Benar tidak ada imperialism mengaku sbg imperialism. Mereka selalu menggunakan alasan dalam bentuk dan kemasan yg bermacam2.
Bisnisnya sendiri bukan imperialism. Tetapi ada orang/negara yg dapat menggunakan bisnis ekonomi sbg alat imperialism seperti juga mereka dapat menggunakan agama dalam hegemoninya. Bisnis ekonomi dalam bentuk tertuanya adalah barter itu sangat murni hanyalah pertukaran barang/jasa saja. tidak lebih dari itu. Yang melebihkan itu yg harus disorot bukan bisnis ekonominya. Ini yg bung belum bisa lihat dalam kasus starbucks itu. Bung mengambil kesimpulan serampangan karena letak kiri bung yg lebih kekiri. Hanya saja hati2 dalam berargumen. Itu saja. Nesare From: Tatiana Lukman [mailto:[email protected]] Sent: Tuesday, November 29, 2016 4:30 AM To: NESARE <[email protected]> Subject: Fw: [temu_eropa] Re: Kopi Gayo dari Aceh Bahan Baku Utama Gerai Starbucks On Tuesday, November 29, 2016 10:26 AM, "Tatiana Lukman [email protected] <mailto:[email protected]> [temu_eropa]" <[email protected] <mailto:[email protected]> > wrote: Mana ada imperialisme yang mengaku dirinya imperialisme, bukan? Bungkusan dan kemasannya memang macam-macam. Sampai sekarangpun di Bld masih banyak, bahkan pernah PM Balkenende yang membanggakan VOC, karena dianggap lihai dalam perdagangan sehingga bisa berdominasi. Mereka ingin melupakan sifat kolonial, penghisapan dan penindasan terhadap rakyat Indonesia. Mereka selalu bilang: lho Belanda ke Indonesia dulu itu untuk berdagang!!!! Apakah kita orang Indonesia begitu gobloknya ya sehingga nggak bisa mengolah kopi kita sendiri dan mencapai "kwalitas dalam rasa dan sebagainya" yang tidak kalah dengan Starbucks??? Dalam mencari sebab mengapa Starbucks bisa masuk berbisnis dan akhirnya menguasai pasar konsumsi apakah tidak perlu melihat politik pemerintah sendiri yang tidak melindungi pengusaha nasional? Ingat nggak soal import pacul dari Tkk yang membuat pengusaha nasional gulung tikar karena tidak dapat bersaing dengan produk Tkk? ?Sebelum menggoblokkan rakyat kita sendiri, analisa dulu sifat pemerintah Indonesia dan pelajari arti dan dampak dari berbagai macam free trade treaty/agreement yang didorong SELALU oleh kekuatan imperialis. Pelajari hasil free trade treaty seperti NAFTA (antara AS, Canada dan Mexico): mengapa ditentang oleh rakyat Mexico, dan dampaknya: pertanian jagung lokal ambruk.... Ttg Starbucks sendiri, kalau tidak salah ingat, juga pernah kena skandal soal pajak!!! Saya sih terus terang saja: memang saya tidak senang alias anti Starbucks, Mc Donald, Kentucky Chicken dll dan menolak dominasi mereka di pasar Indonesia!!! Kalau Pemerintah mempunyai rasa dignity dan membela kedaulatan nasional, tidak akan terjadi pasar kita dipenuhi oleh produk dan service negeri-negeri imperialis!!! Pelajari sejarah perkembangan kapitalisme di negeri-negeri Eropa dan AS. Dalam awal perkembangannya, mereka SELALU MELINDUNGI PERUSAHAAN DAN PRODUK NASIONALNYA!!! Artinya mereka menjalankan kebijakan PROTEKSIONISME!!! On Tuesday, November 29, 2016 5:06 AM, ajeg <[email protected] <mailto:[email protected]> > wrote: Imperialisme. Biasa, bilangnya cuma bisnis, padahal diatur sedemikian rupa sehingga. Jaman sekarang pengaturan itu namanya paket-paket kebijakan ekonomi. --- jetaimemucho1@... wrote: Ada yang bisa menjelaskan alasan untuk menerima "penjajahan" Starbucks, padahal bahan bakunya dari Indonesia sendiri? Kopi Gayo dari Aceh Bahan Baku Utama Gerai Starbucks <http://atjeh.biz/wp-content/uploads/2013/06/Starbucks_kopi-aceh.jpg> <http://i291.photobucket.com/albums/ll301/setempos/setarbak/head08.png> SUDAH menjadi rahasia umum, gerai kopi yang terkenal di dunia seperti Starbucks tetap menggunakan bahan baku biji kopi Gayo dari Aceh untuk memuaskan pelanggan atau konsumennya. Bukan hanya itu, biji kopi dari Kintamani asal Bali pun juga menjadi pilihan bagi Starbucks sebagai bentuk kombinasi untuk mengolah sumber bahan baku kopi perusahaan AS tersebut. Inovasi dari Starbucks ini memang mempunyai nilai history panjang dengan negara Indonesia terkait aturan yang dibuat oleh pemerintah, walaupun Aceh sudah lebih dulu mengekspor biji kopi ke pelabuhan Seattle sebelum didistriubusikan ke berbagai gerai Starbucks. Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan sebelum Starbucks masuk ke Indonesia, Starbucks mengimpor kopi. Namun pemerintah mengeluarkan ketentuan soal kandungan lokal sehingg Starbuck mulai mengkombinasikan kopi lokal dan impor. “Itu dari Indonesia, tadinya pas mau masuk dia impor semua kan terus diberikan ketentuan, akhirnya dia gabung juga dengan lokal,” kata MS Hidayat di Jakarta, Selasa (25/6/2013). Sementara itu Dirjen Industri Kementerian Perindustrian Agro Benny Wahyudi menambahkan pembuatan kopi memang selalu tidak berasal dari satu sumber. Begitu juga dengan kopi gerai sekelas Starbucks. “Kalau namanya kopi, itu selalu blending (campur),” ujar Benny. Namun begitu, Starbucks tetap mempunyai lahan tersendiri untuk kebun kopi di Amerika Tengah dan Peru seluas 240 hektar yang mereka sulap juga menjadi pusat riset dan pengembangan agronomi. Berbagai inovasi bisnis, mulai dari racikan, fasilitas dan teknologi tidak pernah surut diperhatikan oleh perusahaan yang dipimpin oleh Howard Schultz ini. Dengan menggadangkan slogan “ <http://www.adweek.com/news/advertising-branding/why-starbucks-rebranded-seattles-best-102328> Great coffee everywhere” tentu saja penikmat kopi Starbucks pun akan merasakan sensasi beda disaat menikmati kopi Aceh di tempat aslinya. Sama-sama biji kopi dari satu sumber, yang tentunya beda harga. Tapi lewat inovasi, Starbucks telah berhasil melangkah jauh ke depan dan pastinya kopi di Aceh pun bisa lebih dari itu.
