Duhhhh....dalam bangett............sastrawan or sastrawati nich.....
boleh juga nich puisi dijadikan "bagian dari refleksi; "INI"; 
hmmm.........soale ane lagi gerep nich, tapi sayang bukunya dah mau launcing, 
tapi seruuu juga klau "Puisi" ini di cermati, soale dalam buku "INI" yang ane 
susun selama ini ada refleksi FoSSEI and KaFOSSEInya lhoh....yach...seputar 
refleksi gitu, apalagi disandingin dengan para Tokoh-tokoh "Syariah" tanah air, 
insyallah didengarin deh...keluhannya. Mudah-mudahan, he...he...he....but ane 
belum bisa sebutin jelas bukunya kayak gimana, tapi insyaallah suprase buat 
rekan-rekan di FoSSEI....moga tetap semangat untuk selamanya.....
"SeMUA UNTUK SATU", dan "konsisten untuk komitmen......

salam....

Indah

barep_hay <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               ya 
ampun.......
 
 sudah berapa banyak orang memnaggilku akhi.....
 
 padahal......
 
 - In [email protected], Jamaluddin J <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 >
 > 
 > Akhi, bagus skali puisi antum, belajar dimana yaa??? ajarin 
 dong'kkk....
 >   bincang-bincang tentang dana(untuk transportasi ke acara2 "ibu 
 kita"),  ana teringat ketika membahas Risalah Pergerakan 
 subbab "warna apakah  yang kita pilih?" seorang teman membagikan 
 pengalamannya setelah ia  pulang dari sebuah kabupaten di sul-sel 
 menangani proyek penyusunan  APBD,  kata teman saya itu, kita bisa 
 tau arah politik ekonomi  daerah, apakah kapitalis, sosialis, 
 ataukah islamis, ketika penyusunan  APBD atau pada akhir tahun untuk 
 menghabiskan anggaran, kemanakah  anggaran itu dihabiskan?? setelah 
 bercerita panjang lebar,  teman  saya  ini kemudian melemparkan 
 pertanyaan, seandainya kita duduk  di deretan orang yang menyusun 
 anggaran, warna  politik ekonomi  apa yang kita pilih, apakah 
 sosialis, kapitalis ataukah islamis. Semua  kita, pasti memilih yang 
 terakhir:ISLAMIS. Ia kemudian kembali  bertanya, bagaimana cara kita 
 mengimplementasikannya, anggaran2 apa  saja yang kita biayai?? 
 lanjut sang teman, ustadz kita (ana kurang tau  kalo di pusat) yang 
 duduk di
 >  dewan, sangat pandai mengkritik, pintar,  cerdik, sangat pintar, 
 tapi tidak ada solusi yang ditawarkan, mereka  juga masih awam  
 anggaran, bahkan sangat awam (mungkin kalo fiqh  dakwah, ceritanya 
 pasti beda). Saya kemudian bertanya pada diri saya  (kita semua) 
 jika kita di posisi itu, kemanakah anggaran itu berputar,  apakah 
 kita pandai membaca anggaran??? teman tersebut kemudian memberi  
 saran,  mungkin kita juga perlu belajar membedah anggaran,liku-
 likunya dan lain  sebagainya, bukan cuma ekonomi Islam, sekarang 
 tahapan dakwah kita kian  meninggi, sebentar lagi pengelolaan 
 negara, kalo mengelola anggaran,  kita masih dipermainkan, jangan 
 pernah bermimpi mengelola negara.  jadi anggota dewan (bukan 
 bermaksud mengejar jabatan ya, tapi  profesional, pada saat 
 penyusunan anggarankan, KSEI antum-kita-bisa  kena cipratannya, dari 
 pada lari ke organisasi lain. )
 >   Akhi, biarlah "ibu kita" dengan "pakaian pestanya".mungkin bukan 
 rejeki  antum ikut "pesta-pestanya ibu", tapi mudah-mudahan adik-
 adik antum  kelak di kemudian hari, seperti imam syahid yang "tak 
 pernah merasakan  apa yang telah dibangunnya". bekerjalah kamu 
 niscaya Allah, Rasulnya serta orang-orang yang beriman akan menjadi 
 saksi
 >   
 > barep_hay <[EMAIL PROTECTED]> 
 wrote:                                            biarpun kami 
 berada jauh di seberang pulau,
 >   bukankah kami bagian dari FoSSEI?
 >   
 >   biarpun kami tak memiliki roda untuk mengantarkan kami ke kota 
 Gudeg,
 >   bukankah kami adalah bagian dari FoSSEI?
 >   
 >   jika yang berhak mengikuti acara 2 nasional adalah KSEI yang 
 mampu,
 >   bukankah seyogyanya, forum silaturahim ini dapat membantu 
 anggotanya 
 >   yang kurang bahkan tidak mampu??
 >   
 >   tapi kenapa, saya, ah bukan, kami,
 >   tak merasakannya.
 >   tempat kami memang terpencil, ah tidak, kami dekat dengan ibukota
 >   tapi kami tak merasakan ada ibu yang membimbing dan 
 mengembangkan 
 >   diri kami.
 >   
 >   Bukankah FoSSEI ada, karena adanya KSEI - KSEI yang berdaya.
 >   lalu mengapa KSEI-KSEI yang belum berdaya, merasa tertinggal 
 jauh.
 >   sementara, acara2 yang ibu kami adakan adalah acara2 nasional 
 yang 
 >   tiap tahunnya berpindah tempat, dan itu memakan biaya besar.
 >   
 >   bukankah untuk terbang ke sana, memerlukan senjata.
 >   yang kami tak punya.
 >   
 >   ah, mengeluh!
 >   benci aku atas kata ini.
 >   ibu, kami hendak bertanya, apakah kerjamu hanya mengadakan 
 event2 
 >   nasional,,,,yang kami harus datang....?
 >   jika tak datang, maka kami bukanlah anggotamu, bukan anakmu.
 >   jadi engkau hanya bisa dikunjungi oleh orang2 yang kaya, yang 
 punya 
 >   uang, yang bisa terbang ke seluruh indonesia. sementara kami, 
 atau 
 >   rakyat indonesia. tak mengenal apa itu FoSSEI. tak mengenal apa 
 itu 
 >   ekonomi islam.
 >   
 >   maaf ibu, mungkin saudara2ku akan memprotes keluhanku ini.
 >   "tidak benar! tidak begitu! kami mempunyai visi membumikan 
 ekonomi 
 >   islam!"
 >   bahkan mungkin, engkau pun berkata begitu, "ibu"
 >   
 >   kami ingin merasakan kasih sayang seorang "ibu"
 >   yang tidak hanya ingin didatangi
 >   tapi juga mendatangi kami.
 >   
 >   kami rindukan itu
 >   kami rindukan visimu yang mulia,
 >   
 >   maafkanlah kami, ibu
 >   
 >   
 >       
 >                                                     
 > 
 >        
 > ---------------------------------
 > Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with 
 Yahoo! Search.
 >
 
 
     
                               

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke