loh?!!! emange panggilane ukhti ya? makanya....
--- In [email protected], "barep_hay" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > ya ampun....... > > sudah berapa banyak orang memnaggilku akhi..... > > > padahal...... > > > > > > - In [email protected], Jamaluddin J <jamal_fe02@> wrote: > > > > > > Akhi, bagus skali puisi antum, belajar dimana yaa??? ajarin > dong'kkk.... > > bincang-bincang tentang dana(untuk transportasi ke acara2 "ibu > kita"), ana teringat ketika membahas Risalah Pergerakan > subbab "warna apakah yang kita pilih?" seorang teman membagikan > pengalamannya setelah ia pulang dari sebuah kabupaten di sul-sel > menangani proyek penyusunan APBD, kata teman saya itu, kita bisa > tau arah politik ekonomi daerah, apakah kapitalis, sosialis, > ataukah islamis, ketika penyusunan APBD atau pada akhir tahun untuk > menghabiskan anggaran, kemanakah anggaran itu dihabiskan?? setelah > bercerita panjang lebar, teman saya ini kemudian melemparkan > pertanyaan, seandainya kita duduk di deretan orang yang menyusun > anggaran, warna politik ekonomi apa yang kita pilih, apakah > sosialis, kapitalis ataukah islamis. Semua kita, pasti memilih yang > terakhir:ISLAMIS. Ia kemudian kembali bertanya, bagaimana cara kita > mengimplementasikannya, anggaran2 apa saja yang kita biayai?? > lanjut sang teman, ustadz kita (ana kurang tau kalo di pusat) yang > duduk di > > dewan, sangat pandai mengkritik, pintar, cerdik, sangat pintar, > tapi tidak ada solusi yang ditawarkan, mereka juga masih awam > anggaran, bahkan sangat awam (mungkin kalo fiqh dakwah, ceritanya > pasti beda). Saya kemudian bertanya pada diri saya (kita semua) > jika kita di posisi itu, kemanakah anggaran itu berputar, apakah > kita pandai membaca anggaran??? teman tersebut kemudian memberi > saran, mungkin kita juga perlu belajar membedah anggaran,liku- > likunya dan lain sebagainya, bukan cuma ekonomi Islam, sekarang > tahapan dakwah kita kian meninggi, sebentar lagi pengelolaan > negara, kalo mengelola anggaran, kita masih dipermainkan, jangan > pernah bermimpi mengelola negara. jadi anggota dewan (bukan > bermaksud mengejar jabatan ya, tapi profesional, pada saat > penyusunan anggarankan, KSEI antum-kita-bisa kena cipratannya, dari > pada lari ke organisasi lain. ) > > Akhi, biarlah "ibu kita" dengan "pakaian pestanya".mungkin bukan > rejeki antum ikut "pesta-pestanya ibu", tapi mudah-mudahan adik- > adik antum kelak di kemudian hari, seperti imam syahid yang "tak > pernah merasakan apa yang telah dibangunnya". bekerjalah kamu > niscaya Allah, Rasulnya serta orang-orang yang beriman akan menjadi > saksi > > > > barep_hay <barep_hay@> > wrote: biarpun kami > berada jauh di seberang pulau, > > bukankah kami bagian dari FoSSEI? > > > > biarpun kami tak memiliki roda untuk mengantarkan kami ke kota > Gudeg, > > bukankah kami adalah bagian dari FoSSEI? > > > > jika yang berhak mengikuti acara 2 nasional adalah KSEI yang > mampu, > > bukankah seyogyanya, forum silaturahim ini dapat membantu > anggotanya > > yang kurang bahkan tidak mampu?? > > > > tapi kenapa, saya, ah bukan, kami, > > tak merasakannya. > > tempat kami memang terpencil, ah tidak, kami dekat dengan ibukota > > tapi kami tak merasakan ada ibu yang membimbing dan > mengembangkan > > diri kami. > > > > Bukankah FoSSEI ada, karena adanya KSEI - KSEI yang berdaya. > > lalu mengapa KSEI-KSEI yang belum berdaya, merasa tertinggal > jauh. > > sementara, acara2 yang ibu kami adakan adalah acara2 nasional > yang > > tiap tahunnya berpindah tempat, dan itu memakan biaya besar. > > > > bukankah untuk terbang ke sana, memerlukan senjata. > > yang kami tak punya. > > > > ah, mengeluh! > > benci aku atas kata ini. > > ibu, kami hendak bertanya, apakah kerjamu hanya mengadakan > event2 > > nasional,,,,yang kami harus datang....? > > jika tak datang, maka kami bukanlah anggotamu, bukan anakmu. > > jadi engkau hanya bisa dikunjungi oleh orang2 yang kaya, yang > punya > > uang, yang bisa terbang ke seluruh indonesia. sementara kami, > atau > > rakyat indonesia. tak mengenal apa itu FoSSEI. tak mengenal apa > itu > > ekonomi islam. > > > > maaf ibu, mungkin saudara2ku akan memprotes keluhanku ini. > > "tidak benar! tidak begitu! kami mempunyai visi membumikan > ekonomi > > islam!" > > bahkan mungkin, engkau pun berkata begitu, "ibu" > > > > kami ingin merasakan kasih sayang seorang "ibu" > > yang tidak hanya ingin didatangi > > tapi juga mendatangi kami. > > > > kami rindukan itu > > kami rindukan visimu yang mulia, > > > > maafkanlah kami, ibu > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > Looking for last minute shopping deals? Find them fast with > Yahoo! Search. > > >

