Kesan saya dalam membaca tulisan bung adalah bung maunya yg gampang2 saja pulang Indonesia karena Pendidikan di luar negeri lebih hebat. Ini tulisan bung:
“Banyak mahasiswa Indonesia yg. mau pulang ke Indonesia tetapi mereka takut dgn. peraturan2 yg. ada di Indonesia. Ijasah2 mereka tidak di akui padahal pendidikan di Jerman jauh lebih maju dari Indonesia. Selain itu, misalnya dibidang medis, orang harus mengikuti adaptasi paling sedikit 6 bulan dan tidak digaji. Dan selama waktu adaptasi, katanya, mereka di pelonco, padahal kualifikasi/pengetahuan mereka lebih tinggi. Pemimpin lembaga2 pendidikan di Indonesia mempersulit intergrasi dari mereka dari lulusan LN, tentunya morifnya mengurai saingan dari profesinya/kantongnya sendiri dan tidak mementingkan utk. kepentingan nasional. Selain mereka dari LN harus menyogok kanan-kiri supaya ijasahnya bisa akhirnya diakui. Tentunya mereka takut utk. pulang ke Indonesia apalagi yg. sudah mempunyai famili.” Kalau bung dikasih posisi enak di Indonesia, bung mau pulang kan? Sudah saya komentari sebelumnya bahwa setiap negara termasuk Indonesia punya hukum dan peraturan sendiri2. Dokter dari negara manapun mau praktik dinegara lain akan ada adaptasi. Ada factor Bahasa, pengetahuan dan sikon. Dokter spesialis diindonesia ada PPDS begitu juga yg baru lulus dokter. Ini peraturan Indonesia. Di USA pun sudah rahasia umum bahwa asosiasi kedokteran dll menolong pekerjaan dokter. Gaji dokter tinggi di USA itu krn sekolah dokter lama bisa puluhan tahun baru cetak duit. Kepentingan membela gaji gede ini sudah bukan rahasia lagi di USA dimulai dari matching residency dst. Itu semua sarat dengan proteksi profesi dokter. Apa yg bikin bung tidak mau pulang Indonesia? Karena mendapatkan pekerjaan di USA atau tidak dikasih apa2 diindonesia? Kalau bung diminta pulang Indonesia menjadi staf ahli Menteri kesehatan misalnya bung mau pulang? Apa yang bung minta utk pulang Indonesia? Ketika bung menjawab pertanyaan saya ini dengan 1 saja permintaannya, itu artinya bung minta perlakuan khusus. Itu saja! bung tidak perlu menjawab. Itu urusan bung. Saya hanya mengomentari tulisan bung yg jelas2 mau pulang Indonesia kalau dikasih fasilitas. Hanya saja Indonesia tidak kasih fasilitas itu (masuk akal lah krn Indonesia masih miskin ditahun2 1970an 1980an). Bung dengan bangganya menulis setelah dikasih work visa dalam waktu bbrp hari. Tulisan bung itu kalau saya mau teliti melihatnya. Jelas pertamanya bung hanya mendapatkan working visa. Waktu itu biasa2 saja krn visa application waktu itu tidak banyak dan visa yg tersedia cukup utk diberikan kepada yg qualified. “dalam bbrp hari mendapatkan green card” itu saya tidak tahu dari mana mengukurnya. Dari working visanya atau apa? Kalau boleh saya katakan pada waktu itu pemberian green card itu gak ada apa2nya. Itu bukan fasilitas sama sekali. Bung lebih tahu keadaan bung sendiri apakah setelah itu enak atau tidak kerja di USA dan kanada. Pengalaman saya lain dan pengalaman orang2 yg saya kenal lain juga. Jadi setiap orang pengalaman nya beda2. Setiap orang beda2 keinginan dan harapanya. Itulah hidup. Hanya saja jangan menjelek2kan negara asal kalau memang sudah tinggal di negara lain. Saya hanya mau katakana kalau bung pulang Indonesia dan jadi Menteri, mungkin bung akan bilang lain: “tanpa fasilitas dan rasa nasionalisme saya tetap pulang Indonesia dan sekarang saya jadi Menteri”. Ini hanya sikap kita masing2 saja dalam melihat hidup ini. Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, June 21, 2017 8:24 PM To: [email protected] Subject: RE: [GELORA45] Re: Difficult for Indonesia to Become an Innovation-Driven Economy Quote: Harus dilihat secara proportionally. Jangan krn pengalaman bung yg hebat dapat visa ke USA dalam bbrp hari, lalu bung ambil kesimpulan Indonesia tidak menghargai orang pintar. Saya tidak mau justifikasi kemauan bung. Tetapi dari contoh bung itu, situasi yg bung dambakan, bagi saya adalah minta perlakuan khusus krn bung lulusan luar negeri. Bagi saya ini permintaan yg kebablasan. Bagi saya akan lebih baik, pindahlah kenegara manapun sepanjang seseorang bisa hidup baik. Itu saja. End of Quote. Tuduhan samasekali bung tidak benar: bahwa saya minta perlakuan khusus dan permintaan kebablasan dan pengalaman yg. hebat dari saya. Saya cuma membandingkan perlakuan dari negara2 lain terhadap para mantan mahasiswa lulusan Jerman yg. hasus meninggalkan Jerman pada waktu itu karena anjuran dari PBB. Wong bukan cuma saya yg. pindah ke negara2 lain dari Jerman. Dan bukan saya saja yg. diterima dgn. tangan terbuka dan dibantu dgn. secepatnya koq utk. kepentingan perkembangan nasional. Tetapi saya ulang lagi, majoritas dari mereka (ratusan atau lebih) pindah dari Jerman ke AS, Kanada, Belanda dan Australia, juga ada yg. ke Austria dan Swiss pada waktu itu. Saya cuma mengikuti trend utk. bekerja/mencari nafkah di negara lain yg. telah dilakukan oleh mantan mahasiswa2 yg. lebih senior dari saya. Kalau saya adalah sendiri atau termasuk minoritas dari mereka yg. pindah ke negara lain, ya tuduhan barangkali agak "make sense". Sekian saja.
