weh mbak indah, nanti kasih royalti ya kalo tulisan saya diambil?
hehehe,

sastrawan atau sastrawati?
gak pentinglah itu


--- In [email protected], Muslimah IM <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Duhhhh....dalam bangett............sastrawan or sastrawati nich.....
> boleh juga nich puisi dijadikan "bagian dari refleksi; "INI";
hmmm.........soale ane lagi gerep nich, tapi sayang bukunya dah mau
launcing, tapi seruuu juga klau "Puisi" ini di cermati, soale dalam buku
"INI" yang ane susun selama ini ada refleksi FoSSEI and KaFOSSEInya
lhoh....yach...seputar refleksi gitu, apalagi disandingin dengan para
Tokoh-tokoh "Syariah" tanah air, insyallah didengarin deh...keluhannya.
Mudah-mudahan, he...he...he....but ane belum bisa sebutin jelas bukunya
kayak gimana, tapi insyaallah suprase buat rekan-rekan di FoSSEI....moga
tetap semangat untuk selamanya.....
> "SeMUA UNTUK SATU", dan "konsisten untuk komitmen......
>
> salam....
>
> Indah
>
> barep_hay [EMAIL PROTECTED] wrote:                               ya
ampun.......
>
>  sudah berapa banyak orang memnaggilku akhi.....
>
>  padahal......
>
>  - In [email protected], Jamaluddin J jamal_fe02@ wrote:
>  >
>  >
>  > Akhi, bagus skali puisi antum, belajar dimana yaa??? ajarin
>  dong'kkk....
>  >   bincang-bincang tentang dana(untuk transportasi ke acara2 "ibu
>  kita"),  ana teringat ketika membahas Risalah Pergerakan
>  subbab "warna apakah  yang kita pilih?" seorang teman membagikan
>  pengalamannya setelah ia  pulang dari sebuah kabupaten di sul-sel
>  menangani proyek penyusunan  APBD,  kata teman saya itu, kita bisa
>  tau arah politik ekonomi  daerah, apakah kapitalis, sosialis,
>  ataukah islamis, ketika penyusunan  APBD atau pada akhir tahun untuk
>  menghabiskan anggaran, kemanakah  anggaran itu dihabiskan?? setelah
>  bercerita panjang lebar,  teman  saya  ini kemudian melemparkan
>  pertanyaan, seandainya kita duduk  di deretan orang yang menyusun
>  anggaran, warna  politik ekonomi  apa yang kita pilih, apakah
>  sosialis, kapitalis ataukah islamis. Semua  kita, pasti memilih yang
>  terakhir:ISLAMIS. Ia kemudian kembali  bertanya, bagaimana cara kita
>  mengimplementasikannya, anggaran2 apa  saja yang kita biayai??
>  lanjut sang teman, ustadz kita (ana kurang tau  kalo di pusat) yang
>  duduk di
>  >  dewan, sangat pandai mengkritik, pintar,  cerdik, sangat pintar,
>  tapi tidak ada solusi yang ditawarkan, mereka  juga masih awam
>  anggaran, bahkan sangat awam (mungkin kalo fiqh  dakwah, ceritanya
>  pasti beda). Saya kemudian bertanya pada diri saya  (kita semua)
>  jika kita di posisi itu, kemanakah anggaran itu berputar,  apakah
>  kita pandai membaca anggaran??? teman tersebut kemudian memberi
>  saran,  mungkin kita juga perlu belajar membedah anggaran,liku-
>  likunya dan lain  sebagainya, bukan cuma ekonomi Islam, sekarang
>  tahapan dakwah kita kian  meninggi, sebentar lagi pengelolaan
>  negara, kalo mengelola anggaran,  kita masih dipermainkan, jangan
>  pernah bermimpi mengelola negara.  jadi anggota dewan (bukan
>  bermaksud mengejar jabatan ya, tapi  profesional, pada saat
>  penyusunan anggarankan, KSEI antum-kita-bisa  kena cipratannya, dari
>  pada lari ke organisasi lain. )
>  >   Akhi, biarlah "ibu kita" dengan "pakaian pestanya".mungkin bukan
>  rejeki  antum ikut "pesta-pestanya ibu", tapi mudah-mudahan adik-
>  adik antum  kelak di kemudian hari, seperti imam syahid yang "tak
>  pernah merasakan  apa yang telah dibangunnya". bekerjalah kamu
>  niscaya Allah, Rasulnya serta orang-orang yang beriman akan menjadi
>  saksi
>  >
>  > barep_hay barep_hay@
>  wrote:                                            biarpun kami
>  berada jauh di seberang pulau,
>  >   bukankah kami bagian dari FoSSEI?
>  >
>  >   biarpun kami tak memiliki roda untuk mengantarkan kami ke kota
>  Gudeg,
>  >   bukankah kami adalah bagian dari FoSSEI?
>  >
>  >   jika yang berhak mengikuti acara 2 nasional adalah KSEI yang
>  mampu,
>  >   bukankah seyogyanya, forum silaturahim ini dapat membantu
>  anggotanya
>  >   yang kurang bahkan tidak mampu??
>  >
>  >   tapi kenapa, saya, ah bukan, kami,
>  >   tak merasakannya.
>  >   tempat kami memang terpencil, ah tidak, kami dekat dengan ibukota
>  >   tapi kami tak merasakan ada ibu yang membimbing dan
>  mengembangkan
>  >   diri kami.
>  >
>  >   Bukankah FoSSEI ada, karena adanya KSEI - KSEI yang berdaya.
>  >   lalu mengapa KSEI-KSEI yang belum berdaya, merasa tertinggal
>  jauh.
>  >   sementara, acara2 yang ibu kami adakan adalah acara2 nasional
>  yang
>  >   tiap tahunnya berpindah tempat, dan itu memakan biaya besar.
>  >
>  >   bukankah untuk terbang ke sana, memerlukan senjata.
>  >   yang kami tak punya.
>  >
>  >   ah, mengeluh!
>  >   benci aku atas kata ini.
>  >   ibu, kami hendak bertanya, apakah kerjamu hanya mengadakan
>  event2
>  >   nasional,,,,yang kami harus datang....?
>  >   jika tak datang, maka kami bukanlah anggotamu, bukan anakmu.
>  >   jadi engkau hanya bisa dikunjungi oleh orang2 yang kaya, yang
>  punya
>  >   uang, yang bisa terbang ke seluruh indonesia. sementara kami,
>  atau
>  >   rakyat indonesia. tak mengenal apa itu FoSSEI. tak mengenal apa
>  itu
>  >   ekonomi islam.
>  >
>  >   maaf ibu, mungkin saudara2ku akan memprotes keluhanku ini.
>  >   "tidak benar! tidak begitu! kami mempunyai visi membumikan
>  ekonomi
>  >   islam!"
>  >   bahkan mungkin, engkau pun berkata begitu, "ibu"
>  >
>  >   kami ingin merasakan kasih sayang seorang "ibu"
>  >   yang tidak hanya ingin didatangi
>  >   tapi juga mendatangi kami.
>  >
>  >   kami rindukan itu
>  >   kami rindukan visimu yang mulia,
>  >
>  >   maafkanlah kami, ibu
>  >
>  >
>  >
>  >
>  >
>  >
>  > ---------------------------------
>  > Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with
>  Yahoo! Search.
>  >
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. 
Try it now.
>

Kirim email ke