Eeeiiih, ... kok nenek yang satu ini jadi sentimen dan beeenciii banget sama 
gue, ya!!! Tapi awaaaas, lho, begitu kebablasan kebencian itu bisa berubah 
menjadi cintaaa, dan,... kalau nenek jatuh cintaaa gak akan bisa kecabut lagi! 
Hehehee, ...

Salam-benci,
ChanCT



From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 
Sent: Thursday, September 7, 2017 12:44 AM
To: [email protected] ; [email protected] 
Subject: Re: AW: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki 
Untung

  

Ini orang bencinya setengah mati kepada Jonathan. Yang jelas itu bukan urusan 
saya! Tapi Ngatain orang lain subjektif, padahal dari komentarnya, orang bisa 
lihat bagaimana jalan pikirannya yang penuh dengan subjektivisme. Membantah 
bahwa dirinya TIDAK ingin orang lain menganggap Jonathan kiri. Tapi orang kan 
tidak goblok! Dari komentarnya, orang bisa tahu apa yang diinginkan. Dia ingin 
juga supaya saya mencerca Jonathan. Dia tidak ngerti kenapa saya mencerca Chan 
tapi tidak mencerna Jonathan. Ngatain orang lain buta tapi dirinya sendiri buta 
tidak bisa mengikuti diskusi dengan baik. Sudah bertahun-tahun saya berdebat 
dengan Chan, dan Chan selalu debat kusir, karena tidak bisa membantah 
argumentasi yang selalu kena ulu hatinya, maka dia selalu mengalihkan perhatian 
dari masalah pokok dan menyeret ke masalah-masalah lain. Chan jelas seorang 
remo pendukung Deng, pendukung kapitalisme dan penghisapan, oportunis dan 
renegad yang meninggalkan pikiran dan cita-citanya sendiri. Saya tidak pernah 
bilang Chan orang tengah. Saya memberi reaksi dan komentar atau bantahan karena 
tulisannya yang sangat menyesatkan. Sedangkan Jonathan, ngapain saya harus 
mencerca dia seperti saya mencerca Chan?? Wong saya tidak pernah diserang 
Jonathan, komentar saya tidak mendapat bantahannya, saya tidak diejek atau 
dikatain atau diberi topi. Lha kan gila saya mencerca dan membenci orang yang 
tidak pernah menyinggung saya. Seandainya dia pura-pura atau musuh dalam 
selimut, atau orang demokrat, ya itu urusan dia.  Saya tidak merasa dirugikan 
oleh komentarnya di milis ini.
Kalau Chan jelas sekali di mana dia berdiri. Dalam soal Freeport saja, dia 
menyinggung, kalau kita menasionalisasi tanpa bayar, kan itu melanggar hukum 
WTO, ....Nah, padahal WTO adalah musuh rakyat!! WTO adalah alat kaum 
imperialis!! Kalau kita ikuti "logika" borjuis dan kapitalis Chan, maka rakyat 
tidak boleh bergerak dan melawan imperialisme serta semua lembaga 
internasionalnya seperti WTO, IMF, Bank Dunia dan segala macam Perjanjian 
Dagang Bebas baik bilateral maupun multilateral. Padahal ormas=ormas progresif 
bahkan pada tingkat internsional justru terus melakukan pendidikan dan gerakan 
penyadaran untuk membelejeti semua kebijakan dan kelicikan lembaga-lembaga 
imperialis tersebut... "Logika" revisionis dan kapitalis Chan menyuruh rakyat 
sabar, karena masih kecil dan tidak kuat melawan Imperialisme dengan semua 
lembaga yang sangat mahakuasa itu, maka harus menerima dulu penghisapan karena 
masih belum bisa dihapuskan...kasarnya jangan neko-neko!!
Lantas bagaimana kita menilai semua pengorbanan rakyat sejak pemberontakan 
1926!! Jutaan nyawa sudah melayang, penderitaan dan siksaan sudah diderita, 
apakah itu sia-sia dan mengajarkan kita untuk diam, sabar, menunggu rejeki dan 
belas kasihan tuan-tuan kapitalis dan imperialis!!! Go to hell with your logic!


Soal ideologi. Adalah kenyataan ideologi kita berbeda. Bagi saya, semua soal 
politik dan ekonomi punya dasar ideologi. Anda tidak setuju. Itu urusan anda. 
Bukan urusan saya, emangnya gue pikirin!! Sudah saya katakan, saya pengikut dan 
berusaha terus mempelajari Marxisme-Leninisme dan fikiran Mao Tsetung. Kalau 
anda ingin mengerti pandangan saya, maka seharusnyalah anda juga mempelajari 
dulu ilmu yang menjadi dasar pemikiran saya. Karena anda merasa sudah pinter 
dan tidak membutuhkan ilmu itu, maka tidak perlu mempelajarinya. Oleh karena 
itu anda tidak akan pernah mengerti apa lagi setuju dengan pikiran dan pendapat 
saya. Justru karena titik tolak kita sudah bertolak belakang, makanya saya 
sering katakan tidak perlu diteruskan diskusinya. Buat anda, saya buta, punya 
masalah dan sifat personal, subjektif, etc. Silahkan!


Contoh lain di mana pengertian kita juga berbeda. anda bilang nasionalisasi 
hanya dilakukan dalam saat revolusi, atau komunisme. Sama sekali tidak! 
Pengertian kita tentang revolusi juga berbeda. Mosadekh adalah PM hasil pilihan 
yang syah dan dia juga melakukan landreform, dan menasionalisasi minyak. apakah 
ketika itu ada revolusi di Iran!! Sama sekali tidak!! Tidak ada revolusi tapi 
ada kontra-revolusi oleh CIA. Maka digulingkanlah Mosadekh! Ketika BK melakukan 
nasionalisasi, bagi saya ketika itu juga tidak ada Revolusi. Ada sebuah situasi 
revolusioner!! tapi bukan revolusi!!


Dan mengapa BK digulingkan? Juga karena dia dicap KOMUNIS karena politiknya 
yang anti nekolim. BK bukan komunis, tapi bagi kaum imperialis kebijakan 
politik BK sudah cukup bahkan terlalu "kiri" sehingga mereka sudah mengaggap 
dia "komunis". Ada beberapa penulis Amerika yang justru mengkritik analisa dan 
stempel "komunis" yang dijatuhkan pada BK...


Buat anda pengetahuan ekonomi saya cetek... Memang saya bukan seroang ahli 
ekonomi seperti Menkeu..Saya berusaha mempelajari  ekonomi politik Marxis yang 
saya anggap cukup untuk memberi saya kemampuan  melihat dari tulisan dan 
komentar anda, dimana anda berdiri dan kepada siapa berpihak. Semakin kelihatan 
dan anda sendiri menyatakan pendapat positif terhadap Chan. Nah, itu semakin 
membuktikan bahwa pendapat saya tentang anda betul!! 



On Tuesday, September 5, 2017 12:58 AM, "[email protected] [GELORA45]" 
<[email protected]> wrote:




  
Bukan!
Saya bukan mau orang lain tidak melihat sijonathan sbg orang kiri.
Bagi saya jelas dia bukan orang kiri. Dia itu orang democrat. Ini sosialisme 
ditengah yg bung benci. Sadar tidak? chan juga ditengah bung cerca setengah 
mati. Sijonathan juga ditengah bung anggap temen.

Ini yg saya ingin katakan. Jelas roeslan tidak tahu itu. Ini terbukti dari 
diskusi yg dulu dan saya cuplik belum lama ini.

Apakah saya salah mengatakan bung punya masalah pribadi dan subjektif? Saya 
yakin tidak. Asumsi saya jelas bung anti chan ttp manggut2 dgn sijonathan. Bung 
bilang tidak tahu sijonathan kiri atau kanan. Lah selama ini memangnya bung 
bukannya mengiyakan setiap tulisannya sijonathan? Sudah banyak yg saya kupas. 
Kalau saya tanya dan ajak diskusi bung kabur. Setiap yg saya tulis itu adalah 
benar krn membuka kesalahan sijonathan terutama lagi ngomong bisnis ekonomi. 
Kan bung bawa2 semua diskusi itu ke ranah ideologi. Ini kan trade mark bung! 

Sedikit2 masalah bisnis ekonomi bung bawa ke ideologi. Saya dengan sabar 
membeberkan artinya bisnis ekonomi yg fundamental saja sijonathan banyak 
salahnya. Jelas sekali pengatahuan bung dan roeslan ttg bisnis ekonomi itu 
cetek. Sayangnya bung bela2 dia dan menggeneralkan dgn kalimat2 seperti ini: 
“saya sudah tahu nesare dipihak mana” dll. Seakan2 bung tahu saya itu dikanan 
dan lebih lucu lagi oligarki. Dari mana bung bisa tahu saya itu setuju dgn 
oligarki dan dikanan? Mana ada tulisan/ide saya yg mengarah kesitu? Saya sudah 
diskusi panjang lebar dengan jeffry winters ttg oligarchy. Bung gak tahu saya. 
Jangan meraba2. Coba diskusi. Lihat pendapat lawan diskusan bung. Jangan 
langsung melabrak orang lain terutama yg berlawanan ideologi. Ini juga yg bikin 
bung buta.

Bung tidak sadar dan tidak mengerti ketika saya mengkritik bung bahwa bung 
buta. Disinila juga butanya bung atas sijonathan. Sekarang bung lari dgn 
menulis “Padahal saya sendiri tidak pernah memberi kualifikasi kepada Jonathan 
sebagai orang kiri atau kanan”.

Coba pikir baek2 klaim bung thd chan dan sijonathan! Lalu simak baek2 dgn ide2 
bung dalam mengkaitkan bisnis ekonomi dan membela rakyat dengan ideologi.

Nesare


From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, September 4, 2017 3:36 PM
To: [email protected]; [email protected]; Roeslan 
<[email protected]>
Cc: Yahoogroups <[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD 
<[email protected]>
Subject: Re: AW: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki 
Untung

Nesare ini ingin supaya orang TIDAK melihat Jonathan sebagai orang kiri. 
Padahal saya sendiri tidak pernah memberi kualifikasi kepada Jonathan sebagai 
orang kiri atau kanan. Kualifikasi yang jelas hanya saya kasih kepada Chan 
sebagai remo, yang memang saya kenal lama dan saya tahu isi kepalanya sejak 
lama dan saya saksikan sekarang bagaimana perubahan isi kepalanya. Hanya dalam 
diskusi sering kali Jonathan mengerti dan menyetujui berita yang saya 
postingkan.

Saya dapat topi juga dari Nesare: kiri radikal, ekstrim kiri. Sekarang ditambah 
lagi, saya punya masalah dengan sifat pribadi yang membuat saya subjektif!! 
Ooo, malah saya eprnah dituduh "fundamentalis"!!! Ha...ha...
Sedangkan Nesare sendiri mengaku pendukung nasakom. Tapi melihat selama ini 
pendapat yang ia tampilkan dalam diskusi langsung dan tak langsung, saya 
bertanya-tanya sendiri di mana sifatnya yang mendukung Nasakom. Yang jelas 
sangat menonjol caranya untuk "membantu" rakyat, yaitu dengan mendukung 
kebijakan Jokowi: dukung penanaman modal asing, "pembangunan" yang sebetulnya 
mengabdi kelas menengah keatas dan para oligarki yang berkuasa dan para pemodal 
asing dan swasta.  Itu sudah cukup bagi saya untuk mengetahui jalan pikiran si 
Nesare.

Jadi Nesare merasa dirinya kiri, dan kiri yang benar. sedangkan orang lain 
seperti saya adalah kiri radikal yang mau menerapkan sekarang "komunisme" di 
Indonesia. Makanya dia juga menuduh Roeslan mau "menasionalisasi a la 
komunis"!!!! Ha...ha..ha

On Monday, September 4, 2017 9:11 PM, "Roeslan [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:

  
Nampaknya bung Nesare ini telah menjadi murit setianya Orde baru  Suharto, 
sehingga kejangkitan penyakit Komunistophobi, ini tercermin dalam tulisannya 
yang menyatakan bahwa Nasionalissi roeslan ala komunis.  Wah hebat betul cuci 
otak yang telah dilakukan oleh rezim militerfasis suharto, sampai sampai 
seorsng terpelajar seperti  Nesare tak bisa  membedakan antara nasionalisasi 
dengan komunisme.
Setiap orang bilang Nasionalisasi lalu distempel Komunis. Ini membutikan bahwa 
nesara itu sejatinya adalah murit yang paling setia pada Rezim milkiter fasis 
Suharto. Saya tidak yakin bahwa Nesare  bisa memahami apa yang dutulis  di 
Wikipedia Indonesia, bahwa NASIONALISASI ADALAH PROSES DI MANA NEGARA MENGAMBIL 
ALIH KEPEMILIKAN SUATU PERUSAHAAN MILIK SWASTA ATAU ASUNG.  Mengambil alih itu 
artinya seluruh perusahaan (100%) disita tanpa bayar sepeserpun. Kutipan 
Wikipedia Indonesia dibawah ini saya ambil dari Google (bukan karangan saya). 
Sekarang ganti bung harus menjelaskan apa yang bung maksud Nasionalisasi ala 
komunis harap bung jelaskan secara ilmiah!!! Ini penting buat kita semua. 

Semoga bung bisa sembuh dari penyakit komunistophobi.

Roeslan.


WIKIPEDIA INDONESISA 
Nasionalisasi 
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Nasionalisasi adalah proses di mana negara mengambil alih kepemilikan suatu 
perusahaan milik swasta atau asing. Apabila suatu perusahaan dinasionalisasi, 
negara yang bertindak sebagai pembuat keputusan. Selain itu para pegawainya 
menjadi pegawai negeri. Lawan dari nasionalisasi adalah privatisasi.


Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Sonntag, 3. September 2017 17:02
An: [email protected]
Betreff: RE: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung

  
Hehehehehe dulu dengan sombongnya bilang nasionalisasi (eh nasionalisasi yg 
ente maksud = beli saham) freeport. Sekarang rejim Jokowi sudah setuju beli 51% 
saham yg duitnya gak tahu dari mana, eh ente ngomong ini seperti menyuntik duit.
Sombongnya (baca: gobloknya) minta ampun. Persoalan freeport itu bukan hanya 
persoalan bisnis saja. Itu persoalan “Corporate America” yg menjadi soko guru 
negara ente. Disinggung sedikit saja bisa ngamuk negara ente. Kenapa ngamuk? 
Karena “Corporate America” itu adalah alat yg digunakan utk menjajah dalam 
sejarah modern dunia ini terutama setelah menang PD2.
Baca tulisan chan yg gak sok tahu. Teknis main saham nya saja ente ngak ngerti 
(mana ngerti ente kalau jual beli saham pakai blok blokan?!!). Belum lagi isi 
perut dalamnya freeport. Begitu juga: kemampuan teknis Indonesia dalam 
mengelola; apakah masih feasible utk dikelola; USA kalau marah akan ganggu RI 
tidak plus serangan2 baik langsung maupun pre emptive dll.

SUDAH DIAM KAN?!!! KABUR KEMANA ENTE?!!! 

Ni baca tulisan ente yg dulu:

12/6/2015
Oon, nasionalisasi itu perlu biaya baik itu di BUMN-kan ataupun di provatisasi, 
terkecuali Indonesia mau menjadi negara "tirai rotan".

---In [email protected], <nesare@...> wrote :
Bung Roeslan ngerti tidak apa yang dimaksud oleh jonathan dengan nasionalisasi 
Freeport itu?

Ini tulisan jonathan selanjutnya: Harga saham Freeport saat ini lagi murah2nya, 
ditambah berita licensing tidak akan diperpanjang harganya bisa "dirt-cheap". 
Saat yang tepat sekali untuk nasionalisasi.

Nasionalisasi Freeport versi jonathan itu adalah beli saham Freeport yang 
sedang murah.
Dia ini lagi ngomong dalam konteks neoliberal.
Dari dulu jonathan ini sudah saya telanjangi bahwa dia itu bukan democrat. Dia 
ngomongnya adalah registered democratic party di USA. Tetapi isi sebetulnya, 
dia itu adalah anggota partai democrat krn unsur pragmatisme saja, tetapi bukan 
idealisme. Jadi jonathan itu bukan orang kiri.

Beda dengan bung Roeslan yang memang orang kiri. Hati2 kalau menyetujui ide 
seseorang.

Memangnya ini yang dimaksud nasionalisasi bung Roeslan?

Salam
Nesare


From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, December 04, 2015 2:53 PM
To: [email protected]; 'Jonathan Goeij'
Subject: AW: [GELORA45] Re: #sastra-pembebasan# Soal Freeport, Fokuslah Ke 
Persoalan Pokok: Neokolonialisme!

  
Usulan yang bagus bung JG, saya juga setuju, karena menasionalisasi Freeport 
itu sejalan dengan Pasal 33 UUD45.

Salam, 

Roeslan

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Freitag, 4. Dezember 2015 21:31
An: [email protected]
Betreff: [GELORA45] Re: #sastra-pembebasan# Soal Freeport, Fokuslah Ke 
Persoalan Pokok: Neokolonialisme!


Saya kok setuju Freeport di nasionalisasi, dengan demikian kepentingan US di 
Papua akan berkurang banyak bahkan mungkin tidak ada lagi, resolusi PBB agar 
diadakan referendum penentuan nasib sendiri bisa gol karena tidak ada lagi 
negara besar yg menghalangi.

---In [email protected], <lusi_d@...> wrote :

Karakter penguasa pemerintahan Indonesia sekarang ini komprador atau
bukan? Apa mungkin komprador mensita milik tuannya?

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, September 2, 2017 10:22 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung

  

Melihat apa yg akan dilakukan dgn divestasi 51% ini, kok sepertinya pihak 
Indonesia jadinya kayak menyuntik dana. Freeport Indonesia go public di BEJ dan 
telah terjamin ada yg beli 51% sahamnya.

---In [email protected], <SADAR@...> wrote :
Dilihat sepintas apa yang bung ajukan point ketiga itu ada betulnya! Tapi, 
apakah masalah Freeport, tambang emas terbesar di Nusantara ini begitu 
sederhana? Kalau begitu sederhana kenapa pula kedua-b elah pihak, RI dan 
Freeport saling ngotot bertahan pada pendapat masing-masing, dan diahri 
terakhir pihak Freeport baru ngalah dan bersedia devestasi untuk bisa 
memperpanjang KK sampai 2041? Apa dan dimana masalahnya? PASTI KEUNTUNGAN yang 
masih bisa didapat lebih BESAR! Bagi siapa? RI atau Freeport yang lebih 
diuntungkan, ..?

Saya melihat KESALAHAN pihak RI, dari penandatanganan menyerahkan Freeport 
membuka tambang emas ini di tahun 1967! Dimana Suharto sepenuhnya menyerahkan 
pada Freeport tanpa ada usaha memperjuangkan keuntungan/kepentingan bangsa dan 
rakyat Indonesia sebagai PEMILIK HARTA BUMI kekayaan Nusantara ini! Disini 
perbedaan PRINSIP antara Suharto dan Deng saat jalankan politik buka-pintu, 
mengundang masuk MODAL-ASING! Deng b erusaha dengan masuk modal-asing, rakyat 
TIongkok bisa diuntungkan, belajar dan akhirnya menguasai usaha yang dijalankan 
itu! Tidak lebih dari 20 tahun, rakyat Tiongkok bisa menguasai dan bikin 
sendiri segala produksi yang dikerjakan modal-asing itu! Bahkan dengan prinsip 
BERDIKARI, KREATIF, rakyat Tiongkok berhasil mengembangkan prinsip-prinsip 
teknologi yang berhasil dikuasai itu! Sedang Suharto, TIDAK! Yang 
diperhitungkan berapa besar KOMISI yang bisa masuk kantong sendiri, bagaimana 
kesejahteraan rakyat tidak peduli, ... begitulah akhirnya rakyat banyak tetap 
menderita kemiskinan, ekonomi nasional belum berhasil keluar dari lembah 
keterpurukkan sampai sekarang. 

Yang menjadi problem Freeport kalau dihentikan KK di tahun 2021, sudah bisa dan 
mampukah RI meneruskannya sendiri? Pertanyaan yang harus diperhitungkan serius 
oleh pemerintah untuk menjamin kelanjutan kerja buruh Freeport yang jumlahnya 
belasan atau puluhan ribu itu! Kalau masih belum mampu, tentu ada 2 cara, 
melanjutkan KK Freeport atau menemukan modal-asing lain. Nampaknya RI memilih 
Freeport bisa meneruskan dgn bisa memberikan keuntungan LEBIH BESAR pada RI! 
Saya tidak tahu bagaimana perhitungan rinci RI mengambil cara minta 51% saham 
dan menaikkan pajak penghasilan/keuntungan Freeport sebagai jalan yang dianggap 
paling baik, dengan membiarkan Freeport menerusakan usaha sampai 2041. Dan 
jelas, areal operasi tambang diperluas entah sampai kemana-mana! Dan sangat 
saya sesalkan, ... dalam perjanjian perpanjangan KK itu, kemungkinan juga tidak 
menegaskan KEHARUSAN pihak Freeport mengoper teknologi penampangan pada pihak 
pekerja Indonesia! Agar pihak Indonesia bisa menjalani sendiri usaha tambang 
emas itu sebelum emasnya habis diangkut ke AS!

Salam,
ChanCT


From: Jonathan Goeij jonathangoeij@... [GELORA45] 
Sent: Saturday, September 2, 2017 2:59 AM
To: Yahoogroups 
Subject: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung

  
Kelihatannya banyak yang bermata jernih bisa melihat hal simple seperti ini.

---
Ketiga, Redhi menilai pembelian saham divestasi di masa akan berakhirnya 
Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan yang sesungguhnya merugikan bagi 
Indonesia, karena tanpa membeli saham divestasi pun maka pada tahun 2021 atau 
setelah KK berakhir maka wilayah eks PT Freeport menjadi milik Pemerintah 
Indonesia.
...
30 August 2017 09:10 WITA
Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung
Editor: Adil Patawai Anar

RAKYATKU.COM - Pengamat Energi dan Sumberdaya Alam Universitas Tarumanegara, 
Ahmad Redhi menilai disetujuinya poin kesepakatan melalui perundingan antara 
PTFI dan Pemerintah, sesungguhnya tidak memberikan keuntungan bagi Pemerintah 
Indonesia. Hal ini karena, poin-poin kesepakatan perundingan mengandung masalah.

Ia menilai, Pemberian IUPK kepada PT Freeport tidak sesuai dengan UU Minerba. 
Menurut UU Minerba IUPK dapat diberikan melalui penetapan WPN yang harus 
disetujui DPR. IUPK pun diprioritaskan diberikan kepada BUMN.

Kedua, Pembangunan smelter merupakan kewajiban lama PT Freeport yang di waktu 
yang lalu pun diperjanjikan oleh PT Freeport untuk dibangun. Namun hingga saat 
ini belum ada progres terkait hal tersebut.

"Toh hingga detik ini pun tidak terbangun. Harusnya pemerintah punya langkah 
strategis untuk bisa menekan Freeport untuk bisa konsekuen dengan janji ini," 
ujar Redhi, dilansir republika.co.id, Rabu (29/8/2017).

Ketiga, Redhi menilai pembelian saham divestasi di masa akan berakhirnya 
Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan yang sesungguhnya merugikan bagi 
Indonesia, karena tanpa membeli saham divestasi pun maka pada tahun 2021 atau 
setelah KK berakhir maka wilayah eks PT Freeport menjadi milik Pemerintah 
Indonesia.

Terkait divestasi saham oleh PT Freeport, sesungguhnya dalam KK perpanjangan 
1991 sudah ada kewajiban divestasi saham PT Freeport yang harusnya pada tahun 
2011 sudah 51 persen dimiliki pemerintah, namun faktanya hingga detik ini 
kewajiban divestasi 51 persen ini tidak juga direalisasikan PT Freeport.

Ia menilai, hasil perundingan ini malah bentuk mengukuhkan kembali PT Freeport 
untuk mengeksploitasi SDA Indonesia yang kemanfaatannya bagi bangsa Indonesia 
sangat rendah. 
"Pemerintah sekarang pun menjadi pewaris potensi masalah PT Freeport 
sebagaimana tahun 1967 dan 1991 ketika Orde baru mewariskan masalah PT Freeport 
kepada generasi saat ini," ujar Redhi.




Kirim email ke