Selagi belum dicabut kenapa tidak memanfaatkan celah yang menganga 
di pasal 3 TAP tsb? 

Jangan-jangan cara berpikir kaum intelektual sudah menjadi kebarat-baratan 
yang bisanya cuma menuntut, tidak lagi ilmiah apalagi militan. Mosok akademisi 
kalah berpikir dari jenderal-jenderal (Nasution cs) yang memberi celah pada 
pasal 3 TAP MPRS 25 / 1966.
--- jonathangoeij@... wrote:
Dengan "perkawinan antara tribalisme agama dan militerisme" yang terjadi saat 
ini ditambah legalisasi represi melalui TAP MPRS 25 1966 itu apakah mungkin 
dilakukan studi komunisme? Bukankah para paranoid agama dan militer itu akan 
mengatakan study itu sebagai manifestasi pengembangan faham dan ajaran 
komunisme?
TAP MPRS 25 1966 itu mutlak harus dicabut!
Militer dan terutama dedengkotnya harus bersih dari kelompok paranoid?
--- ajegilelu@... wrote :
"betapa miskin studi ilmu-ilmusosial dan humaniora dewasa ini tanpa 


kadar tertentu pemahaman atasMarxisme dalam aneka mazhabnya"

Nah, kita tunggu Herry Priyono (juga Hendropriyono SE, SH 
serta akademisi lain) untuk memelopori bangkitnya tradisi keilmuan.
Toh kajian ilmiah tentang komunisme, Marxisme-Leninisme, tidak 
dilarang dalam TAP MPRS 25 / 1966 (pasal 3).
--- zeta_roza@... wrote:
@Isme adalah ilmu pengetahuan yang didapatkan dari kehidupan keseharian untuk 
"mengerti dan memahami" alam dunia termasuk manusia, flora, fauna, planet 
dst.... 
+++++++++
#"Studi tentang isme-isme memang tidak punya manfaat praktis, tetapi sungguh 
sentral bagi pembentukan daya intelektual masyarakat. Pemahaman tentang 
isme-isme membantu warga negara mengenali gagasan dan arah ideologis yang 
mendasari aneka kebijakan, juga membantu warga negara lebih sanggup menilai 
agenda yang tersembunyi dalam gejala seperti militerisme, fundamentalisme 
agama, dan fundamentalisme pasar. Dan kekonyolan yang dilakukan para pembuat 
paranoia persis merupakan implikasi dari kebutaan pemahaman. "
++++++++
Verzonden via Yahoo Mail op Android 


Op zo, okt. 1, 2017 om 11:33 schreef arif.harsana@...:
Ditengahkegaduhan paranoia (ketakutan berlebihan penderita sakit jiwa) 
ygsengaja dihembuskan oleh politikus busuk komunisto phobi, artikeldikoran 
Kompas, yg ditulis oleh B.Herry Priyono -Dosen ProgramPascasarjana Sekolah 
Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, bisa berperanmendorong orang untuk berpikir 
lebih waras, tentunya bagi mereka ygmasih merasa memiliki akal budi, yg hanya 
dimiliki manusia diantaramakhluk hidup dibumi ini.
Selamat membaca.  A.H. ------------------------------------------------- 
Manajemen Belok Kananoleh B.Herry Priyono   
QUOTE: 
"... Orang yang mencermati politik negeri ini mengerti bahwa yang sedangbangkit 
bukan komunisme, melainkan perkawinan antara tribalisme agamadan militerisme. 
..... Bagi generasisesudah 1990-an, banyak orang mempelajari Marxisme bukan 
dalam rangkamelawan ateisme, melainkan karena memerlukan studi itu untuk 
memahamisecara kritis corak kapitalisme dewasa ini yang ditandai 
fundamentalismepasar atau sering disebut neoliberalisme. ................ 
Namun,bisa dikatakan Marxisme sebagai bahan studi di dunia akademik 
Indonesiaseperti lenyap ditelan sejarah, apalagi bagi khalayak luas. 
Paranoiayang terjadi hari-hari ini tak punya kaitan apa pun dengan 
probabilitas(kemungkinan -red.) kebangkitan komunisme, bahkan menjadi 
pemantiksuasana keingintahuan tentang pemikiran Marxisme yang telah 
lamapingsan. Dan, itu bisa saja berlanjut membawa sikap lebih sehat 
terhadapMarxisme sebagai bahan studi di dunia akademik. ................... 
Kekonyolan yang kalap.
Andaipunberhasil membuat paranoia menjadi massal, orang-orang konyol itu 
masihakan berhadapan dengan dunia perguruan tinggi, sebuah instansi tempattak 
ada apa pun dianggap tabu untuk dipelajari. Di sinilah segala ismeyang mau 
ditabukan justru perlu dipelajari sebagai bagian kurikulum.Dalam banyak hal, 
kekonyolan paranoia yang terjadi hari-hari ini tentangberbagai isme yang ingin 
ditabukan justru mengisyaratkan betapa urgenstudi isme-isme itu dijadikan 
bagian integral kurikulum. Studi tentangisme-isme memang tidak punya manfaat 
praktis, tetapi sungguh sentralbagi pembentukan daya intelektual masyarakat. 
Pemahaman tentangisme-isme membantu warga negara mengenali gagasan dan arah 
ideologisyang mendasari aneka kebijakan, juga membantu warga negara lebih 
sanggupmenilai agenda yang tersembunyi dalam gejala seperti 
militerisme,fundamentalisme agama, dan fundamentalisme pasar. Dan kekonyolan 
yangdilakukan para pembuat paranoia persis merupakan implikasi dari 
kebutaanpemahaman. 
Bagaimana mungkin mau membela Pancasila apabila para jenderal bahkan tidak 
mampu membedakan isme-isme pada tingkat elementer?
Namun,lebih mendasar adalah perlunya melihat betapa miskin studi 
ilmu-ilmusosial dan humaniora dewasa ini tanpa kadar tertentu pemahaman 
atasMarxisme dalam aneka mazhabnya. Sangatlah sulit memahami cermat 
kaitanantara kinerja modal (keuangan) dan corak kapitalisme tanpa 
seriusmempelajari, misalnya, buku Finance Capital (1910), karya 
menakjubkanpemikir Marxian, Rudolf Hilferding. Betapa miskin pemahaman atas 
corakkebudayaan dewasa ini tanpa mencermati karya-karya pemikir Marxianseperti 
Fredric Jameson. Atau, betapa kerdil kajian geografi pembangunandan corak tata 
kota tanpa mendalami karya-karya ahli geografi Marxian,David Harvey, atau 
pemikiran Henri Lefebvre.
Ringkasnya, caramerawat kewaspadaan bangsa ini bukanlah dengan memberangus 
gairahmemahami isme-isme yang telah menjadi bagian integral dunia 
pemikiran,tetapi justru dengan mendorong studi serius.
Jadi, untuk apamengipas fobia terhadap kebangkitan komunisme dan paham kiri? 
Itulahmainan para peternak politik (political entrepreneurs) yang sedangmencari 
pembakar sentimen tribal (kesukuan /ras -red.). 
Mereka(politikus busuk -red.) mau memakainya seperti bagaimana sentimen 
agamadipakai secara kalap dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Tragisnya, apayang 
cuma mainan para peternak politik bagi tualang kekuasaan ituberubah menjadi 
semacam keyakinan massal di antara warga biasa.Indonesia dirusak dengan cara 
ini. Selengkapnya:  
https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170928/281586650790642           
            *** Gesendet mit Telekom Mail - kostenlos und sicher für alle!



   

Kirim email ke