intinya celah menganga pada pasal 3 TAP MPRS itu cuman omong kosong belaka, tidak ada itu.
TAP MPRS mutlak harus dicabut! ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote : Apa betul diskusi-diskusi itu sudah memenuhi kaidah keilmuan? Atau masih "meraba gajah" - yang langsung atau tidak, sengaja atau tidak, hanya mengorek luka sendiri? Ujungnya, anak-anak Indonesia melihat diskusi-diskusi itu sebangsa reuni yang cuma asyik mengulang nostalgia, sementara sebagian dari anak Indonesia itu sekarang dipaksa mengaku miskin supaya dapat kartu atm (atau sepeda) dlsb. Yang diharapkan dari akademisi adalah memiliki kecerdasan cukup untuk membaca situasi dan cerdik melangkah. Sukur-sukur militan. Pantang menyerah memperjuangkan kebenaran berdasarkan pemahaman keilmuannya. Lebih-kurangnya ya meneruskan etos emak-bapak waktu menjebol belenggu imperialis tempohari. Saya kira pemikiran Herry Priyono ini bolehlah dijadikan tonggak kebangkitan tradisi berpikir di Indonesia untuk merombak tatanan neo-imperialisme yang secara jelas & gamblang telah membelokkan arah berpikir sebagian orang Indonesia ke alam Kanan; individualistik dan pandai menuntut kepentingannya sendiri. Akibatnya, Indonesia terlalu sibuk baku tuntut, saling menyalahkan, dan tau-tau kekayaan alam & budaya ludes digotong orang entah ke pasar mana. Bukan rahasia lagi, Indonesia sering harus membeli milik sendiri dengan utangan dari juragan nekolim. --- jonathangoeij@... wrote: Di Universitas2-pun juga diberangus, contohnya Lentera di Satya Wacana Salatiga, monologue Tan Malaka di Institute Francais Indonesia, lapak baca Universitas Telkom, dll dll. Mempelajari secara ilmiah tidak harus universitas, penyebutan universitas hanyalah contoh (seperti). Pasal 3 Khususnya mengenai kegiatan mempelajari secara ilmiah, seperti pada Universitas-universitas, faham Komunisme/Marxisme-Leninisme dalam rangka mengamankan Pancasila dapat dilakukan secara terpimpin dengan ketentuan bahwa Pemerintah dan DPR-GR diharuskan mengadakan perundang-undangan untuk pengamanan. --- ajegilelu@... wrote : Apa LBH itu universitas? --- jonathangoeij@,,, wrote: Celah menganga? Buntut Seminar 1965, Seratusan Orang Kepung LBH Jakarta Malam Ini Read more at https://nasional.tempo.co/read/910004/buntut-seminar-1965-seratusan-orang-kepung-lbh-jakarta-malam-ini#QKI15AuCmMbjQfF4.99 https://www.youtube.com/watch?v=OCjnzESffrc --- ajegilelu@... wrote : Selagi belum dicabut kenapa tidak memanfaatkan celah yang menganga di pasal 3 TAP tsb? Jangan-jangan cara berpikir kaum intelektual sudah menjadi kebarat-baratan yang bisanya cuma menuntut, tidak lagi ilmiah apalagi militan. Mosok akademisi kalah berpikir dari jenderal-jenderal (Nasution cs) yang memberi celah pada pasal 3 TAP MPRS 25 / 1966. --- jonathangoeij@... wrote: Dengan "perkawinan antara tribalisme agama dan militerisme" yang terjadi saat ini ditambah legalisasi represi melalui TAP MPRS 25 1966 itu apakah mungkin dilakukan studi komunisme? Bukankah para paranoid agama dan militer itu akan mengatakan study itu sebagai manifestasi pengembangan faham dan ajaran komunisme? TAP MPRS 25 1966 itu mutlak harus dicabut! Militer dan terutama dedengkotnya harus bersih dari kelompok paranoid? --- ajegilelu@... wrote : "betapa miskin studi ilmu-ilmu sosial dan humaniora dewasa ini tanpa kadar tertentu pemahaman atas Marxisme dalam aneka mazhabnya" Nah, kita tunggu Herry Priyono (juga Hendropriyono SE, SH serta akademisi lain) untuk memelopori bangkitnya tradisi keilmuan. Toh kajian ilmiah tentang komunisme, Marxisme-Leninisme, tidak dilarang dalam TAP MPRS 25 / 1966 (pasal 3). --- zeta_roza@... wrote: @Isme adalah ilmu pengetahuan yang didapatkan dari kehidupan keseharian untuk "mengerti dan memahami" alam dunia termasuk manusia, flora, fauna, planet dst.... +++++++++ #"Studi tentang isme-isme memang tidak punya manfaat praktis, tetapi sungguh sentral bagi pembentukan daya intelektual masyarakat. Pemahaman tentang isme-isme membantu warga negara mengenali gagasan dan arah ideologis yang mendasari aneka kebijakan, juga membantu warga negara lebih sanggup menilai agenda yang tersembunyi dalam gejala seperti militerisme, fundamentalisme agama, dan fundamentalisme pasar. Dan kekonyolan yang dilakukan para pembuat paranoia persis merupakan implikasi dari kebutaan pemahaman. " ++++++++ Verzonden via Yahoo Mail op Android https://overview.mail.yahoo.com/mobile/?.src=Android Op zo, okt. 1, 2017 om 11:33 schreef arif.harsana@...: Ditengah kegaduhan paranoia (ketakutan berlebihan penderita sakit jiwa) yg sengaja dihembuskan oleh politikus busuk komunisto phobi, artikel dikoran Kompas, yg ditulis oleh B.Herry Priyono -Dosen Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, bisa berperan mendorong orang untuk berpikir lebih waras, tentunya bagi mereka yg masih merasa memiliki akal budi, yg hanya dimiliki manusia diantara makhluk hidup dibumi ini. Selamat membaca. A.H. ------------------------------------------------- Manajemen Belok Kanan oleh B.Herry Priyono QUOTE: " ... Orang yang mencermati politik negeri ini mengerti bahwa yang sedang bangkit bukan komunisme, melainkan perkawinan antara tribalisme agama dan militerisme. ..... Bagi generasi sesudah 1990-an, banyak orang mempelajari Marxisme bukan dalam rangka melawan ateisme, melainkan karena memerlukan studi itu untuk memahami secara kritis corak kapitalisme dewasa ini yang ditandai fundamentalisme pasar atau sering disebut neoliberalisme. ................ Namun, bisa dikatakan Marxisme sebagai bahan studi di dunia akademik Indonesia seperti lenyap ditelan sejarah, apalagi bagi khalayak luas. Paranoia yang terjadi hari-hari ini tak punya kaitan apa pun dengan probabilitas (kemun (Message over 64 KB, truncated)
