Hahahaa, ... beginilah suara sumbang nenek dalam tempurung yang TIDAK berhasil MEMBEDAKAN dedengkok imperialisme AS dengan RRT yang menjalankan “KAPITALISME NEGARA” Lenin! Berani menggunakan kapitalis-kapitalis dengan tetap pegang TEGUH 4 prinsip Sosialisme! Masih saja mempertanyakan bisa nggak dedengkok imperialisme AS mencapai kemakmuran bersama?
Sekarang nenek yang segalanya masih bisa TERJAMIN didunia kapitalis untuk cukup hidup ini, tentu saja dengan mudah mengabaikan “DUIT”, padahal ormas-ormas ditanahair bukan saja untuk melancarkan aksi, untuk ngumpul berdiskusi apalagi yang lebih besar bikin kongres saja banyak yang bingung, bahkan TERHAMBAT kurangnya “DUIT” itu! Payah dan susahnya ngumpulin DUIT! Lalu, mencoba membandingkan dengan gerakan massa di AS sono, ... ada2 saja! From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: Sunday, March 12, 2017 12:15 AM To: Yahoogroups ; GELORA_In ; DISKUSI FORUM HLD Cc: Jonathan Goeij ; Lusi.D ; Roeslan ; Daeng ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Gol ; Harry Singgih ; Mitri ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Farida Ishaja ; Marsiswo Dirgantoro ; Billy Gunadi ; [email protected] ; [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; C. Manuputty ; [email protected] ; Oman Romana ; [email protected] ; N. Nugroho Subject: [GELORA45] Demo di Washington menentang pembangunan pipeline.. Orang seperti Chan tidak akan tertarik mendengarkan suara massa seperti ini. Tak terkilas di otaknya orang-orang yang dengan sadar turut serta dalam manifestasi menentang pembangunan pipeline di Dakota sama sekali tidak memikirkan "Duit" untuk bergerak, untuk melawan ketidak adilan, melawan proyek-proyek korporasi/konglomerat yang mematikan kehidupan manusia. Dan mereka tidak mau menjilat atau mengemis kepada pengpengkong penguasa, pengusaha konglomerat). Untuk perjuangan, mereka tidak menantikan dana atau kebaikan hati dari para multinasional. Pasti tak terpikirkan oleh Chan bahwa manifestasi ini terjadi di AS, negara kapitalis paling developed and industrialized dan juga kekuatan imperialis nomer 1. Bisa nggak Chan menjelaskan: bagaimana mungkin di negara yang p erkembangan kapitalisnya sudah begitu tinggi (Chan mendorong kita semua untuk dukung kapitalisme untuk mencapai kemakmuran bersama ) , kok rakyatnya masih harus berdemo menentang ketidak-adilan, kesewenang-wenangan polisi, pengangguran, kemiskinan, rasisme, pelanggaran HAM etc. Lantas bagaimana Chan akan meyakinkan rakyat Indonesia supaya mengambil jalan kapitalisme sebagai hari depannya, kalau di AS saja, yang perkembangan kapitalisnya sudah begitu tinggi, toh tidak bebas dari semua ketimpangan dan ketidak adilan yang sekarangpun dialami di Indonesia. Kalau Chan sungguh-sungguh ingin keluar dari tempurungnya, dia harus mencernakan semua komentar orang-orang yang turut serta dalam manifestasi. Yang menarik, ada peserta demo yang bilang, kita bisa menang dan bisa kalah dalam perjuangan ini. Tapi itu tidak apa-apa. Ini baru permulaan. We have to keep fighting!!! Saya tambahkan, walaupun kita tidak punya DUIT, W E GO ON FIGHTING!!! Inilah pandangan massa dari perspektif rakyat, bukan perspektif konglomerat. Konglomerat bukan rakyat!! Jangan mencampur adukkan rakyat dengan konglomerat! Native Nations STORM Front Of White House Native Nations STORM Front Of White House Jordan Chariton reports live from the Native Nations March on Washington DC.
