22.03.17,  Grand Design Jokowi, Kasus Ahok dan Skenario Silent PKS-FPI  55
BY ASAARO LAHAGU ON     MARCH 20, 2017 POLITIK

Presiden Jokowi
Sejak menjadi Presiden, Jokowi telah membuat dirinya sebagai ‘the real
president’. Konsolidasi-konsolidasi strategis yang dilakukannya terarah
pada penguatan posisinya. Jokowi memperlihatkan dirinya sebagai pemimpin
kokoh berkepala batu, kuat dan tak bisa dipengaruhi. Keputusan-keputusan
kenegaraan di bidang ekonomi, hukum dan politik harus selalu searah dengan
grand design atau ‘maunya’ Jokowi.



Jokowi paham benar bahwa sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di republik
ini, ia harus mengendalikan kawan maupun lawan politiknya. Jika ia tunduk
kepada kawan dan didikte oleh lawan politiknya, maka Jokowi akan menjadi
presiden badutan, boneka dan mainan. Jika demikian, maka terulang istilah
negeri auto pilot di era mantan Presiden SBY.

Jelas bagi Jokowi. Ia tidak mau menjadi presiden badutan. Dengan etos kerja
tinggi, karakter pemimpin yang kuat,  Jokowi menunjukkan kepiawaiannya
satu-dua langkah lebih maju dari prediksi kawan dan lawannya. Jika Jokowi
kemudian sukses memporak-poraknda Koalisi Merah Putih (KMP) di DPR,
mengganti pimpinan KPK, Panglima TNI, Kapolri, Reshufle kabinet dua kali
tanpa keributan berarti, maka itulah bukti aplikasi grand design-nya.

Grand design Jokowi di bidang ekonomi sangat kental sekali. Jokowi paham
betul bagaimana seharusnya pemimpin bertindak.  Seorang pemimpin harus
berani mengambil resiko dan menggerakkan para pembantunya hingga batas
kemampuan mereka. Jokowi pun akrab dengan target spektakuler bahwa sebelum
tahun 2019, pembangunan infrastruktur sudah selesai.

Pembangunan gencar jalan tol, trans Sumatera, Kalimantan dan Papua, jalan
tol, tol laut, kereta api, bandara, kilang minyak, PLN 35 ribu MW adalah
contoh target ambisius. Jika kita mendengar minggu lalu bahwa sudah ada
lebih 500 kilometer jalan baru di Kalimantan, maka itulah pencapaian
spektakuler Jokowi bersama para menterinya. Pun pintu gerbang mewah
memasuki wilayah Indonesia dari negeri tetangga adalah sisi lain target
hebat Jokowi.

Sementara itu grand design Jokowi di bidang hukum, juga tak kalah
garangnya. Jokowi terlihat terus menusuk berbagai pihak di bidang hukum.
Pemberantasan Narkoba paling masif dalam sejarah republik baru dilakukan di
era Jokowi. Seiring dengan itu pemberantasan  terorisme juga dilakukan amat
tegas. Operasi Tinombala untuk memburu kelompok Teroris Santoso adalah
contohnya. Penghancuran terorisme sampai ke akar-akarnya adalah salah satu
target grand design Jokowi.

Grand design Jokowi juga  mengaum di bidang hukum. Panah Jokowi untuk
mereformasi institusi  MK, MA dan kepolisian terus dilontarkan. Bripda
Afifat yang kedapatan melakukan kekerasan kepada orang yang seharusnya dia
lindungi,  langsung dipecat. Di bawah pimpinan Tito Karnavian, untuk
pertama kalinya institusi Polri menduduki urutan kelima terkorup di
republik ini. Sepak terjang Jokowi yang terjun langsung memberantas pungli
adalah contoh konkrit langkah Jokowi di bidang hukum.

Grand design di bidang politik paling menyita energi Jokowi. Kemenangannya
yang hanya berkisar 54% di Pilpres 2014 lalu, memberi pesan bahwa Jokowi
punya lawan-lawan politik yang hampir seimbang dengan kawannya. Ada 46%
masyarakat bukan pemilihnya, termasuk Jonru Ginting, yang sangat gencar
mengkritiknya di sosial media. Jelas musuh-musuh Jokowi  bertebaran
dimana-mana. Mereka menunggu setiap langkahnya tersandung. Nah di sini pun
Jokowi terlihat berkepala batu, terus menyetel ruas-ruas  politik sesuai
dengan grand design-nya. Dan itulah yang terjadi dalam kasus Ahok.

Dalam kasus Ahok misalnya, Jokowi memainkan permainan catur tingkat tinggi
ala Garry Kasparov. Demo mengejutkan 411 dan 212 telah merevolusi permainan
catur Jokowi. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa Jokowi  akhirnya
mundur selangkah dan membiarkan Ahok  sebagai tersangka. Namun di sinilah
permainan catur itu semakin menarik.

Rupanya dengan tersangkanya Ahok, maka mudahlah bagi Jokowi membidik dan
menyerang balik lawan-lawan politiknya sampai lebaran kuda. Lawan-lawan
politik Jokowi yang saya sebut sebagai begundal-begundal politik seperti
Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani, Rizieq Shihab, dan seterusnya, kini dibuat
tak berkutik. Mereka sekarang terlihat tidak lebih hebat dari preman liar
politik.

Para begundal politik di DPR juga hampir mengalami nasib yang sama.
Wacana-wacana busuk hak angket penyadapan mantan presiden SBY, hak angket
Ahok yang aktif kembali sebagai gubernur, dan terakhir yang panas adalah
hak angket e-KTP dibuat hangus menjadi abu karena tidak sesuai dengan grand
design-nya Jokowi.

Hak-hak angket itu tidak lebih dari huru-hara dan nafsu liar para begundal
politik di DPR. Lewat berbagai kasus korupsi yang dilakukanoleh DPR,
masyarakat tidak akan percaya apapun yang dilakukan oleh DPR. Hak angket
yang diwacanakan oleh DPR, tidak lebih dari upaya DPR membersihkan dirinya
dengan air kubangan yang kotor. Alasannya prestasi buruk mereka sebagai
lembaga terkorup di Indonesia, membuat rakyat terus menderita. Inilah yang
membuat Jokowi tertawa termehek-mehek melihat wacana hak angket DPR terkait
Ahok.

Menjelang sidang Ahok ke-15, semakin terlihat bagaimana kasus itu penuh
dengan intrik politik terkait Pilkada DKI Jakarta 2017. Grand design pun
terus bermain di sini. Kini pada sidang Ahok ke-15, faktor keberuntungan
yang menaungi Ahok datang pada waktu yang tepat. Para saksi fakta dan saksi
ahli yang meringankan Ahok, akan bersaksi di sidang. Itu akan mengiringi
kampanye Ahok menjelang 19 April mendatang.

Jelas lewat saksi fakta dan saksi ahli,  kasus Ahok itu akan diperlihatkan
dan ditelanjangi muatan politiknya. Sidang itu akan dibuat sebagai ajang
mempertontonkan kerancuan dan motif  busuk para politisi busuk. Dengan
demikian masyarakat akan sadar bahwa selama ini para politisi busuk telah
memanfaatkan mereka demi tujuan-tujuan politiknya.

Bisa diprediksi bahwa vonis Ahok yang dilaksanakan pada bulan Mei-Juni
mendatang, peluang Ahok untuk bebas sudah berada pada perbandingan 60-40
persen untuk bebas. Jadi tinggal 40 persen lagi peluang Ahok di penjara.
Itupun akan dilihat apakah kekuatan para kaum tidak waras masih solid atau
tidak. Tentu jika Ahok menang Pilgub DKI, maka vonis Ahok divonis ikut
terpengaruh. Bisa jadi ia hanya divonis 3 bulan penjara atau bebas dari
hukuman. Ini tergantung dari sisa kekuatan kaum tidak waras.



Grand design di seputar kasus Ahok pun, terus disetel Jokowi. Kedatangan
Raja Salman mampu dijadikan sebagai senjata oleh Jokowi untuk melawan
desas-desus dukungan Arab Saudi kepada  FPI dan para khilafah di Indonesia.
Lewat kedatangan Raja Salman itu,  ternyata apa yang dipercaya oleh kaum
khilafah,  kandas tak berbekas dan tidak lebih dari mimpi di siang bolong.

Kedatangan Raja Salman itu justru membuktikan bahwa penguasa Saudi memberi
teguran tak langsung kepada partai PKS dan ormas FPI bagaimana seharusnya
Islam itu berperilaku dan beribadah. Rombongan Raja Saudi yang masuk ke
Masjid dengan tetap memakai sepatu, puteri Raja Salman sendiri tidak
memakai jilbab, kemudian mau bersalaman dengan Ahok, adalah pukulan telak
kepada Rizieq yang tidak mau bersalaman dengan Ahok.

Pun tuduhan kepada Jokowi yang bekerja sama dengan China yang komunis,
ternyata dihancur-leburkan oleh tindakan spektakuler Raja Salman yang mau
berinvestasi satu triliun dollar di China. Ini jelas membungkam mereka yang
hanya asal tuduh dan fitnah selama ini bahwa Jokowi dan Ahok adalah antek
China. Ternyata Arab juga mau bekerja sama dengan China yang komunis.
Apakah Raja Salman juga antek China yang komunis?

Militansi PKS dan FPI yang bahu membahu memenangkan Anies-Sandi di DKI
dengan tujuan menguasai Jakarta seperti Jawa Barat ala Aher, jelas tidak
sesuai dengan grand design Jokowi. Oleh karena itu Jokowi mulai
menggerogoti kesolidan dua pihak ini. Lewat kebijakan Kementerian Informasi
dan Telekomunikasi, tentara cyber PKS selama dua bulan terakhir ini
berhasil dibendung.

Pemblokiran berbagai situs hoax semacam Postmetro, adalah contoh konkrit
grand desin Jokowi. Pemberlakuan UU IT juga turut menggembosi kebebasan
tentara cyber ala PKS dan FPI di dunia maya. Sementara itu situs terpercaya
Seword, semakin di atas angin.

Laporan-laporan dari berbagai pihak yang terbakar jenggotnya akibat
disemprot Seword, tidak digubris polisi. Alasannya kerja polisi menjadi
lebih ringan dengan adanya Seword yang meng-counter attack berbagai
situs-situs hoax yang merongrong kewibawaan pemerintah. Sejak adanya situs
Seword yang beropini mendukung kerja dan etos pemerintah yang sudah benar
dan sesuai dengan hati nurani, membuat situs-situs hoax semakin kerdil.
Bahkan situs sekaliber berita Okezone ikut kena imbasnya. Karena ikut
beropini tentang Ahok, Okezone kemudian ditegur dengan keras oleh Dewan
Pers.

Huru-hara politik SARA yang dimainkan oleh pendukung Anies-Sandi terkati
politik jenazah, langsung dijawab oleh GP Anshor dan Pemrov DKI Jakarta.
Plt Gubernur Soemarsono langsung memerintahkan menurunan ratusan spanduk
provokatif tersebut. Sementara Polisi mengancam akan memidanakan mereka
yang keras kepala dan ngotot menyebarkan spanduk provokatif itu.

Kini lewat bisikan para pendukungnya, Anies mulai kehabisan akal untuk
menjegal Ahok. Setelah politik jenazah kandas, maka tak ada cara lain bagi
Anies-Sandi selain terus menjanjikan politik uang 3 miliar setiap RW.
Politik uang pun dikampanyekan Anies termasuk semua ormas dapat dana dari
APBD DKI. Bahkan tersebar formulir dengan bayaran Rp 50 ribu asalkan
berjanji memilih Anies-Sandi. Lalu pada tanggal 19 April mendatang, akan
ada Tamasya Al-Maidah, pengerahan ribuan pengawal TPS dari luar Jakarta dan
serangan fajar ala FPI mengerahkan warga memilih Anies.

Namun apapun strategi lawan Ahok itu sudah dipetakan betul oleh Jokowi dan
all designers di belakangnya. Jika kemudian Ahok dalam dua minggu terakhir
ini sedang melakukan kampanye silent, yakni turun langsung ke gang-gang
sempit tanpa liputan media, itu adalah bentuk tandingan dari kampanye
silent ala PKS dan FPI. Sementara itu  new grand design Jokowi sedang
disusun oleh The Designer  untuk memenangkan Ahok di pilgub DKI Jakarta.

Salah satu bentuknya yang ditunggu-tunggu adalah pengusutan salah hitung
anggaran 23,3 triliun. KPK sendiri telah melempar pernyataan bahwa kasus
e-KTP adalah hanya kasus kecil. Sementara kasus besarnya adalah pengusutan
salah hitung  anggaran 23,3 triliun ala Anies Baswedan yang saat itu
menjadi menteri. Jelas ada grand design di bidang hukum yang akan bermain
di situ.

Selain grand design di bidang hukum yang akan menggerogoti tulang-tulang
Anies, Jokowi juga melakukan langkah konkrit di bidang politik. Pertemuan
Jokowi-SBY  dilakukan pada waktu yang tepat adalah langkah politik yang
bersifat mutualisme. Lewat pertemuan itu, maka sekarang mengalirlah
dukungan para elit Demokrat kepada Ahok-Djarot yang tentu saja direstui tak
resmi dari SBY.

Jelas berbaliknya dukungan SBY kepada Ahok, itu tidak lain daripada bentuk
balas dendam SBY kepada kaum khilafah. SBY jelas-jelas telah dikhianati
oleh FPI dengan mengalirkan suara dari Agus kepada Anies pada detik-detik
terakhir menjelang pemilu. Hal itu telah  membuat SBY sadar bahwa ia telah
diperalat. Kini SBY akan mendukung Ahok (walau tidak resmi). Tujuannya
adalah  untuk membalas sakit hatinya kepada kaum khilafah yang telah
mengkhianati dan memperalatnya.

Kini skenario silent pihak lawan Jokowi terutama di kubu Anies-Sandi, kubu
PKS-Gerinda, FPI dan secara luas kubu Prabowo yang didukung oleh PAN-nya
AMin Rais dan mungkin PPP Romy, sedang dipetakan oleh Jokowi. Jika PPP Romy
ngotot menentang grand design Jokowi maka partai ini tinggal menunggu
nasibnya yang akan di-Lulungkan dari kabinet.

Jokowi dan para the designers di belakangnya paham bagaimana PKS-FPI
berkampanye silent namun kotor demi merengkuh kekuasaan di DKI. Para
relawan kedua kubu ini sangat militan mempengaruhi warga Jakarta untuk
memilih Anies. Mereka sangat ngotot dan bergerilya dari pintu ke pintu, RT
ke RT RW ke RW, masjid ke masjid disertai ancaman kepada warga agar memilih
Anis dan bukan Ahok.

Jelas bahwa kemenangan Anies-Sandi di Jakarta adalah kemenangan kaum
khilafah yang membuka pertarungan seru pada Pilpres 2019 . Jika kaum
khilafah menang di Jakarta, maka kaum ini akan semakin kerasukan sipirit
mabuk untuk menyingkirkan Jokowi di tahun 2019. Di pihak lain kemenangan
Ahok di Jakarta adalah kemenangan kaum nasionalis, kemenangan Jokowi dan
Islam moderat yang toleran.

Jadi grand design lebih lanjut Jokowi, akhir kasus Ahok dan skenario silent
PKS-FPI menjelang Pilkada 19 April mendatang, akan semakin seru dan patut
terus kita cermati.

Salam

Kirim email ke