ini khan tipikal ekspor/impor indonesia, dalam kasus ini yg diekspor biji kopi
dgn harga murah, sesampai di Amerika tinggal di bikin bubuk dimasukin kemasan
bagus dikasih label Starbucks atau Peet's Cofee atau yg lain, kemudian di impor
lagi ke Indonesia dgn harga mahal bahkan kalau minumnya di gerai Starbucks
harganya super mahal. sempat minum Starbucks di Jkt rasanya harganya puluhan
ribu kurang lebih sama dgn harga disini.
On Monday, November 28, 2016 12:00 PM, Tatiana Lukman
<[email protected]> wrote:
Ada yang bisa menjelaskan alasan untuk menerima "penjajahan" Starbucks, padahal
bahan bakunya dari Indonesia sendiri?
Kopi Gayo dari Aceh Bahan Baku Utama Gerai Starbucks
SUDAH menjadi rahasia umum, gerai kopi yang terkenal di dunia seperti Starbucks
tetap menggunakan bahan baku biji kopi Gayo dari Aceh untuk memuaskan pelanggan
atau konsumennya.Bukan hanya itu, biji kopi dari Kintamani asal Bali pun juga
menjadi pilihan bagi Starbucks sebagai bentuk kombinasi untuk mengolah sumber
bahan baku kopi perusahaan AS tersebut.Inovasi dari Starbucks ini memang
mempunyai nilai history panjang dengan negara Indonesia terkait aturan yang
dibuat oleh pemerintah, walaupun Aceh sudah lebih dulu mengekspor biji kopi ke
pelabuhan Seattle sebelum didistriubusikan ke berbagai gerai Starbucks.Menteri
Perindustrian MS Hidayat mengatakan sebelum Starbucks masuk ke Indonesia,
Starbucks mengimpor kopi. Namun pemerintah mengeluarkan ketentuan soal
kandungan lokal sehingg Starbuck mulai mengkombinasikan kopi lokal dan
impor.“Itu dari Indonesia, tadinya pas mau masuk dia impor semua kan terus
diberikan ketentuan, akhirnya dia gabung juga dengan lokal,” kata MS Hidayat di
Jakarta, Selasa (25/6/2013).Sementara itu Dirjen Industri Kementerian
Perindustrian Agro Benny Wahyudi menambahkan pembuatan kopi memang selalu tidak
berasal dari satu sumber. Begitu juga dengan kopi gerai sekelas Starbucks.
“Kalau namanya kopi, itu selalu blending (campur),” ujar Benny.Namun begitu,
Starbucks tetap mempunyai lahan tersendiri untuk kebun kopi di Amerika Tengah
dan Peru seluas 240 hektar yang mereka sulap juga menjadi pusat riset dan
pengembangan agronomi. Berbagai inovasi bisnis, mulai dari racikan, fasilitas
dan teknologi tidak pernah surut diperhatikan oleh perusahaan yang dipimpin
oleh Howard Schultz ini.Dengan menggadangkan slogan “Great coffee everywhere”
tentu saja penikmat kopi Starbucks pun akan merasakan sensasi beda disaat
menikmati kopi Aceh di tempat aslinya. Sama-sama biji kopi dari satu sumber,
yang tentunya beda harga. Tapi lewat inovasi, Starbucks telah berhasil
melangkah jauh ke depan dan pastinya kopi di Aceh pun bisa lebih dari itu.