Yg. saya ceritakan adalah situasi di Indonesia tahun 1970-1980-han. Maka dari itu majoritas dari mahasiswa2 di Jerman kebanyakan pindah ke AS, Kanada sebagian ke Belanda dan Australia. Untuk pulang ke Indonesia pada waktu itu, mereka merasa akan dipersulit kalau dibanding ke negara2 Barat lain, yg. akan menerima dgn. tangan terbuka dan malahan membantu mereka. Memang dokter harus lulus tes utk. bisa bekerja, tetapi tes dari negara2 ini adalah tidak sulit pada waktu itu. Tesnya adalah tes dasar dalam istilah2 Inggris dan tes bhs. Inggris. Ini cuma supaya Pemerintah tidak bisa persalahkan oleh masyarakat dan bisa membela diri kalau ada masalah dgn. bidang yg. berhubungan dgn. kesehatan atau jiwa manusia. Ujian tes namanya ECFMG yg. dibuat oleh AS. Kanada tidak mempunyai tes sendiri tetapi mengakui tes ECFMG. Jadi juga menggampangkan yg. mau ke Kanada. Ujian dari Australia, lebih gampang lagi. Sedangkan dari bidang2 teknik, langsung bisa bekerja dgn. kualikasi Jerman sebab tidak berhubungan dgn. jiwa manusia. Kanada sangat memerlukan mereka utk. pembangunannya pada waktu itu.
Setelah AS dan Kanada mulai cukup dgn. jumlah dokternya, tesnya mulai bertambah sulit. ECFMG menjadi VQE. Dan sekarang sangat sulit, dimana VQE menjadi USMLE (part 1, 2 dan 3). Waktu jaman ECFMG kalau lulus dgn. minimum score 75 bisa bekerja di AS. Sekarang kalau mau bisa diterima di AS, harus lulus USMLE yg. jauh lebih sulit dan dgn. score minimum 95 (maximum score 100). Jadi cuma top2 dokter dari seluruh dunia yg. bisa diterima di AS sekarang ini. Jadi kepentingan nasional yg. dipentingkan di negara2 Barat, yg. disesuaikan dgn. keperluan. Poin saya adalah waktu tahun 1980-han Indonesia masih sangat kekurangan dokter, kenapa mesti ada adaptasi segala macam. Teorinya 6 bulan tetapi di-ulur2 sampai lama sekali kecuali bisa "membaiki" senior-nya. Mengapa institusi tidak menggampangkan dan Pemerintah menuruti anjuan institusi seperti di negara2 Barat pada waktu itu? IDI juga tidak membantu dan mempermudahkan. Indonesia sampai sekarang masih kekurangan dokter apalagi yg. berkualisi internasional dan bersuperspesialisasi. Maka dari itu pasien2 yg. berduit, berobat di Singapur, Penang dll. utk. masalah medik yg. bukan gampang seperti batuk-pilek. Sedangkan negara2 Barat sudah berlebihan dokter2. Menjawab pertanyaan: pemerintah/negara mana yang membantu orang asing ini dan bagaimana mereka membantu orang asing ini masuk negaranya? Contoh: dari pengalaman pribadi. Waktu saya sudah selesai studi, setelah mengetahui peraturan2/situasi yg. ada di Indonesia, saya melihat bagaimana di negara2 lain, terutama AS, Kanada dan Australia. Waktu itu saya mencari informasi/mendaftar di Kanada. Saya diminta utk. menemui director dari institusi, seorang profesor, yg. kebetulan akan ke Jerman utk. mengkuti konferensi dan memberi ceramah di kota Duesseldorf. Saya menemui director ini di Dueseldorf, yg. kebetulan tidak jauh dari tempat saya. Saya diajak makan malam dan ber-cakap2 dan dianjurkan datang/pindah ke Kanada. Dia yg. akan membantu saya masuk ke Kanada dan mengurus work visa dll. Dan Kantor Imigrasi (Pemerintah) akan menurut saja apa yg. direkomendasikan oleh institusi2 utk. kepentingan masyarakat atau nasional. Tidak lama kemudian saya mendapat work visa-nya. Sebagai contoh lain yg. saya alami, saya mendapat Permanent Residence/Green card dari Pemerintah AS "cuma dalam waktu beberapa hari" atas anjuran institusi di AS supaya saya bisa cepat pindah dan bekerja. Mana situasi seperti ini bisa terjadi di Indonesia pada waktu itu. ataupun waktu sekarang? Kebanyakan mementingkan keuntungan pribadi dan mengabaikan kepentingan nasional. Saya ingat motto kurang-lebih sbb.: "Kalau masih bisa dipersulit, kenapa mesti dipermudah?"
