Itu bisnis ekonomi yg dihubung2kan dengan imperialism.

Kalau agama gimana?

Ada religious imperialism?

Gimana juga dengan culture, ada culture imperialism? Dll.

Kenapa 2 hal ini tidak dikutak katik?

Kenapa hanya bisnis ekonomi yg dikutak katik?

 

Nesare

 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, November 28, 2016 11:50 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Kopi Gayo dari Aceh Bahan Baku Utama Gerai Starbucks

 

  

Nekolim, kata Bung Karno.

Nawacita, kata...





hhaaaa......



 

--- jonathangoeij@... wrote:

 

istilah Lenin namanya capitalist imperialism.

 

--- ajegilelu@... wrote :





Imperialisme.





Biasa, bilangnya cuma bisnis, padahal diatur sedemikian rupa



sehingga.







Jaman sekarang pengaturan itu namanya paket-paket kebijakan ekonomi.

 

 

--- jetaimemucho1@... wrote:

 

Ada yang bisa menjelaskan alasan untuk menerima "penjajahan" Starbucks, padahal 
bahan bakunya dari Indonesia sendiri?

 

 


Kopi Gayo dari Aceh Bahan Baku Utama Gerai Starbucks


  <http://atjeh.biz/wp-content/uploads/2013/06/Starbucks_kopi-aceh.jpg> 

  <http://i291.photobucket.com/albums/ll301/setempos/setarbak/head08.png> 

SUDAH menjadi rahasia umum, gerai kopi yang terkenal di dunia seperti Starbucks 
tetap menggunakan bahan baku biji kopi Gayo dari Aceh untuk memuaskan pelanggan 
atau konsumennya.

Bukan hanya itu, biji kopi dari Kintamani asal Bali pun juga menjadi pilihan 
bagi Starbucks sebagai bentuk kombinasi untuk mengolah sumber bahan baku kopi 
perusahaan AS tersebut.

Inovasi dari Starbucks ini memang mempunyai nilai history panjang dengan negara 
Indonesia terkait aturan yang dibuat oleh pemerintah, walaupun Aceh sudah lebih 
dulu mengekspor biji kopi ke pelabuhan Seattle sebelum didistriubusikan ke 
berbagai gerai Starbucks.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan sebelum Starbucks masuk ke 
Indonesia, Starbucks mengimpor kopi. Namun pemerintah mengeluarkan ketentuan 
soal kandungan lokal sehingg Starbuck mulai mengkombinasikan kopi lokal dan 
impor.

“Itu dari Indonesia, tadinya pas mau masuk dia impor semua kan terus diberikan 
ketentuan, akhirnya dia gabung juga dengan lokal,” kata MS Hidayat di Jakarta, 
Selasa (25/6/2013).

Sementara itu Dirjen Industri Kementerian Perindustrian Agro Benny Wahyudi 
menambahkan pembuatan kopi memang selalu tidak berasal dari satu sumber. Begitu 
juga dengan kopi gerai sekelas Starbucks. “Kalau namanya kopi, itu selalu 
blending (campur),” ujar Benny.

Namun begitu, Starbucks tetap mempunyai lahan tersendiri untuk kebun kopi di 
Amerika Tengah dan Peru seluas 240 hektar yang mereka sulap juga menjadi pusat 
riset dan pengembangan agronomi. Berbagai inovasi bisnis, mulai dari racikan, 
fasilitas dan teknologi tidak pernah surut diperhatikan oleh perusahaan yang 
dipimpin oleh Howard Schultz ini.

Dengan menggadangkan slogan “ 
<http://www.adweek.com/news/advertising-branding/why-starbucks-rebranded-seattles-best-102328>
 Great coffee everywhere” tentu saja penikmat kopi Starbucks pun akan merasakan 
sensasi beda disaat menikmati kopi Aceh di tempat aslinya. Sama-sama biji kopi 
dari satu sumber, yang tentunya beda harga. Tapi lewat inovasi, Starbucks telah 
berhasil melangkah jauh ke depan dan pastinya kopi di Aceh pun bisa lebih dari 
itu.

 



Kirim email ke