Bung Lusi,
Ya, tampaknya ada dua alternatif :
1. Dihentikan kontraknya. Ternyata ini bukan pilihan pmerintah sekarang.
Tidak tahu kelanjutannya apa kesepakatan Pemerintah dan Free Port akan
ditolak atau disetujui oleh DPR ? Komisi khusus DPR bisa sewa tenaga2 ahli.
Kita juga tidak tahu apa sudah ada perusahaan tambang lain mndekati
pemerintah Indonesia untuk kemungkinan mengoper tambang ini kalau Free Port
pergi bawa semua peralatannya. Biasanya penerjun baru minta bebas pajak
berapa tahun, karena harus beli mesin2 baru, memasangnya dll.
Perubahan dari investor lama ke investor baru bisa menelan waktu
ber-bulan2, pegawai harus etap dibayar.
2.Seperti persetujuan yang tercapai sekarang . Bagaimana akan dibiayainya
tidak tahu.
Kemungkinan pemerintah bikin satu perusahaan, dan perusahaan itu jual
puluhan ribu amapi ratusan ribu saham yang harganya tidak mahal?, supaya
rakyat banyak bisa beli ? Yang kuat uangnya, ya bisa beli ratusan sampai
puluhan ribu saham atau dibatasi satu orang maximum sekian saham, sepertri
pernah dilakukan di Belanda ? Tetapi hanya bisa laku kalau procentage
keuntungannya cukup baik. Perusahaan pemerintah ini yang akan pegang saham
51 %. Mungkin ada cara2 lain, tidak tahu.
Beberapa orang dulu di pekerjaan fannya Ayax. Waktu Ayax masuk Bursa,
mereka sama sekali tidak perhitungkan untung rugi, pokoknya beli, dukung
Ayax. Mula2 tidak ada untungnya. Sekarang mereka untung banyak.
Salam,
KH

2017-09-05 20:50 GMT+02:00 'Lusi D.' [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
> Bung KH,
> kendala yang saya maksud adalah asumsi bung yang tercantum dlm kalimat
> "Kalau sekarang mau dikerjakan semuanya tanpa utang untuk membangun,
> akan sulit sekali . . . ".
> Kalau bung sudah mengambil kesimpulan seperti itu, maka jalan keluar apa
> yang sebaiknya itulah yang saya harapkan sebagai alternatif dari
> analisis bung secara kongkrit yang dihadapi dalam hal; penghentian
> ataukah perpanjangan izin eksploitasi kekayaan alam PI Freeport di
> Irian Barat itu.
> Lusi.-
>
> Am Tue, 5 Sep 2017 19:17:43 +0200
>
> schrieb "kh djie [email protected] [GELORA45]"
> <[email protected]>:
>
> > Bung Lusi,
> > Coba jelaskan sekali lagi apa yang bung maksud. Setahu saya kendala
> > berarti rintangan, Jadi rintangan yang mendasari kesimpulan.........?
> > KH
> >
> > 2017-09-05 11:47 GMT+02:00 'Lusi D.' [email protected] [GELORA45] <
> > [email protected]>:
> >
> > >
> > >
> > > Bung bisa menjelaskan kendala apa yang mendasari kesimpulan bung spt
> > > yang tercantum dlm alinea terakhir tulisan bung ini dan alternatif
> > > apa yang ada menurut pendapat bung yang berbunyi: "Kalau sekarang
> > > mau dikerjakan semuanya tanpa utang untuk membangun, akan sulit
> > > sekali memberi pekerjaan pada angkatan muda, ekonomi dalam negeri
> > > akan memburuk, menimbulkan banyak ketidak puasan, pemogokan dan
> > > demonstrasi, penggulingan pemerintahan dengan segala akibatnya."
> > >
> > > "Am Tue, 5 Sep 2017 06:07:10 +0200 schrieb "kh djie [email protected]
> > > [GELORA45]" <[email protected]>:
> > >
> > >
> > > > Benar. Bung Karno tidak anti Penanaman Modal Asing. Tetapi
> > > > menuntut pembagian keuntungan yang lebih adil. Memang bung Karno
> > > > mengancam, kalau Stanvac dll. tidak mau melaksanakan pembagian
> > > > keuntungan yang lebih adil, akan dinasionalisasi.
> > > > Bung Karno yang dijepit oleh Inggris dan Amerika, berusaha cari
> > > > hubungan dagang dan penanaman modal dari Jepang. Oleh kaum
> > > > business Jepang ditraktir di rumah Geisha. Di situ bung Karno
> > > > kecantol Dewi. Pengusaha Jepang menggunakan Dewi untuk dapat
> > > > proyek2. Sebaliknya bung Karno juga gunakan Dewi sebagai mediator.
> > > > Suatu waktu bawahan Dewi minta pada pengusaha Belanda uang untuk
> > > > Dewi dengan jaminan proyeknya akan disetujui. Pengusaha ini kenal
> > > > baik dengan bung Karno sejak lama. Jadi beritahu bung Karno
> > > > kejadian itu. Di suatu pertemuan, bung Karno pertemukan pengusaha
> > > > Belanda itu dengan Dewi, dan langsung tanya Dewi apa kirim
> > > > orangnya ke si pengusaha Belanda. Dewi menyangkal. Setelah itu si
> > > > pengusaha Belanda, tidak diganggu lagi örangnya"Dewi".
> > > > Suatu hari di tahun 1965 saya diajak teman mampir di pakliknya di
> > > > Jakarta. Di situ tinggal pemuda jepang, bisa bahasa Indonesia, dan
> > > > diangkat anak oleh keluarga itu. Ternyata bapak pemuda jepang ini
> > > > partner kerja paklik teman di kayu hutan. Di jaman bung karni
> > > > sudah ada kerjasama modal dalam negeri dengan jepang. Hanya waktu
> > > > itu belum masuk di koran-koran. Bung Karno sebenarnya sudah mulai
> > > > suatu yang penting seperti parik baja Krakatau dan Pembuatan
> > > > bendungan, pembangunan proyek tenaga listrik Asahan untuk pabrik
> > > > Alumunium.
> > >
> > > > Sayang sekali setelah itu masih tidak mampu buat sendiri yang
> > > > sejenis. Kalau 70 tahun yang lalu, semuanya diusahakan dibangun
> > > > sendiri dengan bantuan teknologi dari luar, dan mengembangkan
> > > > teknologinya lebih lanjut, mungkin tidak perlu sekarang begitu
> > > > terburu-buru mengejar ketinggalan dari negeri2 tetangga. Kalau
> > > > sekarang mau dikerjakan semuanya tanpa utang untuk membangun, akan
> > > > sulit sekali memberi pekerjaan pada angkatan muda, ekonomi dalam
> > > > negeri akan memburuk, menimbulkan banyak ketidak puasan, pemogokan
> > > > dan demonstrasi, penggulingan pemerintahan dengan segala
> > > > akibatnya.
> > > >
> > > >
> > >
> > >
> > >
>
> 
>

Kirim email ke