"betapa miskin studi ilmu-ilmu sosial dan humaniora dewasa ini tanpa 
kadar tertentu pemahaman atas Marxisme dalam aneka mazhabnya"

Nah, kita tunggu Herry Priyono (juga Hendropriyono SE, SH 
serta akademisi lain) untuk memelopori bangkitnya tradisi keilmuan.
Toh kajian ilmiah tentang komunisme, Marxisme-Leninisme, tidak 
dilarang dalam TAP MPRS 25 / 1966 (pasal 3).
--- zeta_roza@... wrote:
@Isme adalah ilmu pengetahuan yang didapatkan dari kehidupan keseharian untuk 
"mengerti dan memahami" alam dunia termasuk manusia, flora, fauna, planet 
dst.... 
+++++++++
#"Studi tentang isme-isme memang tidak punya manfaat praktis, tetapi sungguh 
sentral bagi pembentukan daya intelektual masyarakat. Pemahaman tentang 
isme-isme membantu warga negara mengenali gagasan dan arah ideologis yang 
mendasari aneka kebijakan, juga membantu warga negara lebih sanggup menilai 
agenda yang tersembunyi dalam gejala seperti militerisme, fundamentalisme 
agama, dan fundamentalisme pasar. Dan kekonyolan yang dilakukan para pembuat 
paranoia persis merupakan implikasi dari kebutaan pemahaman. "

++++++++
Verzonden via Yahoo Mail op Android 
 
  Op zo, okt. 1, 2017 om 11:33 schreef arif.harsana@...:
Ditengah kegaduhan paranoia (ketakutan berlebihan penderita sakit jiwa) yg 
sengaja dihembuskan oleh politikus busuk komunisto phobi, artikel dikoran 
Kompas, yg ditulis oleh B.Herry Priyono -Dosen Program Pascasarjana Sekolah 
Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, bisa berperan mendorong orang untuk 
berpikir lebih waras, tentunya bagi mereka yg masih merasa memiliki akal budi, 
yg hanya dimiliki manusia diantara makhluk hidup dibumi ini.
Selamat membaca.  A.H. ------------------------------------------------- 
Manajemen Belok Kananoleh B.Herry Priyono   
QUOTE: 
" ... Orang yang mencermati politik negeri ini mengerti bahwa yang sedang 
bangkit bukan komunisme, melainkan perkawinan antara tribalisme agama dan 
militerisme. ..... Bagi generasi sesudah 1990-an, banyak orang mempelajari 
Marxisme bukan dalam rangka melawan ateisme, melainkan karena memerlukan studi 
itu untuk memahami secara kritis corak kapitalisme dewasa ini yang ditandai 
fundamentalisme pasar atau sering disebut neoliberalisme. ................ 
Namun, bisa dikatakan Marxisme sebagai bahan studi di dunia akademik Indonesia 
seperti lenyap ditelan sejarah, apalagi bagi khalayak luas. Paranoia yang 
terjadi hari-hari ini tak punya kaitan apa pun dengan probabilitas (kemungkinan 
-red.) kebangkitan komunisme, bahkan menjadi pemantik suasana keingintahuan 
tentang pemikiran Marxisme yang telah lama pingsan. Dan, itu bisa saja 
berlanjut membawa sikap lebih sehat terhadap Marxisme sebagai bahan studi di 
dunia akademik. ................... Kekonyolan yang kalap.
Andaipun berhasil membuat paranoia menjadi massal, orang-orang konyol itu masih 
akan berhadapan dengan dunia perguruan tinggi, sebuah instansi tempat tak ada 
apa pun dianggap tabu untuk dipelajari. Di sinilah segala isme yang mau 
ditabukan justru perlu dipelajari sebagai bagian kurikulum. Dalam banyak hal, 
kekonyolan paranoia yang terjadi hari-hari ini tentang berbagai isme yang ingin 
ditabukan justru mengisyaratkan betapa urgen studi isme-isme itu dijadikan 
bagian integral kurikulum. Studi tentang isme-isme memang tidak punya manfaat 
praktis, tetapi sungguh sentral bagi pembentukan daya intelektual masyarakat. 
Pemahaman tentang isme-isme membantu warga negara mengenali gagasan dan arah 
ideologis yang mendasari aneka kebijakan, juga membantu warga negara lebih 
sanggup menilai agenda yang tersembunyi dalam gejala seperti militerisme, 
fundamentalisme agama, dan fundamentalisme pasar. Dan kekonyolan yang dilakukan 
para pembuat paranoia persis merupakan implikasi dari kebutaan pemahaman. 
Bagaimana mungkin mau membela Pancasila apabila para jenderal bahkan tidak 
mampu membedakan isme-isme pada tingkat elementer?
Namun, lebih mendasar adalah perlunya melihat betapa miskin studi ilmu-ilmu 
sosial dan humaniora dewasa ini tanpa kadar tertentu pemahaman atas Marxisme 
dalam aneka mazhabnya. Sangatlah sulit memahami cermat kaitan antara kinerja 
modal (keuangan) dan corak kapitalisme tanpa serius mempelajari, misalnya, buku 
Finance Capital (1910), karya menakjubkan pemikir Marxian, Rudolf Hilferding. 
Betapa miskin pemahaman atas corak kebudayaan dewasa ini tanpa mencermati 
karya-karya pemikir Marxian seperti Fredric Jameson. Atau, betapa kerdil kajian 
geografi pembangunan dan corak tata kota tanpa mendalami karya-karya ahli 
geografi Marxian, David Harvey, atau pemikiran Henri Lefebvre.
Ringkasnya, cara merawat kewaspadaan bangsa ini bukanlah dengan memberangus 
gairah memahami isme-isme yang telah menjadi bagian integral dunia pemikiran, 
tetapi justru dengan mendorong studi serius.
Jadi, untuk apa mengipas fobia terhadap kebangkitan komunisme dan paham kiri? 
Itulah mainan para peternak politik (political entrepreneurs) yang sedang 
mencari pembakar sentimen tribal (kesukuan /ras -red.). 
Mereka (politikus busuk -red.) mau memakainya seperti bagaimana sentimen agama 
dipakai secara kalap dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Tragisnya, apa yang cuma 
mainan para peternak politik bagi tualang kekuasaan itu berubah menjadi semacam 
keyakinan massal di antara warga biasa. Indonesia dirusak dengan cara ini. 
Selengkapnya:  
https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170928/281586650790642           
            *** Gesendet mit Telekom Mail - kostenlos und sicher für alle!

   

Kirim email ke