Kalau di Belanda, mahasiswa berbagai jurusan begitu lulus, harus balik
Indonesia.
Tetapi yang dari informatika, banyak dapat ijin kerja dan ijin tinggal,
karena di sini sangat dibutuhkan.
2 teman saya dulu kerja di dua perusahaan besar jerman. Perusahaan besar
yang mintakan ijin kerja dan ijin tinggal dengan alasan keahlian mereka
dibutuhkan. Wah, kalau di Jerman waktu itu, kalau Prof. atau Perusahaan
Besar yang mintakan, selalu dapat.
Lain dengan Belanda. Tetapi herannya kalau di Belanda, kalau dibantu orang
dari partai politik, kok bisa.
Ada teman, punya 2 PhD di Fisika dan kedokteran. Setelah dapat PhD Fisika,
tetap mau tinggal di jerman, ambil kedokteran. Habis lulus, ambil PhD
kedokteran. Hanya bisa dapat ijin kerja yang dimintakan untuk di rumah
sakit. Suatu hari seorang patient wanita Jerman yang dianggap tidak ada
harapan, sembuh. Wanita itu tanya, apa dia bisa balik tolong dokternya.
Teman saya bilang, dia tidak punya ijin tinggal dan ijin kerja permanent.
Wanita itu bilang, mungkin suaminya bisa bantu. Wah, dalam seminggu keluar
ijin tinggal tetap dan ijin kerja, sehingga beberapa tahun kemudian dia
bisa buka praktek sendiri.

2017-06-21 16:31 GMT+02:00 [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
> Bener itu yg terjadi brain drain dari jerman ke USA dan kanada ditahun
> 70/80 an.
>
> Sekarang mah beda. Masuk USA susahnya minta ampun. Visa tidak cukup.
> Walaupun permohonannya sudah dikabulkan pun masih harus menunggu puluhan
> tahun baru dapat visa.
>
>
>
> Ya jelas tidak bisa lulusan luar negeri pulang ke Indonesia ditahun
> 70/80an utk minta ini itu.
>
> Sekarang saja tidak bisa begitu.
>
> Indonesia beda dengan USA dan kanada. Gak fair perbandingannya.
>
> Kalau mau pulang, imigrasi ya mbok mikir gimana konsekwensinya.
>
> Namanya saja orang merantau ada untung ruginya.
>
>
>
> Tetapi jangan mau minta privilege/perlakuan istimewa mentang2 lulusan luar
> negeri seperti “dalam beberapa hari sudah bisa dapat visa”. Ini kan minta
> perlakuan khusus. Sekarang pun perlakuan khusus ini sudah gak ada utk masuk
> USA dan kanada.
>
> Jadi bukan hanya gak bisa utk masuk Indonesia saja.
>
> Ini masalah setiap negara berbeda.
>
>
>
> Harus dilihat secara proportionally.
>
> Jangan krn pengalaman bung yg hebat dapat visa ke USA dalam bbrp hari,
> lalu bung ambil kesimpulan Indonesia tidak menghargai orang pintar.
>
>
>
> Persoalannya bukan disitu. Siapa yg tidak menghargai orang pinter, orang
> kaya, orang2an dll?
>
> Coba misalnya kalau bung kenal sama Habibie ditolong langsung disuruh
> pulang Indonesia dan duduk dikursi enak dikasih pekerjaan dll dan hidup
> mapan. Moso’ bisa disimpulkan Indonesia sangat menghargai lulusan luar
> negeri dan atau enak sekali kerja diindonesia?
>
>
>
> Saya tidak mau justifikasi kemauan bung. Tetapi dari contoh bung itu,
> situasi yg bung dambakan, bagi saya adalah minta perlakuan khusus krn bung
> lulusan luar negeri. Bagi saya ini permintaan yg kebablasan.
>
> Bagi saya akan lebih baik, pindahlah kenegara manapun sepanjang seseorang
> bisa hidup baik. Itu saja.
>
>
>
> Tambahan: repot tidak kalau ada dokter WNI lulusan luar negeri tetapi
> tidak bisa berbahasa Indonesia, mau pulang Indonesia utk praktek. Bagaimana
> bisa dokter ini berhubungan dengan pasiennya? Kan tidak bisa. Makanya
> pemerintah Indonesia punya kriteria dalam menkreditasikan ijazahnya.
> Masalah ada diskriminasi dalam pelaksanaannya, itu level aplikasinya tetapi
> kriteria yg telah ada dan disyaratkan itu tetap harus ada.
>
>
>
> Nesare
>
>
>
>
>
> *From:* [email protected] [mailto:[email protected]]
> *Sent:* Wednesday, June 21, 2017 3:38 AM
> *To:* Gelora45 <[email protected]>; Beng-Hoey Jo <[email protected]>
> *Subject:* Re: [GELORA45] Re: Difficult for Indonesia to Become an
> Innovation-Driven Economy
>
>
>
>
>
> Kalau di Belanda, dulu masuk banyak dokter gigi dari Indonesia.
>
> Mereka tidak boleh jadi dokter gigi, kecuali kalau ikut kuliah dan lulus
> ujian di Belanda.
>
> Setelah bertahun-tahun jadi schooltandarts ( dokter gigi untuk periksa
> gigi anak2 sekolah),
>
> terjadi perubahan peraturan yang tidak pakai schooltandarts lagi.
>
> Lha dokr2 gigi Indonesia ini tidak dibuang begitu saja, tetapi justru
> dicarikan jalan supaya bisa kerja sebagai dokter gigi.
>
> Terus dibuat peraturan, mereka boleh ujian tanpa mengikuti kuliah.
>
> Teman saya yang lulusan Jerman, Belgia, Belanda, dan pernah belajar di
> Zwitserland jadi salah satu pengujinya.
>
> Dia bilang, kebanyakan sekali lulus. Dan mereka juga pinter, lihati
> temannya dokter gigi asal Indonesia lulusan Belanda, yang sedang kerja,
> terus pelajari teknik terbaru.
>
> Kalau dari teknik di Indonesia, bisa langsung kerja di Belanda. Tegantung
> kecakapannya dalam praktek. Ada juga beberapa kuliah dulu di Delft, harus
> masih ikuti pelajaran 2 tahun terakhir di Delft dan ujian.
>
> Istri saya, kerja dulu jadi analist. Setelah beberapa tahun, Direkturnya
> tawari kuliah lagi di Delft, harus selesai dalam 2 tahun. Dibayar penuh,
> tidak usah masuk kerja, tetapi begitu lulus, tidak boleh minta kenaikan
> gaji. Kalau naik jabatan, baru ada kenaikan gaji. Setelah dua tahun, lulus,
> kerja balik di Institut Geologi Leiden. Kemudian Institut Geologi Leiden
> dan utrecht fusie, jadi lab. besar.
>
> Kepala lab Leiden jadi kepala Lab. fusi, dan istri saya diangkat jadi
> wakil kepala lab. Rupanya direktur Geologi Leiden,
>
> sudah menyiapkan orang2nya kalau terjadi fusi. Belakangan jadi kepala lab,
> tetapi kalau di Belanda tidak aotomatisch. Banyak calon2nya.
>
>
>
>
>
> 2017-06-21 9:05 GMT+02:00 [email protected] [GELORA45] <
> [email protected]>:
>
>
>
> Yg. saya ceritakan adalah situasi di Indonesia tahun 1970-1980-han. Maka
> dari itu majoritas dari mahasiswa2 di Jerman kebanyakan pindah ke AS,
> Kanada sebagian ke Belanda dan Australia. Untuk pulang ke Indonesia pada
> waktu itu, mereka merasa akan dipersulit kalau dibanding ke negara2 Barat
> lain, yg. akan menerima dgn. tangan terbuka dan malahan membantu mereka
> Memang dokter harus lulus tes utk. bisa bekerja, tetapi tes dari negara2
> ini adalah tidak sulit pada waktu itu. Tesnya adalah tes dasar dalam
> istilah2 Inggris dan tes bhs. Inggris. Ini cuma supaya Pemerintah tidak
> bisa persalahkan oleh masyarakat dan bisa membela diri kalau ada masalah
>  dgn. bidang yg. berhubungan dgn. kesehatan atau jiwa manusia. Ujian tes
> namanya ECFMG yg. dibuat oleh AS. Kanada tidak mempunyai tes sendiri tetapi
> mengakui tes ECFMG. Jadi juga menggampangkan yg. mau ke Kanada. Ujian dari
> Australia, lebih gampang lagi. Sedangkan dari bidang2 teknik, langsung bisa
> bekerja dgn. kualikasi Jerman sebab tidak berhubungan dgn. jiwa manusia.
> Kanada sangat memerlukan mereka utk. pembangunannya pada waktu itu.
>
>
>
> Setelah AS dan Kanada mulai cukup dgn. jumlah dokternya, tesnya mulai
> bertambah sulit. ECFMG menjadi VQE. Dan sekarang sangat sulit, dimana VQE
> menjadi USMLE (part 1, 2 dan 3). Waktu jaman ECFMG kalau lulus dgn. minimum
> score 75 bisa bekerja di AS. Sekarang kalau mau bisa diterima di AS, harus
> lulus USMLE yg. jauh lebih sulit dan dgn. score minimum 95 (maximum score
> 100).  Jadi cuma top2 dokter dari seluruh dunia yg. bisa diterima di AS
> sekarang ini.  Jadi kepentingan nasional yg. dipentingkan di negara2 Barat,
> yg. disesuaikan dgn. keperluan. Poin saya adalah waktu tahun 1980-han
> Indonesia masih sangat kekurangan dokter, kenapa mesti ada adaptasi segala
> macam.  Teorinya 6 bulan tetapi di-ulur2 sampai lama sekali kecuali bisa
> "membaiki" senior-nya. Mengapa institusi tidak menggampangkan dan
> Pemerintah menuruti anjuan institusi seperti di negara2 Barat pada waktu
> itu?  IDI juga tidak membantu dan mempermudahkan.  Indonesia sampai
> sekarang masih kekurangan dokter apalagi yg. berkualisi internasional dan
> bersuperspesialisasi. Maka dari itu pasien2 yg. berduit, berobat di
> Singapur, Penang dll. utk. masalah medik yg. bukan gampang seperti
> batuk-pilek. Sedangkan negara2 Barat sudah berlebihan dokter2.
>
>
>
> *Menjawab pertanyaan: ** pemerintah/negara mana yang membantu orang asing
> ini dan bagaimana mereka membantu orang asing ini masuk negaranya?* Contoh:
> dari pengalaman pribadi. Waktu saya sudah selesai studi, setelah mengetahui
> peraturan2/situasi yg. ada di Indonesia, saya melihat bagaimana di negara2
> lain, terutama AS, Kanada dan Australia. Waktu itu saya mencari
> informasi/mendaftar di Kanada. Saya diminta utk. menemui director dari
> institusi, seorang profesor, yg. kebetulan akan ke Jerman utk. mengkuti
> konferensi dan memberi ceramah di kota Duesseldorf. Saya menemui director
> ini di Dueseldorf, yg. kebetulan tidak jauh dari tempat saya.  Saya diajak
> makan malam dan ber-cakap2 dan dianjurkan datang/pindah ke Kanada. Dia yg.
> akan membantu saya masuk ke Kanada dan mengurus work visa dll. Dan Kantor
> Imigrasi (Pemerintah) akan menurut saja apa yg. direkomendasikan oleh
> institusi2 utk. kepentingan masyarakat atau nasional. Tidak lama kemudian
> saya mendapat work visa-nya. Sebagai contoh lain yg. saya alami, saya
> mendapat Permanent Residence/Green card dari Pemerintah AS "cuma dalam
> waktu beberapa hari" atas anjuran institusi di AS supaya saya bisa cepat
> pindah dan bekerja. Mana situasi seperti ini bisa terjadi di Indonesia pada
> waktu itu. ataupun waktu sekarang? Kebanyakan mementingkan keuntungan
> pribadi dan mengabaikan kepentingan nasional. Saya ingat motto kurang-lebih
> sbb.: "Kalau masih bisa dipersulit, kenapa mesti dipermudah?"
>
>
>
>
>
> 
>

Kirim email ke