Belum selesai sudah terkirim.
Jangan lupa Indonesia dimasukkan dalam G20 (dan Jokowi sangat bangga!!!! bagi
saya sungguh memalukan, karena dia tidak "sadar" akan perannya di situ) dan
tunduk pada lembaga-lembaga imperialis seperti WTO dan IMF. Tahukah anda apa
artinya ketika kita "dipuji" oleh kaum imperialis dan lembaganya!! Anda juga
tahu bahwa Indonesia sangat senang ikut dalam perjanjian-perjanjian dagang
bebas yang disponsori kaum imperialis, bukan?Dengan dijadikannya modal monopoli
asing sebagai tuan di negeri kita dengan diberi segala keleluasaan untuk dapat
mengeruk "incredible profit" yang dijanjikan Jokowi, apakah masih kurang alasan
untuk menyatakan Jokowi antek kaum monopoli asing-imperialis??? Tahukan anda
Jokowi pernah bilang bahkan tanahpun bisa diberikan dengan gratis kepada
pemodal asing!!?? Tahukah anda upah dan kehidupan buruh Indoensia di sebuah
tambang nikel di Sulawesi yang dikelola oleh modal Tiongkok, jauh lebih buruk
dari pada buruh Tiongkok yang bekerja di tambang yang sama? Anda tidak marah
buruh Indonesia didiskriminasi di negerinya sendiri?? Uh, ceritanya masih
sangat panjang berkaitan dengan ketidak adilan dan kesewenang-wenangan yang
dilakukan pemerintah Jokowi terhadap rakyat. Cari saja sendiri dan arahkan
pandangan ke bawah, kepada mereka yang hidup di jenjang paling bawah dalam
masyarakat.
On Friday, August 18, 2017 5:16 PM, Tatiana Lukman
<[email protected]> wrote:
Saya juga bukan ahli teori dan saya tahu bahwa hal ihwal di dunia ini, apalagi
yang menyangkut masyarakat dan sistim ekonomi, sosial dan politik adalah hal
yang sangat kompleks, maka itu dibutuhkan diskusi yang panjang untuk dapat
sampai pada kesimpulan yang mendekati kenyataan. Sudah tentu orang punya
pendapat dan analisanya sendiri berdasarkan pada pengetahuan, pengalaman dan
praktek hidup dan pekerjaannya. Itu normal. Namun yang sangat pokok adalah
titik tolak dan keberpihakan setiap orang ketika dia melakukan analisa atas hal
ihwal itu. Kalau titik tolak dan keberpihakan orang yang berdiskusi sudah
berbeda atau bahkan bertentangan, pastilah kesimpulannya akan sangat jauh
terpisah atau bahkan bertolak belakang.
Soal DPR. Sebagai lembaga, sudah jelas bagi saya, merupakan salah satu lembaga
dalam sebuah sistim politik negeri setengah jajahan setengah feodal. Sejak ORBA
sampai sekarang tidak pernah ada satu peraturan atau undang-undang yang
betul-betul memihak pada rakyat jelata (sepanjang pengetahuan saya yang
pendek). Barangkali saya salah, anda yang tinggal di Indonesia mungkin bisa
menunjukkan kalau ada peraturan atau UU yang dikeluarkan DPR yang memihak
kepada kaum buruh, kaum tani, kaum miskin kota, kaum nelayan, pemuda dan
mahasiswa...
Soal negara mana yang dapat dijadikan contoh melaksanakan sistem sosialis. Bagi
saya jelas: Tiongkok di jaman Mao dan Soviet Uni dibawah Lenin dan Stalin.
Harus diingat bahwa dalam masyarakat sosialis masih ada kelas dan perjuangan
kelas.Sosialisme juga bukan sebuah masyarakat yang sempurna justru karena masih
adanya bukan saja kontradiksi kelas tapi juga kontradiksi antara tingkat hidup
di desa dan di kota, kontradiksi antara kerja fisik dan kerja mental. Harus
juga diingat pembangunan sosialisme dilakukan SELALU di bawah kondisi blokade
ekonomi dan ancaman agresi imperialis. Dalam kenyataannya bukan hanya ancaman,
tapi betul-betul perang, seperti Tkk harus menghadapi perang Korea, Soviet
harus menghadapi agresi Hitler. Lihat saja sekarang bagaimana Korut yang begitu
diisolasi dan dikenakan sanksi bahkan oleh kaum revisionis Tiongkok!! Orang
bisa tidak setuju dengan cara rakyat Korea mengatur masyarakat dan
kehidupannya. Itu adalah hak mereka. Tapi coba lihat bagaimana bencinya AS
terhadap mereka. Apakah kita akan memihak AS??
Adalah absurd dan tak masuk akal kalau orang ingin membandingkan perkembangan
kapitalisme dan welfare state di negeri-negeri eropa barat dengan pembangunan
sosialisme. Kaum sosial demokrat mengembangkan kapitalismenya dengan sepenuhnya
bersandar pada penghisapan terhadap rakyatnya sendiri (tetapi untuk rakyatnya
sendiri mereka kasih jaminan sosial untuk meredam kontradiksi kelas dan
menjauhkan mereka dari perjuangan untuk Sosialisme) dan juga rakyat di
negeri-negeri Dunia Ketiga, penguasaan terhadap sumber alam dan tenaga kerja
murahnya. Singkat kata melalui neo-kolonialisme!!!
Anak anda kerja di New Zealand. Sudah tentu gajihnya tinggi kan? apalagi untuk
ukuran Indonesia. Jelas hidupnya sangat mapan! Jelas dia tidak akan pernah
berkata kapitalisme itu jahat, wong dia hidup makmur dibawah sistim itu.
Seperti banyak orang Indonesia yang tinggal di Belanda. Bahkan orang yang
pernah "kiri" bisa bilang di Belanda tidak ada penghisapan! Yah, karena
hidupnya makmur, tidak kedinginan, tidak kelaparan, punya tempat tinggal,
bahkan bisa berlibur, walaupun hanya terima uitkering!! Karena pada hakekatnya
orang itu sudah tidak tahu apa sebenarnya penghisapan!!! sudah lupa akan nilai
lebih yang dirampas kaum kapitalis monopoli besar!!
Punya anak kerja di luar negeri, biasanya orang tuanya turut "kecipratan"
kemakmurannya. Untunglah keluarga yang demikian. Tapi yang jelas terdapat
jutaan keluarga di Indonesia yang tidak beruntung. Dalam kasus kongkrit saya
sendiri, tiga keponakan yang sekarang dalam keadaan tidak punya pekerjaan!!
Saya tahu keadaan itu bukan kekhususan, tapi keumuman!!!Apakah anda tidak tahu
dan tidak bisa membayangkan kehidupan orang-orang yang digusur, yang dirampas
tanahnya, buruh yang upahnya di bawah UMR ( BTW saudara sepupu saya sendiri
bekerja dengan gajih dibawah 1 juta setengah!!). Sudah tahu berapa upah buruh
pabrik garmen di Tangerang? Tahu berapa gajih guru di daerah-daerah seperti
NTB?? Sudah tahu bagaimana kehidupan buruh perkebunan kelapa sawit?? Anda tahu
konflik tanah di segala pelosok tanah air, seperti Kerawang, pangalengan,
Sumut, Kalbar, Lombok, Sulteng, Batak Karo...Anda tahu dalam konflik begitu,
rakyat selalu dihadapkan pada polisi dan TNI serta preman-preman bayaran
perusahaan? Selalu terjadi kekerasan yang mengakibatkan trauma di kalangan
wanita dan anak-anak. Soal pembakaran hutan dan asap yang sudah jatuh korban,
selama bertahun-tahun, apakah ada tindakan pemerintah yang sungguh-sungguh
berpihak kepada rakyat jelata...dan tindakan kongkrit untuk mencegah terjadinya
pengulangan kejahatan dan bencana itu?
Nah, sekarang datang Perppu ormas yang ditentang keras oleh puluhan ormas dan
lembaga karena akan sangat membahayakan gerakan rakyat.
Saya tahu banyak orang mendukung Jokowi karena "pembangunan" megaproyek
infrasturkturnya yang dianggap "memajukan" dan "memakmurkan" rakyat. Bahkan
utangpun sekarang dibenarkan karena Jokowi yang utang. Kalau anda mengikuti
milis, pasti sudah tahu pendapat saya tentang "pembangunan" yang hanya
menguntungkan kelas menengah keatas dan kaum pemodal asing yang mengeruk
profitnya. Yah, barangkali keluarga anda termasuk kelas itu, makanya sangat
diuntungkan oleh pembangunan itu. Saya dari dulu sampai sekarang tidak pernah
percaya "pembangunan" yang dibiayai utang dan modal asing akan menyelesaikan
masalah kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan antara yang miskin dan kaya.
Bahkan tiongkok kapitalispun yang pertumbuhannya dan infrastrukturnya serta
kaum miliunernya membuat banyak orang kagum, saya tahu banyak sekali
penderitaan yang ditanggung rakyat jelata. Tentu anda tahu tentang buruh-buruh
Tkk yang masuk dan bekerja gelap dan juga melakukan berbagai macam kejahatan di
Indonesia, bukan?
Sejak Suharto, modal asing jadi tuan di negeri kita, sampai sekarang keadaan
kehidupan rakyat jelata sama sengsaranya. Ketidak adilan dan
kesewenang-wenangan, impunitas, jalan terus! Tak satupun janji Jokowi (yang
menguntungkan rakyat dan ekonomi nasional) selama kampanye yang dia tepati.
Kalau saya salah, tolong anda tunjukkan janji Jokowi yang mana yang ia tepati.
On Friday, August 18, 2017 3:14 PM, Harsono Sutedjo <[email protected]>
wrote:
Teman-teman,
Terus terang saya tidak mudeng jika pemerintah Indonesia sekarang ini
disebut antek kaum imperialis, masak sih tidak ada seddikitpun yang
pro-rakyat. Bahwa sistem yang berlaku di Indonesia kapitalisme, itu
sudah jelas; bahwa banyak angggot DPR yang resminya mewakili rakyat
menjadi corong kaum kaputalis yang "luna k" maupun yang sangat
serakah, jelas dapat dilihat. Lalu negara mana yang dapat dijadikan
contoh melaksanakn sistem sosialis, atau belum pernah ada? Bagaimana
dengan negara-negara kapitalis seperti Swedia, Norwegia, Denmark,. New
Zealand. Anak saya bekerja di sebuah perusahaan susu New Zealand,
setahu dia perusahaan itu didirikan oleh koperasi peternak di negara
itu beranggotakan 60.000 peternak. Perusahaan itu beroperasi a.l. di
Indonesia ya sebagai perusahaan kapitalis.
Saya bukan ahli teori apa pun, hanya sekedar melihat bahwa segala
sesuatu itu tidak sederhana, tidak hitam putih, kompleks seperti
halnya selurtuh kehidupan ini.
Salam, Harsutejo.-
Pada tanggal 18/08/17, Tatiana Lukman [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> menulis:
> Makanya tidak aneh dan tidak seharusnya mereka yang menganggap dirinya
> "kiri" heran kalau banyak ormas yang berpendapat bahwa penguasa di
> Indonesia berada dibawah dikte kaum imperialis alias anteknya!! Dan karena
> itu juga imperialisme tetap menjadi musuh nomer satu rakyat Indonesia!! Nah,
> siapa yang merasa sungguh-sungguh "kiri", sudah seharusnya mendukung
> ormas-ormas yang menunjukkan dirinya konsekwen melawan politik pemerintah
> yang jelas-jelas mengabdi kepentingan kaum imperialis, bukan?
>
> On Wednesday, August 16, 2017 8:10 PM, "ajeg [email protected]
> [GELORA45]" <[email protected]> wrote:
>
>
> Dituduh mengatakan "kemerdekaan akan datang dalam tahun 1930”,
> Soekarno menjawab dakwaan pengadilan kolonial Belanda denganpidato berjudul
> 'Indonesia Menggugat' pada 1 Desember 1930.Intinya, ia melantangkan lidah
> Rakyat Indonesia untuk menggugat
> kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme yang memelaratkan
> negeri-negeri jajahan. Dibeberkan bahwa imperialisme-tua sebagai
> sistem mengangkuti bekal-bekal hidup bangsa penjajah, saat itu
> telah melar menjadi raksasa imperialisme-modern. Yakni, sistem
> yang kelak kita kenal sebagai penjajahan gaya-baru (nekolim) dengan
> kedok "kesopanan" perdagangan dan ekonomi.
> Khusus tentang imperialisme di Indonesia, Soekarno mengungkapbahwa raksasa
> imperialisme-modern yang kepala dan tangannya
> tumbuh semakin banyak itu, tentu saja semakin rakus. Dengan kata lain,
> semakin banyak permodalan yang mereka hisap dari negeri ini,semakin
> terbenamlah surga katulistiwa ini ke dalam 4 neraka, yaitu:
> pertama : tetap menjadi negeri pengambilan bekal-bekal hidup orang lain
> kedua : menjadi negeri pengambilan bekal-bekal kebutuhan industri
> asingketiga : menjadi pasar dari industri asingkeempat : menjadi tempat
> usaha raksasa-raksasa asing
>
> Pada kenyataannya, keempat situasi yang diungkap Soekarno 86 tahun
> silam itu masih berlangsung hingga esok, lusa, dan entah berapa dasawarsa
> ke depan.
>
> #yiv4959137182 #yiv4959137182 -- #yiv4959137182ygrp-mkp {border:1px solid
> #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182ygrp-mkp #yiv4959137182hd
> {color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
> 0;}#yiv4959137182 #yiv4959137182ygrp-mkp #yiv4959137182ads
> {margin-bottom:10px;}#yiv4959137182 #yiv4959137182ygrp-mkp .yiv4959137182ad
> {padding:0 0;}#yiv4959137182 #yiv4959137182ygrp-mkp .yiv4959137182ad p
> {margin:0;}#yiv4959137182 #yiv4959137182ygrp-mkp .yiv4959137182ad a
> {color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182ygrp-sponsor #yiv4959137182ygrp-lc
> {font-family:Arial;}#yiv4959137182 #yiv4959137182ygrp-sponsor
> #yiv4959137182ygrp-lc #yiv4959137182hd {margin:10px
> 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182ygrp-sponsor #yiv4959137182ygrp-lc .yiv4959137182ad
> {margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv4959137182 #yiv4959137182actions
> {font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182activity
> {background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182activity span {font-weight:700;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182activity span:first-child
> {text-transform:uppercase;}#yiv4959137182 #yiv4959137182activity span a
> {color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv4959137182 #yiv4959137182activity
> span span {color:#ff7900;}#yiv4959137182 #yiv4959137182activity span
> .yiv4959137182underline {text-decoration:underline;}#yiv4959137182
> .yiv4959137182attach
> {clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
> 0;width:400px;}#yiv4959137182 .yiv4959137182attach div a
> {text-decoration:none;}#yiv4959137182 .yiv4959137182attach img
> {border:none;padding-right:5px;}#yiv4959137182 .yiv4959137182attach label
> {display:block;margin-bottom:5px;}#yiv4959137182 .yiv4959137182attach label
> a {text-decoration:none;}#yiv4959137182 blockquote {margin:0 0 0
> 4px;}#yiv4959137182 .yiv4959137182bold
> {font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv4959137182
> .yiv4959137182bold a {text-decoration:none;}#yiv4959137182
> dd.yiv4959137182last p a
> {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4959137182 dd.yiv4959137182last p
> span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4959137182
> dd.yiv4959137182last p span.yiv4959137182yshortcuts
> {margin-right:0;}#yiv4959137182 div.yiv4959137182attach-table div div a
> {text-decoration:none;}#yiv4959137182 div.yiv4959137182attach-table
> {width:400px;}#yiv4959137182 div.yiv4959137182file-title a, #yiv4959137182
> div.yiv4959137182file-title a:active, #yiv4959137182
> div.yiv4959137182file-title a:hover, #yiv4959137182
> div.yiv4959137182file-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv4959137182
> div.yiv4959137182photo-title a, #yiv4959137182 div.yiv4959137182photo-title
> a:active, #yiv4959137182 div.yiv4959137182photo-title a:hover,
> #yiv4959137182 div.yiv4959137182photo-title a:visited
> {text-decoration:none;}#yiv4959137182 div#yiv4959137182ygrp-mlmsg
> #yiv4959137182ygrp-msg p a span.yiv4959137182yshortcuts
> {font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv4959137182
> .yiv4959137182green {color:#628c2a;}#yiv4959137182 .yiv4959137182MsoNormal
> {margin:0 0 0 0;}#yiv4959137182 o {font-size:0;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182photos div {float:left;width:72px;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182photos div div {border:1px solid
> #666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182photos div label
> {color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182reco-category {font-size:77%;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182reco-desc {font-size:77%;}#yiv4959137182 .yiv4959137182replbq
> {margin:4px;}#yiv4959137182 #yiv4959137182ygrp-actbar div a:first-child
> {margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv4959137182 #yiv4959137182ygrp-mlmsg
> {font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean,
> sans-serif;}#yiv4959137182 #yiv4959137182ygrp-mlmsg table
> {font-size:inherit;font:100%;}#yiv4959137182 #yiv4959137182ygrp-mlmsg
> select, #yiv4959137182 input, #yiv4959137182 textarea {font:99% Arial,
> Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv4959137182 #yiv4959137182ygrp-mlmsg pre,
> #yiv4959137182 code {font:115% monospace;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182ygrp-mlmsg #yiv4959137182logo
> {padding-bottom:10px;}#yiv4959137182 #yiv4959137182ygrp-msg p a
> {font-family:Verdana;}#yiv4959137182 #yiv4959137182ygrp-msg
> p#yiv4959137182attach-count span
> {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv4959137182 #yiv4959137182ygrp-reco
> #yiv4959137182reco-head {color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182ygrp-reco {margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182ygrp-sponsor #yiv4959137182ov li a
> {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182ygrp-sponsor #yiv4959137182ov li
> {font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv4959137182
> #yiv4959137182ygrp-sponsor #yiv4959137182ov ul {margin:0;padding:0 0 0
> 8px;}#yiv4959137182 #yiv4959137182ygrp-text
> {font-family:Georgia;}#yiv4959137182 #yiv4959137182ygrp-text p {margin:0 0
> 1em 0;}#yiv4959137182 #yiv4959137182ygrp-text tt
> {font-size:120%;}#yiv4959137182 #yiv4959137182ygrp-vital ul li:last-child
> {border-right:none !important;}#yiv4959137182
>
>