Selama pemimpin2 di lembaga2 pendidikan berjiwa feodal dan korup, Indonesia 
tidak akan bisa maju. Sebagai contoh, pd. tahun 1970-han ratusan mahasiwa 
Indonesia di Jerman dari berbagai jurusan dari bidang teknologi dan medis. Pada 
waktu itu, PBB mengajurkan kepada Pemerintah Jerman supaya mengembalikan 
mahasiswa2 dari negara2 berkembang ke negara2 asalnya dgn. maksud utk. bisa 
memajukan negara2 asalnya. Jerman menuruti anjuran ini dimana mahasiswa2 dari 
negara2 berkembang harus pulang ke negara2 asalnya setelah selesai dgn. studi 
mereka. Banyak mahasiswa Indonesia yg. mau pulang ke Indonesia tetapi mereka 
takut dgn. peraturan2 yg. ada di Indonesia. Ijasah2 mereka tidak di akui 
padahal pendidikan di Jerman jauh lebih maju dari Indonesia. Selain itu, 
misalnya dibidang medis, orang harus mengikuti adaptasi paling sedikit 6 bulan 
dan tidak digaji. Dan selama waktu adaptasi, katanya, mereka di pelonco, 
padahal kualifikasi/pengetahuan mereka lebih tinggi. Pemimpin lembaga2 
pendidikan di Indonesia mempersulit intergrasi dari mereka dari lulusan LN, 
tentunya morifnya mengurai saingan dari profesinya/kantongnya sendiri dan tidak 
mementingkan utk. kepentingan nasional. Selain mereka dari LN harus menyogok 
kanan-kiri supaya ijasahnya bisa akhirnya diakui. Tentunya mereka takut utk. 
pulang ke Indonesia apalagi yg. sudah mempunyai famili. Mereka kebanyakan 
pindah ke Kanada, AS dan sebagian ke Belanda. Pemerintah/pemimpin dari negara2 
ini menerima mereka dgn. tangan terbuka dan tidak mempersulit mereka dan 
malahan membantu utk. bisa pindah ke negara2 mereka. Negara2 ini merasa 
beruntung mendapat akhli2 tanpa perlu utk. mendidik mereka, yg. tentunya sangat 
mahal pendidikan mereka dan apalagi akhli2 dari Jerman (yg. hebat pada itu, 
misalnya, orang percaya. dgn. "Made in Germany" dari barang produksi Jerman). 
Pemimpin negara2 ini mementingkan kepentingan nasional utk. kemajuannya. 

 
---In [email protected], <djiekh@...> wrote :

 Bung Karma,
 Paman saya dulu masuk bagian sipil dari Marine, Hanya dari KWS, STM jaman 
Belanda. Kemudian ikut kursus di Angkatan Laut yang diberikan oleh Insinyur 
Angkatan Laut Belanda.Kemudian kerja kerja di PAL , Penataran Angkatan Laut 
Surabaya.
 Waktu saya sedang kuliah di Bandung, paman saya ikut kursus management. 
Setelah pensiun kerja jadi kepala pabrik perusahaan kroonkurk ( tutup botol) 
perusahan Inggris.  
 P.T. PAL sudah beberapa lama membuat kemajuan. Mengingat dibutuhkannya kapal2 
cepat untuk melindungi perairan Indonesia dan kapal2 penangkap ikan, P.T. PAL 
perlu dikembangkan untuk dapat memenuhi kebutuhan negara kelautan Indonesia. 
Mungkin perlu kerjasama dengan perusahaan2 lain, dalam membuat bagian2 kapal, 
cold sorage, containers.
 Perlu juga ada universitas perkapalan, akademi perkapalan, STM perkapalan.
 Tiongkok punya 3 universitas perkeretaapian. Sejak sebelum revolusi Tiongkok, 
sudah ada univeritas perkeretaapian Jiaotong.
 Untuk suatu proyek pertama yang tadinya belum ada, Tiongkok memusatkan tenaga2 
terbaiknya dari berbagai bidang dan financien dari macam2 propinsi untuk 
menyelesaikan proyek ini. Kalau sudah ternyata sukses, propinsi2 lain kirim 
orang untuk mempelajari, meniru. Karena itu bisa berkembang cepat.
 https://id.wikipedia.org/wiki/PT._PAL_Indonesia 
https://id.wikipedia.org/wiki/PT._PAL_Indonesia
 PT. PAL Indonesia Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
 
 https://id.wikipedia.org/wiki/PT._PAL_Indonesia#mw-head 
https://id.wikipedia.org/wiki/PT._PAL_Indonesia#p-search
 PT PAL Indonesia (Persero) 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:PAL_Indonesia.jpg&filetimestamp=20080703084736&;
 Logo PAL Indonesia
 Jenis https://id.wikipedia.org/wiki/Jenis_entitas_bisnis BUMN 
https://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Usaha_Milik_Negara / Perseroan Terbatas 
Industri/jasa Galangan kapal https://id.wikipedia.org/wiki/Galangan_kapal 
Didirikan 1980 https://id.wikipedia.org/wiki/1980 Kantor pusat Surabaya 
https://id.wikipedia.org/wiki/Surabaya, Jawa Timur 
https://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur, Indonesia Pemilik Pemerintah 
Indonesia https://id.wikipedia.org/wiki/Pemerintah_Indonesia Situs web pal .co 
.id http://pal.co.id/ PT. PAL Indonesia adalah Badan Usaha Milik Negara 
https://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Usaha_Milik_Negara yang bergerak di bidang 
industri galangan kapal https://id.wikipedia.org/wiki/Galangan_kapal. Kantor 
pusat dan industri galangan kapal ini terdapat di Surabaya 
https://id.wikipedia.org/wiki/Surabaya, Jawa Timur 
https://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur.
 
 Daftar isi  [sembunyikan] 
 1Sejarah https://id.wikipedia.org/wiki/PT._PAL_Indonesia#Sejarah 2Produksi 
https://id.wikipedia.org/wiki/PT._PAL_Indonesia#Produksi 2.1Kapal Angkatan Laut 
https://id.wikipedia.org/wiki/PT._PAL_Indonesia#Kapal_Angkatan_Laut 2.2Kapal 
Dagang https://id.wikipedia.org/wiki/PT._PAL_Indonesia#Kapal_Dagang 3Referensi 
https://id.wikipedia.org/wiki/PT._PAL_Indonesia#Referensi 4Pranala luar 
https://id.wikipedia.org/wiki/PT._PAL_Indonesia#Pranala_luar
 
 Sejarah[sunting 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=PT._PAL_Indonesia&veaction=edit&section=1
 | sunting sumber 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=PT._PAL_Indonesia&action=edit&section=1]
 PT. PAL Indonesia (Persero), bermula dari sebuah galangan kapal yang bernama 
MARINA dan didirikan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1939. Pada masa 
pendudukan Jepang, Perusahaan ini beralih nama menjadi Kaigun SE 2124. Setelah 
kemerdekaan, Pemerintah Indonesia menasionalisasi Perusahaan ini dan mengubah 
namanya menjadi Penataran Angkatan Laut (PAL). Pada tanggal 15 April 1980, 
Pemerintah mengubah status Perusahaan dari Perusahaan Umum menjadi Perseroan 
Terbatas sesuai dengan akta No. 12, yang dibuat oleh Notaris Hadi Moentoro, SH.
 Lokasi Perusahaan di Ujung, Surabaya, dengan kegiatan utama memproduksi kapal 
perang dan kapal niaga, memberikan jasa perbaikan dan pemeliharaan kapal, serta 
rekayasa umum dengan spesifikasi tertentu berdasarkan pesanan.
 Kemampuan rancang bangun yang menonjol dari PAL Indonesia telah memasuki 
pasaran internasional dan kualitasnya telah diakui dunia. Kapal-kapal produksi 
PAL Indonesia telah melayari perairan di seluruh dunia.
 Produksi[sunting 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=PT._PAL_Indonesia&veaction=edit&section=2
 | sunting sumber 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=PT._PAL_Indonesia&action=edit&section=2]
 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Kri_clurit.jpeg&filetimestamp=20120909083838&;
 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Kri_clurit.jpeg&filetimestamp=20120909083838
KCR KRI Clurit


 Kapal Angkatan Laut[sunting 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=PT._PAL_Indonesia&veaction=edit&section=3
 | sunting sumber 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=PT._PAL_Indonesia&action=edit&section=3]
 https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:KRI_Banjarmasin.jpg 
https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:KRI_Banjarmasin.jpg
LPD KRI Banjarmasin


 Kapal Patroli Cepat 14 Meter 
https://id.wikipedia.org/wiki/Kapal_Patroli_Cepat_14_Meter Kapal Patroli Cepat 
28 Meter 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kapal_Patroli_Cepat_28_Meter&action=edit&redlink=1
 Kapal Patroli Cepat 38 Meter 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kapal_Patroli_Cepat_38_Meter&action=edit&redlink=1
 Kapal Patroli Cepat 57 meter NAV 
https://id.wikipedia.org/wiki/Kapal_Patroli_Cepat_57_meter_NAV Kapal Cepat 
Rudal 60 meter https://id.wikipedia.org/wiki/Kapal_Cepat_Rudal_60_meter[1] 
https://id.wikipedia.org/wiki/PT._PAL_Indonesia#cite_note-1[2] 
https://id.wikipedia.org/wiki/PT._PAL_Indonesia#cite_note-2[3] 
https://id.wikipedia.org/wiki/PT._PAL_Indonesia#cite_note-3 Kapal Patroli Cepat 
15 Meter 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kapal_Patroli_Cepat_15_Meter&action=edit&redlink=1
 PAL Landing Platform Dock 125m 
https://id.wikipedia.org/wiki/PAL_Landing_Platform_Dock_125m 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:KRI_SINGA-651.jpg&filetimestamp=20120918043319&;
 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:KRI_SINGA-651.jpg&filetimestamp=20120918043319
Kapal Patroli KRI SINGA 651


 PAL Motor Yacht 28 meter 

 Kapal Dagang[sunting 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=PT._PAL_Indonesia&veaction=edit&section=4
 | sunting sumber 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=PT._PAL_Indonesia&action=edit&section=4]
 OHBC 45.000 DWT 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=OHBC_45.000_DWT&action=edit&redlink=1
 STAR 50 - BSBC 50.000 DWT 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=STAR_50_-_BSBC_50.000_DWT&action=edit&redlink=1
 STAR 50 - DSBC 50.000 DWT 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=STAR_50_-_DSBC_50.000_DWT&action=edit&redlink=1
 Cargo Vessel 3.500 DWT 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Cargo_Vessel_3.500_DWT&action=edit&redlink=1
 Cargo Vessel 3650 DWT 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Cargo_Vessel_3650_DWT&action=edit&redlink=1
 Container Ship 1.600 TEU'S 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Container_Ship_1.600_TEU%27S&action=edit&redlink=1
 Container Ship 400 TEU'S 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Container_Ship_400_TEU%27S&action=edit&redlink=1
 Container Vessel 4.180 DWT 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Container_Vessel_4.180_DWT&action=edit&redlink=1
 Dry Cargo Vessel 18.500 DWT 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dry_Cargo_Vessel_18.500_DWT&action=edit&redlink=1
 PAX-500 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=PAX-500&action=edit&redlink=1 Tanker 
17.500 LTDW 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tanker_17.500_LTDW&action=edit&redlink=1
 Tanker 24.000 LTDW 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tanker_24.000_LTDW&action=edit&redlink=1
 Tanker 30.000 LTDW 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tanker_30.000_LTDW&action=edit&redlink=1
 Tanker 3500 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tanker_3500&action=edit&redlink=1 
Tanker 6500 
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tanker_6500&action=edit&redlink=1



 

 
 On 20 June 2017 at 02:23, Karma, I Nengah [PT. Altus Logistic Service 
Indonesia] <inengahk@... mailto:inengahk@...> wrote:
 Benar bung Marco PT. PAL dan PT. DI jarang ada kabarnya, gak tahu apakah 
karena pesawatnya tidak laku atau bagaimana?
 Kalau buat pesawat boing tidak laku, buat saja pesawat poker, atau drone yang 
ngetren saat ini.
 Taxi udara di Cina katanya saat ini menggunakan Drone yang di operasikann dari 
jarak jauh
  
 From: [email protected] mailto:[email protected] 
[mailto:[email protected] om mailto:[email protected]] 
 Sent: Monday, June 19, 2017 4:49 PM
 To: Marco 45665 <comoprima45@... mailto:comoprima45@...>; Gelora45 
<[email protected] mailto:[email protected]>
 Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Re: Re.: Difficult for Indonesia to Become 
an Innovation-Driven Economy
 
 
  
   
 Bung Marco,
 
 Kalau Jepang maju sekali setelah kalah perang, dan Tiongkok maju sekali 
setelah Deng berkuasa. Dimulai dengan membebaskan industri militernya yang 
banyak ahli2nya, untuk membuat product yang laku di pasaran.
 
 Di Indonesia tampaknya PT. PAL dari angkatan laut yang maju. Kalau bisa 
diadakan consortium dengan perusahaan lain yang juga sedang membuat kapal2, dan 
juga dengan Krakatau Steel, dan kementerian Kelautan untuk membuat kapal2 
penangkap ikan, cool storage, pabrik2 pengolahan makanan dalam kaleng dari 
ikan, kemudian paling sedikit ada jaminan pembelian dari Angkatan Darat, Laut 
dan Udara, dan semua financien, tenaga anggota consortium dipusatkan, mestinya 
bisa berhasil.
 
 Teman saya, 80 tahun, dipanggil kembali oleh bossnya, dijadikan penasehat 
direktur2 pembuatan pelabuhan dan pembuatan kapal penangkap ikan, tetapi 
sekarang tidak boleh hubungan dengan orang2 di bawah direktur. Dulu dia kepala 
pabrik, mulai dari mengepalai babat hutan bangun pabrik,  kemudian kepala 
development, kemudian kepala perusahaan, kemudian komisaris perusahaan, 
mendampingi bossnya kalau berunding dengan menteri2.
 
 Sebelumnya dia pernah kerja sebagai instructeur di Angkatan Laut. Ada bekas 
anak buahnya sudah jadi KASAL.
 
 Di Indonesia masih ada orang yang hebat. Di bidang tanaman ada Greg Hambali. 
(bisa lihat di Google)
 
 Pengalengan ikan tidak ada masalah. Di Indonesia banyak ahlinya, yang dulu 
kerja di perusahaan Mantrust, yang jadi besar supply ABRI. Ada teman ex 
Mantrust, dai pengalengan jamur, krja di pengalengan boontjis untuk Jerman.
 
 Dari Diaspora banyak yang pernah jadi pejabat tinggi di perusahaan asing dan 
prof. di Universitas.
 
 Puluhan tahun ketinggalan, kalau tidak terkejar, terus akan makin ketinggalan 
dari negara2 lain. Ya, untuk mengejar, paling cepat, beli teknologi baru yang 
langsung bisa dipakai untuk mendapat keuntungan, yang dapat dipakai selanjutnya.
 
 Utang, kalau dipakai unuk menghasilkan barang yang menghasilkan keuntungan, ya 
harus dilakukan. Kalau idak bagaiman mau hasilkan keuntungan lewat produk tsb. ?
 
 Orang Belanda pernah bilang pada saya, orang Indonesia itu banyak yang jadi 
nabi2. Saya tanya, apa maksud dia. Dia tertawa, bilang, nabi itu di negerinya 
sendiri kan dimusuhi, tetapi di negeri lain dihargai. Dia tertawa lagi bilang, 
kita di Belanda ini kan untung dapat lulusan2 dari Indonesia, tidak usah 
ongkosi orang dari Indoneia sekolah dari SD sampai universitas...., tinggal 
pakai.
 
 KH
 
 
  
 On 19 June 2017 at 07:05, Marco 45665 <comoprima45@... mailto:comoprima45@...> 
wrote:
 ...and The reason lies in THE HEAVEN ABOVE ......... which seems to be
 
 THE IMPOSSIBLE DREAM for being a country & Society of " Innovation - Driven 
Economy " ... unless or without being back to the Basic... > for being WELL 
EDUCATED NATION  ...
 
  
 
  
 
  
 
 
 ​
 
  
 
  
 
  " Innovation-Driven Economy Country 
 
  
 On 19 June 2017 at 03:20, B.DORPI P. <bdorpi@... mailto:bdorpi@...> wrote:
 https://www.indonesia-investme nts.com/news/news-columns/diff 
icult-for-indonesia-to-become- an-innovation-driven-economy/i tem7920 
https://www.indonesia-investments.com/news/news-columns/difficult-for-indonesia-to-become-an-innovation-driven-economy/item7920
 
  
 
 17 June 2017 
 
  
 
 Difficult for Indonesia to Become an Innovation-Driven Economy
  
 
 A new report shows Indonesia lacks behind its regional peers in terms of 
innovation. This is a concern because it means Indonesia's workforce is not 
equipped with the skills, knowledge or health that are necessary to be 
innovation-driven. 
 Therefore, the Indonesian government needs to remain focused on enhancing the 
quality of education and healthcare. Innovation is widely regarded as a driver 
of economic growth and development.
 
 
 In the Global Innovation Index (GII) 2017, which is published by Cornell 
University, INSEAD, and the World Intellectual Property Organization (WIPO), 
Indonesia is ranked 87th (out a total of 127 economies around the world). 
Southeast Asia's largest economy only rose one spot compared to the preceding 
edition (that was published one year ago). What makes even a worse impression 
is that Indonesia lacks behind its ASEAN member nations in terms of innovation 
with the exception of Cambodia.
 Singapore is among the world's most innovation-driven economies, being ranked 
7th. Other ASEAN nations that outperform Indonesia in the ranking are Malaysia 
(37th), Vietnam (47th), Thailand (51st), Brunei (71st), and the Philippines 
(73rd).
 GII, which aims to capture the multi-dimensional facets of innovation by 
providing a rich database of detailed metrics for 127 economies, has been 
tracking innovation across the globe for the past decade.
 Based on the report Indonesia is having difficulty to tackle classic problems 
including government regulations, the low level of people's education, weak 
development of research and development (R&D) and the lack of awareness of 
utilizing patents.
 Indonesia is regarded weak in terms of government and private institutions' 
ability to innovate (being ranked 120 and 130, respectively). 
 Regarding three subcomponents - political climate, regulations, and business - 
Indonesia is ranked below 80 for all of them. 
 M. Faisal, Director of Research at Core Indonesia, says these weak rankings 
reflect matters that heavily influence (negatively) the Indonesian economy. 
While, Indonesia's industries should have already reached an advanced level due 
to innovation-driven developments, the reality is that Indonesian industries 
are stuck somewhere in the middle.
 Regarding the subcomponent 'regulations that encourage innovation' Indonesia 
is only ranked 126th. Faisal said it shows the difficulty to create a climate 
that is conducive for innovation.
 Josua Pardede, Economist at Bank Permata, said the difficulty of boosting 
innovation in Indonesia is that it is highly related to local culture. It is 
not the culture of the Indonesian people to be innovative and this causes a big 
delay in innovation. Therefore, the GII report should be taken as an important 
warning.
 A key reason that blocks innovation in Indonesia is the overall low level of 
education. Moreover, the government spends too little of its annual budget on 
research and development. 
 While governments in countries like Singapore and Vietnam spend about 2.5 
percent of their gross domestic product (GDP) on research and development, the 
figure for Indonesia is only 0.2 percent of GDP. 
 This is partly to blame for the general weak skills and knowledge of 
Indonesian workers. 
 Therefore, Bhima Yudistira, Economist at Indef, says the key solution would be 
government efforts to boost vocational education and training sector.
  
  
  
  
  
 
 
 
 
 
 
  
 
 
 
  
 
 
 
 
 
 
 





 

Kirim email ke