Ini orang bencinya setengah mati kepada Jonathan. Yang jelas itu bukan urusan 
saya! Tapi Ngatain orang lain subjektif, padahal dari komentarnya, orang bisa 
lihat bagaimana jalan pikirannya yang penuh dengan subjektivisme. Membantah 
bahwa dirinya TIDAK ingin orang lain menganggap Jonathan kiri. Tapi orang kan 
tidak goblok! Dari komentarnya, orang bisa tahu apa yang diinginkan. Dia ingin 
juga supaya saya mencerca Jonathan. Dia tidak ngerti kenapa saya mencerca Chan 
tapi tidak mencerna Jonathan. Ngatain orang lain buta tapi dirinya sendiri buta 
tidak bisa mengikuti diskusi dengan baik. Sudah bertahun-tahun saya berdebat 
dengan Chan, dan Chan selalu debat kusir, karena tidak bisa membantah 
argumentasi yang selalu kena ulu hatinya, maka dia selalu mengalihkan perhatian 
dari masalah pokok dan menyeret ke masalah-masalah lain. Chan jelas seorang 
remo pendukung Deng, pendukung kapitalisme dan penghisapan, oportunis dan 
renegad yang meninggalkan pikiran dan cita-citanya sendiri. Saya tidak pernah 
bilang Chan orang tengah. Saya memberi reaksi dan komentar atau bantahan karena 
tulisannya yang sangat menyesatkan. Sedangkan Jonathan, ngapain saya harus 
mencerca dia seperti saya mencerca Chan?? Wong saya tidak pernah diserang 
Jonathan, komentar saya tidak mendapat bantahannya, saya tidak diejek atau 
dikatain atau diberi topi. Lha kan gila saya mencerca dan membenci orang yang 
tidak pernah menyinggung saya. Seandainya dia pura-pura atau musuh dalam 
selimut, atau orang demokrat, ya itu urusan dia.  Saya tidak merasa dirugikan 
oleh komentarnya di milis ini.Kalau Chan jelas sekali di mana dia berdiri. 
Dalam soal Freeport saja, dia menyinggung, kalau kita menasionalisasi tanpa 
bayar, kan itu melanggar hukum WTO, ....Nah, padahal WTO adalah musuh rakyat!! 
WTO adalah alat kaum imperialis!! Kalau kita ikuti "logika" borjuis dan 
kapitalis Chan, maka rakyat tidak boleh bergerak dan melawan imperialisme serta 
semua lembaga internasionalnya seperti WTO, IMF, Bank Dunia dan segala macam 
Perjanjian Dagang Bebas baik bilateral maupun multilateral. Padahal ormas=ormas 
progresif bahkan pada tingkat internsional justru terus melakukan pendidikan 
dan gerakan penyadaran untuk membelejeti semua kebijakan dan kelicikan 
lembaga-lembaga imperialis tersebut... "Logika" revisionis dan kapitalis Chan 
menyuruh rakyat sabar, karena masih kecil dan tidak kuat melawan Imperialisme 
dengan semua lembaga yang sangat mahakuasa itu, maka harus menerima dulu 
penghisapan karena masih belum bisa dihapuskan...kasarnya jangan 
neko-neko!!Lantas bagaimana kita menilai semua pengorbanan rakyat sejak 
pemberontakan 1926!! Jutaan nyawa sudah melayang, penderitaan dan siksaan sudah 
diderita, apakah itu sia-sia dan mengajarkan kita untuk diam, sabar, menunggu 
rejeki dan belas kasihan tuan-tuan kapitalis dan imperialis!!! Go to hell with 
your logic!
Soal ideologi. Adalah kenyataan ideologi kita berbeda. Bagi saya, semua soal 
politik dan ekonomi punya dasar ideologi. Anda tidak setuju. Itu urusan anda. 
Bukan urusan saya, emangnya gue pikirin!! Sudah saya katakan, saya pengikut dan 
berusaha terus mempelajari Marxisme-Leninisme dan fikiran Mao Tsetung. Kalau 
anda ingin mengerti pandangan saya, maka seharusnyalah anda juga mempelajari 
dulu ilmu yang menjadi dasar pemikiran saya. Karena anda merasa sudah pinter 
dan tidak membutuhkan ilmu itu, maka tidak perlu mempelajarinya. Oleh karena 
itu anda tidak akan pernah mengerti apa lagi setuju dengan pikiran dan pendapat 
saya. Justru karena titik tolak kita sudah bertolak belakang, makanya saya 
sering katakan tidak perlu diteruskan diskusinya. Buat anda, saya buta, punya 
masalah dan sifat personal, subjektif, etc. Silahkan!
Contoh lain di mana pengertian kita juga berbeda. anda bilang nasionalisasi 
hanya dilakukan dalam saat revolusi, atau komunisme. Sama sekali tidak! 
Pengertian kita tentang revolusi juga berbeda. Mosadekh adalah PM hasil pilihan 
yang syah dan dia juga melakukan landreform, dan menasionalisasi minyak. apakah 
ketika itu ada revolusi di Iran!! Sama sekali tidak!! Tidak ada revolusi tapi 
ada kontra-revolusi oleh CIA. Maka digulingkanlah Mosadekh! Ketika BK melakukan 
nasionalisasi, bagi saya ketika itu juga tidak ada Revolusi. Ada sebuah situasi 
revolusioner!! tapi bukan revolusi!!
Dan mengapa BK digulingkan? Juga karena dia dicap KOMUNIS karena politiknya 
yang anti nekolim. BK bukan komunis, tapi bagi kaum imperialis kebijakan 
politik BK sudah cukup bahkan terlalu "kiri" sehingga mereka sudah mengaggap 
dia "komunis". Ada beberapa penulis Amerika yang justru mengkritik analisa dan 
stempel "komunis" yang dijatuhkan pada BK...
Buat anda pengetahuan ekonomi saya cetek... Memang saya bukan seroang ahli 
ekonomi seperti Menkeu..Saya berusaha mempelajari  ekonomi politik Marxis yang 
saya anggap cukup untuk memberi saya kemampuan  melihat dari tulisan dan 
komentar anda, dimana anda berdiri dan kepada siapa berpihak. Semakin kelihatan 
dan anda sendiri menyatakan pendapat positif terhadap Chan. Nah, itu semakin 
membuktikan bahwa pendapat saya tentang anda betul!!  

    On Tuesday, September 5, 2017 12:58 AM, "[email protected] [GELORA45]" 
<[email protected]> wrote:
 

     Bukan!Saya bukan mau orang lain tidak melihat sijonathan sbg orang 
kiri.Bagi saya jelas dia bukan orang kiri. Dia itu orang democrat. Ini 
sosialisme ditengah yg bung benci. Sadar tidak? chan juga ditengah bung cerca 
setengah mati. Sijonathan juga ditengah bung anggap temen.  Ini yg saya ingin 
katakan. Jelas roeslan tidak tahu itu. Ini terbukti dari diskusi yg dulu dan 
saya cuplik belum lama ini.  Apakah saya salah mengatakan bung punya masalah 
pribadi dan subjektif? Saya yakin tidak. Asumsi saya jelas bung anti chan ttp 
manggut2 dgn sijonathan. Bung bilang tidak tahu sijonathan kiri atau kanan. Lah 
selama ini memangnya bung bukannya mengiyakan setiap tulisannya sijonathan? 
Sudah banyak yg saya kupas. Kalau saya tanya dan ajak diskusi bung kabur. 
Setiap yg saya tulis itu adalah benar krn membuka kesalahan sijonathan terutama 
lagi ngomong bisnis ekonomi. Kan bung bawa2 semua diskusi itu ke ranah 
ideologi. Ini kan trade mark bung!   Sedikit2 masalah bisnis ekonomi bung bawa 
ke ideologi. Saya dengan sabar membeberkan artinya bisnis ekonomi yg 
fundamental saja sijonathan banyak salahnya. Jelas sekali pengatahuan bung dan 
roeslan ttg bisnis ekonomi itu cetek. Sayangnya bung bela2 dia dan 
menggeneralkan dgn kalimat2 seperti ini: “saya sudah tahu nesare dipihak mana” 
dll. Seakan2 bung tahu saya itu dikanan dan lebih lucu lagi oligarki. Dari mana 
bung bisa tahu saya itu setuju dgn oligarki dan dikanan? Mana ada tulisan/ide 
saya yg mengarah kesitu? Saya sudah diskusi panjang lebar dengan jeffry winters 
ttg oligarchy. Bung gak tahu saya. Jangan meraba2. Coba diskusi. Lihat pendapat 
lawan diskusan bung. Jangan langsung melabrak orang lain terutama yg berlawanan 
ideologi. Ini juga yg bikin bung buta.  Bung tidak sadar dan tidak mengerti 
ketika saya mengkritik bung bahwa bung buta. Disinila juga butanya bung atas 
sijonathan. Sekarang bung lari dgn menulis “Padahal saya sendiri tidak pernah 
memberi kualifikasi kepada Jonathan sebagai orang kiri atau kanan”.  Coba pikir 
baek2 klaim bung thd chan dan sijonathan! Lalu simak baek2 dgn ide2 bung dalam 
mengkaitkan bisnis ekonomi dan membela rakyat dengan ideologi.  Nesare    From: 
[email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, September 4, 2017 3:36 PM
To: [email protected]; [email protected]; Roeslan 
<[email protected]>
Cc: Yahoogroups <[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD 
<[email protected]>
Subject: Re: AW: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki 
Untung    Nesare ini ingin supaya orang TIDAK melihat Jonathan sebagai orang 
kiri. Padahal saya sendiri tidak pernah memberi kualifikasi kepada Jonathan 
sebagai orang kiri atau kanan. Kualifikasi yang jelas hanya saya kasih kepada 
Chan sebagai remo, yang memang saya kenal lama dan saya tahu isi kepalanya 
sejak lama dan saya saksikan sekarang bagaimana perubahan isi kepalanya. Hanya 
dalam diskusi sering kali Jonathan mengerti dan menyetujui berita yang saya 
postingkan.  Saya dapat topi juga dari Nesare: kiri radikal, ekstrim kiri. 
Sekarang ditambah lagi, saya punya masalah dengan sifat pribadi yang membuat 
saya subjektif!! Ooo, malah saya eprnah dituduh "fundamentalis"!!! 
Ha...ha...Sedangkan Nesare sendiri mengaku pendukung nasakom. Tapi melihat 
selama ini pendapat yang ia tampilkan dalam diskusi langsung dan tak langsung, 
saya bertanya-tanya sendiri di mana sifatnya yang mendukung Nasakom. Yang jelas 
sangat menonjol caranya untuk "membantu" rakyat, yaitu dengan mendukung 
kebijakan Jokowi: dukung penanaman modal asing, "pembangunan" yang sebetulnya 
mengabdi kelas menengah keatas dan para oligarki yang berkuasa dan para pemodal 
asing dan swasta.  Itu sudah cukup bagi saya untuk mengetahui jalan pikiran si 
Nesare.  Jadi Nesare merasa dirinya kiri, dan kiri yang benar. sedangkan orang 
lain seperti saya adalah kiri radikal yang mau menerapkan sekarang "komunisme" 
di Indonesia. Makanya dia juga menuduh Roeslan mau "menasionalisasi a la 
komunis"!!!! Ha...ha..ha  On Monday, September 4, 2017 9:11 PM, "Roeslan 
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote:    
Nampaknya bung Nesare ini telah menjadi murit setianya Orde baru  Suharto, 
sehingga kejangkitan penyakit Komunistophobi, ini tercermin dalam tulisannya 
yang menyatakan bahwa Nasionalissi roeslan ala komunis.  Wah hebat betul cuci 
otak yang telah dilakukan oleh rezim militerfasis suharto, sampai sampai 
seorsng terpelajar seperti  Nesare tak bisa  membedakan antara nasionalisasi 
dengan komunisme.Setiap orang bilang Nasionalisasi lalu distempel Komunis. Ini 
membutikan bahwa nesara itu sejatinya adalah murit yang paling setia pada Rezim 
milkiter fasis Suharto. Saya tidak yakin bahwa Nesare  bisa memahami apa yang 
dutulis  di Wikipedia Indonesia, bahwa NASIONALISASI ADALAH PROSES DI MANA 
NEGARA MENGAMBIL ALIH KEPEMILIKAN SUATU PERUSAHAAN MILIK SWASTA ATAU ASUNG.  
Mengambil alih itu artinya seluruh perusahaan (100%) disita tanpa bayar 
sepeserpun. Kutipan Wikipedia Indonesia dibawah ini saya ambil dari Google 
(bukan karangan saya). Sekarang ganti bung harus menjelaskan apa yang bung 
maksud Nasionalisasi ala komunis harap bung jelaskan secara ilmiah!!! Ini 
penting buat kita semua.  Semoga bung bisa sembuh dari penyakit komunistophobi. 
Roeslan.  WIKIPEDIA INDONESISA 
Nasionalisasi 
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebasNasionalisasi adalah proses 
di mana negara mengambil alih kepemilikan suatu perusahaan milik swasta atau 
asing. Apabila suatu perusahaan dinasionalisasi, negara yang bertindak sebagai 
pembuat keputusan. Selain itu para pegawainya menjadi pegawai negeri. Lawan 
dari nasionalisasi adalah privatisasi.  Von: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Gesendet: Sonntag, 3. September 2017 17:02
An: [email protected]
Betreff: RE: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki 
Untung   Hehehehehe dulu dengan sombongnya bilang nasionalisasi (eh 
nasionalisasi yg ente maksud = beli saham) freeport. Sekarang rejim Jokowi 
sudah setuju beli 51% saham yg duitnya gak tahu dari mana, eh ente ngomong ini 
seperti menyuntik duit.Sombongnya (baca: gobloknya) minta ampun. Persoalan 
freeport itu bukan hanya persoalan bisnis saja. Itu persoalan “Corporate 
America” yg menjadi soko guru negara ente. Disinggung sedikit saja bisa ngamuk 
negara ente. Kenapa ngamuk? Karena “Corporate America” itu adalah alat yg 
digunakan utk menjajah dalam sejarah modern dunia ini terutama setelah menang 
PD2.Baca tulisan chan yg gak sok tahu. Teknis main saham nya saja ente ngak 
ngerti (mana ngerti ente kalau jual beli saham pakai blok blokan?!!). Belum 
lagi isi perut dalamnya freeport. Begitu juga: kemampuan teknis Indonesia dalam 
mengelola; apakah masih feasible utk dikelola; USA kalau marah akan ganggu RI 
tidak plus serangan2 baik langsung maupun pre emptive dll. SUDAH DIAM KAN?!!! 
KABUR KEMANA ENTE?!!!  Ni baca tulisan ente yg dulu: 12/6/2015Oon, 
nasionalisasi itu perlu biaya baik itu di BUMN-kan ataupun di provatisasi, 
terkecuali Indonesia mau menjadi negara "tirai rotan".

---In [email protected], <nesare@...> wrote :Bung Roeslan ngerti tidak 
apa yang dimaksud oleh jonathan dengan nasionalisasi Freeport itu? Ini tulisan 
jonathan selanjutnya: Harga saham Freeport saat ini lagi murah2nya, ditambah 
berita licensing tidak akan diperpanjang harganya bisa "dirt-cheap". Saat yang 
tepat sekali untuk nasionalisasi. Nasionalisasi Freeport versi jonathan itu 
adalah beli saham Freeport yang sedang murah.Dia ini lagi ngomong dalam konteks 
neoliberal.Dari dulu jonathan ini sudah saya telanjangi bahwa dia itu bukan 
democrat. Dia ngomongnya adalah registered democratic party di USA. Tetapi isi 
sebetulnya, dia itu adalah anggota partai democrat krn unsur pragmatisme saja, 
tetapi bukan idealisme. Jadi jonathan itu bukan orang kiri. Beda dengan bung 
Roeslan yang memang orang kiri. Hati2 kalau menyetujui ide seseorang. Memangnya 
ini yang dimaksud nasionalisasi bung Roeslan? SalamNesare  From: 
[email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, December 04, 2015 2:53 PM
To: [email protected]; 'Jonathan Goeij'
Subject: AW: [GELORA45] Re: #sastra-pembebasan# Soal Freeport, Fokuslah Ke 
Persoalan Pokok: Neokolonialisme!   Usulan yang bagus bung JG, saya juga 
setuju, karena menasionalisasi Freeport itu sejalan dengan Pasal 33 UUD45. 
Salam,  Roeslan Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Freitag, 4. Dezember 2015 21:31
An: [email protected]
Betreff: [GELORA45] Re: #sastra-pembebasan# Soal Freeport, Fokuslah Ke 
Persoalan Pokok: Neokolonialisme!  Saya kok setuju Freeport di nasionalisasi, 
dengan demikian kepentingan US di Papua akan berkurang banyak bahkan mungkin 
tidak ada lagi, resolusi PBB agar diadakan referendum penentuan nasib sendiri 
bisa gol karena tidak ada lagi negara besar yg menghalangi.

---In [email protected], <lusi_d@...> wrote :

Karakter penguasa pemerintahan Indonesia sekarang ini komprador atau
bukan? Apa mungkin komprador mensita milik tuannya? From: 
[email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, September 2, 2017 10:22 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki 
Untung   
Melihat apa yg akan dilakukan dgn divestasi 51% ini, kok sepertinya pihak 
Indonesia jadinya kayak menyuntik dana. Freeport Indonesia go public di BEJ dan 
telah terjamin ada yg beli 51% sahamnya.

---In [email protected], <SADAR@...> wrote :Dilihat sepintas apa yang 
bung ajukan point ketiga itu ada betulnya! Tapi, apakah masalah Freeport, 
tambang emas terbesar di Nusantara ini begitu sederhana? Kalau begitu sederhana 
kenapa pula kedua-b elah pihak, RI dan Freeport saling ngotot bertahan pada 
pendapat masing-masing, dan diahri terakhir pihak Freeport baru ngalah dan 
bersedia devestasi untuk bisa memperpanjang KK sampai 2041? Apa dan dimana 
masalahnya? PASTI KEUNTUNGAN yang masih bisa didapat lebih BESAR! Bagi siapa? 
RI atau Freeport yang lebih diuntungkan, ..? Saya melihat KESALAHAN pihak RI, 
dari penandatanganan menyerahkan Freeport membuka tambang emas ini di tahun 
1967! Dimana Suharto sepenuhnya menyerahkan pada Freeport tanpa ada usaha 
memperjuangkan keuntungan/kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia sebagai 
PEMILIK HARTA BUMI kekayaan Nusantara ini! Disini perbedaan PRINSIP antara 
Suharto dan Deng saat jalankan politik buka-pintu, mengundang masuk 
MODAL-ASING! Deng b erusaha dengan masuk modal-asing, rakyat TIongkok bisa 
diuntungkan, belajar dan akhirnya menguasai usaha yang dijalankan itu! Tidak 
lebih dari 20 tahun, rakyat Tiongkok bisa menguasai dan bikin sendiri segala 
produksi yang dikerjakan modal-asing itu! Bahkan dengan prinsip BERDIKARI, 
KREATIF, rakyat Tiongkok berhasil mengembangkan prinsip-prinsip teknologi yang 
berhasil dikuasai itu! Sedang Suharto, TIDAK! Yang diperhitungkan berapa besar 
KOMISI yang bisa masuk kantong sendiri, bagaimana kesejahteraan rakyat tidak 
peduli, ... begitulah akhirnya rakyat banyak tetap menderita kemiskinan, 
ekonomi nasional belum berhasil keluar dari lembah keterpurukkan sampai 
sekarang.  Yang menjadi problem Freeport kalau dihentikan KK di tahun 2021, 
sudah bisa dan mampukah RI meneruskannya sendiri? Pertanyaan yang harus 
diperhitungkan serius oleh pemerintah untuk menjamin kelanjutan kerja buruh 
Freeport yang jumlahnya belasan atau puluhan ribu itu! Kalau masih belum mampu, 
tentu ada 2 cara, melanjutkan KK Freeport atau menemukan modal-asing lain. 
Nampaknya RI memilih Freeport bisa meneruskan dgn bisa memberikan keuntungan 
LEBIH BESAR pada RI! Saya tidak tahu bagaimana perhitungan rinci RI mengambil 
cara minta 51% saham dan menaikkan pajak penghasilan/keuntungan Freeport 
sebagai jalan yang dianggap paling baik, dengan membiarkan Freeport menerusakan 
usaha sampai 2041. Dan jelas, areal operasi tambang diperluas entah sampai 
kemana-mana! Dan sangat saya sesalkan, ... dalam perjanjian perpanjangan KK 
itu, kemungkinan juga tidak menegaskan KEHARUSAN pihak Freeport mengoper 
teknologi penampangan pada pihak pekerja Indonesia! Agar pihak Indonesia bisa 
menjalani sendiri usaha tambang emas itu sebelum emasnya habis diangkut ke AS! 
Salam,ChanCT  From: Jonathan Goeij jonathangoeij@... [GELORA45] Sent: Saturday, 
September 2, 2017 2:59 AMTo: Yahoogroups Subject: [GELORA45] Kuasai 51% Saham 
Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung   Kelihatannya banyak yang bermata 
jernih bisa melihat hal simple seperti ini. ---Ketiga, Redhi menilai pembelian 
saham divestasi di masa akan berakhirnya Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan 
yang sesungguhnya merugikan bagi Indonesia, karena tanpa membeli saham 
divestasi pun maka pada tahun 2021 atau setelah KK berakhir maka wilayah eks PT 
Freeport menjadi milik Pemerintah Indonesia....30 August 2017 09:10 WITA
Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung
Editor: Adil Patawai AnarRAKYATKU.COM - Pengamat Energi dan Sumberdaya Alam 
Universitas Tarumanegara, Ahmad Redhi menilai disetujuinya poin kesepakatan 
melalui perundingan antara PTFI dan Pemerintah, sesungguhnya tidak memberikan 
keuntungan bagi Pemerintah Indonesia. Hal ini karena, poin-poin kesepakatan 
perundingan mengandung masalah. Ia menilai, Pemberian IUPK kepada PT Freeport 
tidak sesuai dengan UU Minerba. Menurut UU Minerba IUPK dapat diberikan melalui 
penetapan WPN yang harus disetujui DPR. IUPK pun diprioritaskan diberikan 
kepada BUMN. Kedua, Pembangunan smelter merupakan kewajiban lama PT Freeport 
yang di waktu yang lalu pun diperjanjikan oleh PT Freeport untuk dibangun. 
Namun hingga saat ini belum ada progres terkait hal tersebut. "Toh hingga detik 
ini pun tidak terbangun. Harusnya pemerintah punya langkah strategis untuk bisa 
menekan Freeport untuk bisa konsekuen dengan janji ini," ujar Redhi, dilansir 
republika.co.id, Rabu (29/8/2017). Ketiga, Redhi menilai pembelian saham 
divestasi di masa akan berakhirnya Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan yang 
sesungguhnya merugikan bagi Indonesia, karena tanpa membeli saham divestasi pun 
maka pada tahun 2021 atau setelah KK berakhir maka wilayah eks PT Freeport 
menjadi milik Pemerintah Indonesia. Terkait divestasi saham oleh PT Freeport, 
sesungguhnya dalam KK perpanjangan 1991 sudah ada kewajiban divestasi saham PT 
Freeport yang harusnya pada tahun 2011 sudah 51 persen dimiliki pemerintah, 
namun faktanya hingga detik ini kewajiban divestasi 51 persen ini tidak juga 
direalisasikan PT Freeport. Ia menilai, hasil perundingan ini malah bentuk 
mengukuhkan kembali PT Freeport untuk mengeksploitasi SDA Indonesia yang 
kemanfaatannya bagi bangsa Indonesia sangat rendah. 
"Pemerintah sekarang pun menjadi pewaris potensi masalah PT Freeport 
sebagaimana tahun 1967 dan 1991 ketika Orde baru mewariskan masalah PT Freeport 
kepada generasi saat ini," ujar Redhi.    #yiv5357091296 #yiv5357091296 -- 
#yiv5357091296ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 
0;padding:0 10px;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-mkp hr {border:1px solid 
#d8d8d8;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-mkp #yiv5357091296hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-mkp #yiv5357091296ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-mkp .yiv5357091296ad 
{padding:0 0;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-mkp .yiv5357091296ad p 
{margin:0;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-mkp .yiv5357091296ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-sponsor 
#yiv5357091296ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv5357091296 
#yiv5357091296ygrp-sponsor #yiv5357091296ygrp-lc #yiv5357091296hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv5357091296 
#yiv5357091296ygrp-sponsor #yiv5357091296ygrp-lc .yiv5357091296ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv5357091296 #yiv5357091296actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv5357091296 
#yiv5357091296activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv5357091296
 #yiv5357091296activity span {font-weight:700;}#yiv5357091296 
#yiv5357091296activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv5357091296 #yiv5357091296activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv5357091296 #yiv5357091296activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv5357091296 #yiv5357091296activity span 
.yiv5357091296underline {text-decoration:underline;}#yiv5357091296 
.yiv5357091296attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv5357091296 .yiv5357091296attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv5357091296 .yiv5357091296attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv5357091296 .yiv5357091296attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv5357091296 .yiv5357091296attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv5357091296 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv5357091296 .yiv5357091296bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv5357091296 
.yiv5357091296bold a {text-decoration:none;}#yiv5357091296 dd.yiv5357091296last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5357091296 dd.yiv5357091296last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5357091296 
dd.yiv5357091296last p span.yiv5357091296yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv5357091296 div.yiv5357091296attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv5357091296 div.yiv5357091296attach-table 
{width:400px;}#yiv5357091296 div.yiv5357091296file-title a, #yiv5357091296 
div.yiv5357091296file-title a:active, #yiv5357091296 
div.yiv5357091296file-title a:hover, #yiv5357091296 div.yiv5357091296file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv5357091296 div.yiv5357091296photo-title a, 
#yiv5357091296 div.yiv5357091296photo-title a:active, #yiv5357091296 
div.yiv5357091296photo-title a:hover, #yiv5357091296 
div.yiv5357091296photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv5357091296 
div#yiv5357091296ygrp-mlmsg #yiv5357091296ygrp-msg p a 
span.yiv5357091296yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv5357091296 
.yiv5357091296green {color:#628c2a;}#yiv5357091296 .yiv5357091296MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv5357091296 o {font-size:0;}#yiv5357091296 
#yiv5357091296photos div {float:left;width:72px;}#yiv5357091296 
#yiv5357091296photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv5357091296 
#yiv5357091296photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv5357091296
 #yiv5357091296reco-category {font-size:77%;}#yiv5357091296 
#yiv5357091296reco-desc {font-size:77%;}#yiv5357091296 .yiv5357091296replbq 
{margin:4px;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5357091296 
#yiv5357091296ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv5357091296 
#yiv5357091296ygrp-mlmsg select, #yiv5357091296 input, #yiv5357091296 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5357091296 
#yiv5357091296ygrp-mlmsg pre, #yiv5357091296 code {font:115% 
monospace;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-mlmsg #yiv5357091296logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-msg 
p#yiv5357091296attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv5357091296 
#yiv5357091296ygrp-reco #yiv5357091296reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-sponsor 
#yiv5357091296ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv5357091296 
#yiv5357091296ygrp-sponsor #yiv5357091296ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv5357091296 
#yiv5357091296ygrp-sponsor #yiv5357091296ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv5357091296 #yiv5357091296ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv5357091296 
#yiv5357091296ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv5357091296 

   

Kirim email ke