si Nesare mau bilang saya kiri kanan tengah memangnya mau peduli amat, ngambil 
kutipan2 lama juga di-potong2 asal comot diskusi tentang apa tahun berapa 
konteksnya tentang apa semuanya dicampur aduk twist kiri kanan, kondisi yg 
dibicarakan 2-3 th lalu dgn sekarang juga tidak sama. 

 Kalau ditanya golongan apa ya saya memilih golongan mereka yang pakai akal 
sehat berdasarkan nurani, selama ini saya lihat dan cocok yg diangkat kelompok 
democrat di US seperti universal health care, equality, education for all, tax 
progressive, imigration apalagi karena republikan tidak punya konsep yg jelas 
ditambah Trump yg ngaco bukan kepalang  jadi tidak ragu2 utk jadi registered 
democrat.
 

 tapi topi apa aja dari Nesare ya no problemlah ha ha ha.


---In [email protected], <jetaimemucho1@...> wrote :

 Nesare ini ingin supaya orang TIDAK melihat Jonathan sebagai orang kiri. 
Padahal saya sendiri tidak pernah memberi kualifikasi kepada Jonathan sebagai 
orang kiri atau kanan. Kualifikasi yang jelas hanya saya kasih kepada Chan 
sebagai remo, yang memang saya kenal lama dan saya tahu isi kepalanya sejak 
lama dan saya saksikan sekarang bagaimana perubahan isi kepalanya. Hanya dalam 
diskusi sering kali Jonathan mengerti dan menyetujui berita yang saya 
postingkan.
 

 Saya dapat topi juga dari Nesare: kiri radikal, ekstrim kiri. Sekarang 
ditambah lagi, saya punya masalah dengan sifat pribadi yang membuat saya 
subjektif!! Ooo, malah saya eprnah dituduh "fundamentalis"!!! Ha...ha...
 Sedangkan Nesare sendiri mengaku pendukung nasakom. Tapi melihat selama ini 
pendapat yang ia tampilkan dalam diskusi langsung dan tak langsung, saya 
bertanya-tanya sendiri di mana sifatnya yang mendukung Nasakom. Yang jelas 
sangat menonjol caranya untuk "membantu" rakyat, yaitu dengan mendukung 
kebijakan Jokowi: dukung penanaman modal asing, "pembangunan" yang sebetulnya 
mengabdi kelas menengah keatas dan para oligarki yang berkuasa dan para pemodal 
asing dan swasta.  Itu sudah cukup bagi saya untuk mengetahui jalan pikiran si 
Nesare.
 

 Jadi Nesare merasa dirinya kiri, dan kiri yang benar. sedangkan orang lain 
seperti saya adalah kiri radikal yang mau menerapkan sekarang "komunisme" di 
Indonesia. Makanya dia juga menuduh Roeslan mau "menasionalisasi a la 
komunis"!!!! Ha...ha..ha
 


 On Monday, September 4, 2017 9:11 PM, "Roeslan roeslan12@... [GELORA45]" 
<[email protected]> wrote:

 

   
 Nampaknya bung Nesare ini telah menjadi murit setianya Orde baru  Suharto, 
sehingga kejangkitan penyakit Komunistophobi, ini tercermin dalam tulisannya 
yang menyatakan bahwa Nasionalissi roeslan ala komunis.  Wah hebat betul cuci 
otak yang telah dilakukan oleh rezim militerfasis suharto, sampai sampai 
seorsng terpelajar seperti  Nesare tak bisa  membedakan antara nasionalisasi 
dengan komunisme.
 Setiap orang bilang Nasionalisasi lalu distempel Komunis. Ini membutikan bahwa 
nesara itu sejatinya adalah murit yang paling setia pada Rezim milkiter fasis 
Suharto. Saya tidak yakin bahwa Nesare  bisa memahami apa yang dutulis  di 
Wikipedia Indonesia, bahwa NASIONALISASI ADALAH PROSES DI MANA NEGARA MENGAMBIL 
ALIH KEPEMILIKAN SUATU PERUSAHAAN MILIK SWASTA ATAU ASUNG.  Mengambil alih itu 
artinya seluruh perusahaan (100%) disita tanpa bayar sepeserpun. Kutipan 
Wikipedia Indonesia dibawah ini saya ambil dari Google (bukan karangan saya). 
Sekarang ganti bung harus menjelaskan apa yang bung maksud Nasionalisasi ala 
komunis harap bung jelaskan secara ilmiah!!! Ini penting buat kita semua. 
  
 Semoga bung bisa sembuh dari penyakit komunistophobi.
  
 Roeslan.
  
  
 WIKIPEDIA INDONESISA 
 Nasionalisasi 
 Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
 Nasionalisasi adalah proses di mana negara 
https://id.wikipedia.org/wiki/Negara mengambil alih kepemilikan suatu 
perusahaan https://id.wikipedia.org/wiki/Perusahaan milik swasta 
https://id.wikipedia.org/wiki/Swasta atau asing. Apabila suatu perusahaan 
dinasionalisasi, negara yang bertindak sebagai pembuat keputusan. Selain itu 
para pegawainya menjadi pegawai negeri 
https://id.wikipedia.org/wiki/Pegawai_negeri. Lawan dari nasionalisasi adalah 
privatisasi https://id.wikipedia.org/wiki/Privatisasi.
  
 
  
 Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Sonntag, 3. September 2017 17:02
An: [email protected]
Betreff: RE: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung


  
   
 Hehehehehe dulu dengan sombongnya bilang nasionalisasi (eh nasionalisasi yg 
ente maksud = beli saham) freeport. Sekarang rejim Jokowi sudah setuju beli 51% 
saham yg duitnya gak tahu dari mana, eh ente ngomong ini seperti menyuntik duit.
 Sombongnya (baca: gobloknya) minta ampun. Persoalan freeport itu bukan hanya 
persoalan bisnis saja. Itu persoalan “Corporate America” yg menjadi soko guru 
negara ente. Disinggung sedikit saja bisa ngamuk negara ente. Kenapa ngamuk? 
Karena “Corporate America” itu adalah alat yg digunakan utk menjajah dalam 
sejarah modern dunia ini terutama setelah menang PD2.
 Baca tulisan chan yg gak sok tahu. Teknis main saham nya saja ente ngak ngerti 
(mana ngerti ente kalau jual beli saham pakai blok blokan?!!). Belum lagi isi 
perut dalamnya freeport. Begitu juga: kemampuan teknis Indonesia dalam 
mengelola; apakah masih feasible utk dikelola; USA kalau marah akan ganggu RI 
tidak plus serangan2 baik langsung maupun pre emptive dll.
  
 SUDAH DIAM KAN?!!! KABUR KEMANA ENTE?!!! 
  
 Ni baca tulisan ente yg dulu:
  
 12/6/2015
 Oon, nasionalisasi itu perlu biaya baik itu di BUMN-kan ataupun di 
provatisasi, terkecuali Indonesia mau menjadi negara "tirai rotan".

---In [email protected] mailto:[email protected], <nesare@... 
mailto:nesare@...> wrote :
 Bung Roeslan ngerti tidak apa yang dimaksud oleh jonathan dengan nasionalisasi 
Freeport itu?
  
 Ini tulisan jonathan selanjutnya: Harga saham Freeport saat ini lagi 
murah2nya, ditambah berita licensing tidak akan diperpanjang harganya bisa 
"dirt-cheap". Saat yang tepat sekali untuk nasionalisasi.
  
 Nasionalisasi Freeport versi jonathan itu adalah beli saham Freeport yang 
sedang murah.
 Dia ini lagi ngomong dalam konteks neoliberal.
 Dari dulu jonathan ini sudah saya telanjangi bahwa dia itu bukan democrat. Dia 
ngomongnya adalah registered democratic party di USA. Tetapi isi sebetulnya, 
dia itu adalah anggota partai democrat krn unsur pragmatisme saja, tetapi bukan 
idealisme. Jadi jonathan itu bukan orang kiri.
  
 Beda dengan bung Roeslan yang memang orang kiri. Hati2 kalau menyetujui ide 
seseorang.
  
 Memangnya ini yang dimaksud nasionalisasi bung Roeslan?
  
 Salam
 Nesare
  
  
 From: [email protected] mailto:[email protected] 
[mailto:[email protected] mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, December 04, 2015 2:53 PM
To: [email protected] mailto:[email protected]; 'Jonathan Goeij'
Subject: AW: [GELORA45] Re: #sastra-pembebasan# Soal Freeport, Fokuslah Ke 
Persoalan Pokok: Neokolonialisme!
  
   
 Usulan yang bagus bung JG, saya juga setuju, karena menasionalisasi Freeport 
itu sejalan dengan Pasal 33 UUD45.
  
 Salam, 
  
 Roeslan
  
 Von: [email protected] mailto:[email protected] 
[mailto:[email protected] mailto:[email protected]] 
Gesendet: Freitag, 4. Dezember 2015 21:31
An: [email protected] mailto:[email protected]
Betreff: [GELORA45] Re: #sastra-pembebasan# Soal Freeport, Fokuslah Ke 
Persoalan Pokok: Neokolonialisme!
  
  
 Saya kok setuju Freeport di nasionalisasi, dengan demikian kepentingan US di 
Papua akan berkurang banyak bahkan mungkin tidak ada lagi, resolusi PBB agar 
diadakan referendum penentuan nasib sendiri bisa gol karena tidak ada lagi 
negara besar yg menghalangi.

---In [email protected] mailto:[email protected], <lusi_d@... 
mailto:lusi_d@...> wrote :

Karakter penguasa pemerintahan Indonesia sekarang ini komprador atau
bukan? Apa mungkin komprador mensita milik tuannya?
  
 From: [email protected] mailto:[email protected] 
[mailto:[email protected] mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, September 2, 2017 10:22 AM
To: [email protected] mailto:[email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung


  
   
 
Melihat apa yg akan dilakukan dgn divestasi 51% ini, kok sepertinya pihak 
Indonesia jadinya kayak menyuntik dana. Freeport Indonesia go public di BEJ dan 
telah terjamin ada yg beli 51% sahamnya.

---In [email protected] mailto:[email protected], <SADAR@... 
mailto:SADAR@...> wrote :
 Dilihat sepintas apa yang bung ajukan point ketiga itu ada betulnya! Tapi, 
apakah masalah Freeport, tambang emas terbesar di Nusantara ini begitu 
sederhana? Kalau begitu sederhana kenapa pula kedua-b elah pihak, RI dan 
Freeport saling ngotot bertahan pada pendapat masing-masing, dan diahri 
terakhir pihak Freeport baru ngalah dan bersedia devestasi untuk bisa 
memperpanjang KK sampai 2041? Apa dan dimana masalahnya? PASTI KEUNTUNGAN yang 
masih bisa didapat lebih BESAR! Bagi siapa? RI atau Freeport yang lebih 
diuntungkan, ..?

  

 Saya melihat KESALAHAN pihak RI, dari penandatanganan menyerahkan Freeport 
membuka tambang emas ini di tahun 1967! Dimana Suharto sepenuhnya menyerahkan 
pada Freeport tanpa ada usaha memperjuangkan keuntungan/kepentingan bangsa dan 
rakyat Indonesia sebagai PEMILIK HARTA BUMI kekayaan Nusantara ini! Disini 
perbedaan PRINSIP antara Suharto dan Deng saat jalankan politik buka-pintu, 
mengundang masuk MODAL-ASING! Deng b erusaha dengan masuk modal-asing, rakyat 
TIongkok bisa diuntungkan, belajar dan akhirnya menguasai usaha yang dijalankan 
itu! Tidak lebih dari 20 tahun, rakyat Tiongkok bisa menguasai dan bikin 
sendiri segala produksi yang dikerjakan modal-asing itu! Bahkan dengan prinsip 
BERDIKARI, KREATIF, rakyat Tiongkok berhasil mengembangkan prinsip-prinsip 
teknologi yang berhasil dikuasai itu! Sedang Suharto, TIDAK! Yang 
diperhitungkan berapa besar KOMISI yang bisa masuk kantong sendiri, bagaimana 
kesejahteraan rakyat tidak peduli, ... begitulah akhirnya rakyat banyak tetap 
menderita kemiskinan, ekonomi nasional belum berhasil keluar dari lembah 
keterpurukkan sampai sekarang. 

  

 Yang menjadi problem Freeport kalau dihentikan KK di tahun 2021, sudah bisa 
dan mampukah RI meneruskannya sendiri? Pertanyaan yang harus diperhitungkan 
serius oleh pemerintah untuk menjamin kelanjutan kerja buruh Freeport yang 
jumlahnya belasan atau puluhan ribu itu! Kalau masih belum mampu, tentu ada 2 
cara, melanjutkan KK Freeport atau menemukan modal-asing lain. Nampaknya RI 
memilih Freeport bisa meneruskan dgn bisa memberikan keuntungan LEBIH BESAR 
pada RI! Saya tidak tahu bagaimana perhitungan rinci RI mengambil cara minta 
51% saham dan menaikkan pajak penghasilan/keuntungan Freeport sebagai jalan 
yang dianggap paling baik, dengan membiarkan Freeport menerusakan usaha sampai 
2041. Dan jelas, areal operasi tambang diperluas entah sampai kemana-mana! Dan 
sangat saya sesalkan, ... dalam perjanjian perpanjangan KK itu, kemungkinan 
juga tidak menegaskan KEHARUSAN pihak Freeport mengoper teknologi penampangan 
pada pihak pekerja Indonesia! Agar pihak Indonesia bisa menjalani sendiri usaha 
tambang emas itu sebelum emasnya habis diangkut ke AS!

  

 Salam,

 ChanCT

  

  

 From: Jonathan Goeij jonathangoeij@... [GELORA45] 

 Sent: Saturday, September 2, 2017 2:59 AM

 To: Yahoogroups 

 Subject: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung



  


   
 Kelihatannya banyak yang bermata jernih bisa melihat hal simple seperti ini.

  

 ---

 Ketiga, Redhi menilai pembelian saham divestasi di masa akan berakhirnya 
Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan yang sesungguhnya merugikan bagi 
Indonesia, karena tanpa membeli saham divestasi pun maka pada tahun 2021 atau 
setelah KK berakhir maka wilayah eks PT Freeport menjadi milik Pemerintah 
Indonesia.

 ...

 30 August 2017 09:10 WITA

 Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung 
http://news.rakyatku.com/read/63302/2017/08/30/kuasai-51-saham-freeport-indonesia-tak-memiliki-untung
 Editor: Adil Patawai Anar


 


 RAKYATKU.COM - Pengamat Energi dan Sumberdaya Alam Universitas Tarumanegara, 
Ahmad Redhi menilai disetujuinya poin kesepakatan melalui perundingan antara 
PTFI dan Pemerintah, sesungguhnya tidak memberikan keuntungan bagi Pemerintah 
Indonesia. Hal ini karena, poin-poin kesepakatan perundingan mengandung masalah.

  

 Ia menilai, Pemberian IUPK kepada PT Freeport tidak sesuai dengan UU Minerba. 
Menurut UU Minerba IUPK dapat diberikan melalui penetapan WPN yang harus 
disetujui DPR. IUPK pun diprioritaskan diberikan kepada BUMN.

  

 Kedua, Pembangunan smelter merupakan kewajiban lama PT Freeport yang di waktu 
yang lalu pun diperjanjikan oleh PT Freeport untuk dibangun. Namun hingga saat 
ini belum ada progres terkait hal tersebut.

  

 "Toh hingga detik ini pun tidak terbangun. Harusnya pemerintah punya langkah 
strategis untuk bisa menekan Freeport untuk bisa konsekuen dengan janji ini," 
ujar Redhi, dilansir republika.co.id, Rabu (29/8/2017).

  

 Ketiga, Redhi menilai pembelian saham divestasi di masa akan berakhirnya 
Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan yang sesungguhnya merugikan bagi 
Indonesia, karena tanpa membeli saham divestasi pun maka pada tahun 2021 atau 
setelah KK berakhir maka wilayah eks PT Freeport menjadi milik Pemerintah 
Indonesia.

  

 Terkait divestasi saham oleh PT Freeport, sesungguhnya dalam KK perpanjangan 
1991 sudah ada kewajiban divestasi saham PT Freeport yang harusnya pada tahun 
2011 sudah 51 persen dimiliki pemerintah, namun faktanya hingga detik ini 
kewajiban divestasi 51 persen ini tidak juga direalisasikan PT Freeport.

  

 Ia menilai, hasil perundingan ini malah bentuk mengukuhkan kembali PT Freeport 
untuk mengeksploitasi SDA Indonesia yang kemanfaatannya bagi bangsa Indonesia 
sangat rendah. 
"Pemerintah sekarang pun menjadi pewaris potensi masalah PT Freeport 
sebagaimana tahun 1967 dan 1991 ketika Orde baru mewariskan masalah PT Freeport 
kepada generasi saat ini," ujar Redhi.














 





 
 

 
 




 
 
 





  

Kirim email ke