Kira-kira bungkus seperti apa yang dipakai imperialis Baratketika merampas 
tanah Indian, Aborigin, Palestin.
Biarlah orang Indonesia dianggap goblok mengolah kopi.Yang pasti, kena kopi 
olahan Luwaknya saja dunia langsungketagihan.

Bicara lidah memang bicara selera. Buat lidah saya, kopi 
di Starbucks serasa sirop. Nggak lebih nggak kurang.Kata lidah saya, selain 
Kopi Luwak, Kopi Gayo & Tator
warung pinggir jalan, kopi gilingan sendiri di pasar Boplo
itu baru mantap.

--- jetaimemucho1@... wrote:

Mana ada imperialisme yang mengaku dirinya imperialisme, bukan? Bungkusan dan 
kemasannya memang macam-macam. Sampai sekarangpun di Bld masih banyak, bahkan 
pernah PM Balkenende yang membanggakan VOC, karena dianggap lihai dalam 
perdagangan sehingga bisa berdominasi. Mereka ingin melupakan sifat kolonial, 
penghisapan dan penindasan terhadap rakyat Indonesia. Mereka selalu bilang: lho 
Belanda ke Indonesia dulu itu untuk berdagang!!!!Apakah kita orang Indonesia 
begitu gobloknya ya sehingga nggak bisa mengolah kopi kita sendiri dan mencapai 
"kwalitas dalam rasa dan sebagainya" yang tidak kalah dengan Starbucks??? Dalam 
mencari sebab mengapa Starbucks bisa masuk berbisnis dan akhirnya  menguasai 
pasar konsumsi apakah tidak perlu melihat politik pemerintah sendiri yang tidak 
melindungi pengusaha nasional?  Ingat nggak soal import pacul dari Tkk yang 
membuat pengusaha nasional gulung tikar karena tidak dapat bersaing dengan 
produk Tkk? ?Sebelum menggoblokkan rakyat kita sendiri, analisa dulu sifat 
pemerintah Indonesia dan pelajari arti dan dampak dari berbagai macam free 
trade treaty/agreement yang didorong SELALU oleh kekuatan imperialis. Pelajari 
hasil free trade treaty seperti NAFTA (antara AS, Canada dan Mexico): mengapa 
ditentang oleh rakyat Mexico, dan dampaknya: pertanian jagung lokal 
ambruk....Ttg Starbucks sendiri, kalau tidak salah ingat, juga pernah kena 
skandal soal pajak!!! Saya sih terus terang saja: memang saya tidak senang 
alias anti Starbucks, Mc Donald, Kentucky Chicken dll dan menolak dominasi 
mereka di pasar Indonesia!!! Kalau Pemerintah mempunyai rasa dignity dan 
membela kedaulatan nasional, tidak akan terjadi pasar kita dipenuhi oleh produk 
dan service negeri-negeri imperialis!!! Pelajari sejarah perkembangan 
kapitalisme di negeri-negeri Eropa dan AS. Dalam awal perkembangannya, mereka 
SELALU MELINDUNGI PERUSAHAAN DAN PRODUK NASIONALNYA!!! Artinya mereka 
menjalankan kebijakan  PROTEKSIONISME!!!
    On Tuesday, November 29, 2016 5:06 AM, ajeg wrote:
Imperialisme.
Biasa, bilangnya cuma bisnis, padahal diatur sedemikian rupa 
sehingga.
Jaman sekarang pengaturan itu namanya paket-paket kebijakan ekonomi.

--- jetaimemucho1@... wrote:
    
Ada yang bisa menjelaskan alasan untuk menerima "penjajahan" Starbucks, padahal 
bahan bakunya dari Indonesia sendiri? 




Kopi Gayo dari Aceh Bahan Baku Utama Gerai Starbucks


SUDAH menjadi rahasia umum, gerai kopi yang terkenal di dunia seperti Starbucks 
tetap menggunakan bahan baku biji kopi Gayo dari Aceh untuk memuaskan pelanggan 
atau konsumennya.Bukan hanya itu, biji kopi dari Kintamani asal Bali pun juga 
menjadi pilihan bagi Starbucks sebagai bentuk kombinasi untuk mengolah sumber 
bahan baku kopi perusahaan AS tersebut.Inovasi dari Starbucks ini memang 
mempunyai nilai history panjang dengan negara Indonesia terkait aturan yang 
dibuat oleh pemerintah, walaupun Aceh sudah lebih dulu mengekspor biji kopi ke 
pelabuhan Seattle sebelum didistriubusikan ke berbagai gerai Starbucks.Menteri 
Perindustrian MS Hidayat mengatakan sebelum Starbucks masuk ke Indonesia, 
Starbucks mengimpor kopi. Namun pemerintah mengeluarkan ketentuan soal 
kandungan lokal sehingg Starbuck mulai mengkombinasikan kopi lokal dan 
impor.“Itu dari Indonesia, tadinya pas mau masuk dia impor semua kan terus 
diberikan ketentuan, akhirnya dia gabung juga dengan lokal,” kata MS Hidayat di 
Jakarta, Selasa (25/6/2013).Sementara itu Dirjen Industri Kementerian 
Perindustrian Agro Benny Wahyudi menambahkan pembuatan kopi memang selalu tidak 
berasal dari satu sumber. Begitu juga dengan kopi gerai sekelas Starbucks. 
“Kalau namanya kopi, itu selalu blending (campur),” ujar Benny.Namun begitu, 
Starbucks tetap mempunyai lahan tersendiri untuk kebun kopi di Amerika Tengah 
dan Peru seluas 240 hektar yang mereka sulap juga menjadi pusat riset dan 
pengembangan agronomi. Berbagai inovasi bisnis, mulai dari racikan, fasilitas 
dan teknologi tidak pernah surut diperhatikan oleh perusahaan yang dipimpin 
oleh Howard Schultz ini.Dengan menggadangkan slogan “Great coffee everywhere” 
tentu saja penikmat kopi Starbucks pun akan merasakan sensasi beda disaat 
menikmati kopi Aceh di tempat aslinya. Sama-sama biji kopi dari satu sumber, 
yang tentunya beda harga. Tapi lewat inovasi, Starbucks telah berhasil 
melangkah jauh ke depan dan pastinya kopi di Aceh pun bisa lebih dari itu. 
   

Kirim email ke