya". bekerjalah kamu 
niscaya Allah, Rasulnya serta orang-orang yang beriman akan menjadi 
saksi
>   
> barep_hay <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:                                            biarpun kami 
berada jauh di seberang pulau,
>   bukankah kami bagian dari FoSSEI?
>   
>   biarpun kami tak memiliki roda untuk mengantarkan kami ke kota 
Gudeg,
>   bukankah kami adalah bagian dari FoSSEI?
>   
>   jika yang berhak mengikuti acara 2 nasional adalah KSEI yang 
mampu,
>   bukankah seyogyanya, forum silaturahim ini dapat membantu 
anggotanya 
>   yang kurang bahkan tidak mampu??
>   
>   tapi kenapa, saya, ah bukan, kami,
>   tak merasakannya.
>   tempat kami memang terpencil, ah tidak, kami dekat dengan ibukota
>   tapi kami tak merasakan ada ibu yang membimbing dan 
mengembangkan 
>   diri kami.
>   
>   Bukankah FoSSEI ada, karena adanya KSEI - KSEI yang berdaya.
>   lalu mengapa KSEI-KSEI yang belum berdaya, merasa tertinggal 
jauh.
>   sementara, acara2 yang ibu kami adakan adalah acara2 nasional 
yang 
>   tiap tahunnya berpindah tempat, dan itu memakan biaya besar.
>   
>   bukankah untuk terbang ke sana, memerlukan senjata.
>   yang kami tak punya.
>   
>   ah, mengeluh!
>   benci aku atas kata ini.
>   ibu, kami hendak bertanya, apakah kerjamu hanya mengadakan 
event2 
>   nasional,,,,yang kami harus datang....?
>   jika tak datang, maka kami bukanlah anggotamu, bukan anakmu.
>   jadi engkau hanya bisa dikunjungi oleh orang2 yang kaya, yang 
punya 
>   uang, yang bisa terbang ke seluruh indonesia. sementara kami, 
atau 
>   rakyat indonesia. tak mengenal apa itu FoSSEI. tak mengenal apa 
itu 
>   ekonomi islam.
>   
>   maaf ibu, mungkin saudara2ku akan memprotes keluhanku ini.
>   "tidak benar! tidak begitu! kami mempunyai visi membumikan 
ekonomi 
>   islam!"
>   bahkan mungkin, engkau pun berkata begitu, "ibu"
>   
>   kami ingin merasakan kasih sayang seorang "ibu"
>   yang tidak hanya ingin didatangi
>   tapi juga mendatangi kami.
>   
>   kami rindukan itu
>   kami rindukan visimu yang mulia,
>   
>   maafkanlah kami, ibu
>   
>   
>       
>                                                     
> 
>        
> ---------------------------------
> Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with 
Yahoo! Search.
>


Kirim email ke