Benar adanya RRT dan juga india menghargai orang2nya yg tinggal dan sudah 
bekerja diluar negeri. Prinsipnya hampir sama bahwa mereka2 ini dipermudah utk 
masuk balik ke RRT dan india. Spesifiknya banyak tetapi kemudahan itu lebih ke 
birokrasi dan hukum misalnya warganegara india dan RRT bisa pulang kampung dan 
tidak pusing dengan masalah imigrasi.

 

Diindonesia belum terjadi. Tetapi diaspora Indonesia itu adalah gerakan dalam 
memuluskan hal ini. Obama yg akan berkunjung ke Indonesia dalam waktu dekat ini 
dan akan bicara di diaspora Indonesia.

 

Saya kira kemudahan seperti RRT dan india itu akan terjadi dalam waktu dekat. 
Hanya spesifik/detailnya tentunya akan berbeda tergantung sikon negara masing2.

 

Sekali lagi kemudahan itu bukan fasilitas. Tidak ada lulusan USA dan sudah 
warga negara USA kalau mau pulang RRT dan india akan dikasih jabatan dan gaji 
khusus misalnya. Kemudahannya adalah misalnya diakui nya dwikewarganegaraan dan 
atau urusan2 yg berkaitan dengan imigrasi, red tape birokrasi dll. Bukan 
dikasih ini itu supaya pulang. Misalnya dokter lulusan USA atau kanada mau 
praktek diindonesia ya harus tahu dulu ttg tropical disease, kultur, bahasa, 
agama dll di Indonesia. Kalau tidak ya gimana diagnosanya apalagi prosedurnya.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, June 21, 2017 8:37 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Re: Difficult for Indonesia to Become an 
Innovation-Driven Economy

 

  

Komentar bung Chan sangat menarik.  

 

Quote: Saya perhatikan, RRT diakhir tahun 90-an berusaha keras menyedot balik 
Pemuda-pelajar yang ngendon di luar negeri selesai sekolahnya, dengan berani 
memberikan fasilitas istimewa pada mereka. 

 End of Quote.

 

Tindakan Pemeintah RRT adalah tindakan yg. pintar dan mementingkan kepentingan 
nasional.dimana malahan memberikan fasilitas istimewa utk. menyedot para 
pemuda-pelajar utk. kembali ke RRT. Sekarang sudah kelihatan hasilnya 
dgn.kemajuan RRT yg. mengagumkan. Saya yg. sudah lama di negara Barat, masih 
bisa ter-cengang2 waktu saya di RRT, yg. telah melampaui banyak negara2 Barat.

 

Salam

BH Jo



---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <SADAR@... 
<mailto:SADAR@...> > wrote :

Satu diskusi yang sangat menarik, ... kebijaksanaan apapun harus sesuai dengan 
kebutuhan konkrit dan kebijakan itu harus berubah seiring dengan perubahan 
situasi objektif. Tidak bisaq diberlakukan selamanya begitu!

Saya perhatikan, RRT diakhir tahun 90-an berusaha keras menyedot balik 
Pemuda-pelajar yang ngendon di luar negeri selesai sekolahnya, dengan berani 
memberikan fasilitas istimewa pada mereka. Karena memang Tiongkok sedang 
membutuhkan tenaga-tenaga ahli untuk mengejar kecepatan perkembangan yang 
begitu dahsyat. Dengan kebijakan ini, tidak sedikit tenaga-ahli tersedot 
kembali. Tapi beberapa tahun terakhir ini, saya dengar tidak lagi berlaku umum, 
kecuali memang tenaga ahli TOP dan dibidang tertentu yang masih diberikan 
fasilitas istimewa. Karena kenyataan pada umumnya, tenaga ahli lulusan univ. 
lokal apalagi univ. top tidak kalah, bahkan kalo diambil rata2 pelajar lulusan 
univ. lokal lebih mudah mengikuti dan menyesuaikan keahliannya dengan kebutuhan 
konkrit yang dihadapi. 

 

Dipihak lain, bisa juga dilihat dari makin SULIT nya pelajar mendapatkan 
pekerjaan setelah lulus di banyak negara-negara maju, seperti di AS, Eropah dan 
Australia, yang membuat pelajar2 Tiongkok terakhir ini juga lebih banyak yang 
memilih pulang kenegerinya saja yang bisa memberikan haridepan lebih baik.  
Lalu, arus warga Tiongkok yang keluarnegeri juga sudah banyak menurun, dengan 
keberhasilan memberantas korupsi. 

 

Sedang di Indonesia, nampaknya dalam mengambil kebijaksanaan mempunyai 
perhitungan lain, atau terlalu kaku? Terlalu berat untuk melindungi lulusan 
univ. dalam negeri atau memang sengaja dipersulit sementara pejabat untuk 
dapatkan penghasilan tambahan? Itulah yang dibilang bung Jo, kalau bisa 
dipersulit kenapa harus dipermudah! Kenapa tidak berani mengambil jalan 
DIPERMUDAH untuk mengisi kekurangan tenaga ahli dalam banyak bidang usaha untuk 
mengejar keterbelakangan Indonesia. Tentu untuk kedokteran, misalnya, 
dokter-dokter lulusan Luarnegeri khususnya AS, Eropah misalnya, mungkin bisa 
diberi saja kursus beberapa bulan mengenai penyakit tropik, lalu diminta 
praktek barang 1/2 tahun didaerah-daerah pedalaman. Dan, ... berikan fasilitas 
istimewa kalau mau meneruskan bekerja didaerah-daerah pedalaman untuk 
meningkatkan kesehatan dan pengobatan disitu. Dengan pengeluaran sedikit 
istimewa pada dokter-dokter muda lulusan LN begitu, jelas masyarakat 
diuntungkan! Pemerintah tentu terbantu mengatasi kekurangan dokter dibanyak 
daerah yang sampai sekarang TIDAK terjamah! Jangankan diluar pulau Jawa, lha di 
Jawa sendiri juga masih banyak daerah, desa-desa yang tidak ada dokter, kok.

 

Sedang untuk tenaga ahli dibidang teknik, Kimia, ... yaa, diterima saja 
langsung sebagai warga yang hendak mengabdikan dirinya pada masyarakatnya. 
Dibidang sosial, juga bisa dikasih saja kursus2 yang dianggap perlu diketahui 
danh dikuasai mereka sebelum terjum dalam masyarakat Indonesia. Kenapa harus 
dipersulit, apalagi semua pembiayaan sekolah dibayar sendiri. Gunakanlah 
sebaik-baiknya untuk mendorong maju lebih cepat pembangunan di Indonesia! 
Kembangkanlah usaha-usaha yang dibutuhkan meningkatkan kesejahteraan 
masyarakat, ...

 

Salam-ngobrol,

ChanCT

 

 

 

From: nesare1@... [GELORA45]

Sent: Wednesday, June 21, 2017 10:31 PM

To: [email protected] <mailto:[email protected]> 

Subject: RE: [GELORA45] Re: Difficult for Indonesia to Become an 
Innovation-Driven Economy

 

 

Bener itu yg terjadi brain drain dari jerman ke USA dan kanada ditahun 70/80 an.

Sekarang mah beda. Masuk USA susahnya minta ampun. Visa tidak cukup. Walaupun 
permohonannya sudah dikabulkan pun masih harus menunggu puluhan tahun baru 
dapat visa.

Ya jelas tidak bisa lulusan luar negeri pulang ke Indonesia ditahun 70/80an utk 
minta ini itu. 

Sekarang saja tidak bisa begitu.

Indonesia beda dengan USA dan kanada. Gak fair perbandingannya.

Kalau mau pulang, imigrasi ya mbok mikir gimana konsekwensinya.

Namanya saja orang merantau ada untung ruginya.

Tetapi jangan mau minta privilege/perlakuan istimewa mentang2 lulusan luar 
negeri seperti “dalam beberapa hari sudah bisa dapat visa”. Ini kan minta 
perlakuan khusus. Sekarang pun perlakuan khusus ini sudah gak ada utk masuk USA 
dan kanada.

Jadi bukan hanya gak bisa utk masuk Indonesia saja. 

Ini masalah setiap negara berbeda.

Harus dilihat secara proportionally.

Jangan krn pengalaman bung yg hebat dapat visa ke USA dalam bbrp hari, lalu 
bung ambil kesimpulan Indonesia tidak menghargai orang pintar.

Persoalannya bukan disitu. Siapa yg tidak menghargai orang pinter, orang kaya, 
orang2an dll?

Coba misalnya kalau bung kenal sama Habibie ditolong langsung disuruh pulang 
Indonesia dan duduk dikursi enak dikasih pekerjaan dll dan hidup mapan. Moso’ 
bisa disimpulkan Indonesia sangat menghargai lulusan luar negeri dan atau enak 
sekali kerja diindonesia?

Saya tidak mau justifikasi kemauan bung. Tetapi dari contoh bung itu, situasi 
yg bung dambakan, bagi saya adalah minta perlakuan khusus krn bung lulusan luar 
negeri. Bagi saya ini permintaan yg kebablasan.

Bagi saya akan lebih baik, pindahlah kenegara manapun sepanjang seseorang bisa 
hidup baik. Itu saja.

Tambahan: repot tidak kalau ada dokter WNI lulusan luar negeri tetapi tidak 
bisa berbahasa Indonesia, mau pulang Indonesia utk praktek. Bagaimana bisa 
dokter ini berhubungan dengan pasiennya? Kan tidak bisa. Makanya pemerintah 
Indonesia punya kriteria dalam menkreditasikan ijazahnya. Masalah ada 
diskriminasi dalam pelaksanaannya, itu level aplikasinya tetapi kriteria yg 
telah ada dan disyaratkan itu tetap harus ada.

Nesare

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, June 21, 2017 3:38 AM
To: Gelora45 <[email protected] <mailto:[email protected]> >; 
Beng-Hoey Jo <bhjo@... <mailto:bhjo@...> >
Subject: Re: [GELORA45] Re: Difficult for Indonesia to Become an 
Innovation-Driven Economy

 

Kalau di Belanda, dulu masuk banyak dokter gigi dari Indonesia.

Mereka tidak boleh jadi dokter gigi, kecuali kalau ikut kuliah dan lulus ujian 
di Belanda.

Setelah bertahun-tahun jadi schooltandarts ( dokter gigi untuk periksa gigi 
anak2 sekolah),

terjadi perubahan peraturan yang tidak pakai schooltandarts lagi.

Lha dokr2 gigi Indonesia ini tidak dibuang begitu saja, tetapi justru dicarikan 
jalan supaya bisa kerja sebagai dokter gigi.

Terus dibuat peraturan, mereka boleh ujian tanpa mengikuti kuliah.

Teman saya yang lulusan Jerman, Belgia, Belanda, dan pernah belajar di 
Zwitserland jadi salah satu pengujinya.

Dia bilang, kebanyakan sekali lulus. Dan mereka juga pinter, lihati temannya 
dokter gigi asal Indonesia lulusan Belanda, yang sedang kerja, terus pelajari 
teknik terbaru.

Kalau dari teknik di Indonesia, bisa langsung kerja di Belanda. Tegantung 
kecakapannya dalam praktek. Ada juga beberapa kuliah dulu di Delft, harus masih 
ikuti pelajaran 2 tahun terakhir di Delft dan ujian.

Istri saya, kerja dulu jadi analist. Setelah beberapa tahun, Direkturnya tawari 
kuliah lagi di Delft, harus selesai dalam 2 tahun. Dibayar penuh, tidak usah 
masuk kerja, tetapi begitu lulus, tidak boleh minta kenaikan gaji. Kalau naik 
jabatan, baru ada kenaikan gaji. Setelah dua tahun, lulus, kerja balik di 
Institut Geologi Leiden. Kemudian Institut Geologi Leiden dan utrecht fusie, 
jadi lab. besar.

Kepala lab Leiden jadi kepala Lab. fusi, dan istri saya diangkat jadi wakil 
kepala lab. Rupanya direktur Geologi Leiden, 

sudah menyiapkan orang2nya kalau terjadi fusi. Belakangan jadi kepala lab, 
tetapi kalau di Belanda tidak aotomatisch. Banyak calon2nya.

2017-06-21 9:05 GMT+02:00 bhjo@... [GELORA45] <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >:

 

Yg. saya ceritakan adalah situasi di Indonesia tahun 1970-1980-han. Maka dari 
itu majoritas dari mahasiswa2 di Jerman kebanyakan pindah ke AS, Kanada 
sebagian ke Belanda dan Australia. Untuk pulang ke Indonesia pada waktu itu, 
mereka merasa akan dipersulit kalau dibanding ke negara2 Barat lain, yg. akan 
menerima dgn. tangan terbuka dan malahan membantu mereka Memang dokter harus 
lulus tes utk. bisa bekerja, tetapi tes dari negara2 ini adalah tidak sulit 
pada waktu itu. Tesnya adalah tes dasar dalam istilah2 Inggris dan tes bhs. 
Inggris. Ini cuma supaya Pemerintah tidak bisa persalahkan oleh masyarakat dan 
bisa membela diri kalau ada masalah  dgn. bidang yg. berhubungan dgn. kesehatan 
atau jiwa manusia. Ujian tes namanya ECFMG yg. dibuat oleh AS. Kanada tidak 
mempunyai tes sendiri tetapi mengakui tes ECFMG. Jadi juga menggampangkan yg. 
mau ke Kanada. Ujian dari Australia, lebih gampang lagi. Sedangkan dari bidang2 
teknik, langsung bisa bekerja dgn. kualikasi Jerman sebab tidak berhubungan 
dgn. jiwa manusia. Kanada sangat memerlukan mereka utk. pembangunannya pada 
waktu itu.

Setelah AS dan Kanada mulai cukup dgn. jumlah dokternya, tesnya mulai bertambah 
sulit. ECFMG menjadi VQE. Dan sekarang sangat sulit, dimana VQE menjadi USMLE 
(part 1, 2 dan 3). Waktu jaman ECFMG kalau lulus dgn. minimum score 75 bisa 
bekerja di AS. Sekarang kalau mau bisa diterima di AS, harus lulus USMLE yg. 
jauh lebih sulit dan dgn. score minimum 95 (maximum score 100).  Jadi cuma top2 
dokter dari seluruh dunia yg. bisa diterima di AS sekarang ini.  Jadi 
kepentingan nasional yg. dipentingkan di negara2 Barat, yg. disesuaikan dgn. 
keperluan. Poin saya adalah waktu tahun 1980-han Indonesia masih sangat 
kekurangan dokter, kenapa mesti ada adaptasi segala macam.  Teorinya 6 bulan 
tetapi di-ulur2 sampai lama sekali kecuali bisa "membaiki" senior-nya. Mengapa 
institusi tidak menggampangkan dan Pemerintah menuruti anjuan institusi seperti 
di negara2 Barat pada waktu itu?  IDI juga tidak membantu dan mempermudahkan.  
Indonesia sampai sekarang masih kekurangan dokter apalagi yg. berkualisi 
internasional dan bersuperspesialisasi. Maka dari itu pasien2 yg. berduit, 
berobat di Singapur, Penang dll. utk. masalah medik yg. bukan gampang seperti 
batuk-pilek. Sedangkan negara2 Barat sudah berlebihan dokter2.

Menjawab pertanyaan: pemerintah/negara mana yang membantu orang asing ini dan 
bagaimana mereka membantu orang asing ini masuk negaranya? Contoh: dari 
pengalaman pribadi. Waktu saya sudah selesai studi, setelah mengetahui 
peraturan2/situasi yg. ada di Indonesia, saya melihat bagaimana di negara2 
lain, terutama AS, Kanada dan Australia. Waktu itu saya mencari 
informasi/mendaftar di Kanada. Saya diminta utk. menemui director dari 
institusi, seorang profesor, yg. kebetulan akan ke Jerman utk. mengkuti 
konferensi dan memberi ceramah di kota Duesseldorf. Saya menemui director ini 
di Dueseldorf, yg. kebetulan tidak jauh dari tempat saya.  Saya diajak makan 
malam dan ber-cakap2 dan dianjurkan datang/pindah ke Kanada. Dia yg. akan 
membantu saya masuk ke Kanada dan mengurus work visa dll. Dan Kantor Imigrasi 
(Pemerintah) akan menurut saja apa yg. direkomendasikan oleh institusi2 utk. 
kepentingan masyarakat atau nasional. Tidak lama kemudian saya mendapat work 
visa-nya. Sebagai contoh lain yg. saya alami, saya mendapat Permanent 
Residence/Green card dari Pemerintah AS "cuma dalam waktu beberapa hari" atas 
anjuran institusi di AS supaya saya bisa cepat pindah dan bekerja. Mana situasi 
seperti ini bisa terjadi di Indonesia pada waktu itu. ataupun waktu sekarang? 
Kebanyakan mementingkan keuntungan pribadi dan mengabaikan kepentingan 
nasional. Saya ingat motto kurang-lebih sbb.: "Kalau masih bisa dipersulit, 
kenapa mesti dipermudah?"



Kirim email ke