Komentar bung Chan sangat menarik. Quote: Saya perhatikan, RRT diakhir tahun 90-an berusaha keras menyedot balik Pemuda-pelajar yang ngendon di luar negeri selesai sekolahnya, dengan berani memberikan fasilitas istimewa pada mereka. End of Quote.
Tindakan Pemeintah RRT adalah tindakan yg. pintar dan mementingkan kepentingan nasional.dimana malahan memberikan fasilitas istimewa utk. menyedot para pemuda-pelajar utk. kembali ke RRT. Sekarang sudah kelihatan hasilnya dgn.kemajuan RRT yg. mengagumkan. Saya yg. sudah lama di negara Barat, masih bisa ter-cengang2 waktu saya di RRT, yg. telah melampaui banyak negara2 Barat. Salam BH Jo ---In [email protected], <SADAR@...> wrote : Satu diskusi yang sangat menarik, ... kebijaksanaan apapun harus sesuai dengan kebutuhan konkrit dan kebijakan itu harus berubah seiring dengan perubahan situasi objektif. Tidak bisaq diberlakukan selamanya begitu! Saya perhatikan, RRT diakhir tahun 90-an berusaha keras menyedot balik Pemuda-pelajar yang ngendon di luar negeri selesai sekolahnya, dengan berani memberikan fasilitas istimewa pada mereka. Karena memang Tiongkok sedang membutuhkan tenaga-tenaga ahli untuk mengejar kecepatan perkembangan yang begitu dahsyat. Dengan kebijakan ini, tidak sedikit tenaga-ahli tersedot kembali. Tapi beberapa tahun terakhir ini, saya dengar tidak lagi berlaku umum, kecuali memang tenaga ahli TOP dan dibidang tertentu yang masih diberikan fasilitas istimewa. Karena kenyataan pada umumnya, tenaga ahli lulusan univ. lokal apalagi univ. top tidak kalah, bahkan kalo diambil rata2 pelajar lulusan univ. lokal lebih mudah mengikuti dan menyesuaikan keahliannya dengan kebutuhan konkrit yang dihadapi. Dipihak lain, bisa juga dilihat dari makin SULIT nya pelajar mendapatkan pekerjaan setelah lulus di banyak negara-negara maju, seperti di AS, Eropah dan Australia, yang membuat pelajar2 Tiongkok terakhir ini juga lebih banyak yang memilih pulang kenegerinya saja yang bisa memberikan haridepan lebih baik. Lalu, arus warga Tiongkok yang keluarnegeri juga sudah banyak menurun, dengan keberhasilan memberantas korupsi. Sedang di Indonesia, nampaknya dalam mengambil kebijaksanaan mempunyai perhitungan lain, atau terlalu kaku? Terlalu berat untuk melindungi lulusan univ. dalam negeri atau memang sengaja dipersulit sementara pejabat untuk dapatkan penghasilan tambahan? Itulah yang dibilang bung Jo, kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah! Kenapa tidak berani mengambil jalan DIPERMUDAH untuk mengisi kekurangan tenaga ahli dalam banyak bidang usaha untuk mengejar keterbelakangan Indonesia. Tentu untuk kedokteran, misalnya, dokter-dokter lulusan Luarnegeri khususnya AS, Eropah misalnya, mungkin bisa diberi saja kursus beberapa bulan mengenai penyakit tropik, lalu diminta praktek barang 1/2 tahun didaerah-daerah pedalaman. Dan, ... berikan fasilitas istimewa kalau mau meneruskan bekerja didaerah-daerah pedalaman untuk meningkatkan kesehatan dan pengobatan disitu. Dengan pengeluaran sedikit istimewa pada dokter-dokter muda lulusan LN begitu, jelas masyarakat diuntungkan! Pemerintah tentu terbantu mengatasi kekurangan dokter dibanyak daerah yang sampai sekarang TIDAK terjamah! Jangankan diluar pulau Jawa, lha di Jawa sendiri juga masih banyak daerah, desa-desa yang tidak ada dokter, kok. Sedang untuk tenaga ahli dibidang teknik, Kimia, ... yaa, diterima saja langsung sebagai warga yang hendak mengabdikan dirinya pada masyarakatnya. Dibidang sosial, juga bisa dikasih saja kursus2 yang dianggap perlu diketahui danh dikuasai mereka sebelum terjum dalam masyarakat Indonesia. Kenapa harus dipersulit, apalagi semua pembiayaan sekolah dibayar sendiri. Gunakanlah sebaik-baiknya untuk mendorong maju lebih cepat pembangunan di Indonesia! Kembangkanlah usaha-usaha yang dibutuhkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, ... Salam-ngobrol, ChanCT From: nesare1@... [GELORA45] Sent: Wednesday, June 21, 2017 10:31 PM To: [email protected] Subject: RE: [GELORA45] Re: Difficult for Indonesia to Become an Innovation-Driven Economy Bener itu yg terjadi brain drain dari jerman ke USA dan kanada ditahun 70/80 an. Sekarang mah beda. Masuk USA susahnya minta ampun. Visa tidak cukup. Walaupun permohonannya sudah dikabulkan pun masih harus menunggu puluhan tahun baru dapat visa. Ya jelas tidak bisa lulusan luar negeri pulang ke Indonesia ditahun 70/80an utk minta ini itu. Sekarang saja tidak bisa begitu. Indonesia beda dengan USA dan kanada. Gak fair perbandingannya. Kalau mau pulang, imigrasi ya mbok mikir gimana konsekwensinya. Namanya saja orang merantau ada untung ruginya. Tetapi jangan mau minta privilege/perlakuan istimewa mentang2 lulusan luar negeri seperti “dalam beberapa hari sudah bisa dapat visa”. Ini kan minta perlakuan khusus. Sekarang pun perlakuan khusus ini sudah gak ada utk masuk USA dan kanada. Jadi bukan hanya gak bisa utk masuk Indonesia saja. Ini masalah setiap negara berbeda. Harus dilihat secara proportionally. Jangan krn pengalaman bung yg hebat dapat visa ke USA dalam bbrp hari, lalu bung ambil kesimpulan Indonesia tidak menghargai orang pintar. Persoalannya bukan disitu. Siapa yg tidak menghargai orang pinter, orang kaya, orang2an dll? Coba misalnya kalau bung kenal sama Habibie ditolong langsung disuruh pulang Indonesia dan duduk dikursi enak dikasih pekerjaan dll dan hidup mapan. Moso’ bisa disimpulkan Indonesia sangat menghargai lulusan luar negeri dan atau enak sekali kerja diindonesia? Saya tidak mau justifikasi kemauan bung. Tetapi dari contoh bung itu, situasi yg bung dambakan, bagi saya adalah minta perlakuan khusus krn bung lulusan luar negeri. Bagi saya ini permintaan yg kebablasan. Bagi saya akan lebih baik, pindahlah kenegara manapun sepanjang seseorang bisa hidup baik. Itu saja. Tambahan: repot tidak kalau ada dokter WNI lulusan luar negeri tetapi tidak bisa berbahasa Indonesia, mau pulang Indonesia utk praktek. Bagaimana bisa dokter ini berhubungan dengan pasiennya? Kan tidak bisa. Makanya pemerintah Indonesia punya kriteria dalam menkreditasikan ijazahnya. Masalah ada diskriminasi dalam pelaksanaannya, itu level aplikasinya tetapi kriteria yg telah ada dan disyaratkan itu tetap harus ada. Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, June 21, 2017 3:38 AM To: Gelora45 <[email protected]>; Beng-Hoey Jo <bhjo@...> Subject: Re: [GELORA45] Re: Difficult for Indonesia to Become an Innovation-Driven Economy Kalau di Belanda, dulu masuk banyak dokter gigi dari Indonesia. Mereka tidak boleh jadi dokter gigi, kecuali kalau ikut kuliah dan lulus ujian di Belanda. Setelah bertahun-tahun jadi schooltandarts ( dokter gigi untuk periksa gigi anak2 sekolah), terjadi perubahan peraturan yang tidak pakai schooltandarts lagi. Lha dokr2 gigi Indonesia ini tidak dibuang begitu saja, tetapi justru dicarikan jalan supaya bisa kerja sebagai dokter gigi. Terus dibuat peraturan, mereka boleh ujian tanpa mengikuti kuliah. Teman saya yang lulusan Jerman, Belgia, Belanda, dan pernah belajar di Zwitserland jadi salah satu pengujinya. Dia bilang, kebanyakan sekali lulus. Dan mereka juga pinter, lihati temannya dokter gigi asal Indonesia lulusan Belanda, yang sedang kerja, terus pelajari teknik terbaru. Kalau dari teknik di Indonesia, bisa langsung kerja di Belanda. Tegantung kecakapannya dalam praktek. Ada juga beberapa kuliah dulu di Delft, harus masih ikuti pelajaran 2 tahun terakhir di Delft dan ujian. Istri saya, kerja dulu jadi analist. Setelah beberapa tahun, Direkturnya tawari kuliah lagi di Delft, harus selesai dalam 2 tahun. Dibayar penuh, tidak usah masuk kerja, tetapi begitu lulus, tidak boleh minta kenaikan gaji. Kalau naik jabatan, baru ada kenaikan gaji. Setelah dua tahun, lulus, kerja balik di Institut Geologi Leiden. Kemudian Institut Geologi Leiden dan utrecht fusie, jadi lab. besar. Kepala lab Leiden jadi kepala Lab. fusi, dan istri saya diangkat jadi wakil kepala lab. Rupanya direktur Geologi Leiden, sudah menyiapkan orang2nya kalau terjadi fusi. Belakangan jadi kepala lab, tetapi kalau di Belanda tidak aotomatisch. Banyak calon2nya. 2017-06-21 9:05 GMT+02:00 bhjo@... [GELORA45] <[email protected]>: Yg. saya ceritakan adalah situasi di Indonesia tahun 1970-1980-han. Maka dari itu majoritas dari mahasiswa2 di Jerman kebanyakan pindah ke AS, Kanada sebagian ke Belanda dan Australia. Untuk pulang ke Indonesia pada waktu itu, mereka merasa akan dipersulit kalau dibanding ke negara2 Barat lain, yg. akan menerima dgn. tangan terbuka dan malahan membantu mereka Memang dokter harus lulus tes utk. bisa bekerja, tetapi tes dari negara2 ini adalah tidak sulit pada waktu itu. Tesnya adalah tes dasar dalam istilah2 Inggris dan tes bhs. Inggris. Ini cuma supaya Pemerintah tidak bisa persalahkan oleh masyarakat dan bisa membela diri kalau ada masalah dgn. bidang yg. berhubungan dgn. kesehatan atau jiwa manusia. Ujian tes namanya ECFMG yg. dibuat oleh AS. Kanada tidak mempunyai tes sendiri tetapi mengakui tes ECFMG. Jadi juga menggampangkan yg. mau ke Kanada. Ujian dari Australia, lebih gampang lagi. Sedangkan dari bidang2 teknik, langsung bisa bekerja dgn. kualikasi Jerman sebab tidak berhubungan dgn. jiwa manusia. Kanada sangat memerlukan mereka utk. pembangunannya pada waktu itu. Setelah AS dan Kanada mulai cukup dgn. jumlah dokternya, tesnya mulai bertambah sulit. ECFMG menjadi VQE. Dan sekarang sangat sulit, dimana VQE menjadi USMLE (part 1, 2 dan 3). Waktu jaman ECFMG kalau lulus dgn. minimum score 75 bisa bekerja di AS. Sekarang kalau mau bisa diterima di AS, harus lulus USMLE yg. jauh lebih sulit dan dgn. score minimum 95 (maximum score 100). Jadi cuma top2 dokter dari seluruh dunia yg. bisa diterima di AS sekarang ini. Jadi kepentingan nasional yg. dipentingkan di negara2 Barat, yg. disesuaikan dgn. keperluan. Poin saya adalah waktu tahun 1980-han Indonesia masih sangat kekurangan dokter, kenapa mesti ada adaptasi segala macam. Teorinya 6 bulan tetapi di-ulur2 sampai lama sekali kecuali bisa "membaiki" senior-nya. Mengapa institusi tidak menggampangkan dan Pemerintah menuruti anjuan institusi seperti di negara2 Barat pada waktu itu? IDI juga tidak membantu dan mempermudahkan. Indonesia sampai sekarang masih kekurangan dokter apalagi yg. berkualisi internasional dan bersuperspesialisasi. Maka dari itu pasien2 yg. berduit, berobat di Singapur, Penang dll. utk. masalah medik yg. bukan gampang seperti batuk-pilek. Sedangkan negara2 Barat sudah berlebihan dokter2. Menjawab pertanyaan: pemerintah/negara mana yang membantu orang asing ini dan bagaimana mereka membantu orang asing ini masuk negaranya? Contoh: dari pengalaman pribadi. Waktu saya sudah selesai studi, setelah mengetahui peraturan2/situasi yg. ada di Indonesia, saya melihat bagaimana di negara2 lain, terutama AS, Kanada dan Australia. Waktu itu saya mencari informasi/mendaftar di Kanada. Saya diminta utk. menemui director dari institusi, seorang profesor, yg. kebetulan akan ke Jerman utk. mengkuti konferensi dan memberi ceramah di kota Duesseldorf. Saya menemui director ini di Dueseldorf, yg. kebetulan tidak jauh dari tempat saya. Saya diajak makan malam dan ber-cakap2 dan dianjurkan datang/pindah ke Kanada. Dia yg. akan membantu saya masuk ke Kanada dan mengurus work visa dll. Dan Kantor Imigrasi (Pemerintah) akan menurut saja apa yg. direkomendasikan oleh institusi2 utk. kepentingan masyarakat atau nasional. Tidak lama kemudian saya mendapat work visa-nya. Sebagai contoh lain yg. saya alami, saya mendapat Permanent Residence/Green card dari Pemerintah AS "cuma dalam waktu beberapa hari" atas anjuran institusi di AS supaya saya bisa cepat pindah dan bekerja. Mana situasi seperti ini bisa terjadi di Indonesia pada waktu itu. ataupun waktu sekarang? Kebanyakan mementingkan keuntungan pribadi dan mengabaikan kepentingan nasional. Saya ingat motto kurang-lebih sbb.: "Kalau masih bisa dipersulit, kenapa mesti dipermudah?"
