waduh nunggu 50-70 thn baru minum kopi pasti mahal banget, dijual berapa harganya?
---In [email protected], <inengahk@...> wrote : Untuk mendapatkan aroma dan rasa kopi supaya enak prinsipnya sama dengan anggur, yaitu difermentasi. Semaki lama kopi disimpan maka aroma dan rasanya akan semakin enak, karena mikroba akan memfermatasi biji kopi. Supaya aromanya maximal lama fementarsi dilakukan 50 sampai 70 tahun From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Tuesday, November 29, 2016 4:39 AM To: Tatiana Lukman; Yahoogroups Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Re: Kopi Gayo dari Aceh Bahan Baku Utama Gerai Starbucks ini khan tipikal ekspor/impor indonesia, dalam kasus ini yg diekspor biji kopi dgn harga murah, sesampai di Amerika tinggal di bikin bubuk dimasukin kemasan bagus dikasih label Starbucks atau Peet's Cofee atau yg lain, kemudian di impor lagi ke Indonesia dgn harga mahal bahkan kalau minumnya di gerai Starbucks harganya super mahal. sempat minum Starbucks di Jkt rasanya harganya puluhan ribu kurang lebih sama dgn harga disini. On Monday, November 28, 2016 12:00 PM, Tatiana Lukman <jetaimemucho1@... mailto:jetaimemucho1@...> wrote: Ada yang bisa menjelaskan alasan untuk menerima "penjajahan" Starbucks, padahal bahan bakunya dari Indonesia sendiri? Kopi Gayo dari Aceh Bahan Baku Utama Gerai Starbucks SUDAH menjadi rahasia umum, gerai kopi yang terkenal di dunia seperti Starbucks tetap menggunakan bahan baku biji kopi Gayo dari Aceh untuk memuaskan pelanggan atau konsumennya. Bukan hanya itu, biji kopi dari Kintamani asal Bali pun juga menjadi pilihan bagi Starbucks sebagai bentuk kombinasi untuk mengolah sumber bahan baku kopi perusahaan AS tersebut. Inovasi dari Starbucks ini memang mempunyai nilai history panjang dengan negara Indonesia terkait aturan yang dibuat oleh pemerintah, walaupun Aceh sudah lebih dulu mengekspor biji kopi ke pelabuhan Seattle sebelum didistriubusikan ke berbagai gerai Starbucks. Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan sebelum Starbucks masuk ke Indonesia, Starbucks mengimpor kopi. Namun pemerintah mengeluarkan ketentuan soal kandungan lokal sehingg Starbuck mulai mengkombinasikan kopi lokal dan impor. “Itu dari Indonesia, tadinya pas mau masuk dia impor semua kan terus diberikan ketentuan, akhirnya dia gabung juga dengan lokal,” kata MS Hidayat di Jakarta, Selasa (25/6/2013). Sementara itu Dirjen Industri Kementerian Perindustrian Agro Benny Wahyudi menambahkan pembuatan kopi memang selalu tidak berasal dari satu sumber. Begitu juga dengan kopi gerai sekelas Starbucks. “Kalau namanya kopi, itu selalu blending (campur),” ujar Benny. Namun begitu, Starbucks tetap mempunyai lahan tersendiri untuk kebun kopi di Amerika Tengah dan Peru seluas 240 hektar yang mereka sulap juga menjadi pusat riset dan pengembangan agronomi. Berbagai inovasi bisnis, mulai dari racikan, fasilitas dan teknologi tidak pernah surut diperhatikan oleh perusahaan yang dipimpin oleh Howard Schultz ini. Dengan menggadangkan slogan “Great coffee everywhere” tentu saja penikmat kopi Starbucks pun akan merasakan sensasi beda disaat menikmati kopi Aceh di tempat aslinya. Sama-sama biji kopi dari satu sumber, yang tentunya beda harga. Tapi lewat inovasi, Starbucks telah berhasil melangkah jauh ke depan dan pastinya kopi di Aceh pun bisa lebih dari itu.
