PERNYATAAN TENTANG HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL KAUMPEREMPUAN BANGKIT DAN MENGHANTAM IMPERIALISME,
MILITERISME UNTUK EMANSIPASI PEREMPUAN Prof Jose Maria Sison KetuaLiga Internasional Perjuangan Rakyat 8 Maret 2017 Kami, Liga Internasional Perjuangan Rakyat, menyatakansolidaritas dengan kaum perempuan seluruh dunia dan turut serta memperingati 8Maret, Hari Perempuan Internasional. Pada tahun 1911, kaum perempuan dari Sosialis Internasionalmenyatakan Hari Perempuan Pekerja Internasional yang pertama untukmemperjuangkan hak-hak demokratis kaum perempuan dan reform melawan kondisiyang sangat buruk, terutama kaum perempuan pekerja dan anak-anak. Lebih dariseratus tahun kemudian, seruan mereka masih tetap berlaku bagi mayoritas kaumperempuan kelas pekerja sedunia yang harusmenghadapi serangan imperialis yang lebih bengis terhadap kehidupan, hak-hakdan kesejahteraan mayoritas rakyat dunia. Tahun ini, kita memperingati 8 Maret di tengah-tengahtitik pusat penting dalam sejarah gerakan perempuan internasional, yaiturevitalisasi gerakan perempuan di Barat, terutama di AS seperti dibuktikan olehPawai Perempuan baru –baru ini dan partisipasi tinggi dari kaum perempuan kulitberwarna di berbagai gerakan protes, dari isu hak-hak perempuan, kekerasanberdasarkan pada gender, rasisme, hak-hak sipil, pembelaan terhadap tanahleluhur atau tanah air, melawan frackingdan bentuk-bentuk penghancuran lingkungan lain, penghematan, privatisasi,kerentanan, sampai kepada militerisme dan perang. Tak diragukan lagi revitalisasi itu didorong olehkrisis kapitalisme yang telah mencapai tingkat baru sejak krisis finans tahun2008 dan yang telah menimbulkan konsekuensi yang dalam dan merugikan, bahkanbagi kelas pekerja di negeri-negeri imperialis. Krisis sekarang menjadi lebih buruk lagi dengan bangkitnyaneo-fasisme, penindasan yang belum pernah terjadi sebelumnya ,terhadap hak-hak kaummigran dan hak demokratis lainnya, meluasnya propaganda kebencian anti-asingdan supremasi kulit putih di bawah presiden Trump. Sama pentingnya, kita memperingati semangat gerakankaum wanita tertindas yang terus menerus di negeri-negeri neo-kolonial yangtelah berjuang pantang menyerah menentangimperialisme, militerisme dan penindasan politik. Sejarah perjuangan militantmereka sekarang telah menjadi mercu suar dalam perjuangan global kaum perempuanuntuk emansipasinya melawan semua bentuk penghisapan dan penindasan. Denganmenolak untuk menerima reform-reform nominal yang dijajakan oleh negeri-negeriimperialis dan Negara-Negara anteknya dengan tujuan membelokkan kaum perempuandari jalan perjuangan militant, gerakanwanita menjadi lebih bijaksana dan kuat berkat pembelaannya terhadap hak-hakdan kepentingan mayoritas kaum perempuan sedunia, yaitu kaum perempuan kelaspekerja yang paling menderita dampak kebijakan kaum imperialis dan Negara-negaraanteknya yang anti demokratis, anti nasional dan anti perempuan. Imperialisme telah menyebabkan penderitaan kaumperempuan yang tak terhingga. Konsentrasi kekayaan yang terus meningkat ditangan segelintir orang tidak memungkinkan emansipasi perempuan dalam sistimini. Hasil yang dicapai oleh gerakan pembebasan perempuan tahun 70 dan 80-antelah dengan mudah dikikis oleh kekuasaan politik neoliberal. Kaum perempuan,sama halnya dengan rekan laki-lakinya, bukannya mendapat perbaikan dalamkondisi sosial dan ekonomi, tapi malah menghadapi pengangguran, tuna wisma, pemotongan kesejahteraan sosial dan tindakan serta manifestasikrisis sosial dan krisis ekonomi globallain yang justru lebih gawat. Situasinya malah jauh lebih buruk lagi bagi jutaanperempuan di negeri-negeri neo-kolonial karena kemiskinan dan kesengsaraan yang mengerikan menandai kehidupanmereka sebagai akibat dari kebijakan ekonomi yang diorientasikan untukmenguntungkan kaum penghisap asing besar dan lokal. Sementara mereka menderita bersama rekan laki-lakinya,kaum perempuan kelas pekerja harusmenanggung dislokasi ekonomi disebabkan karena peran tradisional mereka dalammenjaga keluarganya dan sumber daya komunitas. Korporasi pertambangan besar,korporasi agribisnis dan pengalihan penggunaan tanah untuk industry asing dan perdagangan telah menyebabkanpenggusuran komunitas desa secara besar-besaran dan telah mengganggu ataumenghancurkan sistim agro-ekologi lokal yang menjamin keamanan makanan. Diusirdari komunitas tradisional dan sumber dayanya, kaum tani perempuan harusmencari pekerjaan yang berarti uang danwaktu untuk perjalanan dan jam kerja yang tidak teratur untuk memenuhikebutuhan pokok keluarga mereka. Lebih buruk lagi, banyak perempuan didoronguntuk bekerja di kota-kota atau di luar negeri. Mereka melakukan pekerjaan yangrendah upahnya dan tidak diatur dalam undang-undang, hal mana membuat mereka mudah menjadi korban pelecehan,diskriminasi, kekerasan, prostitusi dan / atau perdagangan manusia. Pusat serangan neoliberal terhadap kelas pekerjaadalah pukulan kejam untuk menekan upah. Dengan mengimplementasi apa yangdisebut skema upah fleksibel di banyak negeri, kenyataannya neoliberalismetelah melucuti kaum pekerja dari hak dasar mereka untuk upah layak. Terutama merekayang baru masuk angkatan kerja, persentase tinggi diantara mereka adalah perempuan. Neoliberalisme, bukannya menyebarkankemakmuran dengan apa yang disebut mobilitas modal, tapi kenyataannya justrumembuat lebih buruk kondisi kaum pekerja, membuat mereka menjadi budak jaman modern. Militerisme meningkat disebabkan karena konflik antar-imperialisyang semakin intensif . Konflik ini dipicu oleh krisis kapitalisme global dankarena kaum imperialis berkelahi dan bersaing untuk mendapatkan sumber daya dannegeri-negeri untuk dieksploitasi dan dijarah. Imperialisme AS dewasa iniadalah pemasok utama perang danmiliterisme, dengan pengeluaran yangsemakin meningkat untuk membiayaikompleks industri militernya, dalam upaya sia-sia untuk lolos dari krisis yangtak ada akhirnya. Hal ini telah memicu perang agresi dan intervensi militer danpolitik dengan slogan perang globalmelawan teror; melatih dan mempersenjatai tentara pengganti dan kelompokparamiliter untuk memicu destabilisasi di negeri-negeri di mana ia memilikikepentingan ekonomi yang luas atau yang menolak dominasi AS. Kaum elite baik dinegeri-negeri asal kapitalisnya sendiri maupun di negeri-negeri anteknya melakukan kekerasan, pemaksaan, penekanan danpenipuan untuk menghancurkan perbedaan politikdan perlawanan. Seiring dengan meningkatnya militerisme, kekerasanterhadap kaum perempuan dan anak-anak juga melonjak, mereka menjadi korban pelanggaran hak asasimanusia, termasuk pelecehan seksual oleh kelompok militer dan paramiliter.Negara tidak hanya mengijinkan para spekulan untuk mengeksploitasi perempuansebagai objek hiburan dan kesenangan seksual pasukan militer tetapi jugamenggunakan pemerkosaan sebagai alat penindasan dan penaklukan. Militerismemembangkitkan kebencian terhadap perempuan, chauvinisme laki-laki danpenaklukan dan objektifikasi seksual kotor terhadap wanita. Besarnya penderitaan rakyat ini telah melahirkanserangkaian protes dan perlawanan, bersenjata dan tidak bersenjata, terhadap kebijakanimperialis di berbagai tempat di dunia. Kaum perempuan memainkan peran pentingdalam perlawanan ini, banyak di antara mereka yang berada di barisan terdepandalam perjuangan lokal dan nasional melawan politik dan program anti-demokrasi dan pro- imperialis. Merekamengekspos dan menentang skema yang menipuyang menggambarkan perempuan pasif, dan juga reformasi nominal/simbolik yangdimaksudkan untuk membelokkan gerakan perempuan dari perlawanan militan dan berkomitmenterhadap kekuasaan imperialis. Kaum perempuan sedang mengorganisir diri dimana-mana, dan seruan nyaring untuk emansipasi wanita tidak pernah sekuatseperti sekarang.. Berjuang untuk emansipasi perempuan bebas daripatriarki dan segala bentuk penindasan dan penghisapan! Ganyang imperialisme, militerisme dan fasisme! Tegakkan hak-hak rakyat dan hak-hak kaum perempuan!
