Gangguan cognitie?

salam,

Titiek Maslam
 
-------Oorspronkelijk bericht-------
 
Van: zeta roza [email protected] [GELORA45]
Datum: 1-10-2017 12:06:26
Aan: [email protected];  temu_eropa
Cc: GELORA45;  JKI;  Watch Indonesia!;  LISI;  indonesia_damai
Onderwerp: [GELORA45] Re:[temu_eropa] FW: B.Herry Priyono: Manajemen Belok
Kanan
 
  
@Isme adalah ilmu pengetahuan yang didapatkan dari kehidupan keseharian
untuk "mengerti dan memahami" alam dunia termasuk manusia, flora, fauna,
planet dst.... 


+++++++++




#"Studi tentang isme-isme memang tidak punya manfaat praktis, tetapi sungguh
sentral bagi pembentukan daya intelektual masyarakat. Pemahaman tentang
isme-isme membantu warga negara mengenali gagasan dan arah ideologis yang
mendasari aneka kebijakan, juga membantu warga negara lebih sanggup menilai
agenda yang tersembunyi dalam gejala seperti militerisme, fundamentalisme
agama, dan fundamentalisme pasar. Dan kekonyolan yang dilakukan para pembuat
paranoia persis merupakan implikasi dari kebutaan pemahaman. "




++++++++


Verzonden via Yahoo Mail op Android


Op zo, okt. 1, 2017 om 11:33 schreef '[email protected]' arif
[email protected] [temu_eropa]
<[email protected]>:
  
 
 
Ditengah kegaduhan paranoia (ketakutan berlebihan penderita sakit jiwa) yg
sengaja dihembuskan oleh politikus busuk komunisto phobi, artikel dikoran
Kompas, yg ditulis oleh B.Herry Priyono -Dosen Program Pascasarjana Sekolah
Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, bisa berperan mendorong orang untuk
berpikir lebih waras, tentunya bagi mereka yg masih merasa memiliki akal
budi, yg hanya dimiliki manusia diantara makhluk hidup dibumi ini.
Selamat membaca.
 
 
A.H.
 
-------------------------------------------------
 
 
Manajemen Belok Kanan
oleh B.Herry Priyono
 
 
 
 
QUOTE: 

" ... Orang yang mencermati politik negeri ini mengerti bahwa yang sedang
bangkit bukan komunisme, melainkan perkawinan antara tribalisme agama dan
militerisme. .....
 
Bagi generasi sesudah 1990-an, banyak orang mempelajari Marxisme bukan dalam
rangka melawan ateisme, melainkan karena memerlukan studi itu untuk memahami
secara kritis corak kapitalisme dewasa ini yang ditandai fundamentalisme
pasar atau sering disebut neoliberalisme. ................
 
Namun, bisa dikatakan Marxisme sebagai bahan studi di dunia akademik
Indonesia seperti lenyap ditelan sejarah, apalagi bagi khalayak luas.
Paranoia yang terjadi hari-hari ini tak punya kaitan apa pun dengan
probabilitas (kemungkinan -red.) kebangkitan komunisme, bahkan menjadi
pemantik suasana keingintahuan tentang pemikiran Marxisme yang telah lama
pingsan. Dan, itu bisa saja berlanjut membawa sikap lebih sehat terhadap
Marxisme sebagai bahan studi di dunia akademik. ...................
 
Kekonyolan yang kalap.
Andaipun berhasil membuat paranoia menjadi massal, orang-orang konyol itu
masih akan berhadapan dengan dunia perguruan tinggi, sebuah instansi tempat
tak ada apa pun dianggap tabu untuk dipelajari. Di sinilah segala isme yang
mau ditabukan justru perlu dipelajari sebagai bagian kurikulum. Dalam banyak
hal, kekonyolan paranoia yang terjadi hari-hari ini tentang berbagai isme
yang ingin ditabukan justru mengisyaratkan betapa urgen studi isme-isme itu
dijadikan bagian integral kurikulum.
 
Studi tentang isme-isme memang tidak punya manfaat praktis, tetapi sungguh
sentral bagi pembentukan daya intelektual masyarakat. Pemahaman tentang
isme-isme membantu warga negara mengenali gagasan dan arah ideologis yang
mendasari aneka kebijakan, juga membantu warga negara lebih sanggup menilai
agenda yang tersembunyi dalam gejala seperti militerisme, fundamentalisme
agama, dan fundamentalisme pasar. Dan kekonyolan yang dilakukan para pembuat
paranoia persis merupakan implikasi dari kebutaan pemahaman. 
Bagaimana mungkin mau membela Pancasila apabila para jenderal bahkan tidak
mampu membedakan isme-isme pada tingkat elementer?
Namun, lebih mendasar adalah perlunya melihat betapa miskin studi ilmu-ilmu
sosial dan humaniora dewasa ini tanpa kadar tertentu pemahaman atas Marxisme
dalam aneka mazhabnya. Sangatlah sulit memahami cermat kaitan antara kinerja
modal (keuangan) dan corak kapitalisme tanpa serius mempelajari, misalnya,
buku Finance Capital (1910), karya menakjubkan pemikir Marxian, Rudolf
Hilferding. Betapa miskin pemahaman atas corak kebudayaan dewasa ini tanpa
mencermati karya-karya pemikir Marxian seperti Fredric Jameson. Atau, betapa
kerdil kajian geografi pembangunan dan corak tata kota tanpa mendalami
karya-karya ahli geografi Marxian, David Harvey, atau pemikiran Henri
Lefebvre.
Ringkasnya, cara merawat kewaspadaan bangsa ini bukanlah dengan memberangus
gairah memahami isme-isme yang telah menjadi bagian integral dunia pemikiran
 tetapi justru dengan mendorong studi serius.
Jadi, untuk apa mengipas fobia terhadap kebangkitan komunisme dan paham
kiri? Itulah mainan para peternak politik (political entrepreneurs) yang
sedang mencari pembakar sentimen tribal (kesukuan /ras -red.). 
Mereka (politikus busuk -red.) mau memakainya seperti bagaimana sentimen
agama dipakai secara kalap dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Tragisnya, apa
yang cuma mainan para peternak politik bagi tualang kekuasaan itu berubah
menjadi semacam keyakinan massal di antara warga biasa. Indonesia dirusak
dengan cara ini.
 
Selengkapnya:  https://www.pressreader
com/indonesia/kompas/20170928/281586650790642 
 
                     ***



 
Gesendet mit Telekom Mail - kostenlos und sicher für alle! 

 

Kirim email ke