Pada Kamis, 23 Maret 2017 2:14, "kh djie [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> menulis:
22.03.17, Grand Design Jokowi, Kasus Ahok dan Skenario Silent PKS-FPI
BY ASAARO LAHAGU ON MARCH 20, 2017 POLITIK
Presiden Jokowi
Sejak menjadi Presiden, Jokowi telah membuat dirinya sebagai ‘the real
president’. Konsolidasi-konsolidasi strategis yang dilakukannya terarah pada
penguatan posisinya. Jokowi memperlihatkan dirinya sebagai pemimpin kokoh
berkepala batu, kuat dan tak bisa dipengaruhi. Keputusan-keputusan kenegaraan
di bidang ekonomi, hukum dan politik harus selalu searah dengan grand design
atau ‘maunya’ Jokowi.
Jokowi paham benar bahwa sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di republik ini,
ia harus mengendalikan kawan maupun lawan politiknya. Jika ia tunduk kepada
kawan dan didikte oleh lawan politiknya, maka Jokowi akan menjadi presiden
badutan, boneka dan mainan. Jika demikian, maka terulang istilah negeri auto
pilot di era mantan Presiden SBY.
Jelas bagi Jokowi. Ia tidak mau menjadi presiden badutan. Dengan etos kerja
tinggi, karakter pemimpin yang kuat, Jokowi menunjukkan kepiawaiannya satu-dua
langkah lebih maju dari prediksi kawan dan lawannya. Jika Jokowi kemudian
sukses memporak-poraknda Koalisi Merah Putih (KMP) di DPR, mengganti pimpinan
KPK, Panglima TNI, Kapolri, Reshufle kabinet dua kali tanpa keributan berarti,
maka itulah bukti aplikasi grand design-nya.
Grand design Jokowi di bidang ekonomi sangat kental sekali. Jokowi paham betul
bagaimana seharusnya pemimpin bertindak. Seorang pemimpin harus berani
mengambil resiko dan menggerakkan para pembantunya hingga batas kemampuan
mereka. Jokowi pun akrab dengan target spektakuler bahwa sebelum tahun 2019,
pembangunan infrastruktur sudah selesai.
Pembangunan gencar jalan tol, trans Sumatera, Kalimantan dan Papua, jalan tol,
tol laut, kereta api, bandara, kilang minyak, PLN 35 ribu MW adalah contoh
target ambisius. Jika kita mendengar minggu lalu bahwa sudah ada lebih 500
kilometer jalan baru di Kalimantan, maka itulah pencapaian spektakuler Jokowi
bersama para menterinya. Pun pintu gerbang mewah memasuki wilayah Indonesia
dari negeri tetangga adalah sisi lain target hebat Jokowi.
Sementara itu grand design Jokowi di bidang hukum, juga tak kalah garangnya.
Jokowi terlihat terus menusuk berbagai pihak di bidang hukum. Pemberantasan
Narkoba paling masif dalam sejarah republik baru dilakukan di era Jokowi.
Seiring dengan itu pemberantasan terorisme juga dilakukan amat tegas. Operasi
Tinombala untuk memburu kelompok Teroris Santoso adalah contohnya. Penghancuran
terorisme sampai ke akar-akarnya adalah salah satu target grand design Jokowi.
Grand design Jokowi juga mengaum di bidang hukum. Panah Jokowi untuk
mereformasi institusi MK, MA dan kepolisian terus dilontarkan. Bripda Afifat
yang kedapatan melakukan kekerasan kepada orang yang seharusnya dia lindungi,
langsung dipecat. Di bawah pimpinan Tito Karnavian, untuk pertama kalinya
institusi Polri menduduki urutan kelima terkorup di republik ini. Sepak terjang
Jokowi yang terjun langsung memberantas pungli adalah contoh konkrit langkah
Jokowi di bidang hukum.
Grand design di bidang politik paling menyita energi Jokowi. Kemenangannya
yang hanya berkisar 54% di Pilpres 2014 lalu, memberi pesan bahwa Jokowi punya
lawan-lawan politik yang hampir seimbang dengan kawannya. Ada 46% masyarakat
bukan pemilihnya, termasuk Jonru Ginting, yang sangat gencar mengkritiknya di
sosial media. Jelas musuh-musuh Jokowi bertebaran dimana-mana. Mereka menunggu
setiap langkahnya tersandung. Nah di sini pun Jokowi terlihat berkepala batu,
terus menyetel ruas-ruas politik sesuai dengan grand design-nya. Dan itulah
yang terjadi dalam kasus Ahok.
Dalam kasus Ahok misalnya, Jokowi memainkan permainan catur tingkat tinggi ala
Garry Kasparov. Demo mengejutkan 411 dan 212 telah merevolusi permainan catur
Jokowi. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa Jokowi akhirnya mundur
selangkah dan membiarkan Ahok sebagai tersangka. Namun di sinilah permainan
catur itu semakin menarik.
Rupanya dengan tersangkanya Ahok, maka mudahlah bagi Jokowi membidik dan
menyerang balik lawan-lawan politiknya sampai lebaran kuda. Lawan-lawan politik
Jokowi yang saya sebut sebagai begundal-begundal politik seperti Ratna
Sarumpaet, Ahmad Dhani, Rizieq Shihab, dan seterusnya, kini dibuat tak
berkutik. Mereka sekarang terlihat tidak lebih hebat dari preman liar politik.
Para begundal politik di DPR juga hampir mengalami nasib yang sama.
Wacana-wacana busuk hak angket penyadapan mantan presiden SBY, hak angket Ahok
yang aktif kembali sebagai gubernur, dan terakhir yang panas adalah hak angket
e-KTP dibuat hangus menjadi abu karena tidak sesuai dengan grand design-nya
Jokowi.
Hak-hak angket itu tidak lebih dari huru-hara dan nafsu liar para begundal
politik di DPR. Lewat berbagai kasus korupsi yang dilakukanoleh DPR, masyarakat
tidak akan percaya apapun yang dilakukan oleh DPR. Hak angket yang diwacanakan
oleh DPR, tidak lebih dari upaya DPR membersihkan dirinya dengan air kubangan
yang kotor. Alasannya prestasi buruk mereka sebagai lembaga terkorup di
Indonesia, membuat rakyat terus menderita. Inilah yang membuat Jokowi tertawa
termehek-mehek melihat wacana hak angket DPR terkait Ahok.
Menjelang sidang Ahok ke-15, semakin terlihat bagaimana kasus itu penuh dengan
intrik politik terkait Pilkada DKI Jakarta 2017. Grand design pun terus bermain
di sini. Kini pada sidang Ahok ke-15, faktor keberuntungan yang menaungi Ahok
datang pada waktu yang tepat. Para saksi fakta dan saksi ahli yang meringankan
Ahok, akan bersaksi di sidang. Itu akan mengiringi kampanye Ahok menjelang 19
April mendatang.
Jelas lewat saksi fakta dan saksi ahli, kasus Ahok itu akan diperlihatkan dan
ditelanjangi muatan politiknya. Sidang itu akan dibuat sebagai ajang
mempertontonkan kerancuan dan motif busuk para politisi busuk. Dengan demikian
masyarakat akan sadar bahwa selama ini para politisi busuk telah memanfaatkan
mereka demi tujuan-tujuan politiknya.
Bisa diprediksi bahwa vonis Ahok yang dilaksanakan pada bulan Mei-Juni
mendatang, peluang Ahok untuk bebas sudah berada pada perbandingan 60-40 persen
untuk bebas. Jadi tinggal 40 persen lagi peluang Ahok di penjara. Itupun akan
dilihat apakah kekuatan para kaum tidak waras masih solid atau tidak. Tentu
jika Ahok menang Pilgub DKI, maka vonis Ahok divonis ikut terpengaruh. Bisa
jadi ia hanya divonis 3 bulan penjara atau bebas dari hukuman. Ini tergantung
dari sisa kekuatan kaum tidak waras.
Grand design di seputar kasus Ahok pun, terus disetel Jokowi. Kedatangan Raja
Salman mampu dijadikan sebagai senjata oleh Jokowi untuk melawan desas-desus
dukungan Arab Saudi kepada FPI dan para khilafah di Indonesia. Lewat
kedatangan Raja Salman itu, ternyata apa yang dipercaya oleh kaum khilafah,
kandas tak berbekas dan tidak lebih dari mimpi di siang bolong.
Kedatangan Raja Salman itu justru membuktikan bahwa penguasa Saudi memberi
teguran tak langsung kepada partai PKS dan ormas FPI bagaimana seharusnya Islam
itu berperilaku dan beribadah. Rombongan Raja Saudi yang masuk ke Masjid dengan
tetap memakai sepatu, puteri Raja Salman sendiri tidak memakai jilbab, kemudian
mau bersalaman dengan Ahok, adalah pukulan telak kepada Rizieq yang tidak mau
bersalaman dengan Ahok.
Pun tuduhan kepada Jokowi yang bekerja sama dengan China yang komunis,
ternyata dihancur-leburkan oleh tindakan spektakuler Raja Salman yang mau
berinvestasi satu triliun dollar di China. Ini jelas membungkam mereka yang
hanya asal tuduh dan fitnah selama ini bahwa Jokowi dan Ahok adalah antek
China. Ternyata Arab juga mau bekerja sama dengan China yang komunis. Apakah
Raja Salman juga antek China yang komunis?
Militansi PKS dan FPI yang bahu membahu memenangkan Anies-Sandi di DKI dengan
tujuan menguasai Jakarta seperti Jawa Barat ala Aher, jelas tidak sesuai dengan
grand design Jokowi. Oleh karena itu Jokowi mulai menggerogoti kesolidan dua
pihak ini. Lewat kebijakan Kementerian Informasi dan Telekomunikasi, tentara
cyber PKS selama dua bulan terakhir ini berhasil dibendung.
Pemblokiran berbagai situs hoax semacam Postmetro, adalah contoh konkrit grand
desin Jokowi. Pemberlakuan UU IT juga turut menggembosi kebebasan tentara cyber
ala PKS dan FPI di dunia maya. Sementara itu situs terpercaya Seword, semakin
di atas angin.
Laporan-laporan dari berbagai pihak yang terbakar jenggotnya akibat disemprot
Seword, tidak digubris polisi. Alasannya kerja polisi menjadi lebih ringan
dengan adanya Seword yang meng-counter attack berbagai situs-situs hoax yang
merongrong kewibawaan pemerintah. Sejak adanya situs Seword yang beropini
mendukung kerja dan etos pemerintah yang sudah benar dan sesuai dengan hati
nurani, membuat situs-situs hoax semakin kerdil. Bahkan situs sekaliber berita
Okezone ikut kena imbasnya. Karena ikut beropini tentang Ahok, Okezone kemudian
ditegur dengan keras oleh Dewan Pers.
Huru-hara politik SARA yang dimainkan oleh pendukung Anies-Sandi terkati
politik jenazah, langsung dijawab oleh GP Anshor dan Pemrov DKI Jakarta. Plt
Gubernur Soemarsono langsung memerintahkan menurunan ratusan spanduk provokatif
tersebut. Sementara Polisi mengancam akan memidanakan mereka yang keras kepala
dan ngotot menyebarkan spanduk provokatif itu.
Kini lewat bisikan para pendukungnya, Anies mulai kehabisan akal untuk
menjegal Ahok. Setelah politik jenazah kandas, maka tak ada cara lain bagi
Anies-Sandi selain terus menjanjikan politik uang 3 miliar setiap RW. Politik
uang pun dikampanyekan Anies termasuk semua ormas dapat dana dari APBD DKI.
Bahkan tersebar formulir dengan bayaran Rp 50 ribu asalkan berjanji memilih
Anies-Sandi. Lalu pada tanggal 19 April mendatang, akan ada Tamasya Al-Maidah,
pengerahan ribuan pengawal TPS dari luar Jakarta dan serangan fajar ala FPI
mengerahkan warga memilih Anies.
Namun apapun strategi lawan Ahok itu sudah dipetakan betul oleh Jokowi dan all
designers di belakangnya. Jika kemudian Ahok dalam dua minggu terakhir ini
sedang melakukan kampanye silent, yakni turun langsung ke gang-gang sempit
tanpa liputan media, itu adalah bentuk tandingan dari kampanye silent ala PKS
dan FPI. Sementara itu new grand design Jokowi sedang disusun oleh The
Designer untuk memenangkan Ahok di pilgub DKI Jakarta.
Salah satu bentuknya yang ditunggu-tunggu adalah pengusutan salah hitung
anggaran 23,3 triliun. KPK sendiri telah melempar pernyataan bahwa kasus e-KTP
adalah hanya kasus kecil. Sementara kasus besarnya adalah pengusutan salah
hitung anggaran 23,3 triliun ala Anies Baswedan yang saat itu menjadi menteri.
Jelas ada grand design di bidang hukum yang akan bermain di situ.
Selain grand design di bidang hukum yang akan menggerogoti tulang-tulang
Anies, Jokowi juga melakukan langkah konkrit di bidang politik. Pertemuan
Jokowi-SBY dilakukan pada waktu yang tepat adalah langkah politik yang
bersifat mutualisme. Lewat pertemuan itu, maka sekarang mengalirlah dukungan
para elit Demokrat kepada Ahok-Djarot yang tentu saja direstui tak resmi dari
SBY.
Jelas berbaliknya dukungan SBY kepada Ahok, itu tidak lain daripada bentuk
balas dendam SBY kepada kaum khilafah. SBY jelas-jelas telah dikhianati oleh
FPI dengan mengalirkan suara dari Agus kepada Anies pada detik-detik terakhir
menjelang pemilu. Hal itu telah membuat SBY sadar bahwa ia telah diperalat.
Kini SBY akan mendukung Ahok (walau tidak resmi). Tujuannya adalah untuk
membalas sakit hatinya kepada kaum khilafah yang telah mengkhianati dan
memperalatnya.
Kini skenario silent pihak lawan Jokowi terutama di kubu Anies-Sandi, kubu
PKS-Gerinda, FPI dan secara luas kubu Prabowo yang didukung oleh PAN-nya AMin
Rais dan mungkin PPP Romy, sedang dipetakan oleh Jokowi. Jika PPP Romy ngotot
menentang grand design Jokowi maka partai ini tinggal menunggu nasibnya yang
akan di-Lulungkan dari kabinet.
Jokowi dan para the designers di belakangnya paham bagaimana PKS-FPI
berkampanye silent namun kotor demi merengkuh kekuasaan di DKI. Para relawan
kedua kubu ini sangat militan mempengaruhi warga Jakarta untuk memilih Anies.
Mereka sangat ngotot dan bergerilya dari pintu ke pintu, RT ke RT RW ke RW,
masjid ke masjid disertai ancaman kepada warga agar memilih Anis dan bukan Ahok.
Jelas bahwa kemenangan Anies-Sandi di Jakarta adalah kemenangan kaum khilafah
yang membuka pertarungan seru pada Pilpres 2019 . Jika kaum khilafah menang di
Jakarta, maka kaum ini akan semakin kerasukan sipirit mabuk untuk menyingkirkan
Jokowi di tahun 2019. Di pihak lain kemenangan Ahok di Jakarta adalah
kemenangan kaum nasionalis, kemenangan Jokowi dan Islam moderat yang toleran.
Jadi grand design lebih lanjut Jokowi, akhir kasus Ahok dan skenario silent
PKS-FPI menjelang Pilkada 19 April mendatang, akan semakin seru dan patut terus
kita cermati.
Salam #yiv2368065241 #yiv2368065241 -- #yiv2368065241ygrp-mkp {border:1px
solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv2368065241
#yiv2368065241ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv2368065241
#yiv2368065241ygrp-mkp #yiv2368065241hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv2368065241 #yiv2368065241ygrp-mkp #yiv2368065241ads
{margin-bottom:10px;}#yiv2368065241 #yiv2368065241ygrp-mkp .yiv2368065241ad
{padding:0 0;}#yiv2368065241 #yiv2368065241ygrp-mkp .yiv2368065241ad p
{margin:0;}#yiv2368065241 #yiv2368065241ygrp-mkp .yiv2368065241ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv2368065241 #yiv2368065241ygrp-sponsor
#yiv2368065241ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv2368065241
#yiv2368065241ygrp-sponsor #yiv2368065241ygrp-lc #yiv2368065241hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv2368065241
#yiv2368065241ygrp-sponsor #yiv2368065241ygrp-lc .yiv2368065241ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv2368065241 #yiv2368065241actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv2368065241
#yiv2368065241activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv2368065241
#yiv2368065241activity span {font-weight:700;}#yiv2368065241
#yiv2368065241activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv2368065241 #yiv2368065241activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv2368065241 #yiv2368065241activity span
span {color:#ff7900;}#yiv2368065241 #yiv2368065241activity span
.yiv2368065241underline {text-decoration:underline;}#yiv2368065241
.yiv2368065241attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv2368065241 .yiv2368065241attach div a
{text-decoration:none;}#yiv2368065241 .yiv2368065241attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv2368065241 .yiv2368065241attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv2368065241 .yiv2368065241attach label a
{text-decoration:none;}#yiv2368065241 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv2368065241 .yiv2368065241bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv2368065241
.yiv2368065241bold a {text-decoration:none;}#yiv2368065241 dd.yiv2368065241last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2368065241 dd.yiv2368065241last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2368065241
dd.yiv2368065241last p span.yiv2368065241yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv2368065241 div.yiv2368065241attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv2368065241 div.yiv2368065241attach-table
{width:400px;}#yiv2368065241 div.yiv2368065241file-title a, #yiv2368065241
div.yiv2368065241file-title a:active, #yiv2368065241
div.yiv2368065241file-title a:hover, #yiv2368065241 div.yiv2368065241file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv2368065241 div.yiv2368065241photo-title a,
#yiv2368065241 div.yiv2368065241photo-title a:active, #yiv2368065241
div.yiv2368065241photo-title a:hover, #yiv2368065241
div.yiv2368065241photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv2368065241
div#yiv2368065241ygrp-mlmsg #yiv2368065241ygrp-msg p a
span.yiv2368065241yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv2368065241
.yiv2368065241green {color:#628c2a;}#yiv2368065241 .yiv2368065241MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv2368065241 o {font-size:0;}#yiv2368065241
#yiv2368065241photos div {float:left;width:72px;}#yiv2368065241
#yiv2368065241photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv2368065241
#yiv2368065241photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv2368065241
#yiv2368065241reco-category {font-size:77%;}#yiv2368065241
#yiv2368065241reco-desc {font-size:77%;}#yiv2368065241 .yiv2368065241replbq
{margin:4px;}#yiv2368065241 #yiv2368065241ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv2368065241 #yiv2368065241ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2368065241
#yiv2368065241ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv2368065241
#yiv2368065241ygrp-mlmsg select, #yiv2368065241 input, #yiv2368065241 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2368065241
#yiv2368065241ygrp-mlmsg pre, #yiv2368065241 code {font:115%
monospace;}#yiv2368065241 #yiv2368065241ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv2368065241 #yiv2368065241ygrp-mlmsg #yiv2368065241logo
{padding-bottom:10px;}#yiv2368065241 #yiv2368065241ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv2368065241 #yiv2368065241ygrp-msg
p#yiv2368065241attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv2368065241
#yiv2368065241ygrp-reco #yiv2368065241reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv2368065241 #yiv2368065241ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv2368065241 #yiv2368065241ygrp-sponsor
#yiv2368065241ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv2368065241
#yiv2368065241ygrp-sponsor #yiv2368065241ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv2368065241
#yiv2368065241ygrp-sponsor #yiv2368065241ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv2368065241 #yiv2368065241ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv2368065241 #yiv2368065241ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv2368065241 #yiv2368065241ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv2368065241
#yiv2368065241ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv2368065241