Di Universitas2-pun juga diberangus, contohnya Lentera di Satya Wacana Salatiga, monologue Tan Malaka di Institute Francais Indonesia, lapak baca Universitas Telkom, dll dll.
Mempelajari secara ilmiah tidak harus universitas, penyebutan universitas hanyalah contoh (seperti). Pasal 3Khususnya mengenai kegiatan mempelajari secara ilmiah, seperti pada Universitas-universitas,faham Komunisme/Marxisme-Leninisme dalam rangka mengamankan Pancasila dapat dilakukansecara terpimpin dengan ketentuan bahwa Pemerintah dan DPR-GR diharuskan mengadakanperundang-undangan untuk pengamanan. ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote : Apa LBH itu universitas? --- jonathangoeij@,,, wrote: Celah menganga? Buntut Seminar 1965, Seratusan Orang Kepung LBH Jakarta Malam Ini Read more at https://nasional.tempo.co/read/910004/buntut-seminar-1965-seratusan-orang-kepung-lbh-jakarta-malam-ini#QKI15AuCmMbjQfF4.99 https://www.youtube.com/watch?v=OCjnzESffrc --- ajegilelu@... wrote : Selagi belum dicabut kenapa tidak memanfaatkan celah yang menganga di pasal 3 TAP tsb? Jangan-jangan cara berpikir kaum intelektual sudah menjadi kebarat-baratan yang bisanya cuma menuntut, tidak lagi ilmiah apalagi militan. Mosok akademisi kalah berpikir dari jenderal-jenderal (Nasution cs) yang memberi celah pada pasal 3 TAP MPRS 25 / 1966. --- jonathangoeij@... wrote: Dengan "perkawinan antara tribalisme agama dan militerisme" yang terjadi saat ini ditambah legalisasi represi melalui TAP MPRS 25 1966 itu apakah mungkin dilakukan studi komunisme? Bukankah para paranoid agama dan militer itu akan mengatakan study itu sebagai manifestasi pengembangan faham dan ajaran komunisme? TAP MPRS 25 1966 itu mutlak harus dicabut! Militer dan terutama dedengkotnya harus bersih dari kelompok paranoid? --- ajegilelu@... wrote : "betapa miskin studi ilmu-ilmu sosial dan humaniora dewasa ini tanpa kadar tertentu pemahaman atas Marxisme dalam aneka mazhabnya" Nah, kita tunggu Herry Priyono (juga Hendropriyono SE, SH serta akademisi lain) untuk memelopori bangkitnya tradisi keilmuan. Toh kajian ilmiah tentang komunisme, Marxisme-Leninisme, tidak dilarang dalam TAP MPRS 25 / 1966 (pasal 3). --- zeta_roza@... wrote: @Isme adalah ilmu pengetahuan yang didapatkan dari kehidupan keseharian untuk "mengerti dan memahami" alam dunia termasuk manusia, flora, fauna, planet dst.... +++++++++ #"Studi tentang isme-isme memang tidak punya manfaat praktis, tetapi sungguh sentral bagi pembentukan daya intelektual masyarakat. Pemahaman tentang isme-isme membantu warga negara mengenali gagasan dan arah ideologis yang mendasari aneka kebijakan, juga membantu warga negara lebih sanggup menilai agenda yang tersembunyi dalam gejala seperti militerisme, fundamentalisme agama, dan fundamentalisme pasar. Dan kekonyolan yang dilakukan para pembuat paranoia persis merupakan implikasi dari kebutaan pemahaman. " ++++++++ Verzonden via Yahoo Mail op Android Op zo, okt. 1, 2017 om 11:33 schreef arif.harsana@...: Ditengah kegaduhan paranoia (ketakutan berlebihan penderita sakit jiwa) yg sengaja dihembuskan oleh politikus busuk komunisto phobi, artikel dikoran Kompas, yg ditulis oleh B.Herry Priyono -Dosen Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, bisa berperan mendorong orang untuk berpikir lebih waras, tentunya bagi mereka yg masih merasa memiliki akal budi, yg hanya dimiliki manusia diantara makhluk hidup dibumi ini. Selamat membaca. A.H. ------------------------------------------------- Manajemen Belok Kananoleh B.Herry Priyono QUOTE: " ... Orang yang mencermati politik negeri ini mengerti bahwa yang sedang bangkit bukan komunisme, melainkan perkawinan antara tribalisme agama dan militerisme. ..... Bagi generasi sesudah 1990-an, banyak orang mempelajari Marxisme bukan dalam rangka melawan ateisme, melainkan karena memerlukan studi itu untuk memahami secara kritis corak kapitalisme dewasa ini yang ditandai fundamentalisme pasar atau sering disebut neoliberalisme. ................ Namun, bisa dikatakan Marxisme sebagai bahan studi di dunia akademik Indonesia seperti lenyap ditelan sejarah, apalagi bagi khalayak luas. Paranoia yang terjadi hari-hari ini tak punya kaitan apa pun dengan probabilitas (kemungkinan -red.) kebangkitan komunisme, bahkan menjadi pemantik suasana keingintahuan tentang pemikiran Marxisme yang telah lama pingsan. Dan, itu bisa saja berlanjut membawa sikap lebih sehat terhadap Marxisme sebagai bahan studi di dunia akademik. ................... Kekonyolan yang kalap. Andaipun berhasil membuat paranoia menjadi massal, orang-orang konyol itu masih akan berhadapan dengan dunia perguruan tinggi, sebuah instansi tempat tak ada apa pun dianggap tabu untuk dipelajari. Di sinilah segala isme yang mau ditabukan justru perlu dipelajari sebagai bagian kurikulum. Dalam banyak hal, kekonyolan paranoia yang terjadi hari-hari ini tentang berbagai isme yang ingin ditabukan justru mengisyaratkan betapa urgen studi isme-isme itu dijadikan bagian integral kurikulum. Studi tentang isme-isme memang tidak punya manfaat praktis, tetapi sungguh sentral bagi pembentukan daya intelektual masyarakat. Pemahaman tentang isme-isme membantu warga negara mengenali gagasan dan arah ideologis yang mendasari aneka kebijakan, juga membantu warga negara lebih sanggup menilai agenda yang tersembunyi dalam gejala seperti militerisme, fundamentalisme agama, dan fundamentalisme pasar. Dan kekonyolan yang dilakukan para pembuat paranoia persis merupakan implikasi dari kebutaan pemahaman. Bagaimana mungkin mau membela Pancasila apabila para jenderal bahkan tidak mampu membedakan isme-isme pada tingkat elementer? Namun, lebih mendasar adalah perlunya melihat betapa miskin studi ilmu-ilmu sosial dan humaniora dewasa ini tanpa kadar tertentu pemahaman atas Marxisme dalam aneka mazhabnya. Sangatlah sulit memahami cermat kaitan antara kinerja modal (keuangan) dan corak kapitalisme tanpa serius mempelajari, misalnya, buku Finance Capital (1910), karya menakjubkan pemikir Marxian, Rudolf Hilferding. Betapa miskin pemahaman atas corak kebudayaan dewasa ini tanpa mencermati karya-karya pemikir Marxian seperti Fredric Jameson. Atau, betapa kerdil kajian geografi pembangunan dan corak tata kota tanpa mendalami karya-karya ahli geografi Marxian, David Harvey, atau pemikiran Henri Lefebvre. Ringkasnya, cara merawat kewaspadaan bangsa ini bukanlah dengan memberangus gairah memahami isme-isme yang telah menjadi bagian integral dunia pemikiran, tetapi justru dengan mendorong studi serius. Jadi, untuk apa mengipas fobia terhadap kebangkitan komunisme dan paham kiri? Itulah mainan para peternak politik (political entrepreneurs) yang sedang mencari pembakar sentimen tribal (kesukuan /ras -red.). Mereka (politikus busuk -red.) mau memakainya seperti bagaimana sentimen agama dipakai secara kalap dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Tragisnya, apa yang cuma mainan para peternak politik bagi tualang kekuasaan itu berubah menjadi semacam keyakinan massal di antara warga biasa. Indonesia dirusak dengan cara ini. Selengkapnya: https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170928/281586650790642 *** Gesendet mit Telekom Mail - kostenlos und sicher für alle!
