Bung Jo yb, Barangkali kalau melihat kebijakan konkrit dimasa tahun 70-80 itu harus melihat KESALAHAN kebijakan pemerintah ORBA yang kebablasan TAKUT kemasukan KOMUNIS! Be3giotu TAKUT nya momok KOMUNIS dan itu masih menjuangkiti jenderal-jenderal dan semeentara pejabat sampai sekarang, ...
Begitu buuaaanyak pemuda-pelajar yang diutus pemerintah Soekarno untuk belajar di luar negeri, juga tidak sedikit pemuda pelajar yang harus menyingkir meneruskan sekolah di luar negeri dan ingat, mereka HARUS bayar ongkosi sekolah sendiri dengan susah payah! Tidak sedikit yang harus sekolah sambil bekerja sekenanya saja untuk tambahan hidup! Dan justru pemuda macam beginilah yang banyak jago-jago! Adalah pemerintah yang BODOH kalau tidak mempermudah pemudanya pulang mengabdikan keahliannya, malah dipersulit dengan berbagai macam alasan, ... padahal Indonesia sangat kekurangan tenaga ahli! Begitu juga dengan banyak tenaga ahli lulusan Sovyet, RRT yang sudah kembali sebelum G30S, harus dipenjarakan dengan dicurigai pengaruh komunis, ... dan karena tidak bisa dibuktikan dosa/kesalahannya juga dibuang saja ke Pulau Buru. SUNGGUH KETERLALUAN! Padahal keahlian mereka itu sangat dibutuhkan, ... dan Suharto merasa lebih nyaman bersandar saja pada AS-Jepang. Membiarkan bangsa ini tidak bisa berdiri tegak diatas kaki sendiri, tetap saja menjadi bangsa tergantung pada AS-Jepang, ... Mudah-mudahan presiden Jokowi sekarang bisa memulai langkah-langkah untuk mewujudkan Trisakti bung Karno, ... Salam, ChanCT From: [email protected] [GELORA45] Sent: Thursday, June 22, 2017 8:24 AM To: [email protected] Subject: RE: [GELORA45] Re: Difficult for Indonesia to Become an Innovation-Driven Economy Quote: Harus dilihat secara proportionally. Jangan krn pengalaman bung yg hebat dapat visa ke USA dalam bbrp hari, lalu bung ambil kesimpulan Indonesia tidak menghargai orang pintar. Saya tidak mau justifikasi kemauan bung. Tetapi dari contoh bung itu, situasi yg bung dambakan, bagi saya adalah minta perlakuan khusus krn bung lulusan luar negeri. Bagi saya ini permintaan yg kebablasan. Bagi saya akan lebih baik, pindahlah kenegara manapun sepanjang seseorang bisa hidup baik. Itu saja. End of Quote. Tuduhan samasekali bung tidak benar: bahwa saya minta perlakuan khusus dan permintaan kebablasan dan pengalaman yg. hebat dari saya. Saya cuma membandingkan perlakuan dari negara2 lain terhadap para mantan mahasiswa lulusan Jerman yg. hasus meninggalkan Jerman pada waktu itu karena anjuran dari PBB. Wong bukan cuma saya yg. pindah ke negara 2 lain dari Jerman. Dan bukan saya saja yg. diterima dgn. tangan terbuka dan dibantu dgn. secepatnya koq utk. kepentingan perkembangan nasional. Tetapi saya ulang lagi, majoritas dari mereka (ratusan atau lebih) pindah dari Jerman ke AS, Kanada, Belanda dan Australia, juga ada yg. ke Austria dan Swiss pada waktu itu. Saya cuma mengikuti trend utk. bekerja/mencari nafkah di negara lain yg. telah dilakukan oleh mantan mahasiswa2 yg. lebih senior dari saya. Kalau saya adalah sendiri atau termasuk minoritas dari mereka yg. pindah ke negara lain, ya tuduhan barangkali agak "make sense". Sekian saja.
