Dinas pajak, banyak orangnya dengan berbagai tugas. Yang tugasnya ngurusi perusahaan gede2 dan uang dalam jumlah besar, tidak dibebani tugas ngurus yang dipandang kecil. Punya kepala dinas sendiri..
2017-07-09 3:17 GMT+02:00 Chan CT <[email protected]>: > Yaa, itulah bung Djie, kenyataan setiap orang mempunyai pemikirannya > sendiri-sendiri, entah sudut pandang yang berbeda entah pendirian yang > berbeda, ... tapi, sehubungan dengan PAJAK ini, saya berpendapat, > sebetulnya Pemerintah lebih baik beresin “PENUNGGAKAN PAJAK” yang gede-gede > dan buaanyak diparkir di luarnegeri itu saja diutamakan, dikejar lebih > dahulu! Kalau kejar yang kakap-kakap yang mungkin jumlahnya hanya ribuan > atau katakanlah mencapai belasan ribu itu saja tersendat-sendat, atau tempo > hari dinyatakan hanya berapa % yang berhasil, ... bagaimana bisa mengejar > pajak rakyat yang berjumlah jutaan itu? > > Bukankah ini menunjukkan KESADARAN masyarakat untuk bayar pajak itu belum > sampai ketitik yang memadai! Khususnya terjadi dilapisan atas, > pengusaha-pengusaha besar yang ogah bayar pajak, dan selalu dengan berbagai > cara berfkelit dan menggelapkkan pajak. Lalu, pejabat perpajakan juga belum > berhasil membenahi diri sehingga penarikkan pajak tidak BOCOR! Masih > diperlukan perjuangan yang cukup berat dan panjang, ... > > Salam, > ChanCT > > > *From:* kh djie > *Sent:* Sunday, July 9, 2017 8:12 AM > *To:* Chan CT ; Gelora45 > *Subject:* Re: [GELORA45] Re: Pajak petani tebu > > Bung Chan, > Sri Mulyani hanya menjalankan peraturan yang sudah lama ada sebelumnya. > Begitu jadi gula, lalu dikenai pajak 10% ? > Karena ternyata ada bagi hasil dengan pabrik gula, jadi petani dikenai > pajak untuk bagian gulanya ? > Baik juga dengan adanya pembicaraan antara Sri Muljani dengan perwakilan > petani tebu, kelihatan ketidak beresan kementerian pertanian dalam masalah > bibit unggul tebu(Ini mestinya disediakan oleh Station Percobaan Pasuruan, > Jawa Timur), pemupukan (jaman dulu paling sedikit abu dari pembakaran ampas > tebu untuk mndapatkan enersi guna pembuatan gula, dikembalikan/disebarkan > di perkebunan tebu sebagai pupuk. Biasanya untuk buah2an, supaya buahnya > lebih manis diperlukan tambahan pupuk fosfat), irrigasi.mesin traktor > pengolahan tanah. Pabrik gula kirim orang ke perkebunan tebu, untuk ambil > sample,lalu digiling dan ditentukan kadar gulanya apa sudah optimal. Kalau > terlalu muda, kada gulanya rendah, kalau kelewatan, kadar gula di tebu > turun. Penentuan dapat dilakukan dengan cepat dengan refractometer ( Brix). > Hanya dibutuhkan satu tetes nira saja. > Pabrik gula modern cukup dijalankan oleh satu operator saja. Kalau pabrik > gula lama buuh puluhn orang. Pabrik gula kerjanya hanya 3 bulan masa > giling. Habis itu semua mesin dibongkar, direvisi.Kehilangan gula bisa di > ampasnya, kalau mesin giling kurang baik, bisa juga di melassenya, kalau > masih dengan cara lama dengan keahlian tukng masak gula pakai sapu lidi > untuk amati viskositasnya apa nira kental perlu dibiarkan untuk mulai > mngkristal. > Pabrik gula biasanya jual melassenya untuk pabrik alkohol dan pabrik MSG > (vetsin) melalui proses fermentasi. > KH > > > 2017-07-09 1:20 GMT+02:00 Chan CT <[email protected]>: > >> Disini nampak Sri Mulyani tidak lebih mengutamakan kepentingan petani >> tebu dan bagaimana bisa bangkitkan perkebunan tebu di negerinya, agar bisa >> kembali berproduksi GULA lebih baik dan mencukupi kebutuhan nasional. Tidak >> lagi harus IMPORT GULA! >> >> Mestinya, Sri meneliti lebih lanjut mengapa produksi gula merosot >> sehingga Indonesia dari eksport GULA berubah menjadi import GULA? Belaqsan >> tahun yl., saya pernah ngobrol dengan Oey Eng Shui di HK, cucu Oey Tiong >> Ham Raja GULA itu, dia cerita kalau perkebunan tebu di Jawa itu tanahnya >> sudah rusak, terlalu lama ditanami tebu, akibatnya kadar gula dalam tebu >> terus menurun dan sebetulnya sudah tidak efisien untuk diolah jadi gula. >> Saya lupa konkrit penuruan kadar gula dari sekian % sudah tinggal sekiian >> %. Jadi jauh kalah dibanding perkebunan tebu di Malaysia, Cuba, ... Lalu? >> Untuk memperbaiki tanah itu bisa kembali meningkatkan kadar gula, tanah itu >> harus dibalik entah berapa dalam, atau mengganti dengan tanaman2 kacang2an >> beberapa saat. >> >> Saya ketika didesa juga tahu kalau sebidang tanah itu sebaiknya tidak >> ditanam satu jenis tanaman berturut-turut beberapa tahun, sebaiknya >> berganti-gantian beberapa jenis tanaman. Sedang perkebunan tebu di Jawa itu >> hanya ditanam tebu sudah pulouhan tahun! Yang menjadi masalah, pemilik >> perkebunan tebu tidak hendak mengalihkan tanaman tebu ke bidang lain, ... >> dan yang jadi korban akhirnya petani-perkebunan tebu. Dan, ... menjadi >> lebih celaka kalau pajak petani-tebu justru dinaikkian! Terbalik, dooong, >> ...! >> >> Saya perhatikan di RRT untuk membantu bangkitkan gairah kerja dan >> meningkatkan usaha pertanian didesa-desa, justru di tahun 2006 sudah >> menghapuskan seluruh bentuk pajak petani didesa yang sudah berlaku ribuan >> tahun itu! Karena kenyataan pajak2 itu bukan saja memberatkan petani untuk >> meningkatkan kesejahteraan, tapi juga membuat petani MALAS BEKERJA, ... >> >> Salam, >> ChanCT >> >> >> *From:* kh djie [email protected] [GELORA45] >> *Sent:* Sunday, July 9, 2017 3:27 AM >> *To:* Jonathan Goeij ; Gelora45 >> *Subject:* [GELORA45] Re: Pajak petani tebu >> >> >> >> Ya, memang masih akan dibicarakan lebih jauh oleh Sri Mulyani. Dengan >> siapa ? Jokowi ? >> Sri Muljani minta semua keberatan ditulis. Jokowi pasti dapat copynya ? >> Wah, ini yang bakal kesentil menteri pertaniannya, yang tidak memungkinkan >> petani bayar pajak karena hasil tebu per hektare dan rendement tebu rendah >> karena tidak tersedianya bibit unggul, pupuk, irigasi, bantuan keuangan >> untuk menanam. >> Masa Si Mulyani bakal ngawur, masa pajak tebu 10%, akan jauh lebih besar >> dari pada pajak dari suatu keuntungan ? >> Ada yang bilang, pajak ebu 10 % itu dikenakan bukan pada petani tebu ? >> tetapi kalau dibayar berupa gula ? Jadi yang kena pajak gulanya ? >> Ini ada sedikit tulisan : >> REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Keputusan Kementerian Keuangan menetapkan >> pajak 10 persen untuk para petani tebu dianggap akan menguntungkan para >> petani. Sebab, para petani tebu tersebut lebih efisien. >> >> "Biar mereka fokus pada tebu saja, tidak sampai ke gula," kata Direktur >> Tanaman Semusim Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Agus >> Wahyudi saat dihubungi *Republika*, Kamis (6/7). Selama ini, para petani >> menggunakan sistem bagi hasil sehingga petani mendapatkan gula. >> >> >> 2017-07-08 20:13 GMT+02:00 [email protected] [GELORA45] < >> [email protected]>: >> >>> Melihat contoh yg diberikan kelihatannya PPN 10 persen itu dari harga >>> jual, bukannya dari keuntungan. Dus, pada kenyataannya sangat besar sekali, >>> ambil contoh katakanlah modal 9.000 dgn harga jual 11.000 pajak yg dibayar >>> 1.100 sementara keuntungan bersih cuman 900. Pajak yg sangat mencekik. >>> >>> Apa yg Sri Mulyani bilang itu baru omongan yg tidak dituangkan secara >>> tertulis dalam bentuk peraturan/ketentuan sedang peraturannya sendiri ya >>> PPN 10 persen. >>> >>> kutipan: >>> Dalam kaitan ini, kalau harga gula petani dibuat maksimal sesuai Surat >>> Menteri Perdagangan Rp11.000/kg dan masih harus membayar PPN 10 persen, >>> berarti nilai harga gula petani yang diterima adalah Rp11.000/kg – PPN 10 >>> persen = Rp 9.900/kg. >>> >>> ---In [email protected], <djiekh@...> wrote : >>> >>> Pajak daerah ada yang naik, tergantung daerah, masuknya untuk biaya >>> pemerintah daerah, bukan ke pusat ? >>> Pajak pemerintah yang diterapkan oleh Sri Mulyani pada petani tebu, >>> memang katanya sesuai peraturan yang sudah lama ada ?, tetapi mungkin tidak >>> ada atau sedikit hasilnya, karena petani tebu hidupnya pas-pasan saja? . >>> Akhinya Sri Mulyani bilang, kalau diterapkan ternyata petani rugi, tidak >>> dijalankan. Dan juga baru berlaku untuk petani tebu dengann hasil lebih >>> dari 50 juta setahun. >>> Kelihatannya baru bisa dipajaki kalau petani untung besar, kalau dapat >>> bibit unggul, dapat bantuan pupuk, adanya pabrik gula modern hingga >>> rendemen gula naik ? Jadinya, secara tak langsung, menteri pertaniannya >>> yang kena sentil, yang harus berusaha memakmurkan petani tebu dulu ?. Kalau >>> hasil tebu dan rendemennya rendah, ya tidak bisa dipajaki ? >>> Kutipan : >>> >>> Jakarta – Ketua Umum Dewan Pembina Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani >>> Tebu Rakyat Indonesia (DPP APTRI) HM Arum Sabil menyatakan optimistis para >>> petani tebu dapat menjadi teladan dalam ketaatan membayar pajak. >>> >>> “Petani tebu siap menjadi teladan dalam ketaatan membayar pajak,” kata >>> Arum dalam keterangan persnya usai pertemuan dengan perwakilan petani tebu >>> seluruh Indonesia dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, >>> Rabu. >>> >>> Materi utama pertemuan perwakilan petani tebu yang tergabung dalam APTRI >>> dengan Menteri Keuangan yang didampingi jajaran pejabat Kementerian >>> Keuangan dan Bea Cukai itu adalah tentang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) >>> Gula Petani. >>> >>> Menurut Ketua Umum Dewan Pembina DPP APTRI, para petani bahkan siap ikut >>> berperan menjadi bagian dan berjuang bersama negara dalam melakukan >>> pembangunan ekonomi di sektor pertanian. >>> >>> Ia juga menyampaikan kepada Menteri Keuangan bahwa Menteri Perdagangan >>> telah menetapkan aturan harga jual gula petani tebu tidak boleh lebih dari >>> Rp11.000 per kilogram. >>> >>> Dalam kaitan ini, kalau harga gula petani dibuat maksimal sesuai Surat >>> Menteri Perdagangan Rp11.000/kg dan masih harus membayar PPN 10 persen, >>> berarti nilai harga gula petani yang diterima adalah Rp11.000/kg – PPN 10 >>> persen = Rp 9.900/kg. >>> >>> Di sisi lain, produktifitas tanaman tebu petani rata-rata 75 ton per >>> hektar dan rendemen petani biasanya rata-rata hanya sekitar 7 persen hingga >>> 7,5 persen, sehingga biaya produksi gula mencapai di atas Rp 10.000/kg. >>> >>> Arum juga menegaskan, andaikata produktivitas tanaman tebu bisa >>> mencapai rata-rata 100 ton per hektar dengan rendemen 10 persen, maka biaya >>> produksi gula bisa berada dibawah Rp 7000/kg. >>> >>> “Kalau ini bisa terwujud, para petani tebu pasti dengan semangat dan >>> keikhlasan hati akan menjadi pelopor dalam ketaatan membayar pajak,” >>> tegasnya. >>> >>> Mereka, lanjutnya, juga tidak akan takut bersaing dengan gula impor, >>> karena dengan produktifitas tanaman tebu 100 ton per hektar dan rendemen >>> rata-rata 10 persen, para petani bukan hanya meraih swasembada gula, tetapi >>> juga memiliki daya saing. >>> >>> Ketua Umum Dewan Pembina DPP APTRI juga menguraikan secara rinci bahwa >>> petani tebu sebenarnya bisa dan mudah menanam tebu dengan hasil 100 ton per >>> hektar dan kualitas tebu setara dengan rendemen 10 persen. >>> >>> Namun untuk bisa mencapai hasil seperti itu banyak kendala di luar >>> jangkauan kemampuan petani, antara lain masalah modal usaha, keterbatasan >>> alokasi pupuk bersubsidi, dan aturan batasan penggunaan pupuk bersubsidi >>> yang tidak boleh lebih dari dua hektar. >>> >>> Kendala lain adalah tidak tersedianya kecukupan bibit tebu dengan >>> varietas unggul, minimnya alat mekanisasi, debit air dan insfrastruktur >>> irigasi yang sudah rapuh, kondisi pabrik gula yang sudah harus >>> direvitalisasi serta kacaunya aturan ijin gula impor yang penuh konflik >>> kepentingan. >>> >>> Arum lebih lanjut mengharapkan Menteri Kuangan, Menteri Pertanian, dan >>> Menteri BUMN secara bersama-sama memberikan dorongan kepada Menteri >>> Perdagangan agar mengubah aturan batasan harga eceran tertinggi di tingkat >>> konsumen. >>> >>> Dalam kesimpulan uraiannya, Ketua Umum Dewan Pembina DPP APTRI meminta >>> kearifan dan kebijakan Menteri Keuangan agar PPN Gula Tani dikenakan Rp0 >>> (nol rupiah). >>> >>> Menanggapi masukan tersebut Menteri Keuangan menegaskan bahwa apabila >>> petani merugi, maka gula petani tidak dikenakan PPN. >>> >>> Terkait dengan pengenaan tarif Rp 0 dan segala persoalaan yang >>> disampaikan dalam forum silaturahim tersebut, Menteri Keuangan meminta agar >>> masukan dan usulan itu dituangkan dalam surat resmi. >>> >>> Sementara itu terkait masalah pengenaan PPN Gula Petani, Menteri >>> Keuangan menegaskan agar para petani tebu tidak usah risau serta meminta >>> mereka tetap melakukan aktivitas menanam tebu dan menjual gula sebagaimana >>> biasanya. >>> >>> Ia juga menegaskan, petani tebu yang pendapatannya di bawah Rp >>> 50.000.000 (lima puluh juta) per tahun tidak dikenakan pajak. >>> >>> >> >> >> >> > >
