Ditengah kegaduhan paranoia (ketakutan berlebihan penderita sakit jiwa) yg 
sengaja dihembuskan oleh politikus busuk komunisto phobi, artikel dikoran 
Kompas, yg ditulis oleh B.Herry Priyono -Dosen Program Pascasarjana Sekolah 
Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, bisa berperan mendorong orang untuk 
berpikir lebih waras, tentunya bagi mereka yg masih merasa memiliki akal 
budi, yg hanya dimiliki manusia diantara makhluk hidup dibumi ini.
Selamat membaca.
 
 
A.H.
 
-------------------------------------------------
 
 
Manajemen Belok Kanan
oleh B.Herry Priyono
 
 
 
 
QUOTE:

" ... Orang yang mencermati politik negeri ini mengerti bahwa yang sedang 
bangkit bukan komunisme, melainkan perkawinan antara tribalisme agama dan 
militerisme. .....
 
Bagi generasi sesudah 1990-an, banyak orang mempelajari Marxisme bukan 
dalam rangka melawan ateisme, melainkan karena memerlukan studi itu untuk 
memahami secara kritis corak kapitalisme dewasa ini yang ditandai 
fundamentalisme pasar atau sering disebut neoliberalisme. ................
 
Namun, bisa dikatakan Marxisme sebagai bahan studi di dunia akademik 
Indonesia seperti lenyap ditelan sejarah, apalagi bagi khalayak luas. 
Paranoia yang terjadi hari-hari ini tak punya kaitan apa pun dengan 
probabilitas (kemungkinan -red.) kebangkitan komunisme, bahkan menjadi 
pemantik suasana keingintahuan tentang pemikiran Marxisme yang telah lama 
pingsan. Dan, itu bisa saja berlanjut membawa sikap lebih sehat terhadap 
Marxisme sebagai bahan studi di dunia akademik. ...................
 
Kekonyolan yang kalap.
Andaipun berhasil membuat paranoia menjadi massal, orang-orang konyol itu 
masih akan berhadapan dengan dunia perguruan tinggi, sebuah instansi tempat 
tak ada apa pun dianggap tabu untuk dipelajari. Di sinilah segala isme yang 
mau ditabukan justru perlu dipelajari sebagai bagian kurikulum. Dalam 
banyak hal, kekonyolan paranoia yang terjadi hari-hari ini tentang berbagai 
isme yang ingin ditabukan justru mengisyaratkan betapa urgen studi 
isme-isme itu dijadikan bagian integral kurikulum.
 
Studi tentang isme-isme memang tidak punya manfaat praktis, tetapi sungguh 
sentral bagi pembentukan daya intelektual masyarakat. Pemahaman tentang 
isme-isme membantu warga negara mengenali gagasan dan arah ideologis yang 
mendasari aneka kebijakan, juga membantu warga negara lebih sanggup menilai 
agenda yang tersembunyi dalam gejala seperti militerisme, fundamentalisme 
agama, dan fundamentalisme pasar. Dan kekonyolan yang dilakukan para 
pembuat paranoia persis merupakan implikasi dari kebutaan pemahaman.
Bagaimana mungkin mau membela Pancasila apabila para jenderal bahkan tidak 
mampu membedakan isme-isme pada tingkat elementer?
Namun, lebih mendasar adalah perlunya melihat betapa miskin studi ilmu-ilmu 
sosial dan humaniora dewasa ini tanpa kadar tertentu pemahaman atas 
Marxisme dalam aneka mazhabnya. Sangatlah sulit memahami cermat kaitan 
antara kinerja modal (keuangan) dan corak kapitalisme tanpa serius 
mempelajari, misalnya, buku Finance Capital (1910), karya menakjubkan 
pemikir Marxian, Rudolf Hilferding. Betapa miskin pemahaman atas corak 
kebudayaan dewasa ini tanpa mencermati karya-karya pemikir Marxian seperti 
Fredric Jameson. Atau, betapa kerdil kajian geografi pembangunan dan corak 
tata kota tanpa mendalami karya-karya ahli geografi Marxian, David Harvey, 
atau pemikiran Henri Lefebvre.
Ringkasnya, cara merawat kewaspadaan bangsa ini bukanlah dengan memberangus 
gairah memahami isme-isme yang telah menjadi bagian integral dunia 
pemikiran, tetapi justru dengan mendorong studi serius.
Jadi, untuk apa mengipas fobia terhadap kebangkitan komunisme dan paham 
kiri? Itulah mainan para peternak politik (political entrepreneurs) yang 
sedang mencari pembakar sentimen tribal (kesukuan /ras -red.).
Mereka (politikus busuk -red.) mau memakainya seperti bagaimana sentimen 
agama dipakai secara kalap dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Tragisnya, apa 
yang cuma mainan para peternak politik bagi tualang kekuasaan itu berubah 
menjadi semacam keyakinan massal di antara warga biasa. Indonesia dirusak 
dengan cara ini.
 
Selengkapnya:  
https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170928/281586650790642
<https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170928/281586650790642>  
 
                     ***


<div style=\"border:0;border-bottom:1px solid black;width:100%;\"> 
Gesendet mit Telekom Mail <https://t-online.de/email-kostenlos> - kostenlos 
und sicher für alle!

Kirim email ke